Seorang detektif ternama ditugaskan menyelidiki serangkaian kematian aneh yang tampak seperti kecelakaan, kelalaian kerja, bahkan bunuh diri. Namun, di balik kasus-kasus ringan itu, perlahan terbentuk pola yang mengarah pada sesuatu yang tak terduga.
Di tengah penyelidikan, ia bertemu seorang mahasiswi kedokteran yang aneh dan tak biasa. Gadis itu kerap muncul di saat-saat krusial—memberi analisis, menolong di lapangan, dan membantu mengungkap detail yang luput dari penyelidikan resmi. Hubungan mereka tumbuh akrab, meski bayang-bayang masa lalu gadis itu masih menyisakan luka.
Seiring waktu, kasus-kasus berkembang menjadi pembunuhan berantai yang semakin brutal. Kota yang sempat kembali tenang diguncang teror baru, kali ini tanpa upaya menyamarkan kejahatan. Luka-luka serupa tertinggal di setiap korban, seolah sang pelaku ingin dikenali.
Tak ada yang mengira.
apakah ia sedang memburu seorang pembunuh… atau justru telah berjalan di sampingnya sejak awal?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon `AzizahNur`, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 19 : Analisis yang serupa dengan aslinya.
Matahari merunduk semakin tinggi, memanggang aspal dan menjemur udara hingga bergetar; panasnya membuat beberapa petugas yang semula berjaga kewalahan. Mereka mundur mencari teduh di bawah kanopi pohon tua, meninggalkan hanya segelintir orang di lokasi. Alexander, Rico, Victoria, dan empat polisi yang masih meraba-raba jejak. Debu halus menerbang di antara langkah mereka, menyapu aroma besi dan keringat yang menggantung di udara.
Tak satupun tanda yang jelas ditinggalkan oleh pelaku; tidak ada bekas seretan, tidak ada coretan aneh, hanya kebrutalan yang tersisa pada tubuh kecil korban. Tubuh mungil itu dipenuhi tusukan di dada, setiap lubang seolah menuturkan amarah yang tak terkendali. Melihatnya membuat perut Alexander mencekat, buatnya merasakan dingin yang kontras dengan teriknya siang.
“Tidak ada petunjuk. Lagi-lagi kita buntu?” keluh salah seorang polisi lalu duduk lesu di pinggir jalan, punggungnya menempel pada trotoar panas. Suaranya serak, kelelahan terpintas pada tiap katanya.
Alexander menoleh, menatap lelaki itu penuh perhatian. Polisi lainnya mengangkat bahu, lalu menjelaskan dengan nada datar yang menandakan kebiasaan pahit: “Ini bukan pertama. Mayat anak-anak memang sering ditemukan akhir-akhir ini. Biasanya penyebabnya kecelakaan, jatuh, atau bunuh diri. Tapi ini… lebih kejam. Caranya berbeda.”
Keterangan itu seperti belati: menusuk. Victoria muncul kemudian, langkahnya tergesa namun matanya berkaca-kaca saat mendengar potongan pembicaraan. Wajahnya membeku, tubuhnya menegang; ekspresi keterkejutan membuatnya terpaku di ujung kerumunan, mendengarkan dari jarak aman.
“Berapa kali sudah terjadi?” tanya Alexander, suaranya rendah, diiringi kerutan tajam di dahinya yang menandakan akal pikirannya berputar mencari pola.
“Semuanya dua kali dalam sebulan terakhir, Tuan,” jawab polisi dengan nada yang sama, menatap ke tanah sejenak seperti menahan sesuatu yang tak bisa diucapkan.
Alexander mengisap napas panjang, menimbang setiap kemungkinan. Ketika ia hendak mengeluarkan kata-kata berikutnya, sebuah sentuhan kecil menghentikannya: jari-jari halus itu mencengkeram pergelangan tangannya, menarik lembut tetapi penuh maksud. Victoria berdiri di hadapannya, pipinya memerah, mata menunduk, bibir bergetar seperti menahan badai emosi.
Rico yang berdiri tak jauh beringsut mendekat, namun tak sempat menyela. Wajah Victoria bukan lagi wajah nakal yang tadi pagi mengunyah roti di IGD; kini sorot matanya rapuh, seolah ada sesuatu yang merobek bagian dalamnya.
“Ada apa?” Alexander mencondongkan tubuh, nadanya melembut tanpa ia sengaja. Suara itu berbeda dari komando yang biasa ia lepaskan, ada kekhawatiran yang tiba-tiba menjalin diantara barisan kekerasan hatinya.
Ia terlihat menyesal atas ledakan marah beberapa jam lalu, namun tugas menuntutnya tetap profesional.
Victoria menelan ludah, tangannya masih mencengkeram kuat. Ia menatap Alexander seperti orang yang menemukan sebentuk keberanian di ambang ketakutan. Suaranya hampir tak terdengar, namun setiap orang di sekitarnya menegang mendengarnya.
“Tuan, kami tak—” seorang polisi mencoba memberi penjelasan, namun ia segera terhenti ketika tangan Alexander terangkat, refleks mempertahankan posisi.
