Di sudut sepi Yogyakarta, di bawah naungan pohon beringin yang tua, terdapat sebuah warung tenda yang tidak terdaftar di peta manapun. Warung itu tidak memiliki nama, tidak memiliki daftar harga, dan hanya buka ketika lonceng tengah malam berdentang.
Pemiliknya adalah Pak Seno, seorang koki bisu dengan tatapan mata setenang telaga namun menyimpan ribuan rahasia. Pelanggannya bukanlah manusia yang kelaparan akan kenyang, melainkan arwah-arwah gentayangan yang kelaparan akan kenangan. Mereka datang untuk memakan "hidangan terakhir"—resep dari memori masa hidup yang menjadi kunci untuk melepaskan ikatan duniawi mereka.
Kehidupan sunyi Pak Seno berubah ketika Alya, seorang gadis remaja yang terluka jiwanya dan berniat mengakhiri hidup, tanpa sengaja melangkah masuk ke dalam warung itu. Alya bisa melihat mereka yang tak kasat mata. Alih-alih menjadi santapan makhluk halus, Alya justru terjebak menjadi asisten Pak Seno.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13: Wedang Ronde dan Guru Bahasa
Malam itu udara terasa lebih basah dari biasanya. Gerimis turun malu-malu, menciptakan genangan air kecil di aspal yang memantulkan cahaya lampu senthir warung tenda.
Suasana di Warung Tengah Malam sedikit lebih hidup berkat kehadiran kru baru.
Gulo, si peri hutan Bajang, duduk di atas tiang gerobak. Kakinya yang berbulu bergoyang-goyang. Tugasnya malam ini adalah mengupas jahe.
Gulo tidak menggunakan pisau. Dia menggigit kulit jahe itu dengan gigi depannya yang tajam, lalu meludahkannya ke tempat sampah dengan akurasi penembak jitu. Cuih! Cuih! Jahe itu bersih sempurna dalam hitungan detik.
Alya menggeleng-gelengkan kepala melihatnya. "Jorok, Gulo. Tapi efektif."
Seno sedang membakar jahe-jahe bersih itu di atas bara api. Aroma jahe bakar yang pedas dan hangat menguar, melawan dinginnya gerimis.
Tring!
Lonceng berbunyi.
Seorang pelanggan datang. Kali ini bukan hantu yang menyeramkan.
Sosok itu datang dengan mendorong sepeda motor Vespa tua yang mesinnya mati. Dia mengenakan kemeja batik PGRI yang sudah pudar warnanya dan celana bahan hitam. Di bahunya terselempang tas kulit guru yang terlihat berat.
Alya yang sedang mengelap meja langsung mematung. Kain lap di tangannya terjatuh ke tanah becek.
Dia kenal batik itu.
Dia kenal cara jalan yang sedikit pincang itu.
Dan dia kenal tas kulit itu—tas yang selalu berisi kertas ulangan murid-muridnya.
"Pak Haris..." desis Alya, suaranya tercekat.
Itu Pak Haris. Guru Bahasa Indonesia Alya di SMA. Satu-satunya guru yang tidak pernah memarahi Alya saat dia tidur di kelas karena depresi. Satu-satunya guru yang pernah memuji puisi gelap tulisan Alya di mading sekolah.
Seno menoleh, melihat reaksi Alya yang terguncang. Dia memberi kode mata: Kenal?
Alya mengangguk kaku, matanya mulai berkaca-kaca.
Sosok Pak Haris memarkir Vespanya (yang sebenarnya tidak nyata) di samping gerobak. Dia duduk di bangku kayu dengan napas berat. Wajahnya pucat, ada bekas luka memar di pelipisnya.
Dia terlihat sangat lelah. Lelah yang bukan sekadar fisik.
"Mas..." sapa Pak Haris sopan. Suaranya serak. "Boleh pesan yang hangat? Tenggorokan saya sakit. Habis teriak-teriak nyari orang."
Seno mengangguk. Dia menunjuk toples berisi bola-bola tepung ketan berwarna-warni. Wedang Ronde.
"Boleh. Satu mangkuk ya. Gulanya dikit aja, saya diabetes," kata Pak Haris sambil tersenyum kecut.
Seno mulai meracik. Dia mengambil mangkuk ayam jago. Dia memasukkan bola-bola ronde (berisi kacang tumbuk dan gula merah), kolang-kaling, dan potongan roti tawar. Lalu dia menyiramnya dengan kuah jahe panas yang sudah direbus dengan serai dan gula aren.
Alya bersembunyi di balik gerobak. Dia menarik tudung hoodie-nya sampai menutupi sebagian wajahnya. Dia takut.
Dia takut Pak Haris akan kecewa melihatnya di sini.
