Mentari Jingga atau yang biasa di panggil MJ, merupakan anak broken home yang mempunyai tekanan besar di hidupnya. Selepas ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan ibu dari mantan kekasihnya.
Hari-harinya bertambah buruk karena harus bertemu setiap hari dengan sang mantan yang telah ia lupakan mati-matian. Hingga pada akhirnya ia menjadi rajin melepas stress dengan berjalan-jalan di taman setiap malam.
Ia cukup akrab dengan beberapa penjual ditaman, berada ditengah-tengah mereka membuatnya lupa akan permasalahan hidup. Hingga pada akhirnya ia bertemu dengan Mas Purnama, seorang pedagang jagung bakar yang baru saja mangkal di area taman.
Mas Pur berusia 5 tahun diatas MJ, tapi dia bisa menjadi teman curhat yang menyenangkan. Mereka sering menghabiskan waktu berdua sambil memandangi langit malam itu.
Hingga setelah 3 bulan bersahabat, malam itu MJ tak pernah menemukan sosok Mas Pur lagi berdiri di tempat ia biasa berjualan. Kemana Mas Pur menghilang?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Attalla Faza, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MJ Rungkad
MJ menatap buku berwarna hitam yang tergeletak di meja belajarnya, malam ini ia mau belajar saja sebab besok akan di adakan test mandiri di salah satu PTN secara online.
Bu Nawang bilang kalau ia baru boleh membaca isinya jika perasaannya sedang stabil. Daripada ia tidak fokus saat test, lebih baik MJ menundanya. Toh masih ada 2 minggu lagi sebelum Bu Nawang pulang ke Madiun.
Siang itu Pak Abdul datang kerumah dengan wajah yang kusut, ia terlihat mumet seperti orang yang sedang banyak pikiran. Padahal selama 3 bulan hidup terpisah, MJ tidak pernah menyinggung apapun mengenai Bu Nia.
" Makan Yah, tadi teh Rani masak perkedel dan sup ayam" ujar MJ yang baru selesai tes online
" Ayah nggak lapar neng" jawabnya singkat
" Ayah nggak kerja?" tanya MJ lagi
" Cuti"
" Oh"
Hening!
Hanya ada suara piring yang beradu dengan sendok makan. Pak Abdul seperti sedang mikir keras ingin menyampaikan sesuatu pada anaknya sendiri.
" Kenapa Yah? Apa sedang punya masalah?" tanya MJ seakan bisa menebak
" Ekh, enggak kok Neng. Ayah cuma lagi bingung saja cari referensi pengobatan alternatif Rama. Sebab biaya pengobatannya makin lama makin berat saja"
MJ tak komentar, sebab ia tau jika tabungan kuliahnya berkurang akibat Wak Lilis minta ganti rugi uang suaminya yang di pakai untuk bayar kontrakan.
" Kenapa harus berobat alternatif? Apa nggak mengulang semua dari awal? Tiga bulan ini kan ayah sudah banyak keluar uang buat bolak balik RS, masa pengobatannya mau di tinggalkan begitu saja" ujar MJ
" Rama makin drop, Neng. Semalam saja dia kejang dan harus di larikan ke RS, ini ayah baru aja pulang" ujarnya lirih
MJ menghentikan makannya seketika, rasa makanan yang sedang ia kunyah mendadak pahit seperti oseng daun pepaya. Pahit!
" Kenapa ayah nggak bilang aku? Terus gimana kondisi Aa sekarang? Aku mau ke tempat Aa, aku mau ada di samping Aa" ujar MJ cemas
" Kamu tenang Neng, semua sudah stabil karena ditangani tepat waktu. Nanti sore kita ke sana ya, ayah izin istirahat sebentar. Dari semalam ayah belum tidur, nanti ke RS sama ayah saja" ujar Pak Abdul yang sudah letih
" Tapi ayah makan dulu, nanti ayah sakit "
MJ khawatir dengan keadaan ayah, seburuk apapun hubungannya akhir-akhir ini, tetap saja ia sangat mencintai Pak Abdul.
" Ayah sudah makan roti tadi, nanti saja makannya. Yang ayah butuhkan hanyalah istirahat"
MJ tak mencegah lagi, ia membiarkan ayahnya tidur di kamarnya. Sementara MJ menyiapkan baju ganti karena pasti akan menginap di RS.
Ia menatap buku itu sekilas, sempat terbesit untuk membawanya karena ia pasti akan butuh kegiatan selama menunggui A Rama.
"Aku bawa aja deh" gumam MJ sambil memasukkan buku warna hitam itu ke tas
*******
Sore harinya saat ia dan Pak Abdul siap berangkat ke RS, Bu Nia datang dengan menggunakan sepeda listriknya. MJ tidak keluar menemuinya, tapi ia menguping dari rumah tamu yang sangat berdekatan dengan teras rumah.
" Aku butuh uang buat periksa ke bidan, Kang. Ada vitamin yang tidak di cover BPJS, jadi aku mau beli karena disarankan bidan bulan lalu" ujar Bu Nia
" Berapa dek?"
