Riko Permana, demi gadis yang dicintainya, rela meninggalkan cita-cita menjadi seorang polisi. Melepas beasiswa yang diberikan negara. Ia mundur, sengaja mengalah. Sengaja membiarkan nilainya menjadi buruk demi memuluskan jalan calon kakak iparnya.
Profesor pembimbing kecewa dan ia merasa bersalah. Hanya satu yg membuat ia bahagia: bisa menikah dengan wanita yang sangat dicintainya.
Akan tetapi, apa yang terjadi kemudian? Dirumah mertua ia diperlakukan layaknya budak, dihina dan dipermalukan. Istri yang dicintai tidak membela malah ikut merendahkan.
Puncaknya adalah ketika ia mengetahui bahwa sang istri berselingkuh secara terang-terangan di hadapannya.
Pria yang menertawakan kebodohannya sendiri. Istri yang selama satu tahun pernikahan tidak mau disentuh, kenapa dia tidak sadar sama sekali?
"Cukup sudah! Seluruh cintaku sudah habis. Aku akan tunjukkan pada semua, aku bukan orang yang bisa mereka hina begitu saja. Mereka yang telah menghinaku, akan bertekuk lutut di hadapanku."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mama Mia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
16. Misi Pertama : Mengamankan Acara Penting.
Di ruang briefing SENTINEL
Riko berdiri tegak di antara para anggota tim keamanan SENTINEL, mendengarkan dengan seksama pengarahan dari Profesor Rahmat. Ruangan itu dipenuhi dengan ketegangan, aura profesionalisme terpancar dari setiap individu yang hadir.
"Kita mendapat tugas untuk mengamankan sebuah acara penting," Profesor Rahmat memulai dengan suara tegasnya. "Acara ini dihadiri oleh para tokoh penting di bidang ekonomi dan politik. Keamanan mereka adalah prioritas utama kita."
Acara tersebut adalah sebuah forum investasi internasional yang diadakan di salah satu hotel mewah di pusat kota. Forum ini akan dihadiri oleh para investor dari berbagai negara, para menteri keuangan, dan para pemimpin perusahaan besar. Kehadiran mereka tentu saja menarik perhatian, tidak hanya dari media, tetapi juga dari pihak-pihak yang berniat jahat.
"Riko, saya menunjukmu sebagai koordinator lapangan untuk tugas ini," lanjut Profesor Rahmat, menatap Riko dengan tatapan penuh kepercayaan. "Pastikan semua prosedur keamanan berjalan dengan lancar. Kamu akan bertanggung jawab atas semua anggota tim yang bertugas di lapangan."
Riko mengangguk mantap. Ia merasa terhormat mendapatkan kepercayaan dari Profesor Rahmat untuk memimpin tugas penting ini. Ini adalah kesempatan baginya untuk membuktikan kemampuannya dan menunjukkan bahwa ia pantas menjadi salah satu orang kepercayaan Profesor Rahmat.
"Tim kita akan dibagi menjadi beberapa kelompok," Profesor Rahmat melanjutkan. "Kelompok pertama akan bertugas untuk mengamankan area luar hotel, termasuk area parkir dan pintu masuk. Kelompok kedua akan bertugas untuk mengamankan area dalam hotel, termasuk lobi, ballroom, dan kamar-kamar VIP. Kelompok ketiga akan bertugas untuk melakukan pengawasan elektronik, memantau CCTV dan sistem alarm. Dan kelompok keempat akan bertugas untuk melakukan pengamanan pribadi terhadap para tokoh penting yang hadir."
Riko mencatat semua instruksi yang diberikan oleh Profesor Rahmat dengan seksama. Ia juga mengajukan beberapa pertanyaan untuk memperjelas tugasnya. Ia ingin memastikan bahwa ia tidak ada satu pun detail yang terlewatkan.
"Kita harus siap menghadapi segala macam kemungkinan." Profesor Rahmat mengingatkan. "Kita tidak tahu apa yang akan terjadi. Kita harus selalu waspada dan siap bertindak dengan cepat dan tepat."
Riko memandangi wajah-wajah tegang rekan-rekannya. Ia merasakan semangat yang sama, keinginan untuk melindungi dan mengamankan. Ia tahu tugas ini bukan hanya sekadar pekerjaan, tapi juga sebuah tanggung jawab besar.
Hari yang dijadwalkan tiba. Riko duduk di depan layar monitor besar, memantau rekaman CCTV dari berbagai sudut hotel tempat acara forum investasi internasional diadakan. Ia didampingi oleh beberapa ahli IT dan keamanan siber dari SENTINEL.
Sejak awal, Riko memiliki firasat buruk tentang acara ini. Ia merasa ada sesuatu yang aneh dan mencurigakan. Ia tidak bisa menjelaskan perasaannya, namun ia yakin ada ancaman yang mengintai.