Victoria menatap langsung ke matanya, bibirnya menyusun kata-kata yang membuat udara sejenak berdetak lebih lambat.
“Berikan aku pisau…” suaranya lirih, nyaris berbisik, tapi tegas—sebuah permintaan yang menggantung, menantang kewajaran di tengah pemandangan darah dan kerumunan.
“Pisau?” Alexander tercenung, memandangnya kembali untuk memastikan makna dari permintaan itu.
Kalimat-kalimat kecil Victoria yang tergesa terdengar jelas di antara keheningan, napasnya tidak beraturan, namun sorot matanya penuh keyakinan. Kalimatnya yang lirih, “Aku akan beritahu sesuatu…” seakan menyalakan bara penasaran dalam dada Alexander.
Alis pria itu terangkat, sedikit ragu, tetapi tatapannya tetap tajam meneliti wajah gadis yang nyaris tampak cemas. Ia merogoh saku jasnya, menarik keluar sebilah gunting logam yang biasa ia bawa untuk berjaga. “Aku tak punya pisau, hanya ada ini.” Suaranya datar, namun ada sedikit nada menantang ketika ia menyerahkan benda itu.
Tanpa pikir panjang, Victoria meraih gunting itu dengan genggaman mantap. Jemarinya mungil mencengkeramnya erat, bukan seperti seseorang yang takut akan tajamnya benda tersebut, melainkan seperti seseorang yang sudah tahu betul bagaimana menggunakannya. Ia menarik tangan Alexander sekali lagi, membuat pria itu terhenti sejenak.
“Ikut aku. Akan kutunjukkan sesuatu.” Nada suaranya kali ini serius, dingin, jauh berbeda dari wajah ceria yang sempat ia tunjukkan di rumah sakit.
Tak menunggu persetujuan, Victoria langsung berlari menuju persimpangan jalan yang agak tersembunyi. Beberapa polisi saling pandang, bingung, namun akhirnya ikut mengekor bersama Alexander. Rico hanya bisa menghela napas berat, berlari di belakang mereka.
Di balik tikungan, gadis itu berhenti di depan dinding jalan yang tertutup bayangan pohon besar. Alexander mengerutkan dahi, menyadari noda samar di permukaan dinding yang hampir tak terlihat karena tertutup ranting. Bercak darah kering itu menempel jelas begitu diperhatikan lebih dekat.
“Lihat… pembunuhan itu terjadi disini.” Suara Victoria tenang, namun nadanya seolah membawa beban besar.
Alexander melangkah mendekat, menyipitkan mata untuk memastikan. Ia menyusuri dengan ujung jarinya, lalu menoleh pada gadis itu. “Bagaimana kau bisa yakin? Apa kau hanya menebak?” Nada suaranya penuh keraguan, mencoba menggali apakah gadis ini benar-benar tahu sesuatu atau hanya bermain peran.
Alih-alih menjawab dengan kata-kata, Victoria menghela napas panjang. Tatapannya menajam, lalu tanpa peringatan ia menggoreskan mata gunting ke lengan halusnya sendiri. Guratan merah muncul, darah segar merembes keluar, membuat semua orang di sana terbelalak.
“Victoria!!” Alexander refleks melangkah maju, namun gadis itu lebih cepat.
Dengan wajah datar, ia menghampiri dinding itu, lalu menempelkan punggungnya sendiri seolah berperan sebagai korban. Tangannya menggesekkan gunting di dinding, lalu mendorong keras tubuhnya ke permukaan kasar itu. Gerakannya kemudian berubah: ia menikam berulang kali ke arah dinding dengan intensitas mengerikan, meniru pola tusukan yang ditemukan pada tubuh korban.
Suara gesekan logam pada batu bercampur dengan cipratan darah dari lengannya yang terluka. Setiap gerakan seolah nyata, bagaimana pelaku mendorong korban ke dinding, bagaimana tusukan dilakukan bertubi-tubi dengan amarah membabi buta.
Alexander terdiam, napasnya memburu, menonton peragaan itu seakan menyaksikan ulang detik-detik pembunuhan.
“D-dia…” salah satu polisi bergumam lirih, tak percaya dengan apa yang dilihatnya.
Setelah gerakan menusuk itu berhenti, Victoria berjongkok, menekuk tubuhnya ke tanah, tangannya seakan meraih sesuatu yang tak kasat mata. Ia menyeret perlahan, meninggalkan jejak gerakan menyeret di atas debu jalan. Wajahnya pucat, tapi matanya tetap tajam.
“Pelaku menyeret tubuh anak kecil itu…” suaranya lirih, bergetar, lalu ia menoleh sambil menunjuk arah jalan tempat mayat sebelumnya ditemukan. “Dibawa ke sana.”
Suasana mendadak mencekam. Langit yang sejak pagi menyengat dengan teriknya, kini berubah muram. Awan gelap berkumpul di atas kepala, angin berhembus kencang, menggiring hawa dingin yang menusuk tulang.
Alexander berdiri terpaku, dadanya sesak, sulit membedakan antara kekagetan dan rasa takut. Gadis ini… apakah benar hanya seorang dokter biasa?