DIA YANG HADIR DI PINTU TERAKHIR
Sejak kapan sebuah rumah terasa paling asing, dan luka menjadi satu-satunya yang jujur?
Aira Maheswari dibesarkan di bawah atap yang megah, namun penuh kebisuan dan rahasia. Ia terbiasa menyembunyikan diri di balik topeng, sebab di rumahnya, kejujuran hanyalah pemicu keretakan. Pelarian Aira datang dari Raka, Naya, dan Bima, tiga sahabat yang menjadi pelabuhan sementaranya. Namun, kehangatan itu tak luput dari kehancuran—ketika cinta terlarang dan pengorbanan sepihak meledak, ikatan persahabatan mereka runtuh, meninggalkan Aira semakin sendirian.
Saat badai emosi merenggut segalanya, hadir Langit Pradana. Lelaki pendiam ini, dengan tatapan yang memahami setiap luka Aira, menawarkan satu hal yang tak pernah ia dapatkan. Cinta mereka adalah tempat perlindungan, sebuah keyakinan bahwa Langit adalah tempat pulangnya.
Namun, hidup Aira tak pernah sesederhana itu. Akankah Aira menemukan tempat pulang yang sesungguhnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon yuliza sisi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19
HAL-HAL YANG MENYELAMATKAN DALAM DIAM
Ada rasa yang tidak bisa dijelaskan ketika seseorang merasa diikuti.
Bukan takut yang langsung menjerit, melainkan naluri yang berdiri pelan di tengkuk, membisiki, kamu tidak sendiri, entah itu kabar baik atau buruk.
Sore itu, Aira memutuskan pulang ke rumah sebentar. Hanya sebentar. Mengambil baju ganti, beberapa buku, dan barang-barang kecil yang tidak sempat ia bawa sejak hari-hari pertama ibunya dirawat.
Ia pamit pada perawat, menatap ibunya yang masih terlelap, lalu melangkah keluar rumah sakit dengan tas kanvas kosong di bahu.
Langkahnya terasa lebih ringan dibandingkan kemarin. Tapi bukan karena beban berkurang, melainkan karena tubuhnya sudah terlalu terbiasa menahan.
Di luar, langit mendung tipis. Jalanan tidak terlalu ramai. Aira memutuskan berjalan kaki sampai halte kecil, lalu naik ojek ke rumah.
Dan di jarak yang tidak terlalu dekat, tidak terlalu jauh, sebuah mobil hitam bergerak pelan.
Kartik Arkana duduk di kursi belakang. Jasnya dilepas, kemeja hitamnya rapi, lengan tergulung sampai pergelangan. Tatapannya lurus ke depan, mengikuti siluet Aira yang berjalan menyusuri trotoar.
“Jaga jarak,” katanya singkat pada sopir.
“Iya, Pak.”
Kartik tidak sedang ragu. Ia hanya memastikan satu hal
Aira tidak sendirian.
Rumah Aira berada di kawasan lama. Jalan kecil, rumah-rumah berdempetan, sebagian catnya mulai pudar. Ia tumbuh di sana, mengenal setiap tikungan, setiap warung kecil, setiap sudut yang dulu terasa aman.
Ia turun dari ojek di ujung gang, membayar, lalu melangkah masuk. Gang itu tidak sempit, tapi panjang dan sepi. Beberapa motor terparkir. Bau asap rokok tipis tercium.
Aira berjalan sambil mengecek ponsel. Tidak ada pesan baru.
Langkah kaki terdengar di belakang.
Aira menoleh sekilas. Tiga pria berdiri di dekat warung yang sudah tutup. Jaket lusuh. Tatapan mereka terlalu lama.
Aira mempercepat langkah.
Langkah di belakang ikut cepat.
Naluri itu kembali muncul. Lebih keras kali ini.
Ia tidak berlari. Tidak panik. Ia hanya menggenggam tali tas lebih erat.
“Mbakyu,” salah satu pria bersuara. “Sendirian aja?”
Aira tidak menjawab.
