NovelToon NovelToon
Kesayangan Tuan Muda Mafia

Kesayangan Tuan Muda Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Mafia / Selingkuh / Obsesi / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Identitas Tersembunyi / Roman-Angst Mafia
Popularitas:2.8k
Nilai: 5
Nama Author: Julia And'Marian

Zivaniel Maxton de Luca adalah sosok yang ditakuti dunia bawah. Di balik wajah tampannya, ia menyimpan darah dingin dan tangan yang tak pernah ragu menumpahkan nyawa. Dengan topeng penyamaran, ia membantai musuh-musuhnya tanpa ampun, menegakkan hukum versinya sendiri dalam lingkaran mafia kelas kakap yang diwariskan padanya sejak lahir.
Tak seorang pun mengetahui identitas aslinya. Bagi dunia luar, Zivaniel hanyalah pria biasa dengan aura dingin yang sulit ditembus. Namun bagi mereka yang mengenalnya di dunia gelap, namanya adalah teror—legenda yang hidup, bengis, dan tak pernah gagal.
Hingga satu nama mampu meretakkan kekokohan hatinya.
Cherrin.
Gadis yatim piatu yang tumbuh dalam kesederhanaan setelah diadopsi oleh sang nenek. Lembut, polos, dan jauh dari dunia hitam yang melingkupi hidup Zivaniel. Sejak kecil, Cherrin adalah satu-satunya cahaya dalam hidupnya—alasan mengapa ia masih mengenal rasa ragu, takut dan cinta.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Julia And'Marian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chapter 33

Tangis Cherrin tidak langsung reda.

Ia menangis seperti seseorang yang menahan terlalu lama—tanpa suara keras di awal, hanya bahu yang bergetar, napas yang tersendat, lalu perlahan berubah menjadi isakan yang patah dan tidak teratur. Tangannya mencengkeram kain kemeja Zivaniel, seolah takut jika ia melepasnya, pria itu akan kembali menghilang ke malam yang sama, ke darah, ke pisau, ke sesuatu yang tidak bisa ia lihat atau lindungi.

Zivaniel tetap diam.

Tubuhnya kaku, bukan karena dingin, tapi karena kebingungan yang sunyi. Ia terbiasa dengan rasa sakit fisik—luka, darah, tekanan, kehilangan kendali atas tubuh sendiri. Tapi ini… ini lain. Kehangatan tubuh Cherrin yang menempel padanya, air mata yang membasahi dadanya, suara tangis yang langsung menghantam ruang kosong di dalam dirinya—semuanya terasa asing dan terlalu nyata.

Ia tidak tahu harus melakukan apa.

Tangannya terangkat sedikit, ragu, lalu berhenti di udara. Luka di perutnya berdenyut pelan saat ia menarik napas terlalu dalam. Akhirnya, dengan gerakan yang canggung, ia meletakkan satu tangan di punggung Cherrin. Tidak memeluk. Tidak menekan. Hanya menempel—seperti memastikan bahwa ia memang masih ada di sini.

Cherrin menangis lebih keras.

“Aku kira…” suaranya patah. “Aku kira kamu mati.”

Kata itu jatuh di antara mereka, berat dan dingin.

Zivaniel menelan ludah.

“Aku pulang,” katanya pelan.

Itu bukan janji. Bukan penjelasan. Hanya fakta.

Cherrin menggeleng, wajahnya masih tersembunyi di dada Zivaniel. “Kamu berdarah. Kamu bilang jatuh. Semua orang bilang itu kecelakaan. Tapi aku bukan orang bodoh, Niel.”

Ia menarik napas panjang, gemetar. “Aku melihat luka itu. Aku dengar kata ‘pisau’. Aku dengar cara kakekmu berbicara.”

Zivaniel menutup mata sesaat.

Ia tahu momen ini akan datang. Ia hanya tidak menyangka datangnya akan secepat ini—dan dengan kondisi tubuhnya yang masih belum sepenuhnya kembali miliknya.

“Aku tidak bisa cerita,” katanya akhirnya.

Cherrin terdiam.

Tangisnya mereda sedikit, berubah menjadi napas berat yang tersendat-sendat. Ia mengangkat wajahnya perlahan. Matanya merah, basah, dengan kilau marah yang tidak sepenuhnya ia sembunyikan.

“Tidak bisa?” ulangnya.

Zivaniel membuka mata dan menatapnya.

“Tidak sekarang.”

“Apa bedanya?” suara Cherrin naik sedikit. “Sekarang atau nanti, aku tetap tidak tahu apa-apa, kan?”

