Ketika teman baiknya pergi ke Korea untuk menjadi seorang idol, Sena mengantarkan kepergiannya dengan senang hati. Menjadi penyanyi adalah impian Andy sejak kecil, maka melepasnya untuk menggapai mimpi adalah sebuah keputusan terbaik yang bisa Sena ambil.
Setelah kepergian Andy ke Korea, mereka kehilangan kontak sepenuhnya. Sependek pengetahuannya, persiapan menjadi idol berarti merelakan waktunya banyak tersita untuk berlatih banyak hal. Jadi hari-hari Sena lalui tanpa rasa keberatan. Malah, tak lupa selalu diselipkannya doa untuk teman baiknya, semoga kelak berhasil debut dan menggapai cita-citanya.
Namun siapa sangka, kerelaan hati Sena itu pada akhirnya membawa jalannya sendiri untuk kembali bertemu dengan Andy sang teman baik. Di pertemuan setelah sekian lama, akankah Sena menemukan Andy masihlah sama dengan Andy yang dikenalnya sejak masa kanak-kanak?
Masihkah mereka menjadi perfect partner bagi satu sama lain?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon nowitsrain, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
After Party
“Di mana, sih?”
“Seharusnya ada di sini.”
“Sudah kubilang, guys, jangan suruh aku jadi navigator. Aku tidak ahli.”
Joana mengurangi kecepatan, mengemudi lebih pelan, kepala melongok menyapu sepanjang jalan untuk menemukan tempat yang mereka cari. GPS yang dipasang seharusnya membawa mereka ke sebuah bar yang ada di ruas jalan ini. Sebuah bar yang telah disepakati untuk menjadi tempat pertemuan mereka dengan member Elements seusai konser. Tapi, sudah diikuti sesuai petunjuk, bar yang mereka tuju tidak tampak juga.
“Ini seperti kawasan terbengkalai,” komentar Sena. Sejauh mata memandang, yang dia temukan hanyalah deretan ruko dengan pencahayaan remang, papan nama miring hampir rusak, dan penanda ‘kawasan pembangunan ulang’ terpasang di beberapa titik.
Mia menarik punggungnya dari sandaran kursi. Ponsel dikeluarkan dari mode GPS, dibawanya ke menu panggilan. “Aku akan telepon Dohyun saja, minta dia jemput,” katanya. Joana setuju dan langsung menghentikan laju mobilnya. Mengendara lebih jauh hanya akan membuat mereka semakin tersesat.
Nada tunggu terdengar memenuhi kabin. Mia sengaja menekan loud speaker, agar dua temannya bisa ikut mendengarkan apa yang Dohyun katakana.
Beberapa detik menunggu, panggilan diangkat. Suara Dohyun menyapa lembut, diiringi alunan musik yang mengalun pelan.
“Kami tidak bisa menemukan di mana tempatnya,” kata Mia. Dia melongok lagi keluar, siapa tahu menemukan papan penanda bar yang dimaksudkan.
Dari seberang, terdengar suara gemerisik. Tampaknya, Dohyun bergerak bangun dari tempatnya duduk. “Kalian di mana? Ada penanda apa pun yang bisa mengonfirmasi lokasi? Biar aku ke sana,” kata pria itu.
Sena menoleh ke bangku belakang, beradu tatap dengan Mia. “KingKong Laundry,” ucapnya. Merujuk pada satu ruko paling gelap dekat satu gang kecil. Meski paling gelap, papan nama di depannya justru tampak paling terang daripada yang lain.
Mia mengangguk samar. “Di seberang KingKong Laundry. Kami ada di dalam mobil Joana,” balasnya.
“Oh … KingKong Laundry,” Suara Dohyun terdengar sedikit bergetar, sepertinya ia bicara sambi berjalan. “Tunggu, aku ke sana sekarang.”
“Iya,” sahut Mia, lalu telepon ditutup.
Helaan napas lega mengudara hampir bersamaan. Para gadis itu saling pandang, lalu detik berikutnya tertawa.
“Memang paling benar minta jemput saja,” celetuk Sena, sambil menggaruk bagian belakang telinga. Mia dan Joana mengangguk setuju.
Kurang dari dua menit kemudian, sosok yang dinanti muncul dari kegelapan. Sosoknya yang tinggi muncul dari sebuah gang kecil nan gelap, terlihat celingukan.
Mia menurunkan kaca jendela dan berseru, “Honey!” Sambil melambaikan tangan.
Dohyun mengalihkan pandangan kepadanya, tersenyum lebar dan balik melambai. Para gadis tidak buang waktu, langsung bergegas turun menghampiri pria itu.
“Lain kali bawa aku langsung bersamamu,” rengek Mia, bermanja-manja menggelendot di lengan Dohyun. “Tempat ini terlalu terbengkalai untuk bisa aku temukan dengan mudah.”
“Oh, maafkan aku.” Dohyun mengusap kepala Mia, mendaratkan kecupan singkat di sana. “Kami terburu pergi lewat jalan ninja tadi. Yang penting sekarang sudah ketemu, ya.”
