Judul: White Dream With You
Sinopsis:
Sarendra selalu merasa dirinya tidak cukup menonjol. Dengan postur yang sedikit bungkuk dan rambut belah tengahnya yang rapi, ia lebih suka tenggelam dalam deretan angka di jurusan Akuntansi SMK Pamasta daripada harus berurusan dengan keramaian. Namun, sebuah insiden tali rafia yang putus di bawah terik matahari Surabaya mempertemukannya dengan Vema—gadis TKJ yang aromanya seperti sabun bayi dan keberaniannya setinggi langit.
Apa yang dimulai dari bantuan kecil di bawah pohon kersen, tumbuh menjadi rasa yang perlahan namun pasti. Butuh waktu tujuh bulan bagi Rendra untuk mengumpulkan keberanian, dan bagi Vema untuk membuka pintu hatinya. Mereka adalah dua kutub yang berbeda, namun saling menguatkan di tengah rintangan yang datang silih berganti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cokocha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17: Audit Investigatif di Ruang Tengah
Rumah Netta seharusnya menjadi tempat yang aman, sebuah suaka bagi kami setelah badai yang menerjang sebulan terakhir. Namun, bagiku, melangkahkan kaki keluar dari gang rumahku sendiri adalah sebuah perjudian nyawa. Ibu tidak melarangku pergi hari ini. Beliau hanya berdiri di ambang pintu dengan gunting jahit yang masih merah terkena darahnya sendiri, menatapku dengan senyum yang lebih dingin daripada es kutub.
"Pergilah, Vema," bisiknya tadi pagi. "Bawa tagihan itu kepada mereka. Biarkan teman-temanmu tahu berapa harga yang harus dibayar untuk sebuah persahabatan dengan anak penjahit bayangan."
Aku berjalan menyusuri aspal Surabaya yang membara di bawah terik matahari, namun seluruh tubuhku menggigil. Di pergelangan tangan kiriku, benang merah pemberian Sarendra yang kini telah ternoda darah Ibu terasa seperti kawat pijar yang terus-menerus mengiris kulitku. Setiap detak jantungku mengirimkan rasa sakit yang berdenyut, seolah-olah benang itu sedang mencoba menjahit dirinya sendiri ke dalam tulangku.
Saat aku sampai di depan rumah Netta, Nadin sudah menungguku di pagar. Wajahnya yang biasanya ceria kini tampak layu dengan kantung mata yang menghitam.
"Vem! Syukurlah kamu sampai," bisik Nadin sambil menarikku masuk. "Rendra dan Bagas sudah di dalam. Netta... dia masih agak trauma, tapi dia bilang dia nggak mau sendirian di kamar lagi."
Kami masuk ke ruang tengah rumah Netta. Suasananya terasa berat, seolah-olah udara di ruangan itu memiliki beban berton-ton. Netta duduk di sofa dengan selimut tebal melingkari bahunya, sementara Bagas duduk di lantai dengan gelisah, terus-menerus menoleh ke arah jendela.
Dan di sana, di tengah-tengah meja kayu yang penuh dengan tumpukan kertas, berkas sekolah, dan laptop, duduklah Sarendra.
Begitu melihatku, Rendra langsung berdiri. Ia hendak melangkah mendekat, namun aku secara refleks mundur satu langkah. Aku teringat peringatan Ibu: setiap kali dia mendekat, darah ini akan menarik jiwanya.
"Jangan, Dra... tetap di sana," suaraku parau, hampir hilang.
Rendra terhenti, matanya yang berada di balik kacamata tebal itu memancarkan kekhawatiran yang luar biasa. Ia melihat pergelangan tanganku yang tertutup manset hitam, namun rembesan warna gelap mulai terlihat di kainnya.
"Vem, tanganmu..." Rendra berbisik, suaranya bergetar.
