Mereka bilang, dulu kami sama
Dewa dan Dewi kedudukannya setara, menciptakan dunia dengan napas yang sama. Laki-laki dan perempuan berjalan berdampingan, bahu boleh sama tinggi
Lalu datanglah Hari Keretakan
Tak ada yang tahu pasti apa yang memicunya
Yang jelas, perang saudara para penguasa alam itu berlangsung lama tanpa henti
Yang tersisa hanya tiga Dewi. Dan sebagai tanda kemenangan abadi, mereka melakukan sesuatu pada realita
Sejak saat itu, setiap anak laki-laki yang lahir akan tumbuh lebih pendek dari saudara perempuannya. Bahu mereka tak akan selebar leluhur mereka
Suara mereka tak akan menggema seperti para Dewa dulu. Mereka hidup dalam dunia yang didominasi perempuan, bukan hanya dalam kekuasaan, tapi juga dalam postur, dalam kekuatan fisik, dalam segala hal yang kasatmata
Aku Sany, tidak terlalu peduli dengan legenda itu. Yang penting adalah bagaimana caranya menghilangkan Bisikan ini, setelah itu pergi mencari kerja
Bagaimana kisah Sany selanjutnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sizzz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kehidupan baru Rey part 3
Rey hanya mengangguk, mulai merasa ada yang salah dengan pertanyaannya.
"Oh, pantas saja. Itu benar, Si ninja ini pernah minta pisau dapur diubah jadi pedang yang sekarang ada di punggungnya," lanjut Shida menjelaskannya sambil menunjuk ke arah Kasula.
"Aku masih mending. Shida pernah minta senjata kayu latihannya diubah jadi pedang," balas Kasula sambil menunjuk ke arah pedang Shida.
Mereka malah terlihat saling membuka aib satu sama lain.
Namun, Rey yang polos justru semakin penasaran dengan pedang yang dimaksud.
"Bolehkah aku melihatnya?" tanya Rey sambil menoleh ke arah Shida.
"Tentu saja," balas Shida sambil mengeluarkan pedang katananya dari sarung dengan gerakan halus.
Rey mengamati dengan cermat pedang unik itu. Pola dekoratif yang rumit terukir di permukaan logamnya, memancarkan kilau halus.
"Katana ini dulunya hanya pedang kayu latihan biasa, sekarang sudah dimutakhirkan dengan bahan yang jauh lebih kuat dan ketajaman yang tak pernah pudar," lanjut Shida menjelaskan.
Untuk membuktikannya, Shida mengambil sehelai rambutnya sendiri dan meletakkannya di atas bilah pedang. Rambut itu terbelah dengan sempurna.
Rey terkesan melihat bukti tersebut. Shida pun dengan hati-hati mengembalikan katananya ke dalam sarung.
"Kalau Fianna bagaimana?" tanya Sany sambil menoleh ke arah Fianna.
"Dia mengubah tongkat yang membantunya berjalan menjadi pedang," jawab Shida langsung, tanpa ragu.
Fianna hanya mengangguk, mengkonfirmasi apa yang dikatakan Shida.
"Oh," balas Rey, kini memahami mengapa permintaannya dianggap tidak biasa di toko tersebut.
"Sekarang kau percaya denganku?" tanya Sany, ingin memastikan.
"Ya... aku percaya," jawab Rey, meski nada dan ekspresinya masih menunjukkan rasa tak terlalu senang.
Dia masih kesal dengan tindakan Sany sebelumnya.
"Huft, butuh 1 minggu untuk menunggu teknologiku selesai," keluh Rey, tidak sabar dengan waktu tunggu yang lama.
"Kalau begitu, kenapa tidak sekalian latihan dan kerja sambil menunggu teknologimu jadi?" usul Shida, memahami situasi Rey.
"Latihan dan kerja?" tanya Rey yang masih belum paham.
"Tentu saja. Biaya untuk meningkatkan senjata di toko itu tidak murah," jelas Shida sambil memberitahu sesuatu.
"Kami harus latihan dan kerja untuk bisa membayar semuanya," lanjut Shida menjelaskan.
"Kenapa kalian melakukan semua itu?" tanya Rey penuh rasa ingin tahu.
"Demi senjata kita. Kita tidak boleh mengecewakannya," jawab Fianna dengan suara tenang namun penuh makna.
"Benar, apalagi reputasi toko itu 98% pelanggan puas dengan hasilnya. Jadi kami tidak ragu untuk berusaha," tambah Kasula menjelaskan.
Mendengar penjelasan mereka, Rey mulai memahami apa yang harus dilakukannya nanti. Ia menoleh ke arah Sany dan mulai mendekat.
"Sany, bisakah kau antar aku pulang?" ucap Rey, yang kini tampak lebih tenang.
"Kenapa terburu-buru? Kita bisa jalan-jalan dulu," tolak Sany dengan santai.
"Jalan-jalan ke mana?" tanya Rey yang sekaligus penasaran.
"Ke taman hiburan. Tenang saja, aku yang traktir," jawab Sany langsung.
Tiba-tiba, ketiga teman Sany mendekat, sepertinya tertarik dengan rencana mereka.
"Bolehkah kami ikut juga?" tanya mereka bertiga serempak.
"Boleh, tapi uangku kurang kalau untuk berlima," jawab Sany yang jujur dengan keadaannya.
