NovelToon NovelToon
TETANGGA GARIS KERAS

TETANGGA GARIS KERAS

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Wanita
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rachel Imelda

Aruna Paramitha, gadis cantik yang memiliki bodi gores menganggap rumahnya dalam tempat yang paling aman, menjadi terganggu dengan kedatangan tetangga baru yang menyebalkan. Gavin Adnan, adalah pria garis keras dalam hal ketertiban. Aruna yang berjiwa bebas dan sedikit berantakan pun resmi menjadi musuh bebuyutan Gavin. Namun.un saat sebuah insiden salah kirim paket, mengungkap rahasia kecil Gavin yang tak terduga, tembok pertahanan pria kaku itu mulai goyah.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachel Imelda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

I Love You

Setelah rombongan keluarga besar dari kampung Aruna akhirnya naik ke dalam mobil dan melambaikan tangan, suasana rumah yang tadinya mirip pasar kaget mendadak sunyi. Aruna menyandarkan tubuhnya di pintu depan sambil menghela napas lega.

"Huft... akhirnya, Mas. Sepi juga ya," ujar Aruna sambil meregangkan otot-ototnya yang pegal.

Gavin tidak menjawab. Ia berdiri di tengah ruangan tamu dengan tangan bersedekap. Matanya bergerak lincah dari pojok plafon sampai ke sela-sela ubin. Ia mengeluarkan sebuah benda dari kantongnya. Senter LED berkekuatan tinggi.

"Mas, kamu ngapain bawa senter? Listrik nggak mati kan?" tanya Aruna heran.

"Ini bukan masalah listrik, Runa. Ini masalah jejak-jejak residu. Saya mendeteksi adanya penurunan standar kebersihan sebesar empat puluh persen sejak keluarga pamanmu menginap," jawab Gavin.

Gavin mulai berjalan pelan seperti detektif. Ia mengarahkan senter ke bawah sofa.

"Lapor. Ditemukan satu butir permen yang sudah lengket dan... apakah ini bungkus kunci? Runa, ini adalah ancaman bagu ekosistem lantai kita." ujar Gavin.

Aruna tertawa sambil menyusul Gavin. "Aduh, Mas. Namanya juga anak kecil kemarin main disini. Sini, aku ambil sapu."

"Jangan menggunakan sapu biasa, itu cuma memindahkan debu secara aerodinamis. Kita pakai vacuum cleaner dengan filter HEPA. Oh, dan lihat ini..." Gavin menyeka bagian atas meha TV dengan jari telunjuknya yang terbungkus tisu putih.

"Debu. Indeks partikelnya sudah diatas ambang batas toleransi saya. Kita harus melakukan deep cleaning sebelum kita duduk disini untuk menonton TV malam ini." kata Gavin lagi.

Setelah dari situ, Gavin beralih ke dapur. Aruna mengekor di belakang sambil menahan tawa melihat suaminya yang sangat serius.

"Astaga, Runa... tolong lihat rak bumbu ini. Kenapa posisi botol kecap ada di depan garam? Dan ini... ada noda minyak sebesar dua sentimeter di dekat kompor!" seru Gavin.

"Mas, itu kan bekas Ibu kemarin masak rendang buat kita. Wajarlah kalau ada kecipratan dikit." kata Aruna.

"Bagi kamu ini kecipratan, bagu saya ini adalah 'pencemaran area kerja'. Kalau minyak ini tidak segera diangkat dengan cairan pembersih pH netral aromanya akan menetap dan merusak suasana makan malam romantis kita nanti." jawab Gavin.

Sambil memeluk Gavin dari belakang, Aruna berkata. "Mas, Sayang... istirahat dulu, yuk. Capek lho dari kemarin urus resepsi, sekarang langsung bebenah kayak mau ada sidik menteri."

Gavin berhenti sejenak, badannya kaku tapi mukanya melunak. "Runa, saya hanya ingin memastikan bahwa saat kita benar-benar memulai hidup berdua, rumah ini dalam kondisi tanpa cacat. Saya mau kamu merasa nyaman di lingkungan yang terkendali."

Terakhir, Gavin mengecek kamar mandi tamu yang dipakai bersama kemarin. Ia keluar dengan wajah yang lebih suik lagi.

"Runa, siapa yang meletakkan sabun batangan di atas lantai tanpa wadah? Lantainya jadi licin dan memiliki koefisien gesek yang membahayakan keselamatan pengguna." kata Gavin lagi.

"Mungkin keponakan aku, Mas. Hehehe. Ya, udah. Biar aku yang sikat lantainya." jawab Aruna.

"Jangan. Kamu istirahat saja. Biar saya yang tangani. Saya sudah menyiapkan campuran karbol dan disinfektan dengan rasio satu banding sepuluh. Ini akan jadi pembersihan yang sangat memuaskan secara visual." kata Gavin.

Satu jam kemudian seluruh rumah kembali kinclong, wangi dan tertata secara milimetris. Gavin duduk di sofa, setelah memastikan tidak ada lagi remah kuaci, sambil mengelap kaca mata dengan puas.

"Selesai. Rumah sudah kembali ke standar operasional semula. Sekarang kita bisa memulai hidup baru dengan tenang." kata Gavi lega.

"Bagus deh. Tapi, Mas. Ada satu yang belum kamu audit." kata Aruna.