“Cantik amat sore-sore begini,” yang lain tertawa kecil.
Aira berhenti. Menoleh. Tatapannya dingin.
“Permisi,” katanya tegas. “Saya mau lewat.”
Salah satu pria melangkah mendekat. Terlalu dekat. Bau alkohol menusuk.
“Lewat sini aja, Mbak,” katanya sambil menghadang.
Aira mundur setengah langkah. Jantungnya berdetak cepat, tapi kepalanya dingin.
“Jangan sentuh saya.”
Tangan itu terulur.
Dan saat itulah, sebuah suara lain memotong udara.
“Mundur.”
Satu kata. Rendah. Datar. Tidak berteriak.
Ketiga pria menoleh.
Kartik berdiri di ujung gang. Tubuhnya tegap. Wajahnya tenang, terlalu tenang untuk situasi seperti itu. Tatapannya tajam, tidak berapi-api, tapi cukup untuk membuat udara berubah.
“Ada urusan?” salah satu preman menantang.
Kartik melangkah maju satu langkah. Sepatu pantofelnya menghantam aspal pelan.
“Iya,” jawabnya singkat. “Sama kamu.”
Nada suaranya tidak naik. Tidak mengancam. Justru itu yang membuatnya berbahaya.
Salah satu pria tertawa meremehkan. “malam ini dia akan bersamaku dan...”
Belum selesai kalimat itu, Kartik sudah berdiri tepat di depan Aira. Satu tangannya terangkat, menahan tanpa kasar, memindahkan tubuh Aira ke belakangnya.
Gerakannya cepat. Efisien.
“Sentuh dia,” kata Kartik pelan,
“dan saya pastikan hidup kamu berubah hari ini.”
Tidak ada emosi di sana. Tidak ada amarah. Hanya fakta.
Preman itu ragu. Yang lain saling pandang. Ada sesuatu di aura Kartik yang tidak cocok dengan keributan murahan.
Namun salah satu tetap nekat. Tangannya mencoba meraih lengan Aira dari samping.
Aira refleks memberontak. Tasnya terjatuh. Tangannya hampir tergores paku kecil di dinding, dengan Langka cepat Kartik berlari untuk menutupi paku kecil itu, naas nya tangan nya yang tergores.
Kartik bergerak Cepat dan Tepat.
Ia memutar lengan pria itu, menekannya ke dinding, tidak berlebihan, tapi cukup membuatnya meringis.
“Pergi,” katanya dingin.
Dua pria lain mundur, Yang tertahan itu mengumpat pelan, lalu dilepaskan.
Mereka pergi. Cepat. Tanpa banyak suara.
Gang kembali sunyi.
Aira berdiri terpaku. Napasnya pendek. Tangannya bergetar. Darah tipis mengalir di telapak tangannya.
Kartik menoleh.
“Kamu luka.”
“Sedikit,” jawab Kartik cepat. “saya nggak apa-apa.”
Kartik menghela napas pendek, Bukan lega, lebih seperti menahan sesuatu.
Di ruang tamu rumah Aira yang sederhana, Kartik berdiri kaku. Ia tidak duduk sebelum dipersilakan. Matanya menyapu sekitar sekilas, bingkai foto lama, rak buku, sofa yang tersusun rapi.
Aira mengambil kotak P3K dari lemari.
“Duduk,” katanya sambil menunjuk kursi.
Kartik menurut.
Aira duduk di depannya, membuka kotak, mengambil kapas dan antiseptik.
“Ini perih,” katanya.
“Tidak parah,” jawab Kartik singkat.
Aira mendengus. “dari pertemuan kemaren anda selalu jawab seperlunya, ya?”
Kartik tidak membalas.
Aira membersihkan lukanya pelan. Tangannya cekatan, meski mulutnya terus bergerak.
“anda tahu nggak,” katanya, “kalau orang kayak anda itu bikin orang lain curiga.”
“Kenapa?”
“Karena selalu muncul pas dibutuhkan,” jawab Aira cepat. “Kayak… terlalu tepat.”
