Arumi gadis yang sebelumnya sangat bahagia dengan keluarga kecilnya harus menelan pil pahit yang mana ia harus kehilangan suaminya.
Di tambah lagi dia harus menikah dengan pria yang membuat suaminya tiada karena hamil dengan pria itu
Akan kah pernikahan mereka bertahan lama, dan bagaimana kehidupan Arumi setelah menikah dengan kenan Dirgantara
happy reading 😘
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Eka Nawa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps 19
"Aku mau pulang," ucap Helen meminta agar ia pulang ke rumah karena ia sudah sangat rindu pada orang tuanya.
"Apa kau yakin?" tanya Narendra dan Helen pun mulai merasa kebingungan lagi tapi ia tidak bisa bersembunyi terus menerus seperti ini.
"Aku akan menemui keluarga Dirgantara khusunya istri Kenan dan meminta maaf. Aku ingin bertemu papa entah mengapa perasaan ku tidak enak Naren aku takut terjadi apa-apa sama papah," ujar Helen.
"Aku antar,"
Helen bersiap sudah hampir sebulan ia bersembunyi karena takut Kenan melaporkan nya ke polisi. Akan tetapi, rasa khawatirnya membuat Helen menyerah dan akhirnya ia akan mempertanggung jawabkan perbuatanya hanya demi bisa bertemu dengan sang papa.
Di sepanjang jalan hanya ada keheningan Narendra fokus menyetir sedangkan Helen sibuk dengan hati dan pikiran nya. Ia terus saja memikirkan perkataan Narendra yang ingin mengajaknya menikah sementara ia belum bisa mencintai pria itu
Selama di mansion milik Narendra pria itu selalu baik padanya ia selalu tau apa yang dibutuhkan nya dan juga apa yang diinginkan Helen selalu ia turuti tapi Helen masih ragu untuk menerima nya sebelum ia benar-benar bisa melupakan Kenan.
Tibalah mereka di rumah kediaman Dirgantara yang mana hanya ada Arumi dan juga putrinya serta para pembantu di rumah karena Kenan dan lainnya sedang pergi menghadiri undangan pernikahan koleganya.
Pintu terbuka setelah beberapa kali Helen menekan bell dan kebetulan Arumi yang membukakan pintu membuat mereka bertiga saling menatap.
Arumi dengan cepat pergi dari hadapan wanita yang sangat ia kenal dan kejadian sebulan lalu membuatnya ketakutan.
"Tunggu,"
Teriak Helen yang mengejar Arumi dan akhirnya Helen dapat menangkap Arumi yang langsung memegangi putrinya begitu erat hingga putrinya menangis.
"Hentikan, Helen kau membuat bayi itu ketakutan juga dia ..." tunjuk Narendra pada Arumi.
Helen melepaskan genggamannya Arumi memundurkan langkahnya seraya menenangkan Ayumi.
"Ma ... Mau apa kau kesini? Jangan sakiti putriku jika kau masih belum puas kau sakiti saja aku tapi jangan Ayumi, hiks," Isak Arumi.
"Tenang, tenang ya Nona jangan salah paham Helen datang kesni hanya," Suara Narendra membuat Arumi mendongak dan baru sadar kehadiran Naren lalu sekali lagi ia tercengang menatap wajah pria itu.
"Kau masih ingat denganku?" Arumi mengangguk pelan sedangkan Helen merasa bingung.
"Baiklah, perkenalkan aku Narendra teman suami mu, Kenan. Aku kesini hanya ingin ..."
"Arumi, Ayumi, kalian di mana? Aku pulang," ucapan Naren terhenti mendengar suara Kenan yang baru saja masuk ke dalam.
"Mas, Kenan," lirih Arumi yang langsung mengusap air matanya lalu menghampiri suaminya.
Dengan senyuman manis dari sang suami, Kenan menyambut Arumi yang datang membawa putri cantiknya. Akan tetapi, senyuman itu luntur seketika ketika dua orang mengikuti nya dari belakang sontak membuat Kenan mengepalkan tangannya lalu ia berjalan menuju mereka berdua.
