Takashi, seorang otaku yang mendalami cerita Maou Gakuin no Futekigousha, tiba-tiba bereinkarnasi ke dunia tersebut sebagai Raja Iblis Kuno Valerius yang memerintah ribuan tahun sebelum Anos Voldigoad. Valerius memiliki kekuatan tak terukur dan tujuan adalah mengakhiri perang antar ras melalui kekuatan dan diplomasi, membangun dasar untuk kerajaan iblis yang kuat. Namun, ia menyadari masa depan yang akan datang, di mana Anos akan lahir untuk melanjutkan warisan perdamaian. Valerius menghadapi pemberontakan dari bangsa iblis yang ekstrem dan ancaman dari ras lain, menggunakan kepintaran dan kekuatan untuk menaklukkan musuh, sembari menyimpan warisan yang akan diwariskan kepada penerusnya kelak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUBBLEBUNY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kedatangan Valerius
Mereka baru saja beranjak dari zona tiga, masih tertawa riang membicarakan rasa es krim yang akan mereka pesan, ketika seseorang berdiri tepat di tengah jalan yang menghubungkan lapangan dengan gerbang sekolah. Siluetnya tinggi dan tegap, dengan rambut hitam yang mengenakan mahkota. Wajahnya tetap datar seperti biasa, hanya ada senyuman tipis yang hampir tidak terlihat di sudut bibirnya.
"Valerius!" Teriak Sasha dengan sedikit terkejut.
Valerius mengangguk perlahan, matanya mengamati satu per satu anggota kelompok dengan tatapan yang mendalam. "Aku sudah menyaksikan seluruh simulasi kalian, Kalian bekerja dengan sangat baik." Ujarnya dengan suara yang tenang namun jelas terdengar
Rafi yang masih membawa tombaknya segera mengangkat dagunya dengan bangga. "Kamu liat ya Kak Valerius? Kita berhasil menghidupkan kristal pusatnya!"
Valerius mengangguk lagi, namun ekspresinya tetap tidak banyak berubah. "Aku tahu kemampuan kalian sejak awal. Itu sebabnya aku merasa yakin ketika meninggalkan kalian untuk menyelesaikan tugas khusus beberapa waktu lalu."
Maya mendekat dengan hati-hati, matanya penuh rasa ingin tahu. "Kamu sudah selesai dengan tugasmu? Kamu pergi dengan sangat mendadak kemarin."
"Selesai, Ini adalah hasil dari tugas aku batu pembimbing yang bisa membantu mengatur aliran energi di daerah sekitar. Akademi memintaku untuk menyerahkannya kepada kalian." Jawabnya singkat, lalu sedikit membuka tas yang terbawa di bahunya. Dia mengeluarkan sebuah batu kecil yang berbentuk seperti bintang, bersinar dengan cahaya keperakan.
Anos menerima batu itu dengan hati-hati. "Mengapa diberikan ke kita?"
"Karena kalian telah membuktikan bahwa bisa dipercaya untuk menjaga keseimbangan energi, Aku akan bergabung kembali dengan kalian mulai hari ini. Kita punya banyak hal yang perlu direncanakan untuk tugas selanjutnya." Ujar Valerius, dan kali ini senyumnya sedikit lebih jelas terlihat.
Misha tersenyum lebar. "Itu berarti kamu juga akan ikut merayakan dengan kita ke warung Pak Joni ya Kak Valerius?"
Valerius menggeleng perlahan, tapi kemudian mengubahnya menjadi kepala angguk yang lambat. "Es krim bisa saja. Aku rasa aku cukup layak menikmatinya setelah pekerjaan yang melelahkan."
Rafi langsung melompat kegirangan. "Baiklah! Aku akan pesen satu lagi untukmu Kak rasa apa yang kamu suka?"
"Rasa stroberi saja," Jawabnya dengan nada yang tetap tenang, namun ada kedekatan yang tidak pernah ada sebelumnya dalam suaranya.
Mereka baru saja berjalan beberapa langkah, dengan Rafi sudah mulai bercerita tentang ukuran es krim coklat yang akan dia pesan, ketika seseorang mengenakan baju besi hitam dengan lambang kastil muncul dengan cepat tepat di hadapan Valerius.
