NovelToon NovelToon
CINTA DI UJUNG DOA

CINTA DI UJUNG DOA

Status: tamat
Genre:Teen Angst / CEO / Cinta Terlarang / Crazy Rich/Konglomerat / Romansa / Cintapertama / Tamat
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Dri Andri

Zahra, gadis miskin yang bekerja sebagai buruh cuci, jatuh cinta pada Arkan, pemuda kaya, tampan, dan taat beragama. Cinta mereka tumbuh sederhana di warung kopi, masjid, dan lorong kampung. Namun hubungan itu terhalang perbedaan status sosial dan agama: Zahra muslim, Arkan Kristen. Kedua keluarga menentang keras, ibu Arkan menolak, ayah Zahra memohon agar iman dijaga. Zahra berjuang lewat doa, Arkan lewat pengorbanan. Cobaan datang bertubi-tubi: penyakit, pengkhianatan, dan konflik keluarga. Saat harapan muncul, tragedi menghancurkan segalanya. Kisah ini tentang cinta tulus, doa yang perih, dan perjuangan yang berakhir dengan air mata, takdir pilu memisahkan mereka selamanya dalam keheningan abadi sunyi.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Dri Andri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

# BAB 35: Pertanyaan yang Mengganggu

Seminggu setelah pertemuan pertama di masjid.

Arkan duduk di meja kerjanya. Laptop menyala tapi nggak disentuh. Di depannya ada dua buku. Alkitab dan Quran terjemahan.

Dua buku suci. Dua keyakinan. Dua jalan yang... yang berbeda.

"Kenapa... kenapa harus beda ya? Kenapa... kenapa nggak bisa sama aja?"

Dia buka Alkitab. Yohanes 14:6.

*"Kata Yesus kepadanya: Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorangpun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku."*

Arkan diem. Baca lagi. Dan lagi.

"Yesus bilang... bilang cuma lewat Dia kita bisa ke Bapa. Cuma... cuma lewat Dia ada keselamatan."

Terus dia buka Quran. Surat Ali Imran ayat 19.

*"Sesungguhnya agama yang diridhai di sisi Allah hanyalah Islam..."*

Arkan napas berat.

"Dan Allah bilang... bilang cuma Islam yang diridhai. Berarti... berarti kalau aku tetep di Kristen... aku nggak diridhai Allah? Tapi kalau aku pindah ke Islam... aku... aku ninggalin Yesus yang bilang cuma lewat Dia ada jalan?"

Kepala Arkan pusing. Sakit.

"Kenapa... kenapa harus kayak gini... kenapa nggak ada jalan tengah..."

Dia tutup kedua buku itu. Pijit pelipis.

"Zahra... kamu bilang cari kebenaran dengan hati. Tapi... tapi gimana kalau hati ku bingung? Gimana kalau... gimana kalau hati ku nggak tau mana yang bener?"

---

Siang itu, Arkan dapet telepon dari Mama nya. Mrs. Angelina. Udah sebulan lebih mereka nggak ngomong sejak kejadian surat Zahra.

Arkan ragu angkat. Tapi... tapi akhirnya dia tekan tombol hijau.

"Halo Ma."

"Arkan... akhirnya kamu angkat juga." Suara Mrs. Angelina... lembut. Beda dari biasanya. "Mama... Mama kangen kamu nak. Kamu... kamu nggak pulang-pulang. Nggak ada kabar. Mama khawatir..."

"Aku baik Ma. Cuma... cuma butuh waktu sendiri."

"Arkan... Mama tau kamu masih sakit hati soal... soal cewek itu. Tapi nak... hidupmu nggak bisa berhenti gara-gara satu orang. Kamu harus... harus move on. Harus—"

"Ma, jangan bahas Zahra." Arkan potong. Suara nya tegas. "Aku... aku nggak mau bahas dia sama Mama. Nggak setelah... nggak setelah Mama usir dia."

Hening sebentar.

"...Arkan, Mama cuma... cuma mau yang terbaik buat kamu. Mama nggak mau kamu—"

"Yang terbaik versi Mama atau versi aku?" Arkan naikkin suara sedikit. "Ma, aku udah dewasa. Aku... aku bisa tentuin sendiri apa yang terbaik buat hidup ku. Dan Mama... Mama nggak berhak ngerusak kebahagiaan aku."

"Arkan jangan ngomong kayak gitu sama Mama! Mama yang melahirkan kamu! Mama yang—"

"Dan aku yang hidup dengan konsekuensi keputusan Mama!" Arkan teriak. Napas ngos-ngosan. "Ma, maaf. Tapi... tapi sekarang aku lagi bingung. Lagi... lagi cari jalan. Dan aku... aku nggak butuh Mama nambah-nambahin beban ku."

"Cari jalan? Jalan apa? Arkan... kamu... kamu nggak berniat masuk Islam kan? Kamu nggak... nggak mau ninggalin Yesus kan?"

Arkan diem. Nggak jawab.

"ARKAN?! Jawab Mama!"

"Aku... aku nggak tau Ma. Aku... aku masih belajar. Masih... masih bertanya. Dan aku... aku nggak mau Mama maksa aku. Nggak mau... nggak mau siapa pun maksa aku."