Tentu saja hal itu disadari oleh Narendra dengan sigap ia menghalangi Kenan yang ingin menghampiri Helen.
"Jangan halangi aku! Mau apa perempuan itu datang kesini! Belum puas dia ingin melenyapkan istri dan anak ku!" marah Kenan dengan tubuhnya yang bergetar sekuat tenaga Narendra menghalanginya dan akhirnya ia tidak kuat mendengar umpatan Kenan yang ditujukan pada Helen.
Bugh
"Mas," teriak Arumi.
kali ini teriakan Arumi terdengar oleh Nina yang langsung menghampiri keduanya,"Nina, tolong bawa Ayumi ke dalam dan suruh Tania membawakan kotak obat," titah Arumi.
"Baik, Nona,"
Arumi membantu Kenan berdiri ia melihat darah segar mengalir di bibir suaminya lalu menatap Narendra,"Sebenarnya mau apa kalian ke sini?" tanya Arumi sekali lagi sembari mendudukkan Kenan di sofa.
"Kami hanya ingin berbicara baik-baik tapi suami mu malah berkata kasar pada Helen. Kau sangat tidak berperasaan, Kenan," kesal Narendra.
"Wanita yang dibelakang mu yang tidak punya otak dan memikirkan perasaannya sendri!" pekik Kenan.
Narendra ingin menghampiri Kenan karena merasa kesal tapi kali ini Helen menghampiri dan langsung menahan Naren.
"Cukup! ... Kenan aku kesini hanya ingin minta maaf padamu aku tau aku salah dan membahayakan istrimu dan juga calon anak mu saat itu. Aku benar-benar menyesal dan akan mempertanggung jawabkan semuanya pastinya kau sudah melaporkan ku ke polisi," ujar Helen.
"Ya, akan ku pastikan kau akan membusuk di penjara," cicit Kenan.
"Jika kau lakukan itu kau akan berhadapan dengan ku, Kenan!" ancam Narendra.
"Sudah, jangan berdebat! kau Helen putri papah Danu?" tanya Arumi.
"Kenapa kau memanggil papah ku dengan sebutan papah?" bingung Helen.
"Aku Arumi menantu papah mu istri dari almarhum kakak mu, Natan," ungkap Arumi.
"Apa? Kakak?" Helen terkejut mendengar pernyataan dari Arumi pasalnya ia tidak tau jika ia mempunyai seorang kakak.
"Ia tepatnya kakak tirimu anak dari papah di pernikahan sebelumnya," jelas Arumi.
"Temui lah papah saat ini ia berada di rumah sakit ia sangat khawatir padamu," lanjut Arumi.
"Papah," lirih Helen.
Helen mendekat pada Arumi,"Sekali lagi aku minta maaf Arumi karena cinta hingga membutakan segalanya sampai pikiran ku bisa jadi jahat seperti ini dan kini karena perbuatan ku papah jadi harus menanggung dosaku," Arumi memeluk Helen membuat Helen terkejut lalu ia langsung membalas pelukan Arumi.
"Lupakan dan perbaiki diri aku juga sudah mencabut laporan mu jadi kau tidak perlu khawatir lagi," Helen mengangguk dan melepaskan pelukannya.
"Kenan, apa kau juga memaafkan ku?" tanya Helen dengan suara lirih.
"Jika dia tidak memaafkan mu aku yang akan menghajarnya," sambung Narendra.
"Cih, aku tidak takut," balas Kenan.
"Mas!" pekik Arumi.
"Baiklah, aku memaafkan mu jangan pernah menganggu rumah tangga ku lagi dan berbahagialah dengan dia dan jelaskan padanya aku tidak pernah sekalipun mengkhianatinya apalagi sampai merebut mu dari nya," ujar Kenan.
Helen menatap Narendra dengan tatapan tajam,"Hmm ... Nanti aku jelaskan lebih baik kita ke rumah sakit sekarang, ya," ajak Narendra dengan sedikit cengengesan.
Meraka pun pamit, Tania datang memberikan kotak obat ada Kenan,"Liatin aja terus suaminya di anggurin!" sindir Kenan membuat Arumi tersadar jika ia terlalu memperhatikan Narendra.
