NovelToon NovelToon
The Replacement Bride

The Replacement Bride

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / CEO / Pengantin Pengganti / Mafia
Popularitas:1k
Nilai: 5
Nama Author: Rafa Fitriaa

Shabiya seharusnya tidak memiliki harapan bisa memenangkan hati suaminya, ketika pernikahan mereka saja terjadi atas keinginan satu pihak. Wanita itu seharusnya mengubur semua impian tentang keluarga cemara yang selalu didambakan olehnya setiap malam.

Apalagi, ketika ia sudah mengetahui bahwa kehadirannya di hidup suaminya hanya untuk menggantikan posisi seseorang. Dan ketika Shabiya ingin menyerah, tidak ada celah untuknya melarikan diri. Dia sudah terperangkap. Pria tersebut tidak akan membiarkannya pergi dengan mudah.

Akankah semesta membantunya untuk lepas dari pria yang berstatus sebagai suaminya itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rafa Fitriaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pengkhianatan Terpahit

Perut rata milik Shabiya kini mulai sedikit berubah, sedikit lebih menonjol ke depan membuktikan keberadaan buah hati mereka di dalam rahimnya. Wanita itu sudah melewati dua bulan dengan hidup penuh kepura-puraan untuk membohongi semua orang yang telah membohonginya.

Jakarta tampak muram di bawah selimut polusi dan mendung yang menggantung rendah. Mansion Gemilar yang biasanya dijaga ketat sedang berada dalam kondisi transisi pengamanan karena pergantian shift besar-besaran setelah ancaman sabotase yang dilaporkan Arsen. Memanfaatkan kekacauan kecil itu dan fakta bahwa Galen mengira Shabiya telah "takluk" setelah pengumuman kehamilannya, Shabiya melakukan sesuatu yang sangat nekat.

Ia meyakinkan salah satu sopir muda yang baru bekerja, dengan alasan bahwa Galen meninggalkan dokumen medis penting yang harus ditandatangani di kantor pusat. Dengan gaun hamil berbahan sifon hitam yang longgar dan kacamata besar, Shabiya berhasil keluar dari gerbang tanpa kecurigaan berlebih dari tim Arsen yang sedang sibuk.

Tujuannya bukan untuk kabur, setidaknya belum. Ia masih butuh konfrontasi terakhir. Ia butuh melihat dunia Galen yang sebenarnya sebelum ia memutuskan untuk menghancurkannya.

Gedung Gemilar Tower berdiri angkuh di pusat kota, sebuah menara kaca dan baja yang tampak seperti pedang yang menghujam langit. Shabiya masuk melalui pintu belakang yang biasa digunakan untuk staf katering, menggunakan kartu akses yang ia curi dari saku jas Galen tadi malam. Ia menaiki lift pribadi menuju lantai teratas, lantai di mana sang penguasa bertahta.

Lantai eksekutif itu sunyi, dilapisi karpet tebal yang meredam setiap langkah kakinya. Shabiya berjalan menuju pintu ganda berbahan kayu jati yang menuju ruang kerja utama Galen. Ruangan itu biasanya dijaga oleh dua sekretaris, namun saat ini kosong, seolah-olah Galen sedang mengadakan pertemuan yang sangat tertutup.

Wanita itu pernah di bawa kesini oleh Galen saat penjagaan nya belum semakin ketat, jadi Shabiya masih hafal bagaimana tata letak dan kebiasaan- kebiasaan yang terjadi di lantai itu.

Baru saja Shabiya hendak memutar gagang pintu, ia mendengar suara tawa yang sangat ia kenal. Bukan tawa Galen, melainkan tawa dingin Elfahreza.

Shabiya membeku. Mengapa musuh bebuyutan itu ada di sana? Ia menempelkan telinganya ke pintu yang sedikit tidak rapat, jantungnya berdegup begitu kencang hingga ia takut suaranya akan terdengar ke dalam.

"Kau harus mengakui, Galen," suara Reza terdengar santai, diikuti denting es batu dalam gelas. "Rencanamu jauh lebih gila daripada semua spekulasi pasar saham yang pernah kau lakukan. Menemukan gadis yang nyaris identik hanya untuk menjadikannya 'rahim pengganti'?"

"Jaga mulutmu, Reza," suara Galen terdengar berat dan datar, tanpa emosi. "Dia bukan sekadar gadis. Dia adalah wanita yang paling mendekati kesempurnaan. Secara biologis, struktur wajah, bahkan frekuensi suaranya... dia adalah kanvas kosong yang sudah lama kucari."

Shabiya merasa dunianya miring. Kenyataan apa lagi yang harus dia dengar kali ini? Kesempurnaan?Kanvas kosong?

Bukannya menjauh agar tidak semakin membuat hatinya sakit, pegangan Shabiya semakin mengerat. Fokusnya semakin meninggi untuk mendengarkan percakapan yang terjadi di dalam ruangan.

"Lalu bagaimana dengan kesepakatan kita?" tanya Reza lagi. "Aku sudah memberikannya bukti-bukti palsu tentang pernikahan kalian dan catatan medis itu seperti yang kau minta. Dia sekarang benar-benar mengira aku adalah musuhmu yang mencoba menolongnya. Dia sudah masuk ke dalam perangkap 'pemberontakan' yang kita rancang."

