Destia Ayu Gantari wanita cantik cerdas dan penuh pesona yang hobinya memanah. Tanpa sengaja saat liburan di Jogja dia bertemu pria yang menarik menurutnya yaitu Idrissa Pramudya yang merupakan dosen di kampus yang sama dengan ayahnya.
Idris tak sengaja akan menabrak Tia, saat Tia sedang berjalan di area stasiun. Akhirnya mereka bertemu kembali saat berada di sebuah warung saat sedang sarapan. Mereka semakin dekat seiring waktu sampai akhirnya menikah.
Idris sendiripun merupakan Duda tanpa anak yang sudah bercerai karena dikhianati mantan istirnya tapi Tia belum mengetahui semua itu bahkan sampai mereka menikah.
Saat Idris bertemu wanita masa lalunya Tia mengetahui hal tersebut dari Anggun karyawannya.
Bagaimanakah respon Tia? Apakah akan marah, sedih, kecewa? Atau kepo mungkin? dan ingin cari tahu lebih tentang masa lalu suaminya tersebut dengan hal-hal yang tidak biasa?
Jika ingin tahu terus ikuti kelanjutannya ya guys. Don't forget to keep reading until the end💕
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dtf_firiya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
The landing
Kabar lamaran Idris dan Tia di atas atap ruko dengan alas parasut paralayang menyebar seperti aroma brownies yang baru keluar dari oven—cepat, manis, dan menggoda siapapun yang mendengarnya. Berkat unggahan Lita di TikTok yang menangkap momen Idris berlutut di tengah kerlap-kerlip fairy lights, Crumbs & Clouds bukan lagi sekadar toko kue lokal; ia bertransformasi menjadi simbol romantisme dan keberanian mengejar mimpi di Jakarta.
Dalam waktu kurang dari dua minggu setelah malam itu, grafik penjualan toko melonjak hingga 300%. Nama Tia dan Idris menghiasi berbagai portal media gaya hidup sebagai "The Power Couple of Pastry". Namun, bagi Tia, pertumbuhan pesat ini adalah "tanjakan" baru yang lebih terjal daripada jalur Selo di Merbabu.
...----------------...
Pagi itu, ruko Crumbs & Clouds tampak seperti pelabuhan yang sangat sibuk. Tia tidak lagi hanya berdiri di depan oven. Ia kini berada di depan sebuah papan tulis besar, mengatur jadwal pengiriman dan alokasi bahan baku.
"Anggun! Batch 'Merbabu Sunrise' untuk pesanan korporat jam sepuluh sudah siap?" tanya Tia sambil memeriksa tablet pemesanannya.
"Sudah di tahap cooling, Mbak! Lita sedang menyiapkan kotak hantaran khususnya," jawab Anggun yang kini sudah menjadi kepala produksi, memimpin tiga asisten dapur baru yang baru saja direkrut Tia untuk mengimbangi permintaan.
"Mbak Tia!" seru Lita dari meja depan. "Ada permintaan dari stasiun televisi nasional. Mereka mau meliput cerita di balik menu 'The Landing'. Katanya penonton mereka terobsesi dengan cerita lamaran kita!"
Tia menghela napas panjang, tersenyum namun sedikit kewalahan. "Atur jadwalnya minggu depan, Lita. Pastikan tidak mengganggu jam produksi utama kita."
Sekarang Tia benar-benar sangat sibuk dengan pesanan yang melejit pesat.
Idris masuk ke toko dengan membawa beberapa map berisi dokumen legal. Meskipun ia tetap bekerja, setiap sore dan akhir pekan ia mendedikasikan seluruh waktunya sebagai "Manajer Strategis" bagi Tia.
"Tia, kita sudah nggak bisa bertahan cuma di satu ruko ini," ujar Idris serius sambil mengajak Tia duduk di sudut kafe yang sedikit tenang. "Permintaan dari Jakarta Barat dan Utara sudah terlalu tinggi. Biaya kirimnya bikin pelanggan mengeluh."
Tia menatap Idris, matanya berbinar namun ada keraguan. "Mas, kita baru saja buka toko ini beberapa bulan. Apa nggak terlalu cepat buat buka cabang?"
Idris menggenggam tangan Tia, menunjukkan cincin tunangan yang masih berkilau di jari manisnya. "Tia, ingat waktu kita di Merbabu? Kita nggak berhenti di Sabana 1 kan? Kita terus ke puncak karena kita tahu kita mampu. Sekarang, 'angin' bisnis kita lagi kencang. Ini saatnya kita buka Cloud Kitchen di dua titik lain."
