Jovan adalah pewaris mafia paling berbahaya di kota. Luka tembak dan pengkhianatan memaksanya melarikan diri ke sebuah desa terpencil, tempat seorang gadis sederhana bernama Mika menyelamatkan nyawanya.
Dengan identitas palsu sebagai petani buah, Jovan hidup di dunia yang tak pernah ia kenal—tenang, jujur, dan penuh kehangatan.
Di sanalah ia jatuh cinta pada Mika, tanpa ia sadari bahwa cintanya adalah ancaman.
Karena saat masa lalu mengejarnya, Mika bukan hanya gadis desa…dia adalah sandera paling berharga di dunia mafia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon indah yuni rahayu, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
2 Sandera Sekaligus
Jovan tidak bergerak beberapa detik.
Gudang itu kembali kosong, tapi udara masih menyimpan suara Mika.
Langkahnya. Napasnya. Nama yang sempat pecah dari mulutnya.
Levis sudah pergi.
Yang tersisa hanya debu, karung-karung tua, dan satu kesadaran sederhana. Ia terlambat.
Jovan menutup mata sebentar.
Bukan untuk menahan emosi.
Untuk menahan keputusan yang terlalu cepat berubah jadi pembantaian.
Ia keluar dari gudang tanpa menoleh lagi.
Malam di luar dingin, jalan kecil menuju desa tampak sama seperti tadi.
Tapi sekarang…desa itu tidak sama.
Jovan pulang dalam kondisi kehilangan dua orang sekaligus
menjelang dini hari.
Desa masih tidur. Lampu-lampu rumah redup. Jalan kecil basah oleh embun.
Tapi satu rumah tidak lagi lengkap.
Rumah Pak Raka kosong.
Tidak ada suara batuk kecil dari dapur. Tidak ada langkah pincang di teras. Tidak ada Mika.
Hanya pintu yang tidak terkunci.
Jovan berdiri di ambang.
Beberapa detik ia tidak masuk. Seolah ia berharap semua ini hanya salah urutan.
Lalu ia melangkah.
Ruang tengah gelap. Meja makan masih ada piring yang belum dicuci. Di kursi kayu, selendang Mika tergeletak.
Jovan menunduk, mengambil ponselnya pelan. Tangannya berhenti.
Sekarang Jovan menyalakannya.
Satu getaran kecil. Sinyal muncul setengah. Dan pesan masuk.
Nomor tak dikenal.
Satu kalimat: Kau kehilangan dua sekaligus. Cepat sekali.
Jovan tidak berkedip.
Pesan kedua menyusul.
Jangan cari ke pasar. Jangan tanya warga.
Kalau kau bergerak salah… yang pincang pulang dalam karung.
Jovan menutup mata sebentar.
Pak Raka.
Levis menahannya. Pesan ketiga. Lebih pendek.
Besok malam. Datang sendiri.
Jovan menatap layar. Lalu mengetik balasan pertama sejak semua ini dimulai.
Di mana.
Balasan datang hampir langsung.
Tunggu. Aku yang tentukan.
Jovan menekan rahangnya.
Levis tidak memberi alamat karena ini bukan undangan.
Ini tali.
Pagi datang pelan.
Ayam berkokok. Kabut turun seperti biasa.
Desa bangun.
Dan baru beberapa jam kemudian orang-orang mulai bertanya.
“Pak Raka nggak kelihatan ya?”
“Lapak Mika juga kosong…”
“Semalam ada suara motor lewat…”
Pertanyaan menyebar seperti asap tipis.
Tidak keras. Tapi masuk ke setiap celah.
Di warung kopi, kepala dusun duduk sebentar.
Ia tidak bertanya langsung.
Hanya berkata, “Kalau ada orang luar… lapor.”
Kalimat itu terdengar biasa.
Tapi semua orang tahu arahnya.
Rumah Pak Raka.
Jovan berdiri di belakang rumah.
Menatap kebun jambu yang pagi itu terlalu tenang. Dahan rendah masih ada. Keranjang masih ada. Tapi orang-orangnya hilang.
