Ketika kabar bahagia berubah duka. Cinta yang dia impikan telah menjadi hal paling menyakitkan. Pertemuan manis, pada akhirnya adalah hal yang paling ia sesali dalam hidupnya.
Mereka dipertemukan ketika hujan turun. Lalu, hujan pulalah yang mengakhiri hubungan itu. Hujan mengubah segalanya. Mengubah rasa dari cinta menjadi benci. Lalu, ketika pertemuan berikutnya terjadi. Akankah perasaan itu berubah lagi?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab*21
"Bisma! Apa-apaan kamu? Kamu tuh yang banyak kerjaan. Urusan kamu sebagai pimpinan kantor cabang bisa-bisanya kamu tinggalkan. Kamu-- "
"Aduh, ya Tuhan. Tolonglah aku." Camelia berucap kesal. "Apa salahku punya dua anak laki-laki tapi kerjaannya ribut melulu? Kalau begini, aku bisa terkena tensi akut."
"Mama. Tenang ya. Jangan bicara yang nggak-nggak." Ain berucap dengan lembut. "Dua kakak mau ikut?"
Anggukan cepat langsung terlihat dari keduanya. Ain pun tersenyum. Seperti yang sudah dia bayangkan, pertanyaannya itu pasti akan di jawab iya oleh kedua kakaknya.
"Baiklah kalau begitu."
Ain menoleh ke arah sang mama.
"Ma. Apa boleh mereka ikut kita? Lagian, aku juga ingin kita jalan-jalan setelah urusan di rumah sakit selesai."
Senyum sang mama langsung melebar. Begitu juga kedua kakaknya. "Tentu saja boleh, sayang. Jika kamu ingin mereka ikut, maka mama akan memenuhi apa yang kamu inginkan."
"Baiklah. Kakak, jika kalian tidak keberatan, kita akan jalan bersama. Bagaimana?"
"Tentu saja," ucap keduanya serentak dengan kompak. Keduanya juga terlihat sangat bahagia sekarang.
"Ayo kita berangkat!" Bisma berucap dengan penuh semangat sambil meraih tangan Ain.
Segera, tangan itu ditepis Avin. Plak!
"Lepaskan tangan mu. Adik, biar aku yang gandeng."
"Kak Avin." Kesal Bisma pada kakak pertamanya. "Adik, lihat kak Avin. Dia kejam padaku. Kamu, aku yang gandeng."
"Gak. Aku kakak pertama. Kamu jangan membantah."
"Adik .... " Bisma malah merengek.
Sang mama langsung melepaskan napas berat. "Heh ... astaga. Cukup sudah perdebatan kalian. Kasihan putriku yang terpojok gara-gara ulah kalian berdua."
Sang mama kembali mengeluh. "Aduh ... tolonglah. Kalian tolong jangan berdebat lagi. Jika adik kalian ini orang yang kasar, mungkin kalian berdua sudah dia bentak sejak lama. Kalian terus saja memperebutkan dia. Adikmu bisa risih gara-gara ulah kalian ini."
"Ma-- ma .... " Bisma bukannya menyesal, tapi malah semakin merengek dengan keras.
"Adik, jangan bosan ya. Jangan risih. Kakak hanya ingin membuat kamu bahagia. Gak maksud buat kamu gak nyaman kok."
"Iya, Ain. Kakak gak niat buat kamu gak nyaman kok. Maafkan kami," ucap Avin pula dengan wajah menyesal.
Sontak, Aina langsung tersenyum manis. Kedua tangan kakaknya dia genggam secara bersamaan. "Tidak. Kakak-kakak. Aku gak merasa risih kok. Aku tahu, kalian hanya ingin menunjukkan rasa kasih sayang kalian."
Ain langsung menoleh ke arah mamanya.
"Mama, aku baik-baik saja. Aku juga bahagia dengan semua ini. Aku bahagia dengan perlakuan mama dan kakak-kakak."
Belum sempat Camelia menjawab apa. yang anaknya katakan. Darius malah datang. Orang tua itu, datang-datang malah langsung ikut bicara.
"Bagaimana dengan papa, Ain?"
Seketika, perhatian mereka semua tertuju pada Darius. Camelia sontak mendengus pelan.
"Aduh ... malah nambah satu lagi. Benar-benar gak akan ada habisnya perebutan ini."
"Papa."
"Bagaimana dengan papa, Sayang? Tolong, jangan lupakan papamu ya."
"Papa ngomong apa sih? Ain gak akan lupa sama mama. Ain bahagia telah di pertemukan dengan kalian semua. Ain bahagia dengan perlakuan yang telah kalian perlihatkan pada Ain."