Tia terdiam, memikirkan Anggun dan Lita. "Aku takut kualitasnya turun, Mas. Aku nggak bisa ada di tiga tempat sekaligus buat ngecek setiap butir sea salt di atas brownies itu."
"Itulah gunanya sistem, Tia. Kamu sudah melatih Anggun dengan hebat. Sekarang saatnya Anggun melatih orang lain. Kamu itu penciptanya, bukan lagi karyawan kantor biasa," jawab Idris meyakinkan.
...----------------...
Sebagai bentuk perayaan lamaran mereka, Tia meluncurkan menu baru yang ia janjikan malam itu: "The Landing". Brownies ini sangat unik; berbahan dasar cokelat putih premium dengan tekstur yang sangat lembut (fudgy namun ringan), dihiasi dengan glaze berwarna biru langit dan taburan mutiara gula perak yang melambangkan bintang-bintang di malam lamaran.
"Mbak, pesanan 'The Landing' pagi ini tembus 500 kotak!" lapor Lita dengan wajah sumringah. "Banyak pasangan muda yang pesan ini buat acara lamaran mereka juga. Mereka bilang, kue ini bawa keberuntungan."
Tia tertawa. "Bukan keberuntungan, Lita. Bilang ke mereka, kue ini bawa keberanian. Keberanian buat bilang 'iya' pada tantangan yang baru."
Anggun mendekati mereka, membawa sebuah piring berisi eksperimen rasa baru. "Mbak, ini pengembangan untuk menu 'The Landing' versi mini. Buat snack box rapat kantor. Gimana menurut Mbak?"
Tia mencicipinya, matanya terpejam. "Sempurna, Anggun. Kamu sudah dapet ritmenya. Teksturnya pas, nggak terlalu manis tapi ninggalin kesan. Aku bangga banget sama kamu."
Puncak dari perkembangan pesat ini terjadi ketika sebuah maskapai penerbangan butik yang melayani rute-rute wisata eksklusif menghubungi Tia. Mereka ingin menjadikan brownies Crumbs & Clouds sebagai signature snack bagi penumpang kelas bisnis mereka.
"Mereka mau kontrak eksklusif, Tia," Idris membacakan draf kontrak itu di ruang kerja mereka yang baru di lantai dua ruko. "Nama kamu bakal ada di menu mereka. 'Crumbs & Clouds: A Taste of Above the Clouds'. Ini bener-bener bakal bawa bisnis kamu ke langit secara harfiah."
Tia bersandar di kursi kerjanya, menatap langit Jakarta dari jendela. "Dulu aku cuma karyawan yang takut ketinggian, Mas. Sekarang kueku bakal terjual tiap hari ke seluruh Indonesia."
"Dan itu semua karena kamu berani lari ke arah jurang itu, Tia," tambah Idris.
...----------------...
Meskipun Crumbs & Clouds kini telah berkembang menjadi perusahaan dengan belasan karyawan dan beberapa titik distribusi, Tia tetaplah Tia yang dulu. Setiap Sabtu pagi, ia tetap turun ke dapur bersama Anggun dan Lita untuk memastikan "resep rahasia" cinta dan keberanian tetap ada di setiap adonan.
Toko fisiknya kini menjadi tempat berkumpulnya para pemimpi. Di dindingnya, kini ditambah satu foto lagi: foto tim besar mereka yang terdiri dari Anggun, Lita, para asisten dapur, dan Idris, semuanya mengenakan celemek dengan logo sayap cokelat.
"Mbak Tia," panggil Lita saat mereka hendak menutup toko di akhir pekan yang sangat melelahkan. "Terima kasih sudah ajak saya bergabung di bisnis ini. Saya nggak pernah ngerasa sehidup ini sebelumnya."
Tia memeluk Lita dan Anggun erat. "Terimakasih ya, semoga kalian nyaman disini dan karena ada kalian aku juga nggak akan pegel sendiri karena ada yang bantuin."
Malam itu, saat Idris menjemputnya, mereka tidak langsung pulang. Idris membawa Tia berkendara melewati kantor lama Tia. Gedung itu masih berdiri di sana, kaku dan abu-abu. Tia menatap gedung itu tanpa rasa benci, hanya rasa syukur.
"Dulu aku pikir itu satu-satunya duniaku," bisik Tia.
"Sekarang duniamu adalah sebanyak yang bisa kamu bayangkan, Tia," sahut Idris sambil menggenggam tangannya.
Crumbs & Clouds telah berkembang lebih pesat dari yang Tia bayangkan selama ini. Crumbs & Clouds sudah ada di hati warga Jakarta, namun bagi Tia dan Idris, perjalanan mereka baru saja memasuki zona jelajah yang paling indah.
apa nanti ga ada kata akan prettt pada waktunya 🤭
mantan ga ada