"Kumohon, menikahlah denganku," ucap Kiara Jasmin dengan putus asa.
"Bukannya kamu itu pacar Fero -keponakanku?" jawab Kaisar sambil menatap tajam.
"Tidak, kami sudah putus!" jawab Kiara- cepat.
Ya, kami putus setelah aku tau dia selingkuh dengan adik tiriku, dan kau adalah caraku membalas dendam padanya.
Kaisar Julian, tidak hanya tampan, tapi dia sangat dingin dan sangat kaya. Bahkan dia adalah sumber dana bagi Fero yang pemalas tapi suka berfoya-foya.
Dengan mengumpulkan semua keberaniannya, Kiara mendekati Kaisar yang merupakan CEO di tempatnya bekerja, menawarkan kontrak hubungan palsu.
Namun hubungan yang awalnya hanya sebuah kontrak, entah sejak kapan makin terasa nyata seperti bukan sekedar sandiwara. Dan Kaisar, paman sang mantan -yang dingin itu ternyata menyimpan api yang lebih berbahaya dari yang pernah Kiara bayangkan. Kini jarak antara kebohongan dan kenyataan semakin samar.
Apakah balas dendam terus berlanjut atau...?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tami chan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kencan yang gagal.
Kaisar sempat terpesona dengan penampilan Kiara saat ini. Gaun warna biru langit itu menempel ketat di tubuhnya dengan bawahan membentuk A-line yang membuatnya terlihat anggun. Kiara juga berdandan, membubuhkan lipstik mate warna peach yang sangat cantik. Rambutnya dibiarkan tergerai indah dan berkumpul menjadi satu di sisi kiri bahu mungil itu.
Kiara benar-benar cantik, pantas saja Fero sempat menyukainya. Bodoh sekali dia mencampakan perempuan secantik ini demi Mona yang hanya punya dada besar tapi otaknya kosong!
Dan anehnya, setelah sekian lama, akhirnya Kaisar kembali merasa jantungnya berdebar kencang karena seorang wanita. Apakah Kaisar mulai memiliki perasaan pada Kiara?
Gila! dia yang awalnya hanya ingin asal-asalan mengabulkan permintaan Kiara malah terjebak dengan perasaannya sendiri.
"Jadi, kamu mau ke mana?" tanya Kaisar tanpa mengalihkan pandangannya dan fokus pada jalanan di depan.
"Eh? Saya kira Pak Kaisar sudah menentukan tujuan kencan kita,'' jawab Kiara sedikit canggung saat mengucapkan kata 'kencan' barusan.
"Kalau kamu nggak masalah, kita bisa melanjutkan kencan seperti yang sudah aku rencanakan," jawab Kaisar sambil tersenyum dan membuat Kiara memicingkan mata karena curiga. Dia pasti merencanakan sesuatu yang berbahaya. Tunggu, mengingat dia adalah orang yang suka ceplas-ceplos mengatakan keinginannya seperti 'tiga kali sehari di waktu weekend' - membuat Kiara harus lebih waspada sekarang.
"Ba-bagaimana kalau kita ke pantai!" cetusnya.
Kaisar menoleh menatap Kiara, "pantai?' ulangnya.
"Iya, pantai. kita bisa berjalan menyusuri pantai sambil ngobrol, kan enak," usulnya.
"Hmm... ck, aku kurang suka pantai, dan saat kita sampai di sana pasti sedang panas-panasnya. Bagaimana kalau kita ke tempat yang teduh, dingin dan sejuk dan nyaman untuk berbaring dan bersitirahat?" tawar Kaisar.
Kaisar seketika tersedak ludahnya sendiri, ternyata benar apa yang di takutkan Kiara, Kaisar benar-benar mesum! sungguh berbeda dari tampilan luarnya yang bersahaja.
Tapi wajar juga sih, lihat saja keponakannya!
"Sudah lama sekali Saya tidak pernah ke pantai..." ucap Kiara sambil melirik Kaisar yang masih sibuk dengan kegiatannya menyetir mobil.
"ck, okey, as you wish," jawabnya sambil tersenyum.
Kiara mendesah lega karena akhirnya Kaisar menurutinya.
Setelah menempuh perjalanan hampir dua jam, akhirnya mereka sampai di sebuah pantai berpasir putih. "Kita sampai di pantai," ucap Kaisar sambil melihat keadaan sekitar melalui kaca depan mobilnya.
"Kau mau keluar? tanyanya lagi.
"Iya dong, ayo," ucap Kiara, lalu membuka pintu mobil dan keluar.
"Ayo Pak! jalan di atas pasir, enak sekali," ucap Kiara sambil berlari kecil bertelanjang kaki di atas pasir putih.
Kaisar mendesah dan akhirnya memutuskan untuk keluar dari mobilnya. Dia telah melepaskan sepatunya terlebih dahulu dan dia tinggalkan di dalam mobil, lalu menyusul Kiara.
"Pak Kaisar sering ke pantai?" tanya Kiara, kini dia berjalan perlahan tepat di sebelah Kaisar. Mereka berdua menyusuri bibir pantai dan sesekali merasakan ombak kecil menyapu mata kaki.
"Tidak juga, Saya kurang suka pantai," jawab Kaisar sambil memasukkan kedua tangannya di saku celana.