"Kau melakukan tugasmu dengan baik," jawab Galen. "Biarkan dia merasa punya harapan. Biarkan dia merasa sedang merencanakan pelarian bersama Rigel atau kau. Rasa takut akan kehilangan kebebasan akan memicu hormon yang tepat untuk memperkuat ikatan janin itu. Aku ingin anak ini lahir dari seorang ibu yang sedang berada dalam puncak emosi, agar dia memiliki 'api' yang dulu dimiliki Thana."

Shabiya menutup mulutnya dengan kedua tangan. Air mata yang panas mulai terasa membasahi pipinya. Ternyata, pertemuan rahasianya dengan Reza di taman botani, ponsel dari Rigel, bahkan bukti-bukti yang ia anggap sebagai "senjata" untuk melarikan diri, semuanya adalah bagian dari skenario Galen. Pria itu sengaja membiarkan musuh-musuhnya mendekati Shabiya agar Shabiya merasa terancam dan semakin terobsesi untuk mempertahankan bayinya.

"Tapi apa yang akan kau lakukan padanya setelah bayi itu lahir?" suara Reza terdengar penuh rasa ingin tahu yang jahat. "Aku mengenalmu sangat lama, dan aku tahu kau tidak mungkin membiarkan wanita itu tetap hidup dan mengklaim haknya sebagai ibu."

Hening sejenak. Shabiya menahan napas, menunggu jawaban pria yang ia kira mulai mencintainya kembali.

"Setelah prosedur transfer memori dan edukasi alam bawah sadar untuk anak itu selesai, Shabiya tidak lagi diperlukan," ucap Galen dingin. "Dia hanyalah pengganti Thana, sampai kapanpun akan selalu seperti itu. Dia telah menjalankan tugasnya. Aku sudah menyiapkan fasilitas di Swiss untuknya, sebuah sanatorium di mana dia akan menghabiskan sisa hidupnya dalam keadaan tenang, tanpa ingatan tentang siapa dia sebenarnya. Dia akan percaya bahwa dia adalah pengasuh yang gagal, sementara anak itu akan tumbuh besar menganggap Thana adalah ibu kandungnya."

Wanita itu mundur perlahan, langkahnya gontai seolah kakinya terbuat dari kapas. Setiap kata yang diucapkan Galen barusan adalah belati yang tidak hanya membunuh cintanya, tapi juga membantai sisa-sisa kemanusiaannya.

Pernikahan palsu itu nyata, tapi fakta bahwa Galen bekerjasama dengan Reza untuk memanipulasi pelariannya adalah pengkhianatan yang paling pahit. Ia tidak punya sekutu. Rigel, Reza, semua orang hanyalah bidak di papan catur Galen untuk memastikan "kandungan" itu tetap aman di bawah kendali emosional yang dirancang.

Ia bukan seorang istri. Ia bukan seorang kekasih. Ia bahkan bukan seorang tawanan yang dihormati. Ia hanyalah sebuah mesin biologis, sebuah inkubator yang akan dibuang setelah isinya dikeluarkan.

Dan kini, ia mulai kembali mengkhawatirkan keselamatan ayahnya.

Shabiya sampai di depan lift, tangannya menekan tombol dengan kalap. Di dalam lift yang berdinding cermin, ia melihat pantulannya. Wanita yang ada di sana tampak hancur, namun dari balik reruntuhan itu, muncul sesuatu yang baru. Sebuah kebencian yang murni. Sebuah amarah yang tidak lagi berkobar, melainkan membeku menjadi es yang mematikan.

"Kau ingin aku menjadi seperti 'dia', Galen?" bisiknya pada pantulannya sendiri, suaranya kini terdengar sangat asing. "Maka aku akan menjadi penyebab bagi kehancuranmu. Tidak akan kubiarkan impian itu terwujud seperti kamu menghancurkan semua impianku."

Ia berjalan menyusuri gedung pencakar langit itu dengan kepala tegak, melewati para pengawal yang tidak menyadari bahwa wanita yang baru saja lewat adalah bom waktu yang sudah aktif. Shabiya tidak akan lari ke Rigel. Ia juga tidak akan meminta bantuan Reza. Ia akan kembali ke mansion itu, masuk ke dalam sangkarnya, dan mulai membangun jebakannya sendiri.

Jika Galen adalah sang penguasa yang membangun penjara identitas ini, maka Shabiya akan menjadi rayap yang membusukkan fondasinya dari dalam. Pengkhianatan Galen telah memberinya satu hal yang tidak diperhitungkan oleh sang penguasa, hilangnya rasa takut karena tidak ada lagi yang tersisa untuk hilang.

1
Kustri
qu koq benci yo ama galen, obsesi sm egois selangit
👊nggo galen🤭
Kustri
penasaran gmn cara sabyan melawan galen💪
Kustri
punya penyakit apa itu si galen, aneh☹️😤
Kustri
eh, apa ada di dunia nyata ya sifat egois ky galen
Kustri
nama'a susah diingat, ingat nama panggilan aja
baru mulai... ky'a seru
Silfanti Ike puspita
:
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!