"Saya menyukai kamu, Maura. Tapi, saya sadar bahwa perbedaan umur kita terlalu jauh."
Pengakuan Setya membuat Maura mengernyitkan dahi. Mengapa dirinya ini seolah menjadi pilihan pria dewasa dihadapannya?
"Saya bukan pilihan, Pak."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Biby Jean, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bagian 19 - Kiriman Besar untuk Variabel Rumit
Malam itu, kediaman mewah Setya Pradana terasa lebih sunyi dari biasanya. Bangunan dengan arsitektur modern minimalis yang didominasi kaca dan marmer itu memang selalu senyap, namun kali ini ada sesuatu yang terasa kurang. Setya berdiri di balkon kamarnya, segelas wine di tangan kanan, sementara tangan kirinya memegang ponsel yang layarnya masih menyala.
Di sana, sebuah nomor baru tersimpan dengan nama singkat. Maura.
Setya menyesap wine nya perlahan, matanya menatap lampu-lampu kota Jakarta yang gemerlap di kejauhan. Pikirannya melayang kembali ke kejadian siang tadi. Ia mengingat bagaimana wajah Maura memerah karena menahan kesal, bagaimana mata perempuan itu berkilat tajam saat ia memintanya memberikan nomor ponsel dengan alasan yang sebenarnya kurang efektif.
"Aib," gumam Setya pelan, sebuah senyum tipis yang jarang terlihat muncul di bibirnya.
Tentu saja alasan itu omong kosong. Setya Pradana punya tim legal dan tim humas terbaik di negara ini yang bisa menghapus berita apa pun dalam hitungan menit. Pria keras itu tidak butuh nomor pribadi seorang dosen muda untuk mengamankan reputasinya.
Lalu, kenapa ia melakukannya?
Kenapa Setya harus bersusah payah datang ke kampus Maura pagi-pagi sekali, lalu memberikan klarifikasi yang sebenarnya tidak perlu.
“Maura... Maura,” Setya menghela napas, ia menyandarkan sikunya di pagar balkon.
Maura berbeda. Bukan sekadar cantik, karena Setya sudah dikelilingi wanita cantik sepanjang hidupnya, tapi Maura memiliki sesuatu yang jarang ia temukan pada wanita mana pun.
Perempuan itu menatapnya bukan sebagai Setya sang diktartor, melainkan sebagai pria yang merepotkan. Cara pikir Maura yang taktis, disiplinnya dalam menjaga batas dan bagaimana dia berani mendebat logikanya adalah hal-hal yang membuat Setya merasa sedang melihat cermin.
Maura adalah versi dirinya dalam wujud perempuan yang lebih emosional namun tetap terkendali.
Setya benci mengakui bahwa dosen muda itu benar. Maura adalah variabel.
“Perempuan itu memang tidak bisa diprediksi,” gumam Setya.
Maura adalah tipe perempuan yang tidak akan bisa dibeli dengan kemewahan dan tidak bisa ditundukkan dengan otoritas. Dan bagi pria yang sudah memiliki segalanya seperti Setya, sesuatu yang tidak bisa dikendalikan justru menjadi hal yang paling menarik untuk diikuti.
Setya memutar gelas wine-nya, memperhatikan cairan merah itu bergoyang mengikuti gerakannya. Selama ini, hidupnya selalu penuh tentang angka, grafik yang naik-turun dan orang-orang yang selalu berusaha menyenangkan hatinya. Namun, Maura masuk ke radarnya dengan cara yang sangat tidak terduga, sebuah pertemuan singkat yang berhasil merusak seluruh algoritma kesehariannya.
Biasanya, Setya akan segera menyingkirkan apa pun yang mengganggu fokusnya. Tapi dengan Maura, ia justru melakukan hal sebaliknya. Ia sengaja menciptakan celah untuk berada dalam radar tersebut.
"Maura, semakin kamu menjaga jarak, semakin kamu membuat saya ingin tahu di mana letak batas maksimalmu,” ucapnya pada udara malam, suaranya parau.
Pria itu meletakkan gelasnya di meja marmer, lalu mengambil ponselnya lagi. Jempolnya bergerak di atas layar, membuka aplikasi pesan. Setya belum pernah mengirim pesan pada wanita mana pun selain untuk urusan pekerjaan atau instruksi singkat. Namun kali ini, jarinya berhenti di nama itu.
Ada dorongan impulsif yang asing dan ia ingin tahu apakah perempuan itu sudah tidur, atau apakah dia sedang memikirkan argumen apa lagi yang akan dilemparkan kepadanya jika mereka bertemu lagi.
Akhirnya, dengan satu gerakan tegas, Setya mengetikkan sesuatu.