" Bawa saja 300 ribu dulu Kang, nanti kalau kurang aku yang tambahin" ujarnya
Lemas sudah tubuh MJ kala mendengar percakapan mereka berdua. Ia tau arah pembicaraannya kemana, dan itu lah yang membuat Pak Abdul semakin rungkad.
Ya ampun ayah... Kan bisa KB dulu jangan maen asal berkembang biak aja. Udah tau biaya lagi jor-joran gini, pake acara memperbanyak keturunan pula, batin MJ
Bu Nia pergi setelah di berikan uang oleh Pak Abdul, MJ pura-pura tidak tau saja karena itu bukan urusannya. Memikirkan A Rama saja ia sudah pusing, jangan sampai ketambahan edan karena perkara anak yang ada di kandungan Bu Nia.
Perjalanan terasa lama sekali, MJ mencoba untuk menikmati pemandangan yang isinya polusi semua. Beruntung mereka sampai sebelum hujan turun, jadi mereka tidak sampai kebasahan.
" Yah, aku cari kantin dulu ya. Tenggorokanku haus mau minum, ayah duluan saja nanti aku cari sendiri ruangannya" ujar MJ
" Yaudah kalau begitu, ayah titip air mineral ya"
Mereka berpisah di salah satu lorong menuju ruang perawatan. MJ bergegas mencari kantin yang tak terlalu jauh dari lorong tersebut.
Namun saat ia mengantri untuk memesan di kasir, pandangannya salfok pada Kakek yang sedang mengobrol dengan wanita berkerudung kuning.
" Lah, itu kan Bu Lina..." gumam MJ kaget
Gadis itu segera menyelesaikan pembayaran dan bersembunyi untuk bisa mendengarkan pembicaraan mereka. Jujur saja ia sangat penasaran dengan sosok Bu Lina itu, sejak pertemuan mereka kemarin, ia tak pernah melihat lagi sosok itu ada di sekitaran rumah.
" Aku ingin Rama mendapatkan perawatan yang terbaik! Kamu tega membiarkan dia hanya mendapatkan perawatan BPJS saja?" cecar Bu Lina
" Diam Lina! kamu pikir selama 3 bulan saja aku tidak mengupayakan kesembuhan untuk Rama? Aku sudah mendesak Abdul untuk membeli obat yang tidak murah, kasihan dia karena sudah habis-habisan membiayai Rama"
" Itukan sudah jadi kewajibannya untuk membalas jasamu selama ini. Mendiang istrimu kan yang memintamu untuk merawat si Abdul seperti anak sendiri, padahal dia itu cuma bayi yang di temukan depan rumahmu" cecar Bu Lina
" Diam Lina! jangan sampai ucapanmu terdengar oleh siapapun!"
Deg!
Belum selesai kagetnya karena kehamilan istri baru ayah, kini MJ di suguhkan dengan fakta jika ayahnya bukan anak kandung kakek nenek.
Ya Allah, aman-aman ya jantungku. Kenapa hari ini jedar jeder banget sih. Keknya mereka masih mau membuka satu rahasia lagi tentang siapa Rama yang sebenarnya, batin MJ sambil mengusap dada
MJ mengintip sedikit mumpung suasana agak ramai, terlihat wajah Kakek yang sangat tegang sementara wajah Bu Lina yang kelihatan ngeselin kayak rentenir.
" Rama itu anak kita Kang! Dia harus mendapatkan perawatan terbaik sampai sembuh! Abdul harus merawatnya sama seperti kamu merawat dia dulu!"
" Aku tau Lina! Tapi jangan terlalu kejam seperti itu, bagaimana juga Rama adalah tanggung jawabku"
" Kalau kamu tidak bisa tegas, aku akan bicara pada Abdul tentang dosa masa lalunya! Aku yakin dia tidak mau Mentari tau ayahnya pernah punya anak sebelum menikah dengan Sintia! Dan anak itu adalah Gilang!" ancam Bu Lina
" Cukup Lina! Gilang itu bukan aib karena dia dia ada melalui pernikahan yang sah secara agama!" desis kakek Toha
" Hanya secara siri kan?" sinis Bu Lina
" Nasabnya tetap ada pada Abdul!"
Allahuakbar! Kejutan macam apalagi ini? Kepala MJ terasa berat dan ingin gelosoran aja di lantai.
Ada beberapa hal yang bisa ia simpulkan dalam pembicaraan kakek Toha dan Bu Lina.
Pertama, ayah itu anak pungut kakek.
Kedua, bu Lina dan kakek punya anak yang bernama Rama.
Ketiga, ayah tau jika Rama bukan kandungnya, tapi ia tetap merawatnya seolah-olah Rama adalah anaknya sendiri.
Dan yang keempat, Mas Gilang adalah kakak seayah MJ. Itu artinya ayah pernah menikah dengan ibunya Mas Gilang sebelum menikahi ibu?
Ya Rabb, aku pikir memecahkan soal matematika adalah teka teki paling sulit di sepanjang hidupku. Ternyata perkara ini jauh lebih sulit lagi.
Bu.... aku harus gimana?
mungkin di platform ini saya bisa menulis dengan tema yang beda dari sebelah.
Jadi para reader sekalian, kalau mau cerita happy dan ringan bisa mampir di tetangga ya.😍