"Aku nggak apa-apa. Kita harus mulai," aku memaksakan diri untuk duduk di ujung kursi yang paling jauh dari mereka. "Kita nggak punya banyak waktu sebelum libur semester ini berakhir dan 'Pelanggan Besar' itu menagih pesanannya."
Sarendra mengambil napas panjang, mencoba menenangkan dirinya sendiri. Ia membetulkan letak kacamatanya dan kembali ke mode "Auditor Investigatif". Di depannya tersebar laporan keuangan organisasi sekolah yang berhasil dicetak Nadin secara diam-diam dari server pusat sebelum liburan, ditambah dengan catatan-catatan kecil yang ia kumpulkan selama seminggu terakhir.
"Oke, dengerin semuanya," ucap Rendra, suaranya kini terdengar lebih tegas, meskipun postur bungkuknya menunjukkan betapa berat beban yang ia pikul. "Dalam akuntansi forensik, kita selalu mencari apa yang disebut dengan The Fraud Triangle: Tekanan, Kesempatan, dan Pembenaran. Siapa pun 'Pelanggan Besar' ini, dia punya tekanan luar biasa untuk mempertahankan citra SMK Pamasta sebagai sekolah terbaik. Dia punya kesempatan karena dia punya akses ke dana sekolah, dan dia punya pembenaran bahwa semua yang dia lakukan—termasuk memesan tas dari Ibu Vema—adalah demi kemajuan sekolah."
Netta angkat bicara, suaranya masih gemetar. "Tapi Dra, gimana cara kita nemuin namanya di antara ribuan angka ini?"
"Kita nggak nyari nama, Net. Kita nyari anomali," jawab Rendra sambil menunjuk salah satu kolom di laporan keuangan. "Lihat ini. Ada pengeluaran rutin setiap bulan dengan kode 'Biaya Pemeliharaan Inventaris Tak Terwujud'. Jumlahnya selalu sama: 6.666.000 rupiah. Angka yang aneh untuk sebuah pemeliharaan gedung."
"Itu kode pesanan Ibu," bisikku, membuat semua orang di ruangan itu menoleh padaku. "Ibu selalu bilang, angka enam itu adalah angka 'simpul'. Enam simpul untuk mengikat satu janji. Pelanggan ini sudah membayar biaya ini selama tiga tahun terakhir."
Bagas menggebrak meja pelan. "Tiga tahun? Itu artinya sejak angkatan kakak kelas kita yang lulus kemarin, praktik ini sudah jalan?"
"Bahkan mungkin lebih lama," sahut Nadin sambil mengetik sesuatu di laptopnya. "Aku baru saja meretas arsip lama tentang daftar donatur sekolah. Ada satu yayasan fiktif yang selalu menyumbang tepat setelah pengeluaran 'simpul' itu terjadi. Namanya Yayasan Benang Merah."
Suasana di ruang tengah semakin dingin. Aku bisa merasakan kehadiran sesuatu di sudut ruangan—sebuah bayangan yang merayap di dinding, berbentuk seperti sepasang tangan yang sedang memegang jarum raksasa. Bayangan itu hanya bisa kulihat, dan setiap kali ia bergerak, benang di tanganku semakin panas.
"Vem, apa kamu tahu apa yang dipesan Pelanggan Besar kali ini?" tanya Rendra, matanya menatapku tajam namun penuh empati.
Aku menunduk, air mata mulai jatuh ke pangkuanku. "Dia memesan 'Tas Kenangan'. Ibu bilang, tas ini butuh bahan yang berbeda dari tas Riko atau tas-tas lainnya. Tas ini butuh kenangan dari orang-orang yang paling dekat dengan targetnya. Dan targetnya kali ini... adalah kalian berempat."
Netta terpekik kecil, menutup mulutnya dengan tangan. Bagas berdiri, berjalan mondar-mandir dengan kalut.
"Maksudnya, kita semua bakal dijadikan 'bahan' buat tas itu?" tanya Bagas dengan suara tinggi.