Gavin menegakkan kepalanya, "Apa itu? Apa ada area yang terlewat?"

"Perut aku. Laper banget, Mas! Audit dong, mau makan apa kita malam ini? Tapi nggak boleh pakai hitungan kalori ya," kata Aruna memelas.

Gavin tersenyum tipis, "Baiklah. Untuk malam ini saja, saya akan mengabaikan tabel nutrisi. Kita pesan makanan apa pun yang kamu mau, asalkan... kemasannya dibuang langsung ke tempat sampah luar supaya tidak ada aroma sampah di dalam rumah."

"Siap, Bapak Auditor!" seru Aruna.

Gavin kemudian meraih ponselnya dan mulai memesan makanan lewat aplikasi.

"Oke, sudah dipesan. Sekarang tinggal menunggu di antar aja." kata Gavin.

Beberapa menit kemudian, terdengar bunyi motor berhenti di depan rumah.

"Paket... eh, makanan atas nama Mas Gavin!" teriak kurir pengantar makanan tersebut

Gavin berjalan ke depan dengan langkah tegap. Aruna mengintip dari balik pintu. Gavin menerima kantong plastik itu dengan dua tangan, tapi dia tidak langsung membawanya masuk. Dia berdiri di teras mengeluarkan sebuah botol semprotan kecil dari sakunya.

"Mas, itu ayam gepreknya jangan disemprot disinfektan juga dong! Nanti rasanya jadi rasa karbol!" teriak Aruna.

"Tenang, Runa. Saya cuma menyemprot lapisan plastik luarnya. Kita tidak tahu berapa banyak tangan yang menyentuh plastik ini dari restoran sampai ke sini. Ini namanya mitigasi risiko kontaminasi." kata Gavin lagi.

"Hadeh..." Aruna menarik napas panjang.

Setelah plastik luarnya dianggap "aman", Gavin membawanya ke meja makan. Dia menata ayam geprek, sambal dan nasi dengan posisi yang sangat simetris.

"Silahkan, isteriku. Posisi sendok ada di koordinat jam tiga, dan tisu ada di jam sembilan." Gavin mempersilahkan Aruna untuk makan.

Aruna berkata sambil nyomot ayam pakai tangan, Aruna berkata, "Laper banget, Mas. Mau jam berapapun yang penting kenyang!"

Setelah makan kenyang dan membersihkan sisa makanan (Tentu saja Gavin memastikan tidak ada satu butir nasi pun yang tertinggal di meja), suasana rumah jadi makin sunyi. Angin malam bertiup pelan, dan lampu ruang tamu mulai diredupkan.

Mereka masuk kamar. Kali ini tidak ada lagi ketukan pintu dari Bibi yang minta termometer atau sepupu yang tanya password wifi.

Aruna duduk dipinggir kasur agak gugup. "Ehem... akhirnya ya, Mas. Benar-benar cuma kita berdua."

Gavin duduk di samping Aruna. Dia melepas kacamatanya yang membuat wajahnya terlihat jauh lebih lembut dan... ganteng.

"Berdasarkan pengamatan saya, seluruh anggota keluarga sudah berada di luar radius lima kilometer dari rumah ini. Tingkat gangguan: nol persen." ujar Gavin.

Aruna tertawa kecil, "Mas, bisa nggak berhenti jadi auditor, bentar aja? Ini malam pengantin kita, lho."

Gavin menatap Aruna dalam-dalam. Dia menarik napas panjang, berusaha membuang "mode kerja"-nya.

"Kamu benar. Maaf, Runa. Sejujurnya, jantung saya sekarang berdetak seratus dua puluh kali per menit. Itu di atas rata-rata normal saya. Saya... sebenarnya cukup grogi." Kata Gavin.

Aruna memegang tangan Gavin, jemarinya mengusap cincin pernikahan mereka. "Sama Mas. Aku juga grogi. Tapi kan kita sudah sah."

Gavin mendekat. Aroma parfum citrusnya yang segar mulai tercium. Dia berbisik pelan di telinga Aruna.

"Runa, Saya sudah mematikan semua alarm, mengunci pintu dengan sistem ganda, dan memastikan tidak ada agenda audit besok pagi. Jadi... apakah saya bisa mendapatkan perhatian penuh dari kamu sekarang?" kata Gavin sambil mengelus pipi Aruna.

Aruna tersipu, pipinya memerah, "Boleh banget, Bapak Auditor Sayang..."

Gavin tersenyum tipis, senyum paling manis yang pernah dilihat Aruna. Dia mulai mendekat untuk mencium Aruna, tapi tiba-tiba dia berhenti satu senti di depan wajah Aruna.

Aruna bingung, "Kenapa lagi, Mas? Ada debu di bantal?"

"Bukan. Saya cuma mau bilang... terlepas dari semua aturan dan rumus yang saya punya, kamu adalah satu-satunya variabel yang tidak bisa saya hitung indahnya. I Love You, Aruna." Kata Gavin.

Aruna tersenyum, "Duh, gombalnya keluar! I Love you too, Mas Gavin!"

Malam itu, di kamar yang rapi dan harum, tidak ada lagi pembicaraan soal laporan keuangan atau standar operasional. Sang Auditor akhirnya menemukan bahwa kebahagiaan sejati tidak butuh diaudit, cukup dirasakan dengan hati.

Bersambung.....

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!