"Anak kesayangan mama. Aduh ... udah ah ngobrolnya. Sekarang, ayo berangkat. Kalo ngobrol terus, kapan berangkatnya?"
"Benar. Tar keburu sore. Mana sempat kita bawa adik jalan-jalan, Ma." Bisma membenarkan.
"Hm. Bisma benar." Avin ikut mengiyakan. "Kita udah rencanain mau bawa adik jalan-jalan. Terus, beli barang-barang yang adik butuhkan."
"Barang-barang apa, kak Avin? Kan, semua barang yang aku butuhkan sudah ada. Sudah disiapkan semua sebelumnya."
"Itu kebutuhan hari-hari, Ain. Kebutuhan buat jalan-jalan belum."
"Benar. Kita akan jalan-jalan ke mall. Terus, beli apapun yang adik inginkan. Baju, tas, sendal, perhiasan. Dan, apapun yang adik mau. Kita akan beli semuanya."
"Aduh, udah. Tolong jangan ngobrol lagi."
Camelia langsung meraih tangan anak bungsunya. "Ayo, sayang! Jika meladeni kakak-kakak mu bicara, gak akan pernah selesai hingga hari sore."
Aina hanya bisa tersenyum. Lalu, mengikuti apa yang mamanya katakan. Kedua kakaknya langsung menyusul dengan cepat. Empat orang di dalam satu mobil. Darius pun tidak kebagian tempat.
"Tunggu! Papa di mana? Kalian kok tega sih sama mama."
"Hah? Papa mau ke mana?" Camelia melihat suaminya dengan pandangan penuh tanda tanya. Yah, walaupun sebenarnya, dia sudah tahu apa yang sedang ada dalam pikiran si suami.
"Yah, mama. Kok malah nanya. Tentu saja ikut kalian dong."
"Avin. Turun kamu! Biar papa yang masuk. Kamu keluar."
"Lah, gak bisa, Pa. Aku kan yang punya mobil. Mana boleh aku di tinggal."
"Bisma. Kamu turun!"
"Yah, papa. Aku juga gak bisa. Yang bawa mobil siapa kalau aku turun. Kan, posisinya saat ini, yang bawa mobil aku, Pa." Bisma beralasan dengan bangga.
"Apa?" Kesal Darius bukan kepalang pada kedua anaknya. Lalu, pandangan matanya pun teralihkan pada si istri yang duduk di belakang. Eh ... belum berucap saja sudah di skak duluan.
"Apa? Mau minta mama turun? Ya nggak akan lah."
"Terus, papa gimana? Ain. Papa mau ikut."
"Apaan sih, Pa? Astaga. Ikut pakai mobil sendiri aja deh kalo gitu." Kesal Camelia pada suaminya.
"Ain. Mama kamu tega. Mereka tega. Kamu turun aja yuk. Ikut papa aja. Naik mobil bareng papa. Biarkan mereka bertiga di sini."
Seketika, tatapan kesal langsung Camelia perlihatkan. "Papa .... "
"Iya deh. Aina. Baik-baik di sini ya, Nak. Papa akan ikut dari belakang."
Aina hanya bisa tersenyum melihat tingkah keluarganya ini. Sudah hampir satu minggu dia di keluarga ini. Tapi, cerita rebutan dirinya masih saja tidak berkurang. Masih saja tetap berebut dalam hal apapun itu. Hal sekecil apapun, mereka akan memperebutkannya.
Kapan Aina baru bisa tenang? Saat istirahat di kamar. Itulah saat rebutan dirinya akan berhenti. Tapi, jika dia di luar kamar, maka perebutan itu akan terus terjadi.
Perebutan itu bukan hanya akan dilakukan oleh kedua kakaknya. Tapi, juga dilakukan oleh papanya. Mereka berebut saat memberikan barang. Saat ingin menyediakan sesuatu untuk Ain. Bahkan, saat duduk pun, mereka akan memperebutkannya.
Cukup risih sebenarnya. Tapi Aina maklum. Keluarga ini sangat menyayangi dia. Menurut cerita dari si bibi yang sudah lama bekerja di rumah ini, keluarga itu tidak pernah menyerah untuk mencari keberadaan dia walau sudah belasan tahun berlalu.
Kata si bibi juga, rumah ini baru terlihat ceria ketika Aina datang. Sebelum Ain ditemukan, rumah ini selalu suram. Canda tawa terdengar sangat jarang. Sedangkan kesedihan, lebih sering terlihat. Terutama, dari raut mama Ain.
"Nyonya akan mengurung diri di kamar nona setiap hari. Jika tidak ada siapa-siapa di rumah, maka nyonya tidak akan keluar dari kamar nona kecil." Begitulah kata bibi tersebut menjelaskan pada Aina.