Hidup Alya sebagai sandwich generation bagi dua orang tua yang sakit, bagi keluarga yang bergantung, dan bagi dirinya sendiri yang jarang diberi ruang untuk lelah. Di usia seperempat abad lebih, ia belajar bertahan tanpa berharap apapun.
Hingga seorang pria datang dan mengubah pola hidupnya, Reyhan. Hanya dengan kehadiran yang tenang dan kesediaan untuk tinggal, bahkan saat hidup Alya terlalu rumit untuk diringkas dengan kata cinta.
Dalam pernikahan yang dewasa dan tidak ideal, Alya perlahan belajar bahwa menjadi kuat tidak berarti harus sendirian. Bahwa bersandar bukan kelemahan. Dan bahwa cinta, kadang, tidak datang untuk menghapus beban, melainkan untuk menopangnya bersama.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aizu1211, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19
Alya tiba di lokasi kegiatan sebelum matahari benar-benar naik. Gedung itu masih sepi, hanya petugas kebersihan yang mondar-mandir dengan sapu dan ember pel.
Tapi ia perlu untuk memastikan semuanya lebih awal dari semuanya.
Ia berdiri sejenak di depan pintu aula, menatap ruangan yang sebentar lagi akan dipenuhi orang.
Jujur saja ia gugup akan menempuh hari ini, hari pembuktian untuk para petinggi di rapat beberapa hari lalu, tapi keputusan sudah dibuat, tinggal menjalankan hari ini saja.
Ia membuka pintu, menyalakan lampu, di depan sana sudah terpasang banner dengan judul acara Program Penguatan Kapasitas Perencana Daerah Muda.
Lalu Alya mulai menata keperluan administrasi, juga semua yang mungkin akan dibutuhkan selama acara, memeriksa tatanan kursi, memperhatikan jarak antar baris. Meja registrasi dirapikan.
Modul disusun satu per satu, memastikan jumlahnya sesuai daftar hadir. Alya bergerak pelan tapi pasti, seperti seseorang yang sudah terlalu sering melakukan hal serupa untuk panik.
Sesekali ia mengecek ponsel, memastikan tidak ada pesan darurat dari rumah. Papa dan Mama masih tidur. Itu kabar baik.
Sekitar satu jam kemudian, pingkan dan Indri juga rekan satu timnya mulai berdatangan.
“Buseet, sudah rapih semua ini, kamu datang pagi banget Al?” celetuk Ilham takjub menatap ruang pertemuan di depannya.
Alya yang masih berdiri tersenyum menyambut mereka semua “Iya Pak”
“Kita bantuin apa Al?” tanya Indri.
“Temenin Alya saja disini kalau kakak-kakak sekalian lagi free”
“Oke siap!!!” jawab mereka serempak, hal itu membuat Alya tenang, juga senang.
Peserta mulai berdatangan menjelang pukul delapan. Wajah-wajah muda, sebagian terlihat bersemangat, sebagian lagi lelah bahkan sebelum acara dimulai.
Alya menyambut mereka dengan senyum kecil, mencatat kehadiran, memastikan alur berjalan.
Rekan-rekannya sudah terampil mengambil peran, Alya yang sudah bekerja sejak tadi kini hanya perlu diam mengawasi.
Hingga tatapannya menatap seseorang yang datang tidak lama setelah itu.
Pria yang hari ini tampak segar dengan kemeja berwarna kuning dan calana panjang warna hitam, rapi dan elegan seperti biasa.
Ia berdiri di dekat pintu, mengamati ruangan sebelum masuk sepenuhnya. Tatapan Reyhan tiba pada perempuan yang akhir-akhir ini ia kagumi.
Mereka bertukar anggukan singkat. Tidak ada percakapan. Tidak perlu.
Acara dimulai tepat waktu.
Sesi pertama berjalan seperti yang sudah direncanakan. Materi teknis, diskusi kelompok kecil, presentasi singkat.
Alya memperhatikan dari pinggir, sesekali mencatat hal-hal kecil yang perlu diperbaiki di sesi berikutnya.
Ia tenang. Fokus.
Hingga akhirnya, sesi yang paling ditunggu-tunggu itu tiba.
Sesi Refleksi Perencana.
Tidak ada panggung khusus. Tidak ada mikrofon. Peserta diminta duduk melingkar, lebih dekat satu sama lain. Alya berdiri di samping, menjelaskan singkat tujuan sesi itu—tanpa kata-kata besar.
“Ini bukan evaluasi,” katanya. “Tidak ada jawaban benar atau salah. Kalau ingin berbagi, silakan. Kalau tidak, tidak apa-apa.”
Beberapa peserta saling pandang. Ada yang mengangguk. Ada yang terlihat ragu.
Alya tidak mendorong.
Keheningan bertahan beberapa detik. Lalu seorang perempuan di barisan tengah mengangkat tangan pelan.
“Saya mau,” katanya.
Suaranya tidak gemetar. Tapi jelas ia berhati-hati.