"Bukan tubuh kalian," jelasku dengan suara tercekat. "Tapi keberadaan kalian dalam hidupku. Pelanggan itu ingin menghapus semua warna yang kalian bawa ke duniaku. Dia ingin aku kembali menjadi 'alat' yang murni bagi Ibu, tanpa gangguan persahabatan, tanpa gangguan... cinta."
Aku melirik Rendra saat mengucapkan kata terakhir itu. Rendra terpaku. Ia mengepalkan tangannya hingga kuku-kuku jarinya memutih.
"Dia nggak akan bisa, Vem," ucap Rendra dengan nada yang sangat rendah namun penuh ancaman. "Dalam audit, kalau ada aset yang coba disembunyikan atau dihapus secara ilegal, itu namanya asset misappropriation. Dan aku nggak akan biarkan satu pun dari kalian dihapus dari jurnal hidupku."
Rendra kemudian berdiri dan berjalan menuju papan tulis kecil milik adik Netta yang ada di sudut ruangan. Ia mulai menuliskan skema hubungan antara Yayasan Benang Merah, dana sekolah, dan beberapa nama pejabat sekolah yang kami curigai.
Diskusi berlanjut hingga larut malam. Kami seperti sekelompok detektif yang sedang mencoba membongkar sindikat internasional, padahal kami hanyalah remaja-remaja yang ketakutan di bawah bayang-bayang kutukan.
Tiba-tiba, lampu di ruang tengah padam. Bukan karena mati listrik dari pusat, karena lampu di jalanan luar masih menyala. Di dalam ruangan itu, kegelapan terasa sangat pekat, seperti tinta yang tumpah.
Krek... krek... krek...
Suara itu. Suara mesin jahit Ibu. Tapi kali ini suaranya tidak berasal dari kejauhan. Suaranya seolah-olah berasal dari dalam dada kami masing-masing.
"Jangan ada yang bergerak!" seru Rendra. "Pegang tangan orang di sebelah kalian! Buat lingkaran!"
Kami semua saling berpegangan. Aku terpaksa memegang tangan Nadin dan Bagas. Saat tangan kami bersentuhan, aku bisa merasakan ketakutan mereka mengalir ke dalam tubuhku, dan sebaliknya, mereka bisa merasakan panas dari benang di tanganku.
Di tengah kegelapan, muncul sebuah proyeksi cahaya di dinding. Itu bukan cahaya lampu, melainkan sebuah manifestasi dari "Tas Kenangan" yang sedang dijahit Ibu di rumah. Di dalam proyeksi itu, kami melihat potongan-potongan adegan: saat Rendra memberiku susu cokelat, saat Bagas membawakan cilok untuk Nadin, saat Netta tertawa di kantin.
Setiap adegan itu kemudian dijahit dengan benang hitam yang kasar, lalu digunting hingga hancur.
"Dia mulai menghapusnya!" teriak Netta sambil menangis. "Aku... aku mulai lupa wajah kalian!"
"Tetap fokus!" teriak Rendra. "Sebutkan satu hal nyata tentang orang di sebelahmu! Lawan dengan fakta! Akuntansi adalah tentang fakta yang bisa dibuktikan!"
"Nadin!" Bagas berseru. "Kamu suka warna ungu dan benci sama pelajaran sejarah!"
"Bagas!" Nadin membalas dengan suara keras. "Kamu punya bekas luka di lutut karena jatuh dari motor pas jemput aku!"
"Netta!" aku berteriak di tengah rasa sakit yang luar biasa di tanganku. "Kamu bendahara paling galak yang pernah aku kenal, tapi kamu selalu nyimpen permen buat aku kalau aku lagi sedih!"
"Vema!" Netta membalas. "Kamu... kamu temanku yang paling kuat. Kamu bukan kutukan, kamu adalah warna di kelas kita!"