"Arkan dengerin Mama—"

"Maaf Ma. Aku tutup dulu. Aku... aku ada urusan."

KLIK.

Arkan tutup telepon. Napas berat. Tangan gemetar.

"Kenapa... kenapa semua orang mau maksa aku? Kenapa... kenapa nggak ada yang ngerti aku lagi bingung... lagi... lagi cari jawaban..."

Dia ambil kunci mobil. Keluar apartemen.

"Aku... aku harus ketemu Pastor Andrew. Aku harus... harus denger dari sisi Kristen juga. Harus... harus adil."

---

Gereja tempat keluarga Wijaya beribadah. Gereja besar. Megah. Kaca-kaca patri warna-warni. Salib tinggi di depan altar.

Arkan masuk. Suasana sepi. Cuma ada beberapa orang lagi berdoa di bangku-bangku depan.

Dia jalan ke ruang pastor. Ketuk pintu.

TOK TOK.

"Masuk."

Arkan buka pintu. Pastor Andrew duduk di meja kerja. Umur lima puluhan. Berambut putih. Kacamata baca. Lagi baca buku tebal.

Pastor Andrew angkat kepala. Kaget liat Arkan.

"Arkan? Masya... maksud saya astaga. Kamu... kamu akhirnya dateng. Udah lama banget kamu nggak ke gereja. Mama kamu bilang kamu... kamu lagi jauh dari Tuhan."

"Bukan jauh Pastor. Cuma... cuma lagi cari." Arkan duduk di kursi depan meja. "Cari... cari kebenaran."

Pastor Andrew taruh buku nya. Lipat tangan di meja. Serius.

"Cari kebenaran tentang apa?"

"Tentang... tentang Tuhan. Tentang jalan keselamatan. Tentang... tentang Islam dan Kristen."

Hening.

Pastor Andrew napas panjang. "Arkan... aku udah denger dari Mama kamu. Tentang... tentang cewek yang kamu suka. Yang muslim. Dan sekarang kamu... kamu tertarik masuk Islam karena dia?"

"Bukan cuma karena dia Pastor." Arkan jujur. "Awalnya... awalnya iya. Aku belajar Islam buat... buat bisa nikah sama dia. Tapi sekarang... sekarang dia udah pergi. Dia... dia ninggalin aku. Dan aku... aku tetep belajar. Tetep... tetep bertanya. Karena aku... aku penasaran. Aku pengen tau... pengen tau apa bedanya Islam sama Kristen. Kenapa... kenapa mereka bilang cuma agama mereka yang bener."

Pastor Andrew diem lama. Natap Arkan.

"Kamu... kamu serius Arkan? Kamu beneran pengen tau? Atau... atau kamu cuma cari-cari alasan buat pindah agama?"

"Aku serius Pastor. Aku... aku nggak main-main. Ini... ini tentang hidup ku. Tentang akhirat ku. Aku... aku nggak bisa sembarangan."

Pastor Andrew angguk pelan. "Baik. Kalau gitu... tanya apa yang mau kamu tanya. Aku... aku bakal jawab sejujur-jujur nya. Nggak ada yang disembunyiin."

Arkan ambil napas. "Pastor... di Islam, mereka percaya Yesus cuma nabi. Bukan Tuhan. Bukan anak Allah. Mereka bilang... bilang Allah nggak beranak dan nggak diperanakkan. Dan mereka bilang... bilang trinitas itu syirik. Dosa yang nggak diampunin. Gimana... gimana Pastor jawab itu?"

Pastor Andrew senyum tipis. "Pertanyaan klasik. Pertanyaan yang... yang memang jadi perdebatan ribuan tahun." Dia ambil Alkitab. Buka halaman tertentu. "Arkan, di Kristen kita percaya Yesus adalah Allah yang jadi manusia. Firman yang jadi daging. Dia... Dia turun ke dunia buat menebus dosa manusia. Karena kita nggak bisa selamatin diri kita sendiri. Kita... kita butuh penyelamat. Dan Yesus... Yesus itu penyelamat kita."

"Tapi Pastor... di Islam mereka bilang nggak ada yang bisa tanggung dosa orang lain. Setiap orang... setiap orang tanggung jawab dosa nya sendiri. Dan Allah... Allah langsung ampunin asal kita bertobat. Nggak butuh... nggak butuh pengorbanan darah."

"Itu perbedaan mendasar Arkan." Pastor Andrew taruh Alkitab. "Di Kristen, kita percaya manusia itu sudah jatuh dalam dosa sejak Adam. Dan dosa itu... dosa itu nggak bisa dihapus cuma dengan tobat. Harus ada... harus ada pengorbanan sempurna. Dan pengorbanan sempurna itu... itu Yesus. Darah Nya... darah Nya yang cuci kita. Yang bikin kita bersih di mata Allah."

Arkan mikir keras. "Tapi Pastor... apa... apa adil? Yesus yang nggak bersalah... harus mati gara-gara dosa kita? Apa... apa itu nggak kejam?"