"Kenapa? asyik sekali loh, ini rasakan saat ada ombak menggulung kecil ke kaki kita, rasanya nyaman sekali, bukan?" ucap Kiara dengan ceria. Ya, sudah lama sekali Kiara tak pernah ke pantai. Terakhir ke pantai adalah saat dia masih duduk di bangku SMP dan saat itu dia pergi bertiga dengan Ayah dan Ibunya. Setelah Ibu tiada, Kiara tak pernah lagi pergi ke pantai.
Melihat wajah Kiara yang begitu ceria seperti anak kecil, Kaisar tersenyum sambil menganggukkan kepalanya -tak ingin melihat rona kecewa di wajah yang berseri-seri itu.
"Sebenarnya, dari pada pantai, Saya lebih suka gunung," lanjut Kaisar.
"Benarkah?"
Kaisar mengangguk beberapa kali, "mendaki dan berkemah benar-benar seperti obat untuk mengobati jiwa," ungkapnya dengan serius sambil menatap Kiara. Dan tentu saja, Kiara terpesona pada ketampanan wajah Kaisar saat sedang mode serius seperti ini.
"Kapan-kapan, ayo kita ke gunung... kita mendaki, dan berkemah berdua," ucapnya sambil menatap netra coklat Kaisar.
Kaisar balas menatap netra hitam Kiara. Netra hitam yang begitu jernih dan membuat Kaisar merasa sangat tenang. Kaisar kembali tersenyum sambil melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti sejenak. "Lebih baik kita melakukannya saat sudah menikah nanti," lirihnya sambil terkekeh.
"Kenapa?" tanya Kiara bingung.
Kaisar kembali menghentikan langkahnya dan menoleh menatap Kiara yang begitu penasaran, "supaya kita bisa bercinta saat kedinginan di malam hari," lanjutnya sambil menyunggingkan senyum nakalnya.
Seketika wajah Kiara merona, "Pak Kaisar ternyata benar-benar mesum! persis seperti Fero!" ketusnya.
Kaisar menaikkan sebelah alisnya, "Tidak! tolong jangan samakan aku dengan Fero!"
"Apa bedanya?"
"Tentu saja beda, buktinya kamu mau melakukan semuanya denganku ketimbang dengan Fero, benar, kan?" bisiknya tepat di telinga Kiara dan sukses membuat wajah Kiara memerah.
"Be-belum... ki-kita belum melakukan apapun!" sergah Kiara.
Kaisar tersenyum, "kalau kamu mau, sekarang kita bisa memulainya,"
Kiara membola dan dengan cepat menghindari Kaisar. Dia berlari kecil meninggalkan Kaisar yang masih berdiri di tempatnya. Alih-alih marah, Kaisar malah terkekeh melihat reaksi Kiara yang gugup dan langsung kabur meninggalkannya.
Ucapan Kaisar tak sepenuhnya salah, bahkan seratus persen benar. Saat bersama Fero, hal yang masih bisa Kiara terima adalah bergandengan tangan, dan ketika Fero meminta hal yang lain seperti ciuman di bibir, Kiara dengan keras menolaknya.
Namun saat bersama Kaisar, Kiara malah sudah dua kali merasakan bibir lembut bosnya itu melumat bibirnya. Wajah Kiara seketika memerah, malu. Kenapa bisa begitu ya? apakah karena pembawaan Kaisar yang kalem dan sikapnya yang lembut membuat Kiara terlena dan akhirnya jatuh dalam buaian? Memang sih, jika di bandingkan dengan Kaisar, Fero nggak ada apa-apanya. Dari segi penampilan bahkan sifat.
Fero memang lebih muda dari Kaisar, tapi dia terlihat acuh dengan bentuk tubuhnya, terbukti perut Fero sedikit membuncit, berbeda sekali dengan Kaisar yang memiliki bahu lebar, perut berotot dan tangan yang terasa sangat kuat saat memeluk tubuh Kiara.
"Astaga!" pekik Kiara lirih sambil menampar pipinya sendiri. "Aku sudah gila!"
"Kia, sebaiknya kita kembali ke mobil," ucap Kaisar sambil menatap langit yang mulai gelap karena tertutup awan hitam.
"Kenapa?"
"Anginnya kencang dan langit mulai mendung, ayo-" belum selesai Kaisar bicara, tiba-tiba hujan lebat turun. Saking terkejutnya Kiara sampai memekik kaget. Dengan cepat, Kaisar menarik tangan Kiara, berlari menerobos hujan untuk kembali ke mobil yang jaraknya lumayan jauh.
"Pak, kita berteduh saja," pinta Kiara sambil mengusap wajahnya beberapa kali yang di banjiri air hujan.
"Nggak ada tempat berteduh sekitar sini, lagi pula kalau hujan deras begini sebaiknya menjauh dari pantai," ucap Kaisar sambil terus mengajak Kiara berlari.
Akhirnya mereka sampai juga di mobil Kaisar, lalu buru-buru Kaisar dan Kiara masuk agar terlindung dari derasnya hujan.
"Astaga, dingin sekali..." gumam Kiara sambil memeluk tubuhnya sendiri yang mulai gemetar.
Kaisar menatap Kiara dengan khawatir karena dia terlihat pucat dengan tubuh dan bibir yang gemetar.
"Sebaiknya kita cari tempat yang hangat!' ucapnya sambil mulai memutar kontak mobilnya dan tancap gas meninggalkan pantai.
🤭
Km kira ini gaun buat pengantin baru yg mau unboxing 🤣