Atau lebih parah... dia takut mengetahui kenapa Pak Haris ada di sini. Jika Pak Haris ada di sini, berarti dia sudah...
"Al," Seno menepuk bahu Alya pelan. Dia menyodorkan nampan berisi wedang ronde itu.
Antar.
Alya menggeleng. "Saya nggak bisa, Pak. Nanti dia ngenalin saya."
Seno menatap tajam.
DIA TAMU KITA. LAYANI ATAU DIA TIDAK AKAN PERNAH PULANG.
Alya menelan ludah. Dia mengambil nampan itu dengan tangan gemetar.
Dia berjalan pelan mendekati meja.
Kepalanya menunduk dalam-dalam.
"Silakan, Pak," cicit Alya, berusaha menyamarkan suaranya.
Pak Haris tidak menatap wajah pelayan itu. Dia menatap uap panas dari mangkuk ronde.
"Terima kasih, Mbak," katanya.
Alya hendak langsung kabur kembali ke belakang gerobak, tapi Pak Haris mulai berbicara sendiri. Kebiasaan lamanya. Dia suka monolog.
"Padahal besok mau ulangan puisi," gumam Pak Haris sambil mengaduk rondenya. "Tapi saya malah keluyuran sampai malam gini. Istri saya pasti marah."
Pak Haris menyeruput kuah jahe itu.
"Ah... hangat."
Matanya terpejam. Rasa jahe yang pedas menghangatkan dadanya yang sesak.
"Saya nyari murid saya, Mbak," tiba-tiba Pak Haris bercerita pada Alya yang masih berdiri mematung di dekatnya. "Namanya Alya. Anaknya pendiam. Duduknya di pojok belakang."
Jantung Alya berhenti berdetak sesaat.
"Sudah tiga hari dia nggak masuk," lanjut Pak Haris. "Saya dengar dia kabur dari rumah. Orang tuanya... yah, orang tuanya sibuk sendiri. Jadi saya inisiatif cari dia. Saya takut dia nekat melakukan hal bodoh."
Air mata Alya menetes jatuh ke tanah.
Pak Haris mencarinya? Guru sebaik ini... meninggal karena mencarinya?
"Tadi sore hujan deras," Pak Haris menerawang. "Jalanan licin. Ada truk pasir rem blong di perempatan... Saya banting setir Vespa saya..."
Dia menyentuh luka di pelipisnya.
"Lalu gelap. Dan sekarang saya di sini."
Pak Haris tertawa hambar. "Konyol ya? Saya bahkan belum ketemu Alya. Saya guru yang gagal. Saya nggak bisa menyelamatkan satu anak pun."
Pertahanan Alya runtuh.
Rasa bersalah menghantamnya seperti ombak pasang. Pak Haris meninggal kecelakaan saat mencarinya. Ini salahnya. Semua ini salahnya.
"Bapak nggak gagal," suara Alya bergetar hebat. Dia tidak peduli lagi soal penyamaran.
Pak Haris berhenti menyendok ronde. Dia mendongak.
Dia menatap gadis pelayan yang berdiri di sampingnya.
Gadis itu membuka tudung hoodie-nya.
Mata Pak Haris melebar. Mulutnya terbuka tak percaya.
"Alya?" bisiknya. "Kamu... kamu di sini? Kamu... juga sudah..."
Pak Haris mengira Alya juga sudah mati karena berada di warung ini. Wajahnya hancur oleh kesedihan. "Ya Tuhan... Nak... Maafkan Bapak. Bapak telat."
Alya menggeleng cepat sambil menangis. Dia memberanikan diri memegang tangan dingin gurunya itu.
"Enggak, Pak. Alya masih hidup. Alya masih napas. Liat nih."
Alya menempelkan tangan Pak Haris ke pipinya yang hangat dan basah air mata.
Pak Haris merasakan kehangatan itu. Kehangatan manusia hidup.
"Kamu... hidup?"
"Iya, Pak. Alya kerja di sini. Alya aman. Alya nggak bunuh diri," isak Alya. "Bapak yang nyelamatin Alya. Puisi Bapak... kata-kata Bapak... itu yang bikin Alya bertahan sampai ketemu tempat ini."
Pak Haris tertegun. Beban berat yang menghimpit dadanya—rasa bersalah karena gagal menjaga muridnya—perlahan terangkat.
Senyum lega merekah di wajah pucatnya. Senyum tulus seorang guru yang melihat muridnya lulus ujian kehidupan.
"Syukurlah..." Pak Haris menghela napas panjang. "Syukurlah kamu selamat. Itu saja yang Bapak perlu tahu."
Dia kembali memakan rondenya. Kali ini dengan lahap dan bahagia.
Setiap kali dia mengunyah bola ketan yang kenyal itu, tubuhnya semakin bersinar.
