NovelToon NovelToon
Bangkit Setelah Dihancurkan

Bangkit Setelah Dihancurkan

Status: sedang berlangsung
Genre:Ibu Tiri / Trauma masa lalu / CEO / Romantis / Cinta pada Pandangan Pertama / Romansa
Popularitas:893
Nilai: 5
Nama Author: Kumi Kimut

Kehidupan Nana berubah total saat sang ibu tiada. Nana terpaksa tinggal bersama ayah dan ibu tiri yang memiliki dua anak perempuan. Perlakuan saudara tiri dan ibu tiri membuatnya menderita. Bahkan saat dirinya akan menikah, terpaksa gagal karena fitnah sang ibu tiri.

Setelah semua kegetiran itu, Nana memilih untuk bangkit. Dia bersumpah akan membalas semua perbuatan jahat yang dilakukan oleh ibu dan saudara tirinya!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kumi Kimut, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 19 - Kedekatan Dr. Jordan - Nana

Jordan tidak langsung menjawab. Ia justru menatap pintu yang baru saja tertutup, lalu perlahan mengalihkan pandangannya pada Nana.

Tatapan itu membuat Nana merasa tidak nyaman. Ada jeda yang terlalu panjang, terlalu sunyi.

“Dokter?” panggil Nana ragu.

Jordan menghela napas, lalu—tanpa aba-aba—berkata tenang, nyaris datar,

“Karena kamu pacarku.”

Dunia Nana seperti berhenti berputar.

“Apa?” Nana menegakkan tubuhnya refleks. Matanya melebar, napasnya tercekat. “D-Dokter…?”

Jordan masih menatapnya. Wajahnya serius. Terlalu serius sampai jantung Nana berdetak tak karuan.

“Kamu pacarku,” ulang Jordan, seolah itu hal paling wajar di dunia.

Nana menelan ludah. Otaknya kosong. “Dokter… jangan bercanda. Ini bukan waktunya."

Jordan menahan ekspresi itu beberapa detik lagi—lalu tiba-tiba bibirnya melengkung. Bahunya sedikit bergetar. Dan detik berikutnya, ia tertawa.

Tawa rendah. Lepas. Jujur.

“Hahaha… maaf,” katanya sambil mengusap wajah. “Aku tahu. Reaksimu persis seperti yang kubayangkan.”

Nana menatapnya tak percaya. “Dokter Jordan!”

“Maaf,” ulangnya, masih tersenyum.

Nana menghela napas panjang, antara lega dan kesal. “Jantungku hampir copot, Dok.”

Jordan tertawa kecil lagi, kali ini lebih terkendali. “Maaf. Tapi satu hal—aku serius soal satu bagian.”

Nana terdiam. “Bagian yang mana?”

Jordan menatapnya, kali ini tanpa bercanda. “Kamu pacarku. Hahaha."

Ruangan itu kembali sunyi.

Nana menunduk, pipinya terasa hangat. “Dokter ini… suka bicara sembarangan. Katanya bercanda huhu."

“T-idak,” Jordan tersenyum lembut. “Aku cuma...."

Nana mengangkat wajahnya. Untuk sesaat, mereka saling menatap—tanpa status, tanpa definisi, hanya dua orang yang sama-sama lelah dan jujur.

"Cuma apa dok?"

Jordan tidak langsung menjawab pertanyaan itu. Ia justru tersenyum—senyum tipis yang sulit ditebak, seolah ada banyak hal berputar di kepalanya tapi tak satu pun ingin ia ucapkan sekarang.

“Sudah,” katanya pelan. “Kamu capek.”

Nana mengernyit. “Dokter belum jawab.”

Jordan berdiri, merapikan jas dokternya dengan gerakan yang terlalu tenang untuk seseorang yang barusan melontarkan candaan—atau pengakuan—yang membuat jantung orang lain hampir berhenti. Ia melangkah mendekat, tapi tetap menjaga jarak yang sopan.

“Ada kalanya,” ujar Jordan lembut, “jawaban tidak perlu diucapkan sekarang.”

Nana terdiam. Ia ingin protes, ingin memaksa, tapi tubuhnya sendiri terasa lelah. Emosi yang naik turun sejak tadi membuat kepalanya pening. Jordan menangkap perubahan itu.

“Rehat,” katanya lagi, kali ini dengan nada dokter yang tegas tapi hangat. “Kamu butuh tidur. Aku tidak mau kamu overthinking sampai pagi.”

Nana mendengus kecil. “Dokter penyebab overthinking-nya.”

Jordan terkekeh pelan. “Itu sebabnya aku menyuruhmu istirahat.”

Ia menarik selimut Nana sedikit lebih rapi, gerakannya cepat dan profesional, seolah ingin menutup semua kemungkinan kesalahpahaman. Namun sebelum berbalik pergi, Jordan sempat menatap Nana sekali lagi.

Tatapan itu singkat. Tapi cukup lama untuk meninggalkan sesuatu—bukan janji, bukan pula kepastian. Lebih seperti… senyum rahasia yang hanya mereka berdua rasakan.

“Tidur yang nyenyak,” ucap Jordan.

Nana ingin mengatakan sesuatu, tapi kata-kata itu tertahan di tenggorokannya. Ia hanya mengangguk kecil. Saat pintu tertutup, Nana menatap langit-langit ruangan, jantungnya masih berdebar dengan irama yang belum juga normal.

Di luar ruangan, Jordan berhenti melangkah.

Ia menghembuskan napas panjang, telapak tangannya refleks meremas jas putihnya sendiri. Baru sekarang dadanya terasa sesak—bukan karena lelah, bukan karena tekanan kerja. Melainkan karena kesadaran yang datang terlambat dan terlalu jujur.

“Aku barusan bilang apa sih…” gumamnya pelan.

Jordan menyandarkan punggungnya ke dinding lorong. Lampu rumah sakit memantul di matanya yang kini jauh dari datar. Ia tertawa kecil, tanpa suara, sambil menggelengkan kepala.

Itu kata yang paling tepat. Ia kaget dengan dirinya sendiri—dengan betapa mudahnya kalimat itu keluar, dengan betapa alaminya Nana berada di pikirannya, dengan perasaan ringan yang muncul setelahnya.

Ia mengingat reaksi Nana. Mata membesar. Napas tercekat. Panik yang jujur.

"Apa aku jatuh cinta padanya?"

***

Bersambung...

1
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
Cindy
lanjutt
Cindy
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!