Tangan kanannya diangkat menunduk hormat, tubuhnya membungkuk rendah. "Yang Mulia Valerius, Para petinggi Kastil mengirimku untuk menjemput Anda. Mereka akan segera mengadakan rapat penting dan meminta Anda untuk kembali secepatnya." Ujarnya dengan suara yang lantang namun penuh rasa hormat.
Valerius mengerutkan kening sedikit, ekspresinya kembali menjadi datar seperti biasanya. Dia menoleh ke arah kelompok dengan tatapan yang lebih lembut. "Sepertinya perayaan harus tertunda sebentar, Aku mengerti. Beritahu mereka aku akan segera tiba." katanya, lalu melihat ke arah utusan yang masih berdiri dengan posisi hormat.
Rafi mengernyitkan dahinya. "Kamu harus pergi lagi ya Kak Valerius? Kamu baru saja bergabung kembali."
"Aku tidak punya pilihan, Rapat seperti ini biasanya berkaitan dengan keamanan wilayah sekitar kastil. Tapi jangan khawatir, Aku pasti akan kembali sesegera mungkin. Batu pembimbing itu akan membantu kalian jika ada masalah dengan aliran energi." Jawab Valerius sambil sedikit menyentuh mahkotanya.
Sasha mengangguk dengan pengertian. "Tidak apa-apa Kak Valerius. Kamu fokus saja dengan urusan kastil kita akan menjaga batu itu dengan baik."
Valerius memberikan senyuman tipis sekali lagi. "Aku percaya pada kalian semua. Jika ada sesuatu yang tidak bisa kalian atasi sendiri, kirimkan pesan ke kastil. Aku akan segera datang."
Tanpa berlama-lama, Valerius berbalik dan mulai berjalan dengan langkah yang mantap menuju arah kastil. Kelompok itu berdiri melihatnya pergi sampai siluetnya menghilang di kejauhan.
"Mungkin kita bisa menyimpan es krim untuk Kak Valerius? Supaya ketika dia kembali bisa menikmatinya bersama kita." Ujar Maya dengan lembut.
"Baiklah! Aku akan pesen rasa stroberi dan simpan dengan baik di freezer Pak Joni aja!" Sahut Rafi dengan semangat yang tidak surut.
Mereka melanjutkan perjalanan ke warung Pak Joni dengan obrolan yang tetap riang, meskipun sedikit merindukan kehadiran Valerius. Saat tiba di warung, Pak Joni langsung menyambut mereka dengan senyum lebar.
"Saya sudah dengar kabar kalian berhasil ya anak-anak! Mau pesen apa hari ini?" Ujar Pak joni sambil tersenyum ramah
"Satu coklat besar, satu matcha, dua vanila dengan toping coklat chip, dan satu stroberi ya Pak, tapi yang stroberi disimpan dulu ya untuk teman kita yang lagi tidak bisa datang," Ujar Sasha dengan senyum hangat.
Pak Joni mengangguk dengan pengertian. "Oke deh! Akan saya simpan dengan baik di freezer khusus. Nanti kalau temanmu datang, langsung bisa dinikmati!"
Maya duduk di bangku depan warung, mengaduk-aduk es krim matchanya perlahan sambil menatap langit yang mulai berubah warna menjadi ungu muda. "Kira-kira apa yang sedang terjadi di kastil ya? Valerius selalu terlihat begitu serius setiap kali bicara tentang urusan mereka."
Sasha menepuk bahu Maya dengan lembut. "Pasti sesuatu yang penting, itu sudah pasti. Tapi seperti yang dia bilang, dia akan kembali kan? Kita hanya perlu fokus menjaga apa yang dia serahkan pada kita."
Sambil menikmati es krim vanilanya, Misha mengeluarkan selembar kertas kecil dari tasnya. "Kalau begitu, mungkin kita bisa mulai merencanakan bagaimana cara menggunakan batu pembimbing itu. Aku sudah catat beberapa titik energi di sekitar akademi yang seringkali tidak stabil."
Anos yang selama ini hanya diam menyimak obrolan mereka akhirnya bicara. "Ide yang bagus itu Misha. Besok pagi kita bisa mulai memeriksa titik-titik itu satu per satu. Batu Valerius pasti punya fungsi khusus yang belum kita ketahui sepenuhnya."
Rafi yang sudah hampir menghabiskan es krim coklatnya dengan lahap segera menanggapi. "Aku ikut! Bisa juga aku latihan lagi sama tombak sambil membantu memeriksa aliran energi."