Ronde itu adalah simbol "perekat". Masakan itu merekatkan kembali harapan Pak Haris yang sempat pecah.
Setelah suapan terakhir, Pak Haris meletakkan sendoknya.
Dia merogoh tas kulitnya. Dia mengeluarkan sebuah pulpen merah. Pulpen legendaris yang biasa dia pakai untuk mengoreksi nilai.
"Alya," panggilnya lembut.
"Iya, Pak?"
"Hidup itu seperti puisi bebas, Nak. Tidak perlu rima yang sempurna untuk menjadi indah. Kadang, bait-baitnya berantakan, tapi maknanya dalam," Pak Haris menasehati untuk terakhir kalinya. "Jangan berhenti menulis ceritamu sendiri. Dan jangan bikin ending yang sedih. Bapak nggak suka sad ending."
Pak Haris meletakkan pulpen merah itu di meja.
"Ini buat kamu. Buat ngoreksi kesalahan di masa depan."
Cahaya putih mulai menyelimuti tubuh Pak Haris. Vespanya juga ikut bersinar.
"Bapak pamit ya. Kayaknya bel masuk sudah bunyi di sana."
"Pak Haris!" seru Alya, ingin memeluknya tapi tangannya menembus cahaya itu. "Terima kasih, Pak! Terima kasih banyak!"
Pak Haris tersenyum, melambaikan tangan, dan perlahan lenyap menjadi butiran debu cahaya yang terbang ke langit malam, menyatu dengan gerimis yang kini mulai reda.
Hanya tinggal mangkuk kosong dan pulpen merah di meja.
Alya mengambil pulpen itu. Dia mendekapnya di dada, menangis sejadi-jadinya. Tangisan yang melegakan. Tangisan perpisahan yang layak.
Gulo, yang biasanya jahil, kali ini diam saja di atas gerobak. Dia tahu momen sedih.
Seno berjalan menghampiri Alya. Dia tidak menyuruh Alya berhenti menangis. Dia justru menyodorkan segelas jahe hangat sisa kuah ronde.
Minum. Biar kuat.
Malam itu, Alya belajar satu resep lagi yang tidak tertulis di buku menu: Resep Mengikhlaskan.
Bahwa kadang, orang-orang terbaik pergi lebih dulu, bukan karena mereka kalah, tapi karena tugas mereka sudah selesai. Tugas Pak Haris adalah memastikan Alya ingin hidup. Dan dia berhasil.
Di kejauhan, bulan sabit mengintip dari balik awan.
Bulan Purnama tinggal sepuluh hari lagi.
Dan Alya kini punya satu alasan lagi untuk bertarung: Dia tidak mau menyia-nyiakan hidup yang sudah "dibayar" mahal oleh gurunya.
...****************...
...Bersambung.......
...Terima kasih telah membaca📖...
...Jangan lupa bantu like komen dan share❣️...
...****************...
kukira ini semua akhir dari perjuangan seno.
kukira sang koki melepas nyawa😭.
damai setelah sekian purnama memendam pergolakan hidup dari ribuan kenangan dan janji yang ingin dia tepati.
satu janji sdh terbayar ..
di sisa kekuatan pada tubuh renta, bahagia di dapat , tak apa ,tak ada kata terlambat.
tetep semangat pak seno, ajari alya tentang hidup, kejam dunia bisa di lawan dengan kekuatan cinta dan keluarga.
damai...lanjutkan usaha warung nya.
semoga malam ini bukan malam terakhir buat hidangan
Bangun imajinasi ,hancurkan penhalang dan calon pencuri bubur abadi.
tanpa dendam ,haru biru menyendok makanan ajaib ,campuran dari langit dan samudera .
seperti mereka menyatu dalam kasih lembut.
cinta sekali seumur hidup.
happy valentine thor
Gulo si pemanis alami 🐵🐒
Pak Seno, chef dua dunia 👨🍳👨🍳
makin seru petualangan kalian 🥳🥳🥳
Dan jangan pernah bersinggungan lagi dengan yang ghoib, berat dan menyiksa.
pasrahkan semua ke hadapan yang Maha Kuasa.
menjalani hidup di jalur yang sudah di garis kan .
percaya lah kebahagiaan akan menemani sampai ujung usiamu.
di akhir hayat di tempat tidur yang hangat ,didampingi putri angkatmu dan keluarga ajaibmu : Gulo
terselip rasa kekeluargaan tanpa mereka sadari.
petualangan batin dan raga yang harus selalu bisa menempatkan diri, singkirkan keangkuhan,keserakahan dan hubungan yang erat saling melengkapi,menjaga dan empati serta simpati yang tinggi.👍
menunggu datang nya tamu wanita dlm foto itu
alya 😂