Setya: Saya harap kamu tidak sedang merencanakan cara untuk menghapus nomor saya.
Setya melempar ponselnya ke atas ranjang king size-nya, lalu terkekeh pelan. Pria berusia 37 tahun itu merasa seperti remaja yang baru saja melakukan kenakalan kecil, sesuatu yang sangat jauh dari citranya sebagai pemimpin Pradana Group yang dingin.
Pesan singkat dari Setya semalam yang masuk tepat pukul satu dini hari berhasil merusak siklus tidur si dosen muda. Maura menghabiskan sisa malam dengan menatap langit-langit kamar, bertanya-tanya apakah pria itu sedang mempermainkannya atau memang benar-benar terobsesi untuk mengontrol segalanya, termasuk Maura Preswari.
Saat ia memasuki ruangan dosen, salah satu rekannya Bu Rina memandang Maura dari kursinya sendiri dan berkata.
"Bu Maura? Ibu pucat sekali. Ibu sakit?" tanya Bu Rina khawatir.
Maura menggeleng cepat, duduk di kursinya sambil berusaha memfokuskan pikiran. "Tidak, Bu. Saya hanya... baru saja berurusan dengan variabel yang sangat sulit dipecahkan."
"Hah? Rumus baru ya, Bu?"
Maura tersenyum kecut. "Bukan rumus. Tapi seseorang yang merasa dirinya adalah pusat semesta."
Maura mencoba menenggelamkan diri dalam tumpukan tugas mahasiswa dan slide presentasi. Baginya, logika kalkulus dan statistik jauh lebih mudah dihadapi daripada pesan singkat dari Setya Pradana yang muncul di jam yang tidak masuk akal. Mengajar tiga kelas berturut-turut seharusnya cukup untuk menguras energinya dan mengalihkan pikirannya, namun nama pria itu seolah tertempel di sudut kepalanya.
Pukul satu siang, saat kelas terakhir baru saja usai dan Maura sedang membereskan laptopnya, seorang petugas kurir makanan berdiri di depan pintu kelas dengan seragam rapi dan tas pendingin yang terlihat mahal.
"Permisi, dengan Ibu Maura Preswari?" tanya kurir itu sopan.
Maura mengerutkan kening. "Iya, saya sendiri."
"Ada kiriman makan siang untuk Ibu. Mohon diterima."
Kurir itu meletakkan sebuah paper bag tebal dengan logo restoran hotel bintang lima di atas meja dosen. Tanpa menunggu penjelasan lebih lanjut, pria itu membungkuk hormat dan pergi. Mahasiswa yang masih tersisa di dalam kelas mulai saling berbisik, melemparkan pandangan penuh tanya pada dosen mereka.
Maura menarik napas dalam, berusaha tetap tenang meski tangannya sedikit gemetar saat membuka kantong tersebut. Di dalamnya terdapat kotak makan premium dengan menu yang aromanya saja sudah menggugah selera, jauh lebih mewah daripada nasi rames kantin kampus yang biasa ia makan.
Dan tentu saja, tidak ada tanda siapa pengirim dari makanan tersebut.
“Setya?” gumam Maura.
Meski tidak mungkin, tapi hanya pria itu yang belakangan memenuhi hari dan pikirannya. Memang mustahil kalau melihat dari karakternya, tapi kalau diingat kemarin pria itu begitu menyebalkan, maka Maura tidak salah menebak.
Maura memijat pangkal hidungnya. Kekesalan yang sempat mereda kini kembali naik ke permukaan. Kembali ke ruang dosen, Maura mendapati pemandangan yang lebih parah. Ternyata bukan hanya dirinya yang mendapatkan kiriman.
Di meja besar tengah ruangan, tersedia beberapa box kopi dan camilan premium yang cukup untuk seluruh dosen di fakultas tersebut.
"Bu Maura! Ini tadi ada kiriman kopi banyak sekali, katanya dari kolega Ibu. Wah, kolega Ibu baik sekali ya? Siapa sih, Bu? Sampaikan rasa terima kasih kamu ya," seru Bu Rina dengan mata berbinar sambil menyesap kopi mahal itu.
Maura mematung di ambang pintu.
"Itu... hanya dari kenalan lama, Bu. Nanti saya sampaikan terima kasihnya," jawab Maura berbohong, suaranya terdengar kaku di telinganya sendiri.
Ia segera duduk di kursinya, menyembunyikan kotak makan siangnya di bawah meja, lalu merogoh ponselnya dengan gerakan cepat. Jarinya menari di atas layar, mengetik pesan dengan penuh penekanan.
Maura: Untuk apa Bapak melakukan ini semua?