Viola dan Rasta dipertemukan kembali setelah lima tahun perceraian mereka. Rasta pikir, Viola telah bahagia bersama selingkuhannya dan anak dari hasil perselingkuhan mereka dulu. Namun ia dibuat bertanya-tanya saat melihat anak perempuan berusia empat tahun yang sangat mirip dengannya.
Benarkah dia anak dari hasil perselingkuhan Viola dulu, atau justru anak kandungnya Rasta?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jalur Langit, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Banyak yang ingin Rasta bicarakan dengan Viola. Tentang kebenaran masa lalu mereka dan juga kelanjutan hubungan mereka ke depannya. Itu perlu Rasta diskusikan dengan Viola.
Tapi entah kapan ada waktu untuk membicarakan semuanya. Saat ini Rasta sedang menikmati detik-detik berharga bersama Vita dan Viola.
Sesuai dengan yang diinginkan Vita, mereka jalan-jalan mengunjungi taman rekreasi. Apa saja yang Vita inginkan, Rasta berusaha untuk mewujudkannya.
Hal-hal sederhana yang mereka lakukan seperti naik wahana permainan bareng, makan di restoran bareng, mengambil foto mereka saat bertiga, itu semua baru pertama kali Vita rasakan.
Rasta tahu, baik dirinya maupun Viola sedang berusaha untuk meninggalkan ego masing-masing, demi senyum bahagia yang terlukis di bibir Vita.
"Are you happy princess?" Rasta bertanya pada Vita.
"Happy dong! Very very happy!" jawab Vita ceria.
"Kalau mama happy juga nggak?" Rasta menyenggol bahu Viola. Wanita itu menoleh, dan tersenyum manis.
"Happy dong."
"Seneng aku dengernya. Kalau gitu, ayo kita foto bertiga lagi."
Betapa Rasta sangat bersyukur atas hari ini. Ia tak bisa membayangkan seandainya ia terlambat bertemu dengan Viola dan terlambat menyadari adanya Vitanya yang berharga.
Rasta berjanji, mulai detik itu dia akan turuti apa saja kemauan Vita. Akan dia bahagiakan gadis itu seumur hidupnya, tidak akan Rasta biarkan satu orang pun membuat Vita bersedih.
Rasta akan mengusahakan segalanya demi senyum dan tawa Vita ingin ia dengar setiap hari. Itu janji Rasta untuk menebus waktu lima tahunnya yang telah berlalu sia-sia.
"Abis ini Vita mau ke mana? Mau ngapain lagi?" tanya Rasta ketika mereka sudah berada di mobil setelah puas menciptakan kenangan indah di hari itu.
"Pulang aja, Ta, capek loh. Udah sore banget ini," Viola yang menjawab. Dia duduk di samping Rasta yang mengemudi. Vita berada di pangkuannya, nampak kelelahan.
"Oke, pulang ya?" sahut Rasta, meski ada rasa tidak rela waktunya bersama Vita dan Viola secepat ini berakhir.
"Pa," Vita memanggil dengan suara lemah. "Papa kalau tidur lebih suka lampunya dimatiin atau dibiarin nyala?" tanyanya tiba-tiba.
Rasta terheran atas pertanyaan itu, beda dengan Viola yang seketika menjadi cemas. Dia sudah tahu apa yang sedang Vita rencanakan. Keinginannya untuk tidur bersama mama dan papanya.
"Em... Papa suka lampu kamarnya enggak dimatiin, biar terang." Jawaban Rasta tidak sesuai dengan yang Viola harapkan.
"Beneran?" Vita menegakkan tubuhnya. "Sama dong kayak Vita sama mama. Vita sama mama juga lebih suka tidur dengan lampu yang nyala."
Rasta tersenyum, masih santai karena dia pikir itu hanya sebuah obrolan biasa. "Oh ya? Kalau lampunya dimatiin kan gelap, ya? Vita pasti takut."
"Jadi, kita bisa tidur bertiga dong? Kan sama-sama suka tidur di kamar yang terang," tukas Vita. Anak itu bergantian menatap Rasta dan Viola. Tatapan penuh harap.
Viola dan Rasta otomatis saling bertukar pandangan.
"Tidur sekamar gitu maksud Vita?" Rasta ingin memastikan.
"Iya, pa." Vita mengangguk.
Kali ini Rasta tidak bisa langsung mengiyakan keinginan Vita. Dia perlu keputusan dari Viola.
"Coba tanya sama mama," gumam Rasta.
Vita langsung menatap mamanya. "Bisa kan, Ma?" harapnya.
Viola menghela napas. "Boleh. Tapi hanya bisa satu kali aja ya? Ngerti? Satu kali ini aja habis itu mama sama papa nggak bisa tidur bareng sama Vita lagi. Vita kalau mau nginep di rumah papa, atau kalau mau tidur sama papa, boleh. Tapi mama nggak ikut. Cuma kali ini kita bisa tidur bertiga bareng."
"Yeeeaaayy!" Vita berteriak saking senangnya.
Dan Rasta yang tak kalah senang, nyaris tidak percaya Viola akan menjawab seperti itu. Dadanya membuncah. Mereka akan tidur sekamar?
"Kita ... Tidur di mana, Vi?" tanya Rasta, suaranya mendadak gugup.
"Cari hotel aja, Ta."
"Ekhem. Oke."
Rasta gugup, jantung terasa berdebar-debar, tubuhnya menegang, suhu tubuhnya meningkat, keningnya bercucuran keringat padahal mobilnya ber-AC.
