Dilarang memplagiat karya!
"Dia memilih kakakku..." --Hawa--
"Dan aku memilihmu. Bukan karena tidak ada pilihan lain, Hawa. Tapi karena memang hanya kamu yang aku mau." --Ramadan--
Hawa terpaksa menelan kenyataan pahit saat Damar--sahabat sekaligus laki-laki yang dicintainya, justru melamar Hanum--kakak kandungnya.
Di tengah luka yang menganga, hadir Ramadan sebagai penyejuk jiwa. Tak sekadar menawarkan cinta, Ramadan juga menjadi kompas yang menuntun Hawa keluar dari gelapnya kecewa menuju cahaya ketulusan yang sesungguhnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ayuwidia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 20 Sahabat Masa Kecil
Happy reading
Cahaya matahari mulai meredup, menyisakan semburat jingga yang perlahan tertutup awan. Angin sore berembus pelan, menerbangkan dedaunan kering yang jatuh di pelataran, namun gemuruh amarah di dada Gistara belum juga menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Ia butuh ruang untuk bernapas, sebuah tempat untuk menepi sejenak dari kegaduhan di rumahnya sendiri.
Kafe Renjana menjadi tempat pilihannya. Di sana, ia berencana menumpahkan segala gundah melalui perbincangan dengan seorang sahabat lama--ibu dari sang pemilik kafe.
Gistara berharap, secangkir kopi dan obrolan masa lalu bisa sedikit mendinginkan kepalanya yang panas akibat pembangkangan Hawa dan sikap Damar yang mengecewakan.
"Al, bagaimana kabar Dzaki? Pasti dia sudah bertambah tinggi dan tampan sekarang," ucap Gistara lembut. Ia menyesap perlahan vanilla latte yang masih mengepulkan uap tipis, membiarkan aromanya sedikit menenangkan saraf-sarafnya yang tegang.
Almira Zakia. Dia sahabat Gistara sejak mereka masih duduk di bangku SMA. Persahabatan itu bahkan menurun pada anak-anak mereka--Dzaki dan Hawa. Keduanya sempat tumbuh bersama sebagai sahabat kecil sebelum jarak memisahkan.
"Alhamdulillah, Dzaki baik," jawab Almira diiringi seulas senyum tulus. "Seperti katamu, dia sekarang tinggi sekali, bahkan sudah lebih tinggi dari Abinya. Soal wajah, dia memang fotokopi Mas Arya, tampan."
"Dzaki dan Hawa itu seumuran. Andai saja mereka bertemu lagi, apa menurutmu Dzaki masih mengenali putriku?" tanya Gistara, mulai menggiring obrolan ke arah yang ia inginkan.
"Tentu saja. Dzaki bahkan masih sering menceritakan kenangan masa kecilnya bersama Hawa."
Jawaban Almira terasa seperti angin laut yang berembus pelan, seketika mendinginkan api amarah yang sedari tadi membakar dada Gistara.
Sebuah ide tiba-tiba melintas di benaknya, seolah menjadi jawaban atas kegelisahannya.
"Al, bagaimana kalau mereka kita jodohkan saja?" cetus Gistara tanpa ragu.
Almira tertawa kecil, suara tawa yang terdengar tenang namun sarat makna. "Gis, biarkan mereka memilih jalannya sendiri. Jangan terlalu mengekang. Kita sebagai orang tua sebaiknya cukup mengarahkan dan memberi dukungan saat mereka sudah mantap dengan pilihannya," ujar Almira bijak.
Gistara menghela napas, jemarinya mengetuk-ngetuk pinggiran cangkir keramik yang sudah mulai mendingin. "Aku hanya tidak ingin Hawa salah langkah, Al. Dia sedang dekat dengan seorang pemuda yang jauh berbeda derajatnya dengan kita. Hanya mahasiswa yang bekerja paruh waktu. Aku khawatir dia hanya memanfaatkan kepolosan Hawa."
Almira tersenyum penuh arti, ada binar rahasia di matanya yang tak terbaca oleh Gistara. "Terkadang, apa yang terlihat oleh mata bukan gambaran utuh dari isi hati seseorang, Gis. Begitu juga dengan kasta. Bukankah kemandirian itu jauh lebih berharga daripada sekadar gelar atau harta orang tua?"
Gistara sejenak bergeming, namun otaknya gaduh. Ia berusaha mencari cara agar Almira menyetujui rencananya; menjodohkan Dzaki dengan Hawa.
Ia yakin, hanya sosok seperti Dzaki yang mampu menarik Hawa keluar dari 'pengaruh' Rama--pemuda yang ia ketahui 'hanya' sebagai pelayan.
"Kapan Dzaki pulang ke Jogja? Aku ingin dia bertemu Hawa secepatnya. Siapa tahu, kedekatan masa kecil mereka bisa bersemi kembali," desak Gistara, masih bersikeras dengan rencananya.
Almira terkekeh pelan, menyesap tehnya dengan anggun. "Dzaki sudah di sini, Gis. Dia sedang belajar 'melihat dunia' dengan caranya sendiri. Dia ingin membuktikan bahwa dia bisa berdiri di atas kakinya tanpa embel-embel nama besar abinya."