Ia mengepalkan tangan.
Levis tidak menyerangnya dengan peluru, tapi dengan ruang kosong. Dengan absennya suara. Dengan hilangnya dua orang sekaligus.
Ponsel di sakunya bergetar lagi.
Satu pesan terakhir hari itu:
Malam ini kau pilih. Desa… atau mereka.
Jovan menatap layar. Tatapan lamanya kembali.
Bukan tatapan pria desa.
Tapi tatapan seseorang yang pernah hidup di dunia Levis.
Ia memasukkan ponsel itu ke saku. Lalu berjalan keluar dari halaman. Langkahnya kecil. Tidak dramatis. Tapi pasti.
Karena mulai malam ini…Jovan tidak lagi menunggu.
.
Sore turun pelan di Sumberjati.
Kabut belum datang, tapi udara sudah berat. Rumah Pak Raka tetap kosong. Tidak ada suara. Tidak ada langkah pincang. Tidak ada Mika yang menata buah.
Jovan duduk di kursi dekat jendela.
Diam.
Ponsel tua itu tergeletak di telapak tangannya seperti benda yang seharusnya tidak pernah hidup lagi.
Getaran pendek.
Satu pesan masuk.
Jalan lama ke pabrik bata. Satu jam setelah isya. Datang sendiri.
Jovan membaca tanpa ekspresi.
Pabrik bata.
Bangunan setengah runtuh di pinggir kecamatan. Tempat yang tidak lagi dipakai orang desa. Tempat yang cukup jauh untuk tidak didengar… dan cukup dekat untuk jadi peringatan.
Jovan berdiri. Ia tidak mengambil tas. Tidak mengambil apa pun. Hanya memasukkan ponsel itu ke saku celana, rapat. Dan berjalan keluar rumah.
Malam datang. Langit gelap seperti ditutup kain.
Jovan menyusuri jalan tanah tanpa lampu. Motor-motor desa jarang lewat. Hanya suara serangga dan langkahnya sendiri.
Bahunya masih nyeri. Tapi tubuhnya bergerak seperti ingatan.
Pabrik bata itu muncul di ujung jalan. Dinding merah kusam. Cerobong patah. Tanah di sekitarnya lembab, bau tanah bakar yang sudah lama mati.
Jovan berhenti di depan gerbang besi. Setengah terbuka.
Ia masuk. Di dalam, sunyi.
Bata-bata menumpuk seperti kuburan kecil. Ada bekas ban mobil. Jejak baru.
Jovan melangkah pelan. Lalu suara tepuk tangan pelan terdengar dari gelap. “Bagus.”
Levis keluar dari bayangan.
Rapi seperti biasa. Jaket hitam. Wajah tenang.
Seolah ini bukan penculikan, melainkan pertemuan keluarga.
“Kau datang.”
Jovan tidak menjawab. Matanya langsung tajam. “Di mana mereka.”
Levis tersenyum tipis. “Langsung ?”
Jovan maju satu langkah. “Jangan buat aku ulangi.”
Levis mengangkat tangan. Dua pria muncul dari sisi bangunan.
Dan di antara mereka...Pak Raka. Tangan terikat. Wajah pucat. Langkah pincangnya lebih berat karena dipaksa berjalan.
Tapi matanya masih hidup.
Pak Raka menatap Jovan. Tidak ada panik. Hanya satu pesan di tatapannya: Jangan bodoh.
Jovan menahan napas.
“Dia masih hidup,” kata Levis ringan. “Aku baik, kan?”
Jovan menegang. “Mana Mika.”
Levis diam sebentar. Lalu tersenyum lebih lebar. “Ah.”
Ia menoleh ke belakang. “Bawa dia.”
Langkah lain terdengar. Dan Mika muncul. Rambutnya berantakan. Tangannya terikat. Mulutnya tidak disumpal. Matanya langsung mencari Jovan.
