NovelToon NovelToon
Pak Polisi Penyembuh Luka

Pak Polisi Penyembuh Luka

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintapertama / Trauma masa lalu
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Mumu.ai

Follow fb : mumuyaa
ig : @tulisanmumu

Zaidan tidak tahu, apakah ini cinta pada pandangan pertama, atau hanya rasa kasihan hingga rasa ingin melindungi saja karena dirinya yang merupakan seorang polisi. Namun yang ia tahu, ia ingin melindungi wanita itu.

“Saya berjanji. Saya akan pastikan pria bajingan ini pasti akan menerima hukuman yang berat. Dia tidak akan pernah lolos, tidak akan pernah merasakan dunia luar lagi. Jadi… jangan buat hati ibumu patah lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mumu.ai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

PPPL 19

“Apa kabar, Zahra?” tanya Zaidan saat pandangannya menangkap sosok Zahra yang berdiri kaku di balik meja kasir. Nada suaranya ia buat setenang mungkin, berbanding terbalik dengan detak jantungnya yang rasanya ingin lompat, parkour, bahkan jungkir balik demi menenangkan diri.

Akhirnya. Ia bisa bertemu lagi dengan perempuan itu. Bukan sekadar berpapasan di kantor polisi, atau Zaidan yang sengaja lewat di depan bagian PPA.

“Baik, Pak Zaidan,” jawab Zahra pelan. Suaranya nyaris tenggelam oleh deru hujan yang masih turun deras di luar minimarket.

Kecanggungan menggantung di udara. Keduanya seolah lupa bahwa ada sepasang orang tua yang sejak tadi duduk manis di kursi, memperhatikan dengan mata penuh rasa ingin tahu.

“Kalau Bapak sendiri… bagaimana kabarnya?” tanya Zahra kemudian. Pertanyaan sederhana itu sukses membuat Zaidan bersorak dalam hati, seperti baru saja memenangkan lomba.

“Saya baik,” jawabnya singkat dan tegas. Suaranya stabil, meski dadanya berdebar tak karuan.

“Pak Zaidan mau beli apa?” Zahra kembali bertanya, mencoba kembali ke mode kerjanya.

“Oh, nggak. Saya mau jemput orang tua saya,” jawab Zaidan sambil menunjuk ke arah kursi.

Zahra menoleh. Matanya langsung membulat kecil ketika melihat Fadi dan Bunga melambai santai ke arahnya.

“Akhirnya,” celetuk Fadi, “kirain nggak bisa lihat orang tuanya lagi di sini. Datang bukannya nanyain orang tuanya dulu, malah sapa anak gadis orang,” gerutu Fadi. “Kami dari tadi nungguin, hujan nggak reda-reda.”

“Papa ini hobi banget nyindir,” sahut Zaidan sambil menggaruk tengkuknya yang sebenarnya tidak gatal. “Lagian ngapain juga malam-malam bawa motor.”

Bunga berdiri lebih dulu. Perdebatan keduanya ini harus segera diputus. Jika tidak, ia sendiri yang akan malu nantinya.

Bunga menatap Zahra sekali lagi, tersenyum hangat seperti sebelumnya. “Terima kasih ya, Nak. Sudah mau bantuin kami pinjam charger. Sudah dipinjamkan kursi juga.”

“I-iya, Bu. Sama-sama,” jawab Zahra gugup. Entah kenapa tiba-tiba ia jadi gugup sejak mendengar jika pasangan ini merupakan orang tua dari pria yang ada di depannya.

Fadi dan Bunga berjalan terlebih dahulu keluar dari minimarket, meninggalkan Zaidan yang masih berdiri di tempatnya.

“Saya pulang dulu. Sekali lagi… terima kasih sudah mau menemani orang tua saya,” ucapnya tenang dan terdengar tulus.

Zahra mengangguk pelan. Tak lupa senyum tipis menghias bibirnya.

“Sama-sama,Pak.”

Zaidan akhirnya keluar menyusul kedua orang tuanya yang sudah masuk ke dalam mobil. Hujan masih turun walau tidak lebat seperti sebelumnya.

Begitu mobil melaju, Bunga melirik ke arah samping, ke arah Zaidan yang duduk di kursi pengemudi.

“Itu tadi… kamu kenal dari mana sama Mbak kasirnya?” tanyanya, nada suaranya dibuat santai tapi jelas penuh selidik.