"Tenang saja soal itu, kita akan bayar sendiri," ucap Kasula meyakinkan.
"Baiklah kalau begitu. Aku akan menggunakan sihir untuk membawa kita ke sana," ucap Sany sambil meminta mereka bersiap.
"Jangan bilang kau akan..."
Sebelum Shida menyelesaikan kalimatnya, mereka sudah berdiri di depan gerbang taman hiburan yang dimaksud.
Beberapa pengunjung terkejut melihat kemunculan tiba-tiba mereka, tapi hanya melirik sebentar sebelum melanjutkan aktivitas masing-masing.
Ketiga teman Sany terdiam sejenak, masih memproses apa yang baru saja terjadi, perpindahan instan yang tak terduga.
"Ayo masuk!" seru Sany dengan suara lantang, sudah melangkah percaya diri menuju pintu masuk taman hiburan.
Mereka berlima pun masuk ke dalam taman hiburan yang ramai, penuh dengan warna dan suara tawa.
Rey memperhatikan ketiga teman Sany yang bertingkah aneh, saling menyenggol dan berbisik, seolah memaksa salah satu dari mereka untuk berbicara.
"Kalian kenapa?" tanya Rey sambil menoleh ke arah mereka.
Mendengar pertanyaannya, ketiganya langsung berhenti. Shida, yang merasa ketahuan, segera mendekati Rey.
"Ah... Rey, bolehkah kami meminjam Sany sebentar? Ada yang perlu kami bicarakan dengannya," ucap Shida terus terang.
Sany yang berada di dekat Rey langsung menoleh ke arah Shida.
"Apa maksudmu meminjam aku?" tanya Sany yang bingung.
"Sudahlah, ikuti aku," jawab Shida sambil memberi isyarat agar Sany mengikutinya.
Sany mengikuti Shida mendekati Kasula dan Fianna. Tampaknya mereka ingin membahas sesuatu yang serius dengannya.
Memang, sihir perpindahan tempat yang baru saja digunakan Sany adalah kemampuan langka yang hanya bisa dikuasai oleh orang-orang tertentu.
Para Any telah lama menguasai sihir ini, mereka mampu memindahkan diri mereka sendiri maupun orang lain ke lokasi yang diinginkan. Kemampuan ini adalah salah satu dari banyak sihir yang tercipta dari keinginan mereka.
Setelah beberapa menit berdiskusi, Sany dan ketiga temannya kembali menghampiri Rey yang sedang duduk di sebuah bangku.
Rey melihat mereka mendekat, mulai bertanya.
"Kalian sudah selesai?"
"Sudah. Ayo kita jalan-jalan," ajak Sany sambil tersenyum.
Rey pun berdiri dan mulai mengikuti mereka mengeksplorasi taman hiburan yang penuh warna ini.
Mereka berlima berjalan menyusuri jalan setapak yang dihiasi lampu-lampu berwarna. Suasana riang terdengar dari berbagai wahana, dentuman roller coaster, teriakan di rumah hantu, dan musik ceria dari komidi putar.
Tiba-tiba, Kasula berhenti di depan sebuah stan permainan melempar bola.
"Ayo kita coba," usul Kasula yang matanya berbinar melihat deretan botol-botol berwarna yang tersusun rapi.
Stan itu dikelola oleh seorang perempuan paruh baya dengan ramah. Di belakangnya, tergantung hadiah utama boneka beruang besar berwarna krem yang membuat mata Kasula semakin berbinar.
"Kau dan Rey saja yang main. Kami bertiga mau coba peruntungan di stan gacha itu," kata Shida, menunjuk ke arah stan lain yang dipenuhi kotak angka dan mesin pemutar kapsul warna-warni.
"Baiklah, Rey, ayo kita coba," ajak Kasula dengan semangat, tangannya secara alami sudah menggenggam lengan Rey.
Rey, yang masih asing dengan tempat dan permainan ini, hanya bisa mengikuti arahan Kasula.
Mereka pun berpisah dari kelompoknya
Kasula melepaskan genggamannya dan melangkah mendekati pemilik stan.
"Berapa sekali main?" tanya Kasula, siap mengulurkan tangannya untuk membayar.
"Lima bola, lima keping perunggu," jawab perempuan penjaga stan dengan ramah.
Kasula segera merogoh sakunya dan memberikan sepuluh keping perunggu, satu untuknya, satu lagi untuk Rey.
Perempuan itu mengangguk, lalu menunjuk ke tumpukan bola warna-warni di sebelahnya.
Rey memandangi bola-bola itu dengan bingung.
"Cara mainnya bagaimana?" tanya Rey yang tidak tahu.
"Sederhana, kau ambil bola, lalu lempar ke arah tumpukan kaleng itu," jelas Kasula sambil mengambil sebuah bola hijau.
Untuk memperagakannya, Kasula mengayunkan lengannya dengan mantap dan melemparkan bola.
Seluruh tumpukan kaleng terjatuh dan berhamburan.
Pemilik stan tersenyum lebar, segera mengambil boneka beruang besar dari rak hadiah dan menghampiri Kasula.
"Ini hadiahnya. Selamat ya!" ucap perempuan itu sambil menyerahkan boneka itu.
"Jadi begitu caranya," gumam Rey dalam hati, kini mulai memahami permainan sederhana ini.
Bersambung...