Pikirannya sudah berkeliaran ke mana-mana mengingat setelah ini dia akan tidur sekamar dengan Viola lagi.
*
Rasta berhenti di sebuah hotel ternama untuk menginap malam itu. Viola memintanya untuk memesan dua kamar yang bersebelahan. Rasta tidak mengerti, jika mereka akan tidur bertiga, mengapa harus pesan dua kamar?
Entahlah. Kendati begitu, Rasta turuti saja perintah Viola.
Mereka bersih-bersih di hotel. Karena sudah sangat kelelahan, ketiganya lekas berbaring di atas ranjang yang sama. Dengan Vita berada di tengah.
"Papa nggak akan tinggalin Vita lagi, kan?"
Rasta tersentuh atas pertanyaan sederhana itu. "Enggak dong, Sayang. Papa nggak akan pernah tinggalin Vita lagi."
"Vita sebentar lagi mau masuk sekolah. Papa mau nggak bayarin sekolahnya Vita?"
"Vita ... Papa pasti akan bayarin sekolahnya Vita sampai besok Vita gede. Sampai Vita kuliah. Vita kalau mau minta sesuatu, minta aja sama papa langsung."
"Kalau gitu berati mama nggak usah kerja lagi dong, kan udah ada papa yang mau bayarin sekolahnya Vita. jadi mama di rumah aja." Vita menatap mamanya yang berada di sebelah kanannya.
Rasta tidak menyangka, Vita bisa berpikir sejauh itu.
"Nggak bisa, Vita. Mama harus tetap kerja. Kalau mama nggak kerja, mama sama nenek nggak bisa beli makan dong."
"Yahhh," Vita mendesah sedih.
"Udah, nggak usah mikirin yang lain dulu. Sekarang udah malem, Vita harus tidur, harus istirahat. Vita capek kan?"
Vita mengangguk. Setelah membaca doa, Vita menggenggam tangan Rasta dan Viola di atas dadanya, sehingga mau tidak mau Rasta dan Viola pun saling bergenggaman tangan.
Viola dan Rasta memejamkan mata, agar Vita lekas tertidur. Beberapa saat kemudian, Rasta merasakan tangan Viola yang berusaha terlepas dengan gerakan yang sangat hati-hati.
Rasta membuka matanya. Dilihatnya, Viola hampir turun dari tempat tidur. Dan Vita sudah terlelap.
"Vi, mau ke mana?"
"Pindah ke kamar sebelah, Ta. Kamu yang nemenin Vita di sini, ya?"
"Nanti kalau Vita bangun terus nanyain kamu gimana?"
"Bilang aja aku lagi ke kamar mandi, terus suruh dia tidur lagi. Bisanya Vita udah nggak pernah rewel kok kalau tidur malem. Nggak harus aku yang nemenin, biasanya kalau aku pulang malam dia tidurnya sama mama. Vita udah terbiasa tanpa aku."
Entah kenapa Rasta merasa Viola sedang menyindir dirinya. Atau dia yang memang merasa tersindir?
"Titip Vita ya, Ta."
"Eh, eh." Rasta ikut turun dari tempat tidur, dia mencegah Viola yang hampir saja pergi dari kamar itu.
"Vi... Bisa nggak kalau kita ngobrol sebentar?" pinta Rasta.
"Mau ngobrolin apa sih, Ta? Nggak capek emang?"
"Tapi ini penting, Vi. Kamu harus tau, kalau aku udah tau semuanya. Aku udah tau siapa cowok yang foto bareng sama kamu itu dan aku udah tau siapa yang jebak kamu malam itu."
Viola hanya diam.
Rasta menambahkan, "Aku juga nggak ngerti kenapa mama setega itu sama kamu, sama kita. Aku pikir mama udah nerima kamu dulu, aku pikir mama udah benar-benar sayang sama kamu."
Viola masih terdiam, wajahnya hanya datar tanpa ekspresi.
"Dan aku minta maaf. Aku bodoh banget karena baru cari tau kebenarannya sekarang. Seharusnya dari dulu aku langsung cari tau. Aku minta maaf, Vi."
Rasta menyentuh tangan Viola. Dia mendekatkan tangan itu ke bibirnya, mengecup lama telapak tangan wanita yang akan selalu menjadi separuh jiwanya.
Viola menarik tangannya sedikit kasar. Rasta terkejut.
"Kejadian itu udah berlalu lama, Ta. Udahlah lupain aja. Aku juga udah maafin kok."
Viola akan melangkah, namun lagi-lagi Rasta menahan lengannya. Rasta menggenggam kedua tangan Viola.
"Vi, aku nggak pernah benar-benar siap kehilangan kamu." Rasta berkata sambil menatap lekat sepasang mata Viola.
"Please... Kasih aku kesempatan kedua. Aku mau menebus semua kesalahanku. Aku mau memperbaiki semuanya. Aku mau kita menjadi utuh lagi. Aku masih cinta sama kamu, Viola. Perasaanku nggak pernah berubah dari dulu sampai sekarang."
Rasta sangat berharap Viola akan memberinya kesempatan kedua. Tetapi, dengan gerakan pelan dan senyum di bibir, Viola melepaskan tangan Rasta.
"Sori ya, Ta. Aku udah nggak bisa kasih kamu kesempatan lagi." Viola mengatakannya sambil tersenyum tipis.
...****************...
ini di dunia nyata ada Thor dekat rumahku ya itu ujungya bercerai
mantan istri mu tuh tukut kalau balikkan lagi nanti mama bersaksi lagi ta
terbuka kan, ibu mu dalang nya.. biang korek di balik prahara rumah tangga mu dulu