Kartik menatap luka itu. “Kebetulan.”
Aira tertawa kecil. “Iya. Kebetulan versi anda banyak banget.”
Ia menempelkan plester.
“Terima kasih,” katanya lebih pelan.
Kartik mengangguk.
Aira berdiri, masuk ke kamar nya mengambil baju ganti, memasukkannya ke tas, setelah semua nya sudah di siapkan Aira keluar kamar dengan menenteng tas nya“Aku harus balik ke rumah sakit.”
“Kamu nggak boleh jalan sendiri,” kata Kartik.
“Aku biasa,” jawab Aira. “lagian tidak ada yang berniat untuk menyakiti ku.”
Kartik berdiri. “saya tahu, tapi saya tetap ingin mengantar mu, ke rumah sakit”
“aku bisa sendiri ya, lagian kita kan enggak kenal?”
“tidak harus kenal untuk menjaga.”
Jawaban itu membuat Aira berhenti. Ia menoleh tajam.
“Kamu ini siapa, sih?” tanyanya. “Serius.”
Kartik terdiam sejenak. “Nama saya Kartik.”
“maksudku bukan itu” potong Aira. “Aku tahu anda bukan orang biasa. Aku lihat cara anda bergerak. Cara anda bicara. Dan… cara anda muncul.”
Ia mendekat satu langkah. “anda ngikutin aku, ya?”
Kartik tidak mengelak. Tidak juga membenarkan.
“Aku nggak nyaman,” lanjut Aira. “Aku bukan gadis kecil yang bisa anda atur.”
“siapa yang mengatur” jawab Kartik. “saya memastikan.”
“Memastikan apa?”
“Kamu aman.”
Aira mendengus kesal. “Itu bukan tugas anda.”
Kartik menatapnya. “Sekarang iya.”
Aira menggeleng, frustasi. “Kenapa sih anda ingin menjaga saya, berikan alasannya?”
Kartik terdiam lebih lama kali ini.
“Alasan tidak selalu perlu dijelaskan,” katanya akhirnya.
Aira menatapnya, kesal, bingung,
“Aku benci orang misterius,” gumamnya.
“saya tahu.”
“Kamu tahu apa?” Aira mengganti kata anda menjadi kamu, Aira pikir tadi ia, tidak akan banyak bicara dengan orang ini, dan dengan kata anda, lebih terlihat merekah adalah orang asing yang tak sengaja bertemu, suda berapa kali Aira bertemu dengan orang ini tanpa sengaja dan Aira enggak mau, ada pertemuan yang selanjutnya.
“Kamu mengoceh waktu gugup.”
Aira terdiam. “Aku nggak gugup.”
“Kamu barusan bicara tujuh kalimat tanpa jeda.”
Aira terdiam lebih lama, lalu mendengus.
“Menyebalkan.”
“Saya sering dengar itu.”
Kartik berdiri “Saya antar kamu.”
“Tidak.”
“Kamu tidak punya opsi lain yang aman,” jawabnya datar.
Aira membuka mulut untuk membantah, lalu menutupnya lagi. Menghela napas panjang.
“Sekali ini saja,” katanya akhirnya. “Habis itu jangan ikut campur.”
Kartik mengangguk. “Baik.”
Di dalam mobil, Aira duduk di kursi
penumpang. Sunyi. Mesin berdengung halus.
“Kamu tahu,” kata Aira tiba-tiba, “aku merasa kamu selalu ada di sekitar ku.”
Kartik fokus menyetir, supir bersama Kartik tadi, ia suruh pulang naik taksi, tanpa pengetahuan Aira pastinya“Perasaan bisa menipu.”
“Atau justru kamu yang menipu,” balas Aira cepat.
“Kamu pikir saya punya niat buruk?”
Aira menoleh. “Aku nggak tahu. Dan itu yang sedang aku pikirkan.”
Kartik tidak menjawab.
“Kamu bisa saja memanfaatkanku,” lanjut Aira. “Dengan kondisiku sekarang. Semua orang bisa.”