Terakhir, giliran Rendra. Ia menatapku di tengah kegelapan, matanya bersinar meski tanpa cahaya. "Vema! Kamu adalah orang yang bikin aku berani berdiri tegak. Kamu adalah saldo kebahagiaanku yang nggak akan pernah bisa didepresiasi oleh siapa pun! Aku sayang kamu, Vem! Dan fakta itu nggak bisa dihapus oleh mesin jahit mana pun!"
Begitu Rendra mengucapkan kata-kata itu, benang merah di tanganku mengeluarkan cahaya yang sangat terang, menyinari seluruh ruangan. Cahaya itu bukan lagi merah berdarah, tapi berubah menjadi emas yang murni. Simpul-simpul hitam yang mencoba merayap di dinding terbakar habis.
Suara mesin jahit itu menjerit kesakitan dan perlahan menghilang. Lampu kembali menyala.
Kami semua jatuh terduduk di lantai, napas kami memburu. Kami semua basah kuyup oleh keringat dingin. Di tengah meja, laporan keuangan yang tadi kami bahas kini memiliki sebuah bercak merah yang membentuk sebuah inisial nama.
Rendra mengambil kertas itu dan membacanya dengan teliti. Wajahnya menjadi pucat pasi.
"Siapa, Dra?" tanya kami serempak.
Rendra menatap kami satu per satu dengan tatapan yang sangat gelap. "Inisialnya... H.S."
"H.S.?" Nadin mengerutkan kening. "Haryo Santoso? Kepala Yayasan Pamasta?"
Rendra menggeleng. "Bukan cuma itu. Haryo Santoso adalah orang yang juga menjabat sebagai Dewan Pengawas Keuangan Daerah. Dia bukan cuma 'Pelanggan Besar' sekolah kita, dia adalah orang yang mengendalikan seluruh aliran dana gelap di kota ini melalui jasa Ibu Vema."
Pernyataan Rendra membuat kami semua terdiam dalam kengerian. Musuh kami bukan lagi sekadar hantu atau guru yang ambisius. Musuh kami adalah penguasa kota yang menggunakan ilmu hitam dan manipulasi keuangan untuk mempertahankan kekuasaannya.
"Liburan ini baru saja menjadi medan perang sesungguhnya," ucap Rendra sambil merobek kertas laporan itu dan membakarnya dengan korek api. "Dia tahu kita tahu. Dan dia nggak akan nunggu sampai sekolah masuk buat beresin kita."
Aku menatap pergelangan tanganku. Benang emas itu perlahan kembali menjadi merah, namun rasa sakitnya sudah hilang. Berganti dengan sebuah tekad yang baru.
"Kita harus ke rumah sakit," ucapku tiba-tiba.
"Buat apa, Vem?" tanya Bagas.
"Ibu Riko. Dia satu-satunya saksi hidup yang tahu bagaimana H.S. memesan tas pertama kali sepuluh tahun lalu. Sebelum Riko meninggal, dia sempat bilang kalau ibunya punya 'buku jurnal' lain yang bukan berisi angka, tapi berisi daftar nama semua orang yang pernah jadi korban tas hitam."
Rendra berdiri, membetulkan kacamatanya, dan menatap kami berempat dengan penuh keyakinan. Postur bungkuknya kini justru terlihat seperti seekor harimau yang siap menerkam.
"Audit Investigatif ini kita lanjutkan ke tahap lapangan," tegas Rendra. "Malam ini kita menginap di sini. Besok pagi, Lingkaran Lima akan membongkar brankas rahasia H.S., atau kita mati saat mencoba."
Di luar, hujan turun dengan sangat deras, membasuh jejak-jejak benang merah di jalanan Surabaya. Namun di dalam rumah Netta, api keberanian baru saja dinyalakan. Kami tahu, saldo nyawa kami mungkin sedang di ujung tanduk, tapi kami juga tahu bahwa persahabatan kami adalah aset yang tidak akan pernah bisa bangkrut.
ada apa dgn vema
lanjuuut...