Arumi membuka kotak obat itu ia mengambil kapas dan juga obat,"Kesini mas menghadapnya bagaimana aku akan mengobati mu," cicit Arumi.
Kenan membalikkan tubuhnya menghadap Arumi dengan wajah masam nya,"Kamu suka ya sama Narendra?" tanya Kenan.
"Enggak," singkat Arumi.
"Terus kenapa ngeliatin Narendra terus sih," rengek Kenan.
"Aku kan punya mata Mas ngeliatin orang ajah ga boleh," ucap Arumi sembari mengobati luka di bibir Kenan.
"Iya tau kamu punya mata, tapi kan ... Sshhh akhhh. Sakit Arumi," ringis Kenan karena Arumi menekan pada luka Kenan pria itu pun kesakitan.
***
"Sudahlah pah jangan terlalu memikirkannya dia juga sudah tiada," ucap Jeni.
"Kau memang tidak pernah menyayangi putra ku sampai ia tidak betah tinggal di rumah dan memutuskan pergi," kesal Danu.
"Buat apa aku menyayangi Natan, dia saja tidak mau menerima ku sebagai ibunya," balas Jeni tidak terima.
cekleek
"Papah," panggil Helen membuat perdebatan orang tuanya terhenti.
Danu ingin bangun tapi Helen keburu memeluknya dan langsung menangis,"Darimana saja kamu, Helen papah sangat khawatir,"
"Maafkan Helen, pah udah bikin papa khawatir Helen menyesal pah, maaf, hiks," Isak Helen.
"Sudah-sudah yang terpenting kamu pulang nak," Danu melepaskan pelukannya.
"Kemana kamu selama ini, Helen kenapa hampir sebulan kamu tidak pulang?" cecar Jeni.
Helen pun mulai bercerita saat kejadian di mana ia mencelakai Arumi, dan di mana dia selama ini bersembunyi dan pria yang menolongnya saat ia mabuk.
"Narendra? Siapa?" tanya Jeni.
"Teman ku saat sekolah dulu, ia juga teman sekolah Kenan dan Jimmy," Jeni dan Danu memang tidak pernah mengenal teman Helan saat sekolah dulu.
"Papa harus berterimakasih pada nya dia sudah mau menolong mu jika bukan dia bagaimana nasib mu di luar sana apalagi kau sempat mabuk. Helen, papa kan sudah bilang jangan mabuk lagi kau itu benar-benar nakal," omel Danu.
"Iya, pah maaf," rengek Helen yang sangat manja memeluk kembali Danu.
"Tadi aku bersamanya ke sini tapi dia sudah pergi pah, dia harus kembali ke kantor," ujar Helen.
"Yasudah kapan kapan kau bawa ke rumah undang dia untuk makan malam, Sekarang kamu temani papa, mama ingin membeli makanan di luar papa mu sudah sangat bosan makan makanan rumah sakit," pinta Jeni.
"Iya, mah bawakan aku jus jeruk ya," sambung Helen.
Jeni keluar ia menuju keluar rumah sakit mencari soto di pinggir jalan, Ia menyebrang karena soto itu adanya di sebrang jalan.
"Pak sotonya satu ya dibungkus," Tukang soto mengiyakan sambil menunggu Jeni duduk di kursi belakang sembari berselancar pada ponselnya.
"Mah, lama banget sih aku kan harus ke kantor, " ucap seorang pria di sampingnya.
"Iya, sebentar tadi mama bayar dulu,"
Degh
Suara wanita paruh baya itu menghentikan kegiatan Jeni dan langsung menoleh ke arah sampingnya. Ia berdiri perlahan mengikuti wanita itu yang berjalan bersama putranya menuju mobilnya.
Sang putra membukakan pintu mobil dan masuk lebih dulu, saat wanita itu ingin masuk dompetnya jatuh lalu ia mengambilnya terlihat wajahnya dengan jelas.
Kedua mata Jeni terbelalak melihat wanita yang seusianya tapi terlihat awet muda dan makin cantik.
"Mira," lirih Jeni.
*
*
Bersambung.