Mobil melambat sedikit.
“saya tidak...,” kata Kartik pelan, yang langsung di potong oleh Aira
“Kenapa aku harus percaya?”
“Kamu tidak harus percaya.”
Aira terdiam. Menatap keluar jendela.
Mobil berhenti di depan rumah sakit.
Aira membuka pintu, lalu berhenti. “Kartik.”
“Iya.”
“Kamu… menyebalkan,” katanya. “Tapi terima kasih.”
Kartik mengangguk.
Aira turun. Melangkah pergi. Lalu berhenti sebentar,
“Dan satu lagi,” katanya tanpa menoleh. “Kalau kamu memang berniat buruk… kamu sudah gagal.”
Kartik menatap punggungnya.
“hemm,” gumamnya lirih. “tidak ada yang berniat buruk.”
Mobil bergerak pergi.
Dan Aira berdiri di depan rumah sakit, jantungnya berdetak aneh, antara curiga, kesal, dan waspada
Dan Kartik Arkana, yang dingin dan kaku itu, Harus terus memastikan kalau Aira baik-baik saja, entah itu dari jauh atau dekat.
Di rumah sakit, Sore mulai turun perlahan di rumah sakit. Cahaya matahari yang tadi menembus jendela lorong kini berubah kekuningan, jatuh miring ke lantai yang dingin dan mengilap. Waktu terasa menggantung, tidak benar-benar bergerak, tidak juga berhenti.
Di dalam kamar perawatan, ibu Aira tertidur dengan napas yang lebih stabil dibanding pagi tadi. Monitor di samping ranjang berdetak pelan, ritmis, seolah menjaga denyut kehidupan yang rapuh tapi masih bertahan.
Naya duduk di kursi dekat jendela, memegang ponsel tapi tidak benar-benar membacanya. Sejak sepuluh menit lalu, ia lebih sering melirik pintu daripada layar. Ada kegelisahan yang tidak ia ucapkan, tapi jelas terbaca dari cara kakinya bergoyang kecil.
“Aira belum balik juga?” tanya Bimo,ia dari kantin rumah sakit, datang memecah keheningan.
Raka yang berdiri bersandar di dinding menggeleng. “Belum. Katanya cuma ambil baju ganti.”
“Harusnya nggak selama ini,” gumam Naya. Nada suaranya terdengar ringan, tapi ada sesuatu yang mengendap di bawahnya, kekhawatiran yang ia coba sembunyikan.
Raka melirik jam tangannya. Sudah hampir satu jam kita nunggu Aira. Ia menghela napas pelan. “Aku udah coba telepon. Belum aktif.”
Naya menegakkan punggungnya. “Kenapa perasaan ku nggak enak ya.”
Bimo menoleh. “Jangan mikir yang aneh-aneh dulu, Nay. Aira itu keras kepala, tapi dia tahu jaga diri.”
“Justru karena itu,” jawab Naya lirih. “Dia selalu merasa harus kuat sendirian.”
Raka tidak menimpali. Ia hanya menatap pintu kamar, lalu lorong di luar, seolah
berharap Aira muncul begitu saja dengan tas di tangan dan senyuman nyayang khas.
Beberapa menit kemudian, Naya pamit untuk mencari udara segar di luar rumah sakit
Di perjalanan keluar, Dari balik kaca rumah sakit, Naya menangkap sosok Aira yang baru saja turun dari sebuah mobil hitam.
Rambutnya sedikit berantakan, wajahnya tampak pucat tapi utuh.
Naya menyipitkan mata.
apa itu Langit batin Naya
“Aira!” panggilnya sambil membuka pintu.
Aira menoleh, sedikit terkejut. Langkahnya terhenti sesaat sebelum akhirnya ia melanjutkan berjalan ke arah pintu rumah sakit. Begitu mendekat, Naya langsung memeluknya, singkat, tapi erat.
“Kamu dari mana aja sih?” protes Naya setengah berbisik. “Aku hampir mau nyusul.”
