Apa yang kalian pikirkan tentang putri tertukar? Sang putri asli menderita? Oh kalian salah tentang Aurora Bellazena, gadis cantik bermata Dark Hazel itu adalah putri kandung yang tertukar. Kesalahan pihak rumah sakit membuat Aurora tertukar dengan Anjani Harvey.
Kembali ke rumah keluarga asli tak membuat Aurora di cintai. Namun, apa ia peduli? Tentu tidak ia hanya butuh status untuk menutup sesuatu yang berbahaya dalam dirinya, siapa Aurora sebenarnya? Ikuti perjalanan gadis cantik bermata Drak Hazel itu dalam novel ini!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Senjaku02, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
Hotel Diamond
Malam menyelimuti Hotel Diamond, yang malam ini berubah menjadi panggung megah untuk acara amal jamuan makan malam keluarga Draco.
Ballroom itu disulap bak istana bercahaya, dengan meja dan kursi tertata rapi menanti kedatangan para tamu.
Di balik gemerlap hotel Diamond yang menjulang megah, keluarga Draco sudah tiba sejak sore, menempati kamar mewah yang telah mereka pesan jauh hari.
Namun di salah satu kamar tersebut, Arion berdiri termenung di depan jendela besar, matanya menyapu deras kendaraan yang berlalu-lalang di jalan raya.
Dadanya berdebar, napasnya tak menentu, menanti sosok yang telah berhasil masuk ke dalam hatinya.
“Kira-kira dia akan datang... atau tidak?” gumamnya dengan suara tercekat, matanya tak mau lepas dari gerak-gerik para tamu yang memasuki hotel.
Arion, pemuda itu tahu bahwa malam ini bukan sekadar acara amal biasa baginya. Malam ini merupakan malah istimewa untuknya.
Setiap detik terasa seperti abad, setiap bayangan mobil membuat hatinya gelisah dalam diam.
Sedangkan Arjuna dan Elva yang saat ini telah berada di ballroom menyambut para tamu dengan senyum hangatnya. penampilan mereka malam ini terlihat gagah dan elegant.
Satu per satu para tamu undangan tiba bersama keluarganya diantaranya keluarga Wijaya dengan senyum khasnya, keluarga Mohan yang penuh wibawa, keluarga Dirgantara yang elegan, keluarga Syailendra yang memancarkan aura hangat, dan barisan panjang rekan bisnis lainnya yang berlalu-lalang, menyelimuti ruangan dengan percikan bisik penuh rahasia dan ketegangan tersembunyi di balik wajah ramah mereka.
Di balik kemewahan yang terpampang, malam ini bukan sekadar pesta melainkan medan pertempuran tak terlihat, tempat janji, ambisi, dan rahasia akan bertabrakan, menguji batas kesetiaan dan kekuasaan keluarga Draco.
...****************...
Sedang seseorang yang di tunggu Arion saat ini tengah berada di perjalanan setelah melewati drama singkat.
"Ini semua gara-gara kamu! Kita hampir terlambat!" suara Anjani menggelegar, penuh kemarahan yang menggetarkan udara di dalam mobil.
Matanya menyipit tajam menatap Aurora yang duduk dengan tenang di kursi depan, ditemani kakaknya, Kaynen yang sibuk memegang kemudi.
Aurora menyenderkan kepalanya di kursi mobil, kepalanya tegak menghadap depan namun matanya terpejam rapat.
Tubuhnya terasa lelah bukan hanya karena perjalanan, tapi karena harus menguras tenaga menahan badai emosi Anjani dan Aruna yang meledak tak terkendali hari ini.
Dari kaca spion, Kaynen melayangkan tatapan dingin yang menusuk ke arah Anjani. Seketika, Anjani terdiam, bibirnya terkatup kaku seperti disumpal.
"Anjani," suara Kaynen bergetar dingin penuh ancaman, "jaga bicara kamu! Kalau sampai kamu membuat masalah di sana, kamu yang akan menanggung akibatnya."
Jengah dengan ulah Anjani yang dianggapnya terlalu berlebihan, Kaynen tidak segan menyiratkan bahwa kesabaran sudah hampir habis.
Di dalam mobil itu, ketegangan membuncah, seolah udara pun menahan napas, menunggu amukan berikutnya yang mungkin akan pecah kapan saja.
Aruna meraih bahu Anjani dengan lembut, mencoba menenangkan badai yang berkecamuk di hatinya. "Sabar, Anjani... Kalau kamu marah-marah sekarang, Kak Kaynen bisa semakin marah dan berujung hukuman," bisiknya seraya menahan getar suaranya.