“Guys, sebaiknya kita segera masuk.” Sena menyela. Bukan tidak senang melihat pasangan dimabuk asmara itu bermanja-manja. Ia khawatir keberadaan mereka mungkin terlihat oleh orang yang tidak sengaja lewat—walaupun kemungkinannya kecil karena area ini benar-benar sepi. Yah, tidak ada salahnya berjaga-jaga.
Dohyun tertawa kecil, kemudian mengangguk sebagai pertanda kesediaan menunjukkan jalan.
Jarak dari jalan utama ke bar tempat tujuan tidak terlalu jauh, hanya saja jalannya berkelok dan gelap. Mia bisa melengketkan tubuhnya dengan Dohyun, bertumpu sepenuhnya pada sang kekasih dan tidak perlu khawatir jatuh. Sementara Joana dan Sena, duo maut itu harus berkonsentrasi penuh pada langkah masing-masing, kalau tidak mau tiba-tiba terjerembab akibat jalanan yang tidak rata.
Mencapai bagian depan bar, Sena sudah bisa mendengar suara musik dan keramaian orang mengobrol dari dalam. Dia tahu Elements mengumpulkan banyak orang malam ini. Bukan hanya para staf, tapi juga beberapa kenalan. Jadi sebetulnya dia, Mia dan Joana bukanlah tamu Istimewa.
Beberapa kepala menoleh serempak saat pintu dibuka oleh Dohyun. Alih-alih mencoba mengenali siapa saja yang ada di sana, hal pertama yang Sena lakukan adalah memindai suasana. Bar itu tampil dengan desain yang sederhana, tidak semeriah bar-bar yang ada di Itaewon ataupun Hongdae. Nuansanya lebih terasa hangat daripada megah. Pantas saja tempat ini dipilih untuk berkumpul, meski lokasinya berada di tengah-tengah bangunan terbengkalai.
Sebagian orang yang sudah mengenal mereka, menyapa. Sena balik menyapa dengan membungkuk sopan dan tersenyum. Lalu pada Jeremy yang sampai repot-repot berdiri demi menyambut Joana, Sena memberikan sapaan lebih berupa fist bump. Tradisi itu sudah berlaku sejak beberapa waktu terakhir. Jeremy yang menginisiasi, dan Sena menerimanya dengan senang hati.
Dalam langkah mereka mencari tempat duduk, Sena kemudian menemukan eksistensi Andy duduk di salah satu meja bersama dua member Elements lainnya. Salah satunya adalah Logan.
“Yo!” seru Andy begitu tatapan mereka bertemu. Ia bangkit, merentangkan tangan lebar. Sena tersenyum dan masuk ke dalam pelukan pria itu. Mereka saling mendekap selama beberapa detik, menyalurkan kerinduan yang terpendam selama beberapa waktu tidak bertemu.
Merasa cukup, Sena menarik diri dan mundur beberapa langkah, untuk sekadar bisa memandang wajah Andy lebih lekat. “I miss you so bad,” katanya. “Senang akhirnya bisa bertemu lagi denganmu, man.”
“Aku juga rindu padamu,” balas Andy. Senyumnya merekah, seperti kelopak bunga pertama yang mekar di musim semi. “Kemarilah, duduk di sini,” sambungnya seraya menarik kursi di sampingnya.
Sebelum duduk, Sena menyapa Logan dan satu member lainnya. Sena tahu namanya, tapi ini adalah kali pertama dia bertemu langsung dengan pria berhidung tinggi itu.
“Hai, senang bertemu denganmu. Aku Sena,” ucapnya memperkenalkan diri.
Junmin membalas, “Senang bertemu, aku Junmin.”
“Mau minum?” sela Andy, memegang botol soju.
Sena mengangguk, “Tentu.” Diangkatnya gelas, dan Andy langsung menuangkan soju sampai setengah penuh.
“Apa kabar?” tanya Andy setelah menuangkan soju ke dalam gelasnya sendiri.
“Baik,” sahut Sena, kepalanya naik-turun perlahan. “Kau sendiri bagaimana? Pasti lelah setelah beberapa konser, termasuk malam ini.”
“Tidak bohong, memang lelah.” Andy tertawa pelan, sementara Logan dan Junmin hanya mengulum senyum sambil mengisi ulang gelas masing-masing.
“Bagaimana konser malam ini? Seru?” tanya Logan usai menenggak soju di gelasnya.
Sena hampir menyemburkan soju yang belum tertelan, saking antusiasnya ia atas pertanyaan Logan barusan. “Seru sekali!” akunya. “Sungguh, itu adalah salah satu momen terbaik dalam hidupku.” Dia beralih menatap Andy, tersenyum bangga. “Kalian melakukannya dengan sangat baik.”
Andy tersenyum malu-malu, menerima pujian itu dengan wajah bersemu. “Yeah, senang kau bisa menikmatinya.”
Tiada kata terucap, tapi tatapan yang saling bertukar antara Logan dan Junmin sudah mewakili isi kepala keduanya. Senyum penuh arti terbit bersamaan, selagi mereka menuangkan soju lagi dan lagi ke dalam gelas. Di antara semua orang, mereka akan menjadi saksi semu-semu merah di wajah Andy muncul lebih banyak lagi nanti.
Bersambung....