“Dari kantor polisi,” jawab Zaidan cepat.

“Oh,” sahut Fadi singkat dari arah belakang. “Berarti urusan kerja.”

“Iya,” tambah Zaidan. “Urusan kerja.”

Fadi dan Bunga saling pandang sebentar. Tidak ada pertanyaan lanjutan, tidak juga ada desakan. Mereka cukup pintar untuk tahu kapan harus berhenti.

Hanya Bunga yang tersenyum kecil, menatap ke depan, sementara Fadi berdehem pelan.

Di kursi pengemudi, Zaidan menarik napas lega meski bayangan Zahra masih tertinggal jelas di kepalanya, sejelas bau hujan yang ikut terbawa masuk ke dalam mobil. Setidaknya hari ini ia bisa bertemu langsung dengan perempuan yang terus bergentayangan dipikirannya.

*

*

*

Hujan malam itu menyisakan jejaknya sendiri di kepala Zaidan.

Sejak menjemput Fadi dan Bunga malam itu sari Happy Mart, bayangan Zahra tidak juga pergi. Wajahnya yang terkejut, caranya bicara pelan, matanya yang selalu tampak menahan sesuatu. Semuanya berputar di kepala Zaidan seperti rekaman yang diputar ulang tanpa izin.

Zaidan mencoba mengalihkan pikiran. Gym, berkutat dengan pekerjaan, menemui dosen pembimbing untuk skripsinya. Semuanya ia lakukan. Namun semuanya gagal.

Di kamar itu Zaidan duduk, menyandarkan tubuh pada headboard. Ia menatap ponselnya cukup lama, lalu meletakkannya kembali. Bangkit, duduk lagi, lalu terakhir menghela napas.

“Kalau sekarang nggak, entah kapan,” gumamnya.

Tanpa banyak pertimbangan lagi, Zaidan meraih jaket dan kunci motor. Kali ini ia sudah yakin. Tidak perlu mencari alasan sebab ia tahu betul tujuannya.

Happy Mart.

Saat tiba di ruang tengah, ia bertemu dengan kedua orang tuanya yang sedang duduk santai menonton televisi.

“Mau kemana malam-malam, Dan?” tanya Bunga dengan nada khawatir.

“Beli rokok.” Zaidan menjawab sambil berlalu keluar rumah, meninggalkan kebingungan pasangan itu.

“Sejak kapan Zaidan merokok?” tanya Bunga bingung sambil menatap suaminya yang duduk tepat di sampingnya.

Fadi mengedikkan bahunya.

“Sejak galau mungkin.”

Jawaban asal Fadi tentu saja membuat Bunga kesal. Tidak mau berlama, ia akhirnya beranjak dari duduknya lalu pergi masuk ke dalam kamarnya.

“Yah… merajuk lagi.”

*

*

*

Motor sport hitam metalik itu berhenti di seberang toko yang sama. Jam menunjukkan hampir pukul sembilan malam. Lampu toko masih terang, aktivitas keluar-masuk pembeli tetap ada walau tidak seramai siang.

Zaidan berdiri sejenak di seberang jalan. Ia menarik napas dan menguatkan diri. Setelah tenang, Zaidan kemudian mengarahkan motor itu ke halaman Happy Mart.

Dengan keyakinan penuh ia melangkah masuk.

Bel pintu berbunyi nyaring.

“Selamat datang di Happy Mart—” Sapaan itu terhenti di tengah jalan.

Zahra mendongak dari mesin kasir. Matanya langsung bertemu dengan mata Zaidan. Ada keterkejutan yang tak sempat ia sembunyikan.

“Pak Zaidan…” ucapnya lirih, jelas tidak menyangka.

“Halo, Zahra,” jawab Zaidan. Kali ini senyumnya lebih tenang. Tidak gugup seperti malam itu, atau setidaknya… ia berusaha terlihat begitu.

Zahra melirik ke kanan dan belakang, memastikan tidak ada antrean. “Ada yang bisa saya bantu, Pak?”

“Ada,” jawab Zaidan cepat. Lalu ia terdiam sepersekian detik, seolah menata ulang keberaniannya.

“Saya mau ngajak kamu keluar sebentar.”

Zahra membeku.

Keluar… sebentar?

“Maaf?” tanyanya, bukan karena tidak dengar, tapi karena tidak yakin dengan apa yang ia dengar.