"Periksa semua rekaman CCTV dengan seksama," perintah Riko kepada para ahli IT. "Cari hal-hal yang mencurigakan, seperti orang-orang yang berperilaku aneh, barang-barang yang tidak seharusnya ada, atau pola aktivitas yang tidak biasa."
Para ahli IT itu bekerja dengan tekun, memeriksa setiap sudut dan celah dalam rekaman CCTV. Mereka menggunakan perangkat lunak canggih untuk menganalisis gambar dan mencari anomali.
Setelah beberapa jam melakukan pengawasan, salah seorang ahli IT menghampiri Riko dengan wajah serius.
"Pak Riko, kami menemukan sesuatu yang mencurigakan," ucap ahli IT itu. "Ada beberapa orang yang terlihat sering berada di sekitar hotel. Mereka mengenakan pakaian yang sama dan memiliki tato yang sama di bawah telinga mereka."
Riko mengerutkan keningnya. "Tato apa?" tanyanya.
"Tato bergambar ular melingkar dengan tengkorak di tengahnya," jawab ahli IT itu.
Riko terkejut mendengar jawaban itu. Ia pernah mendengar tentang tato itu.
"Cari tahu identitas orang-orang itu," perintah Riko dengan nada tegas. "Siapa mereka, dari mana mereka berasal, dan apa tujuan mereka."
Para ahli IT itu segera melakukan pencarian data di berbagai database kriminal. Setelah beberapa saat, mereka berhasil menemukan informasi tentang orang-orang itu.
"Pak Riko, orang-orang ini adalah anggota kelompok kriminal Viper Skull," ucap ahli IT itu dengan nada yang khawatir. "Mereka memiliki catatan kriminal yang panjang dan berbahaya."
Riko menghela napas panjang. Firasatnya benar. Ada ancaman dari kelompok kriminal.
"Saya akan laporkan hal ini kepada Profesor Rahmat," ucap Riko. "Sekarang, tingkatkan keamanan dan bersiaplah menghadapi segala kemungkinan!” perintah Riko tegas.
"Siap, Pak!” Semua bergerak cepat. Mulut Riko tak berhenti memberi instruksi pada anak buahnya melalui earphone.
Riko merasa tegang dan khawatir. Kelompok kriminal Viper Skull bukan lawan yang mudah. Mereka adalah orang-orang yang kejam, berbahaya, dan tidak segan melakukan apa saja untuk mencapai tujuan mereka.
Ia harus bertindak cepat dan tepat untuk melindungi para tokoh penting yang hadir di acara forum investasi internasional. Ia tidak boleh membiarkan kelompok kriminal itu merusak acara ini dan mencelakai orang-orang yang tidak bersalah. Ini bukan hanya tentang menjaga keamanan acara, tapi juga tentang melindungi reputasi SENTINEL dan nama baik Profesor Rahmat.
Riko menghubungi Profesor Rahmat dan melaporkan temuannya. Profesor Rahmat terkejut dan segera memerintahkan untuk meningkatkan keamanan di seluruh area hotel. Tim keamanan tambahan dikerahkan, dan semua akses masuk dan keluar diperketat.
"Kita harus tetap tenang dan waspada," pesan Profesor Rahmat. "Jangan panik, tapi jangan juga meremehkan ancaman ini. Kita harus siap menghadapi segala kemungkinan."
Riko dan timnya bersiap menghadapi serangan dari kelompok kriminal Viper Skull. Mereka mempersenjatai diri dengan senjata api dan peralatan bela diri. Mereka juga mengatur strategi pertahanan yang cermat, memastikan setiap sudut dan celah hotel terlindungi dengan baik.
Saat malam tiba, acara forum investasi internasional berjalan dengan lancar. Para tokoh penting yang hadir tampak menikmati acara tersebut, tidak menyadari bahaya yang mengintai di sekitar mereka.
Namun, Riko dan timnya tetap waspada. Mereka terus memantau rekaman CCTV dan memeriksa setiap orang yang mencurigakan. Mereka siap bertindak jika ada tanda-tanda serangan dari kelompok kriminal Viper Skull.
Tiba-tiba, alarm berbunyi nyaring di ruang pengawasan elektronik. Para ahli IT berteriak, "Ada penyusup! Mereka mencoba masuk dari pintu belakang!"
Riko segera bertindak. Ia memimpin tim keamanan menuju pintu belakang hotel, siap menghadapi kelompok kriminal Viper Skull. Pertempuran sengit akan segera dimulai.
Apakah Riko mampu menyelesaikan misi pertamanya? Ataukah justru kegagalan yang akan membuatnya dipermalukan?
aduh.. kalo sampai terjadi apes berkali-kali si laras
ditambah emaknya model itu lagi
mungkin emaknya aja yg dijual 😅😅😅
🤭😁😁😁😄