Anjani mengangkat kepala, matanya yang penuh amarah perlahan memerah karena berusaha menahan gelombang kemarahan yang hampir pecah.
Dia menghela napas berat, seperti berusaha menenggelamkan bara api dalam dadanya, lalu membuang pandangannya ke jalan yang ramai kendaraan berlalu lalang.
Aurora yang tadinya matanya terpejam kini membuka secara perlahan. Tatapannya menembus kegelapan di depan. "Akhirnya... tenang juga," bisiknya lirih, napasnya memburu tetapi lega merayap di setiap helaan.
...****************...
Mobil yang di tumpangi keluarga besar Harvey tiba, suasana langsung riuh begitu mobil terparkir di depan lobi Hotel Diamond.
Pintu di buka oleh para penjaga. Perlahan, para Tuan dan Nyonya Harvey satu persatu keluar. Sedangkan di detik terakhir ada Aurora yang keluar dari dalam mobil.
"Waw, apa dia putri asli Harvey?" salah seorang wartawan bertanya dia berbisik pada temannya.
"Sepertinya, lihat saja! Wajahnya mirip dengan Nyonya Adeline," ujarnya, dia melirik mata sebab tak sopan jika menunjuk pakai jari.
"Benar, cantik dan anggun," puji yang lain.
Aurora tiba dengan Dress putih indah dan senada dengan Hell's yang malam ini ia gunakan, pesonanya kuat sampai beberapa wartawan dan para penjaga pria menatap tak berkedip pada putri asli yang cantik itu.
"Ayo!" kata Kaynen, dia meminta Aurora untuk merangkul lengannya.
Sedangkan Aurora tanpa banyak membantah dia melakukan apa yang sang Kakak minta, gadis itu sebenarnya malas harus melakukan ini apalagi melihat wajah penuh ketidaksukaan dari Aruna dan Anjani.
Mereka semua berjalan masuk, meninggalkan suara bisik-bisik kecil di balik panggung wartawan yang ada di sana.
VSedangkan di dalam hotel, sudah ada Arion dengan beberapa sahabatnya sekaligus.
"Arion, kau tampan sekali!" salah seorang putri pengusaha menempel pada Arion dan memuji bagaimana tampannya pria bermata gelap itu.
"Terima kasih, sayang, kau juga cantik!" Arion ini penggoda ulung ia juga di kenal Playboy kelas atas sebab selain para gadis. Beberapa wanita dewasa pun tak luput dari incaran mata elangnya.
"Ah, aku bahagia sekali," dia senang, tangannya merangkul indah di leher kokoh Arion.
B Sedangkan Arion, hanya tersenyum tipis menanggapi beberapa sikap manja para gadis di sana.
V "Jadi buayanya nggak berubah!" sinis Araina, dia mendengus kesal.
"Bukan lagi, kenapa Draco bisa memiliki keturunan playboy seperti itu?" Clarin bertanya sebab tak habis pikir.
"Entah, aku pun tak menyangka dia adalah Kakak kembarku," ujar Araina dengan wajah lesu.
Sedangkan yang lain, hanya terkekeh melihat bagaimana kelakuan Arion yang terus saja melontarkan rayuan pada beberapa gadis yang menarik perhatiannya sejak tadi.
...****************...
Sebuah pintu tinggi di buka, keluarga Harvey masuk dengan langkah anggun dan gagah yang tak bisa di ragukan lagi.
"Wah, itu Aurora, kan?" salah satu teman yang jelas adalah tamu undangan dari Draco datang memuji kedatangan Aurora yang malam ini nampak cantik.
Sedangkan Seina, dia hanya menatap dalam diam kedatangan Aurora, ia kira sahabatnya itu tak akan benar-benar datang.
Namun, apa yang ia pikirkan salah sebab Aurora memilih datang walaupun mungkin sebenarnya ia enggan.
"Selamat datang Tuan dan Nyonya Harvey!" Arjuna dan Elva datang menyapa sopan sang rekan bisnis sekaligus mungkin saja calon besan.
"Terim kasih," jawab Adeline dan Baskara.
"Wah, apa dia Aurora?" tanya Elva, sejak tadi ia penasaran dengan gadis cantik yang berdiri tepat di samping Kaynen.
"Benar, kenalkan dia putriku!" kata Adeline bangga.
"Selamat malam, Tante!" sapa Aurora, dia memang kadang kala jahat juga tak suka keributan. Namun, jelas soal etika Aurora tak perlu belajar lagi.
"Sopan sekali, dia juga cantik jelas tak perlu ragu dia adalah putrimu Adeline," ucap Elva, dia memuji dan bersikap begini karena sejak awal tak begitu suka Anjani.
selalu d berikan kesehatan😄