“Bukan sekarang juga,” Zaidan buru-buru menambahkan, nadanya lebih pelan. “Maksud saya… setelah jam kerja kamu selesai. Kalau kamu berkenan.”

Sunyi singkat tercipta di antara mereka. Hanya suara pendingin ruangan dan langkah kaki pembeli di lorong belakang.

“Sa–saya masih kerja sampai jam sepuluh malam, Pak,” jawab Zahra hati-hati, seolah sedang menolak tanpa benar-benar menolak.

“Iya, saya tahu,” sahut Zaidan. “Saya tunggu. Di luar juga nggak apa-apa. Kita cuma… makan. Atau minum teh. Kalau kamu capek, kita bisa cuma duduk sebentar.”

Zahra menunduk. Tangannya mencengkeram tepi meja kasir. Ada ragu, ada takut, tapi juga ada sesuatu yang lain. Sesuatu yang jarang ia izinkan muncul.

“Kalau kamu nggak nyaman, bilang ya,” lanjut Zaidan, suaranya kini jauh lebih lembut. “Saya nggak maksa.”

Zahra mengangkat wajahnya lagi. Menatap Zaidan lama. Pria itu berdiri tegak dan berpakaian santai malam ini. tanpa kesan mengintimidasi.

“Sebentar saja,” akhirnya Zahra berkata pelan. “Saya… saya belum pernah diajak keluar seperti ini.”

Senyum kecil muncul di wajah Zaidan. Bukan senyum lebar. Tapi cukup untuk membuat dadanya terasa hangat.

“Sebentar juga nggak apa-apa,” jawabnya.

Zahra mengangguk pelan.

“Kalau begitu… saya tunggu di luar,” kata Zaidan sebelum berbalik.

Bel pintu kembali berbunyi saat ia keluar.

Di balik meja kasir, Zahra masih berdiri terpaku. Jantungnya berdetak lebih cepat dari biasanya.

Sedangkan di luar toko, Zaidan bersandar pada motornya, menatap jam tangan. Kali ini Zaidan merasa menunggu bukan sebagai beban, melainkan harapan.

Namun tiba-tiba… ia tersentak seperti baru teringat akan sesuatu.

“Nggak agresif ‘kan ya?”

1
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
siaaaaaappp aku lempar....
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
🤣🤣🤣🤣🤣 ini ceritanya si naira cibta pertama nya bukan rian tapi zaidan... kayak anak aku yg cowok lebih milih bu lek nya ketimbang aku ibu nya... kalo aku aku jambak rambut adekku,,, anakku jambak rambutku...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: ogah ogahan sama orangtuanya ya 🤭🤭🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ya allah setiap anakku ada lagu itu langsung tak skip,,, muak kali aku dengernya....🤣🤣🤣🤣😒😒😒😒
mumu: mama udahlah 🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
ngobrak ngabrik acara orang...🤣🤣🤣🤣🤣🤣🤣 aku baca itu trus lhooooo,,,, lucu banget...🤣🤣🤣🤣🤣
mumu: author ngebayanginnya itu waktu nulisnya ngakak 🤣🤣🤣
total 1 replies
NNPAPALE🦈🦈🦈🦈
bukan solusi yg didapat tapi malah informasi bocor kemana mana+ leedekan tiap hari...🤣🤣🤣
a.i.cahaya
apaan tu?
a.i.cahaya
padahal nembak aja belum tp udh dikira ditolak aja. mental zaidan cemen ih 🤭🤣🤣
istri lee dong wook
apaan yg ditolak? ditembak aja belum
😇😇
apa itu kira2??
istri lee dong wook
nggak kok zaidan nggak agresif. lanjutkan
😇😇
belum apa apa udh patah semangat. diketawain si Rian itu 😂😂
😇😇
ayo zidaaaan 😂😂
istri lee dong wook
hayo hayo bunga 🤣🤣
istri lee dong wook
bisa pasan gitu ya 😅😅🤣🤣
istri lee dong wook
kuatkan iman deh 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
tidur zaidan tidur 😅😅😅
mumu: nggak bisa 🤣🤣
total 1 replies
istri lee dong wook
peluk jauh buat zahra 🤗🤗
istri lee dong wook
ikut deh degan..
istri lee dong wook
woy elran 🤣🤣🤣
istri lee dong wook
eh dah jadi pak bupati 😍😁😁
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!