Aira tersenyum tipis. “Panjang ceritanya.”
Tatapan Naya meluncur cepat ke arah parkiran ke tempat mobil hitam itu tadi terparkir. Tapi mobil itu sudah tidak ada. Entah sejak kapan menghilang.
“Barusan kamu turun dari mobil siapa?” tanya Naya, berusaha terdengar santai.
Aira terdiam sesaat. “Teman.”
Naya mengangkat alis. “Teman siapa?”
“Teman… situasi,” jawab Aira asal, lalu melangkah masuk ke kamar.
Jawaban itu justru membuat Naya semakin curiga.
Bimo dan Raka langsung berdiri ketika melihat Aira masuk. “Akhirnya,” kata Bimo. “Kita udah nungguin.”
Ibu Aira terbangun pelan ketika mendengar suara-suara itu.
“Naya?” suaranya lemah tapi jelas.
Naya langsung mendekat ke ranjang. “Iya, Tante. Aku sama Bimo sama Raka.”
Ibu Aira tersenyum kecil. “Terima kasih sudah datang.”
“Kami cuma sebentar, Tante,” jawab Bimo ramah. “Lihat Tante baik-baik, kami juga tenang.”
Aira duduk di sisi ranjang, menggenggam tangan ibunya. Hangat. Nyata. Ia menarik napas lega, setidaknya, satu hal masih berada di tempatnya.
Naya berdiri di belakang Aira, menatap pantulan mereka di kaca jendela. Ada banyak pertanyaan berputar di kepalanya, tapi satu yang paling mendesak akhirnya lolos dari bibirnya.
“Aira,” katanya pelan, tapi cukup terdengar. “Yang nganter kamu tadi… Langit ya?”
Udara seketika terasa berubah.
Aira menoleh perlahan. “Bukan.”
Naya mengernyit. “Bukan?”
“Bukan Langit,” ulang Aira, lebih tegas.
“Terus siapa?” tanya Naya, nyaris refleks.
Aira menatapnya lama. Ada kelelahan di matanya, juga sesuatu yang belum sempat ia pahami sendiri. “Nanti aku ceritain. Tapi bukan sekarang.”
Nada itu membuat Naya menahan diri. Ia mengenal Aira cukup lama untuk tahu, ketika suara itu muncul, mendorong lebih jauh hanya akan membuat Aira semakin menutup diri.
“Oke,” katanya akhirnya. “Aku cuma khawatir.”
Aira mengangguk kecil. “Aku tahu.”
Bimo melirik jam. “Kalau gitu, kita pamit dulu, ya. Udah mau magrib.”
Raka mengangguk setuju. “Iya. Tante harus istirahat kan.”
Ibu Aira tersenyum. “Hati-hati di jalan.”
Satu per satu mereka berpamitan. Bimo lebih dulu keluar, disusul Raka. Naya berjalan paling belakang, berhenti sejenak di ambang pintu.
Ia menoleh ke Aira. Tatapan mereka bertemu.
“Aira,” katanya pelan. “Kalau ada apa-apa… kamu nggak sendirian.”
Aira tersenyum kecil. “Aku tahu.”
Di luar sana, di jarak yang tidak terlalu jauh dari rumah sakit, sebuah mobil hitam melaju pelan sebelum akhirnya berbelok dan menghilang dari pandangan.
Di dalamnya, Kartik Arkana duduk diam, kedua tangannya bertaut di pangkuan. Tidak ada ekspresi berlebih di wajahnya, hanya satu tarikan napas panjang sebelum ia menatap lurus ke depan.
Ia tidak masuk kembali ke rumah sakit.
Ia tidak muncul di hadapan Aira lagi.
Untuk sekarang.
Karena bagi Kartik, menjaga tidak selalu berarti terlihat.
Dan bagi Aira, tanpa ia sadari, seseorang telah memilih berdiri di bayangan, bukan untuk memiliki, tapi memastikan ia tetap pulang dengan selamat.
Bersambung.