"Wah, benar-benar calon menantu idaman. Selain mandiri... bibit, bebet, dan bobotnya sama sekali tidak diragukan," puji Gistara. Bibirnya melengkung tipis, membentuk senyum jemawa, sementara sepasang matanya berbinar terang--seolah ia baru saja menemukan berlian untuk menggantikan kerikil yang sedang digenggam Hawa.
Almira mengulum senyum, lalu menyesap kembali tehnya yang mulai mendingin. Di balik sikap tenangnya, benak Almira menyayangkan sifat sahabatnya yang tak kunjung berubah; masih terlalu membanggakan kasta dan harta yang sejatinya hanyalah titipan Illahi.
Ia menatap Gistara dengan binar yang sulit diartikan. Ada keinginan untuk berterus terang, namun ia lebih memilih untuk membiarkan semesta yang bekerja.
Almira ingin Gistara belajar bahwa kemuliaan seseorang tidak terletak pada silsilah atau harta yang dipunya, melainkan pada ketulusan hati.
.
.
Malam merayap turun, menawarkan kehangatan lewat cahaya bulan yang menyentuh bumi. Namun, kehangatan itu seolah enggan singgah di ruang makan kediaman Janu Abimanyu yang masih diselimuti atmosfer hening.
Setelah ritual makan malam usai, Gistara mulai melancarkan rencananya. Ia ingin mempertemukan kembali Hawa dengan Dzaki, sebelum nantinya melangkah ke jenjang perjodohan.
"Hawa, kamu masih ingat Dzaki? Putra Om Arya dan Tante Almira, teman masa kecilmu dulu," Gistara membuka percakapan. Suaranya terdengar lembut, kontras dengan nada tajam siang tadi. Amarahnya seakan telah menguap tanpa bekas, berganti dengan intonasi yang penuh kasih.
Hawa mengernyit. "Dzaki?" gumamnya lirih. Ia memaksa memorinya mengembara jauh ke masa silam, menyusun kembali kepingan wajah seorang bocah laki-laki yang pernah hadir di hidupnya.
"Iya, Dzaki. Masih ingat, kan?"
Hawa mengangguk pelan setelah bayangan masa kecil itu kembali utuh.
"Bunda berniat mempertemukan kalian lagi. Siapa tahu, kamu dan Dzaki bisa kembali akrab seperti dulu," lanjut Gistara dengan senyum yang sulit disembunyikan.
"Memangnya, dia dan keluarganya udah kembali dari luar negeri, Bun?"
Gistara melebarkan senyumnya, merasa pancingannya mulai membuahkan hasil. "Sudah. Bahkan, mereka sekarang sudah menetap di kota ini."
"Kalian bisa bertemu satu minggu lagi, di acara akad nikah Damar dan Hanum. Bunda mengundang Tante Almira sekeluarga," imbuhnya dengan nada penuh keyakinan.
Hawa kembali mengangguk. Ada segelintir rasa bahagia yang menyentuh kalbunya saat terbayang akan bertemu kembali dengan sahabat masa kecil.
Namun, di saat yang sama, ada ketakutan yang mendadak menghimpit. Ia takut pertemuannya dengan Dzaki justru menjadi awal dari berakhirnya kedekatannya dengan Rama--satu-satunya lelaki yang saat ini mampu menggetarkan hatinya dengan cara tak biasa.
"Kenapa Bunda tidak memberi tahu Ayah kalau Arya dan keluarganya sudah kembali ke kota ini?" Janu menginterupsi, suaranya berat namun tenang.
"Bunda juga baru tahu beberapa hari lalu, Yah. Waktu reuni SMA," jawab Gistara cepat. "Bunda sendiri sempat heran kenapa Almira tidak mengabari begitu dia dan keluarganya menetap kembali di sini."
"Bunda sudah menanyakan alasannya?" Janu memastikan.
"Sudah. Tapi Almira hanya menjawab 'surprise'. Katanya, dia sengaja ingin memberi kejutan saat acara reuni itu."
"Mereka kembali menempati rumah lama?" Janu bertanya lagi, menunjukkan ketertarikannya pada kabar sahabat lama mereka.
Gistara menggeleng. "Tidak, mereka pindah. Katanya di daerah Jogja Selatan, dekat pedesaan."
Janu hanya mengangguk-angguk pelan, lantas meneguk air putihnya yang tinggal separuh gelas.
Setelah obrolan di meja makan berakhir, Hawa segera beranjak untuk membantu Bi Ijah membersihkan meja dan mencuci peralatan dapur.
Hal yang mengejutkan, Hanum yang biasanya enggan menginjakkan kakinya di lantai dapur, kini tergerak untuk ikut membantu.
Rupanya, obrolannya dengan Damar tadi siang membekas dalam di benaknya. Hanum mulai menanamkan tekad dalam hati; ia harus belajar mengerjakan tugas sebagai seorang istri, terutama yang berkaitan dengan urusan dapur, demi menyambut hari pernikahannya yang tinggal menghitung hari.
🍁🍁🍁
Bersambung
yg dikira perintis ternyata pewaris 😂😂
boleh lah kasih thr kami para pembacamu ini
upps..belum apa² dah komen