“Saya baru dua tahun kerja,” lanjutnya. “Dan selama ini saya pikir capek itu karena saya kurang mampu. Kurang cepat. Kurang tahan.”
Ia berhenti sejenak, menarik napas.
“Tapi dari diskusi tadi, saya sadar… mungkin bukan cuma saya. Mungkin sistemnya juga berat.”
Tidak ada tangisan. Tidak ada dramatika. Tapi kata-kata itu jatuh dengan berat yang jujur.
Ruangan hening. Beberapa peserta mengangguk pelan.
Kemudian satu per satu dari mereka menyuarakan beban kerjanya, kemudian bersama semua peserta yang hadir, dibantu Reyhan sebagai narasumber sepakat untuk menjadikan sistem baru yang mungkin akan mempermudah pekerjaan.
Sesi berlanjut. Tidak semua bicara. Dan itu tidak apa-apa.
Ketika sesi refleksi ditutup, Alya melihat jam tangannya. Mereka tidak melewati waktu. Tidak mengganggu agenda lain.
Rasa lega luar biasa memenuhi ruang dadanya saat Alya menghembuskan napas pelan.
Pertemuan terus berlanjut, tapi masa-masa krusial soal pembuktian tambahan sesi yang di khawatirkan sudah lewat, Alya bisa bilang ini berhasil.
Ia puas dengan hasil kerjanya, dan tatapan Alya kembali pada Reyhan yang sedang berbincang dengan kepala bidangnya disana.
Makan siang berlangsung sederhana. Tidak ada sambutan khusus. Alya memastikan konsumsi datang tepat waktu, memastikan peserta tidak menunggu terlalu lama. Ia makan belakangan, berdiri sebentar di sudut ruangan sambil memeriksa catatan.
Reyhan menghampirinya.
“Capek?” tanyanya pelan.
“tidak terlalu,” jawab Alya diakhiri senyuman.
Reyhan tersenyum tipis. Ia bisa melihat itu.
Sesi siang diisi diskusi lanjutan. Peserta terlihat lebih cair. Tidak euforia, tapi tidak setegang pagi tadi. Alya mencatat satu-dua perubahan kecil yang bisa ia rekomendasikan nanti.
Menjelang sore, acara ditutup.
Tidak ada tepuk tangan panjang. Tidak ada foto bersama yang berlebihan. Orang-orang berkemas, saling berpamitan, lalu pulang dengan langkah yang—anehnya—terlihat lebih ringan.
Alya berdiri di tengah aula yang mulai kosong. Kursi-kursi belum dirapikan. Lampu masih menyala terang.
Ia tidak merasa ingin duduk. Ia berdiri saja, membiarkan tubuhnya menyadari kelelahan yang tertunda.
“Kamu berhasil,” kata Reyhan dari belakang.
Alya menoleh. “Kita berhasil. Programnya yang jalan.”
“Tapi kamu yang menjaganya,” balas Reyhan.
Alya tidak langsung menjawab. Ia menatap ruangan, lalu berkata pelan, “Aku cuma nggak mau mereka pulang lebih lelah dari saat datang.”
Reyhan terdiam. Kalimat itu sederhana. Tapi baginya, itu menjelaskan banyak hal tentang Alya.
Tentang caranya bekerja. Tentang caranya hidup.
Mereka keluar gedung bersama. Langit sore mulai berwarna jingga. Udara tidak terlalu panas.
“Besok kita evaluasi?” tanya Alya, kembali ke mode kerja.
“Iya,” jawab Reyhan. “Tapi hari ini cukup.”
Alya mengangguk. Ia menyadari sesuatu: ia tidak lagi merasa harus membuktikan apa pun hari ini.
Alya berjalan kembali ke ruangannya saat ponselnya bergetar. Pesan dari Viko.
Papa sudah minum obat. Kami baik-baik saja. Kamu jangan pulang malam.
Alya membalas singkat, lalu kembali berjalan sembari ngobrol singkan dengan kakaknya di kantor.
Hari ini tidak mengubah hidupnya.
Tidak menyelesaikan semua beban.
Tidak membuatnya tiba-tiba merasa ringan sepenuhnya.
Tapi hari ini berjalan.
Dan itu sudah cukup.
Di tempat lain, Reyhan duduk di mobilnya sendiri, belum langsung menyalakan mesin. Ia memikirkan hari yang baru saja berlalu. Tentang Alya yang tidak mencari sorotan. Tentang cara ia berdiri di antara sistem dan manusia tanpa harus mengeras.
Reyhan menyadari sesuatu yang pelan tapi pasti:
Ia tidak ingin menjadi orang yang dikagumi Alya.
Ia ingin menjadi orang yang bisa berdiri di sampingnya—ketika Alya lelah menopang semuanya sendiri.
Pikirannya berhenti di sana. Tidak ia lanjutkan.
Karena hari ini bukan tentang perasaan yang diucapkan.
Hari ini tentang kerja yang selesai dengan baik.
Dan dua orang yang, tanpa sadar, mulai berjalan searah.
TBC