Ia menjauh sedikit, masih duduk sangat dekat. Tangannya terlepas dari kemeja Zivaniel, tapi tidak benar-benar menjauh. Seolah ia masih butuh jarak sedekat ini untuk memastikan pria itu tidak menghilang.

“Kamu selalu begitu,” katanya lirih tapi tajam. “Kamu diam. Kamu menghilang. Kamu kembali dengan luka. Lalu kamu bilang ‘aku masih hidup dan aku baik-baik saja’ seolah itu cukup.”

Zivaniel tidak menjawab.

Bukan karena tidak mau. Tapi karena tidak tahu bagaimana.

Ia tidak terbiasa menjelaskan dirinya. Dunia tempat ia dibesarkan tidak memberi ruang untuk itu. Penjelasan adalah kelemahan. Emosi adalah celah. Dan celah… adalah tempat pisau masuk.

Ia menggeser tubuhnya sedikit di ranjang, menahan desis kecil saat luka di perutnya tertarik. Cherrin refleks meraih lengannya.

“Pelan,” katanya cepat.

Zivaniel berhenti bergerak.

Sentuhan itu—ringan, penuh perhatian—membuat dadanya kembali terasa sesak. Bukan karena sakit.

“Aku tidak ingin menyakitimu,” katanya akhirnya. “Aku hanya… tidak ingin kamu ikut masuk ke dalam sesuatu yang tidak bisa kamu keluar dari.”

Cherrin tertawa kecil tanpa humor.

“Kamu pikir aku belum masuk?” katanya. “Sejak pertama kali aku berdiri di rumah ini, sejak aku melihat cara orang-orang menunduk saat kakekmu lewat, sejak aku sadar bahwa hidupmu bukan milikmu sendiri—aku sudah di dalamnya, Niel.”

Ia menarik tangannya, menyeka air mata dengan kasar.

“Bedanya, kamu ada. Aku tidak.”

Keheningan turun lagi.

Jam di sudut kamar berdetak pelan, hampir tidak terdengar. Tirai bergerak sedikit karena angin malam yang menyusup melalui celah jendela. Lampu meja menyala redup, membuat bayangan mereka memanjang di dinding.

Zivaniel menatap bayangan itu.

Dua sosok yang berdiri sangat dekat, tapi garis di antara mereka tetap ada—tipis, nyaris tak terlihat, namun tidak bisa dilewati begitu saja.

“Kamu harus istirahat,” kata Cherrin akhirnya, suaranya lebih lelah daripada marah.

Ia berdiri, mengambil selimut tipis dan membantu Zivaniel berbaring lebih nyaman. Gerakannya hati-hati, penuh perhatian, seolah tubuh pria itu terbuat dari kaca yang bisa retak kapan saja.

“Dokter bilang kamu tidak boleh stres,” lanjutnya. “Dan lihat kita sekarang.”

Zivaniel menghela napas pelan.

“Aku minta maaf.”

Cherrin berhenti.

Ia menatap Zivaniel lama, seolah mencoba menemukan sesuatu di wajahnya—tanda kebohongan, penyangkalan, atau sekadar kepastian bahwa permintaan maaf itu bukan basa-basi.

“Jangan minta maaf kalau kamu akan melakukannya lagi,” katanya.

Zivaniel tidak menyangkal.

Itu jawaban tersendiri.

Cherrin menarik kursi dan duduk di samping ranjang. Ia menyandarkan sikunya di kasur, dagunya bertumpu di tangan. Mata mereka sejajar sekarang.

“Aku akan di sini,” katanya pelan. “Malam ini.”

Zivaniel mengangguk tipis.

Matanya mulai terasa berat. Obat penghilang rasa sakit mulai bekerja, mengaburkan tepi dunia. Suara Cherrin terdengar sedikit lebih jauh, seperti datang dari balik air.

“Tidur Niel..” kata Cherrin.

Ia mengangguk lagi.

Namun sebelum matanya benar-benar tertutup, Zivaniel berbicara lagi—suara rendah, hampir tenggelam.

“Maafkan aku”

Cherrin menegang.

“Iya,” jawabnya pelan.

“Kali ini… maafkan aku.”

Cherrin mengangguk lagi, meski dadanya terasa perih.

“Aku udah maafin kamu,” katanya. “Aku akan selalu maafin kamu.”

Zivaniel tidak menjawab.

Napasnya melambat. Wajahnya sedikit mengendur. Tubuhnya akhirnya menyerah pada kelelahan yang selama ini ia tahan dengan kehendak semata.

Cherrin tetap duduk di sana.