Begitu melihatnya...“Mereka bilang kau akan datang…” suaranya pecah.
Jovan tidak bergerak. Tapi wajahnya berubah.
Levis memperhatikan itu seperti orang membaca buku. “Lihat,” gumamnya. “Kau punya dua titik lemah sekarang.”
Jovan mengepalkan tangan.
“Lepaskan mereka!”
Levis mendekat pelan. “Bisa, satu syarat.”
Jovan menatap tajam. “Dengan syarat ?”
Levis mengangguk. “Dengan syarat kau ikut aku.”
Udara membeku.
Pak Raka menegang.
Mika menggigil.
Jovan tidak berkedip. “Aku ikut,” katanya datar. “Tapi mereka pulang malam ini.”
Levis tersenyum puas. “Selalu cepat mengambil keputusan.” Ia mendekat sampai jarak mereka hanya satu langkah. “Kau masih sama.”
Jovan berbisik tajam. “Aku datang sendiri. Jangan sentuh mereka lagi.”
Levis mengangkat alis. “Jovan…”
Ia menepuk pelan dada Jovan, seperti saudara. “Kau belum mengerti.”
Jovan membeku.
Levis menatap lurus. “Ini bukan tukar sandera.”
Hening.
Levis melanjutkan, suaranya halus. “Ini cara aku menunjukkan…”
Ia menoleh pada Mika. “…kalau semua yang kau sentuh…” lalu menoleh pada Pak Raka. “…akan hancur.”
Jovan menegang. “Cukup!”
Levis mengangkat tangan. “Baik.”
Ia memberi isyarat kecil. Anak buahnya menarik Pak Raka dan Mika mundur.
Jovan melangkah maju refleks.
Namun Levis hanya berkata pelan. “Jangan.”
Dan suara klik terdengar. Bukan pistol. Lebih kecil. Lebih sederhana.
Sebuah detonator di tangan Levis.
Jovan berhenti. Matanya membeku.
Levis tersenyum tipis. “Kau pikir aku akan bawa mereka ke sini tanpa pengunci?”
Pak Raka menatap Jovan keras.
Mika menangis tanpa suara.
Levis mendekat, sangat dekat.
“Kalau kau bergerak salah…”
Levis berbisik, “…desa itu akan kehilangan tiga sekaligus.”
Jovan tidak bernapas. Untuk pertama kalinya…ia tidak punya langkah.
Levis menepuk bahunya pelan.
“Kau ikut aku.”
Jovan berbisik, hampir tidak terdengar. “…dan mereka?”
Levis tersenyum. “Mereka akan pulang.” Ia menoleh ke anak buahnya. “Antar gadis itu sampai batas desa.”
Mika tersentak. “Tidak! Ayah...”
Pak Raka memotong cepat, suaranya berat. “Mika...pulang.”
Satu kata seperti perintah.
Mika membeku. Air matanya jatuh.
Jovan menatap mereka seperti menatap sesuatu yang dicabut dari tubuhnya.
Levis mengangkat dagu. “Ayo.”
Jovan tidak bergerak.
Levis menurunkan suara. “Atau aku tekan tombol ini…”
Jovan akhirnya melangkah. Satu langkah. Seperti masuk ke penjara.
Mika ditarik pergi.
Pak Raka dibawa ke arah lain.
Jovan berjalan mengikuti Levis ke sisi belakang pabrik bata.
Gelap menelan mereka.
Sebelum hilang sepenuhnya,
Levis berkata pelan, hampir seperti doa keluarga. “Selamat datang pulang, sepupuku.”
.
Di ujung jalan desa…motor tua berhenti.
Mika didorong turun. Tangannya sudah tidak diikat.
Ia jatuh di tanah, napasnya putus-putus. Rumahnya terlihat di kejauhan. Tapi Jovan dan Pak Raka tidak ada.
Hanya malam.
Dan satu kenyataan, Levis tidak menculik untuk membunuh.
Levis menculik untuk membawa Jovan kembali. Dan perang itu…baru benar-benar dimulai.