Pak Joni datang menghampiri mereka dengan wadah plastik yang sudah tertutup rapat. "Ini dia es krim rasa stroberinya anak-anak. Sudah saya masukkan ke freezer khusus, jadi tidak akan cepat mencair. Kalau temanmu datang, bilang saja langsung ke saya ya."
Sasha segera berdiri untuk menerima wadahnya. "Terima kasih banyak Pak Joni. Kita pasti akan memberitahunya nanti."
Saat sampai di perempatan yang biasa mereka gunakan untuk berpisah, Anos menghentikan langkahnya. "Ingat ya semua, besok jam 08.00 kita kumpul di depan perpustakaan akademi. Kita akan mulai dengan mempelajari cara kerja batu pembimbing Valerius sebelum pergi memeriksa titik energi."
"Aku pasti datang Kak!" serukan Rafi, Misha, dan Maya bersamaan.
Sasha mengangguk sambil menyimpan wadah es krim stroberi dengan hati-hati di dalam tasnya. "Kita juga harus beritahu profesor Karim dan Bu Liana tentang kedatangan Valerius dan batu yang dia berikan. Mereka pasti perlu tahu tentang ini."
Setelah saling mengingatkan untuk istirahat dengan baik, mereka pun berpisah ke arah masing-masing rumah dan asrama. Maya yang jalan sendirian seringkali melihat ke arah kastil yang terletak di kejauhan, berharap Valerius bisa segera menyelesaikan urusannya dan kembali bergabung dengan mereka.
Dikediaman Necron, Sasha dan Misha segera mulai mengatur catatan yang mereka punya tentang titik energi di kampus. Mereka menyebarkan peta kecil di atas meja makan dan mulai menandai lokasi-lokasi yang perlu diperiksa terlebih dahulu. "Kita harus mulai dari titik dekat sungai dulu ya Misha"
Misha mengangguk sambil menunjuk pada salah satu titik di peta. "Ya Kak, karena daerah itu sering mengalami genangan air saat musim hujan datang. Bisa jadi aliran energi tanahnya terganggu dan menyebabkan masalah pada sistemnya."
Sementara itu, Rafi sudah sampai di rumahnya dan segera menaruh tombaknya di tempat khusus. Dia mengambil handuk untuk membersihkan keringat yang masih menetes di dahinya, lalu langsung pergi ke kulkas untuk menyimpan es krim stroberi Valerius dengan hati-hati. "Harus tetap utuh ya es krimnya, biar pas Kak Valerius balik langsung bisa dimakan bareng," Gumamnya sambil menutup pintu kulkas dengan lembut.
Di asrama Maya, dia mengeluarkan catatan kecil yang selalu dibawanya dan mulai mencatat semua yang dia amati tentang batu pembimbing Valerius. "Cahaya keperakan yang keluar dari batu itu sepertinya bisa berubah warna sesuai dengan jenis energi yang ada di sekitarnya," Tulisnya di catatan, sambil seringkali melihat batu yang sudah Anos tempatkan dengan aman di lemari khusus di ruang kumpul asrama.
Pada saat yang sama, Valerius sudah tiba di kastil yang megah dengan tembok tinggi dan gerbang besi yang mengkilap. Utusan yang menjemputnya mengantarkan dia ke ruang rapat utama yang terletak di lantai atas kastil. Di dalamnya, beberapa orang berpangkat tinggi sudah duduk mengelilingi meja bundar besar, wajah mereka terlihat serius.
"Yang Mulia Valerius, kita telah menunggu kedatanganmu, Masalah yang kita hadapi bukan hanya tentang keamanan wilayah, tapi juga tentang munculnya sumber energi baru yang tidak dikenal di hutan dekat perbatasan." Ucap salah satu petinggi dengan suara yang kuat.
Valerius mengambil tempat duduknya di pojok ruangan, ekspresinya tetap datar namun matanya menunjukkan fokus yang mendalam. "Sumber energi baru? Apakah ada tanda-tanda bahwa itu berbahaya?"
"Sampai saat ini belum ada kerusakan yang terjadi, namun aliran energinya sangat tidak stabil, Kita membutuhkanmu untuk menyelidiki sumber itu besok pagi. Kamu adalah satu-satunya orang yang tepat" Jawab petinggi lainnya.