Ia memperhatikan setiap detail—garis rahang Zivaniel yang tegas, bulu mata yang sedikit bergetar saat ia tertidur, perban putih yang melilit perutnya, naik turun pelan mengikuti napas.

Ia menyadari sesuatu dengan tiba-tiba, menyakitkan:

Betapa mudahnya ia hampir kehilangan semua ini.

Tangannya bergerak pelan, nyaris tak menyentuh, hanya mengusap udara di atas rambut Zivaniel. Ia tidak ingin membangunkannya.

“Aku di sini,” bisiknya, lebih untuk dirinya sendiri.

Malam terus berjalan.

Di luar, mansion De Luca tetap sunyi. Penjaga berganti shift tanpa suara berlebihan. Lampu-lampu luar menyala stabil, menerangi taman luas yang terlihat tenang—seolah tidak ada darah yang tumpah beberapa jam sebelumnya, seolah tidak ada pengkhianatan yang baru saja terjadi.

Di lantai lain, Kakek De Luca berdiri di depan jendela besar ruang kerjanya. Tongkatnya bertumpu di lantai, kedua tangannya menggenggam gagangnya.

“Siapa?” tanyanya tanpa menoleh.

Maxtin berdiri beberapa langkah di belakangnya.

“Orang dalam,” jawabnya singkat. “Satu dari jalur lama. Sudah diamankan.”

“Dan Zivaniel?”

“Sudah di tangani.”

Kakek De Luca tersenyum tipis—bukan senyum lega, melainkan senyum seseorang yang baru saja menghindari kerugian besar.

“Bagus,” katanya. “Berarti pelajaran itu belum terlalu mahal.”

Maxtin terdiam.

“Cherrin melihat luka itu,” lanjut Kakek De Luca. “Dia mulai curiga.”

“Kita bisa menjauhkan—”

“Tidak,” potongnya. “Biarkan saja.”

Maxtin menoleh ke arah papanya.

“Kau lupa satu hal,” lanjut pria tua itu tenang. “Yang membuat seseorang bertahan di keluarga ini bukan hanya ketakutan. Tapi keterikatan.”

Ia berbalik perlahan.

“Dan cucuku… mulai memilikinya.”

Maxtin tidak menjawab. Ia menghela nafasnya kasar.

"Tapi pa, istriku –"

"Aku tidak peduli."

*

Kembali ke kamar, malam mulai menipis.

Langit di balik jendela perlahan berubah warna—hitam pekat menjadi biru tua, lalu biru keabu-abuan. Cherrin masih duduk di tempat yang sama, meski tubuhnya pegal dan matanya perih.

Ia tidak tidur.

Setiap kali Zivaniel bergerak sedikit, ia langsung terjaga penuh. Setiap helaan napas pria itu terasa seperti sesuatu yang harus ia hitung, pastikan, jaga.

Saat cahaya pagi pertama menyelinap masuk, Zivaniel terbangun.

Matanya terbuka perlahan. Dunia terasa berat, tapi lebih stabil. Rasa sakit masih ada—tumpul, menetap—namun tidak lagi menusuk.

Hal pertama yang ia lihat adalah Cherrin.

Ia tertidur sambil duduk, kepala bersandar di tepi ranjang, tangannya masih dekat dengan tangannya. Rambutnya sedikit berantakan, lingkar gelap di bawah mata terlihat jelas.

Zivaniel menatapnya lama.

Ada sesuatu yang bergeser pelan di dalam dirinya—sesuatu yang tidak ia beri nama, tidak ia pahami sepenuhnya. Tapi terasa nyata. Berat. Tidak bisa diabaikan.

Ia menggeser jarinya sedikit.

Cherrin terbangun.

Mata mereka bertemu.

“Kamu bangun,” katanya cepat, masih setengah mengantuk.

Zivaniel mengangguk.

“iya. Aku masih hidup” katanya pelan.

Cherrin mendengus kecil, lalu matanya kembali berkaca-kaca. Ia menahan diri, menarik napas panjang.

“Jangan bercanda soal itu,” katanya.

Zivaniel diam.

Ia tidak bercanda.

Dan untuk pertama kalinya, ia sadar—malam itu bukan hanya tentang luka di tubuhnya.

Itu tentang sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

Seseorang yang mulai terlalu berarti.

1
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
Elran cemburu melihat kedekatan Niel dengan Cerrin ..
Julia and'Marian: 🤭🤭🤭,,
total 1 replies
Eva Karmita
lanjut otor semangat 🔥💪🥰
Eva Karmita
mampir otor 🙏😊
Julia and'Marian: amiin kak, makasih doanya🙏
total 3 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!