"Itu bukan kejam Arkan. Itu... itu kasih. Kasih yang terbesar. Yesus rela mati... rela disiksa... buat nyelamatin kita. Itu... itu bukti cinta Allah yang luar biasa."

"Tapi di Islam... Allah juga cinta. Allah juga ampunin. Tanpa perlu... tanpa perlu pengorbanan darah. Cukup kita bertobat. Cukup kita sujud. Apa... apa itu nggak lebih sederhana? Lebih... lebih masuk akal?"

Pastor Andrew diem. Natap Arkan dengan tatapan... tatapan sedih.

"Arkan... kamu... kamu udah mulai condong ke Islam ya?"

Arkan geleng. "Aku nggak tau Pastor. Aku beneran... beneran nggak tau. Di satu sisi... aku cinta Yesus. Aku... aku udah percaya sama Dia sejak kecil. Tapi di sisi lain... Islam itu... Islam itu masuk akal buat aku. Logis. Sederhana. Dan... dan aku ngerasa... ngerasa ada kedamaian waktu belajar Islam."

"Kedamaian atau... atau kamu kangen sama cewek itu?"

Arkan diem. Kena.

"Mungkin... mungkin kedua nya Pastor. Aku... aku nggak bisa pisahin. Zahra itu... dia yang pertama kali ngenalin aku sama Islam. Dia yang... yang bikin aku penasaran. Tapi sekarang... sekarang aku belajar bukan karena dia. Aku belajar karena... karena aku pengen tau. Beneran pengen tau."

Pastor Andrew berdiri. Jalan ke jendela. Natap keluar.

"Arkan... aku nggak bisa maksa kamu. Aku nggak bisa... nggak bisa bilang kamu salah atau bener. Karena iman itu... iman itu personal. Iman itu antara kamu sama Tuhan. Tapi... tapi aku mau kamu inget satu hal."

"Apa Pastor?"

Pastor Andrew berbalik. Natap Arkan.

"Kalau kamu pindah agama... kamu nggak cuma ninggalin Yesus. Kamu ninggalin keluarga. Ninggalin komunitas. Ninggalin... ninggalin identitas yang udah kamu bangun sejak lahir. Dan itu... itu nggak gampang Arkan. Itu... itu berat. Sangat berat."

"Aku tau Pastor. Aku... aku udah rasain. Mama udah usir aku. Papa... Papa diem aja tapi aku tau dia kecewa. Kakak... kakak cuma satu-satu nya yang support. Dan aku... aku kesepian Pastor. Tapi... tapi aku nggak bisa hidup dalam kebohongan. Aku nggak bisa... nggak bisa tetep jadi Kristen kalau hati ku nggak yakin. Itu... itu nggak adil buat Tuhan. Buat Yesus. Buat... buat semua orang."

Pastor Andrew diem lama. Terus... terus dia senyum. Senyum sedih.

"Kamu... kamu dewasa Arkan. Lebih dewasa dari yang aku kira. Dan aku... aku bangga sama kamu. Meskipun... meskipun kamu mungkin bakal ninggalin jalan ini."

Arkan berdiri. Jalan deket Pastor Andrew. "Pastor... aku belum mutusin apa-apa. Aku masih... masih belajar. Masih bertanya. Dan aku... aku butuh doa Pastor. Doa... doa biar aku dikasih petunjuk yang bener."

Pastor Andrew pegang bahu Arkan. Erat. "Aku doain kamu Arkan. Aku doain... doain Tuhan tunjukin jalan yang benar buat kamu. Apapun jalan nya. Meskipun... meskipun itu berarti kamu ninggalin gereja ini."

"Pastor... makasih. Makasih udah... udah nggak maksa aku. Makasih udah ngerti."

"Aku ngerti karena aku percaya Tuhan punya rencana buat kamu. Dan rencana Tuhan... rencana Tuhan selalu lebih baik dari rencana kita."

Mereka berpelukan. Pelukan yang... yang terasa kayak perpisahan.

"Arkan... satu pesan terakhir dari aku."

"Apa Pastor?"

"Cari kebenaran dengan hatimu. Bukan dengan logika. Bukan dengan emosi. Tapi dengan hati. Karena hati... hati nggak pernah bohong. Hati... hati tau apa yang bener."

Arkan nangis. Nggak ditahan. "Terima kasih Pastor. Terima kasih..."

Pastor Andrew ngelap air mata nya sendiri. "Pergi Arkan. Cari jalan mu. Dan kalau kamu nemuin... kabarin aku. Aku... aku pengen tau kamu bahagia."

Arkan ngangguk. Berbalik. Jalan keluar ruangan.

Keluar gereja.

Keluar dari... dari masa lalu nya.

---

Di mobil, Arkan duduk diam. Nggak nyalain mesin. Cuma... cuma natap salib besar di puncak gereja lewat kaca depan.

"Yesus... maafin aku. Aku... aku nggak bermaksud ninggalin Kau. Tapi... tapi aku harus cari kebenaran. Harus... harus tau... tau apa yang bener. Dan kalau... kalau ternyata jalan ku bukan di Kau... aku mohon... aku mohon Kau ngerti. Kau... Kau maafin."

Air mata mengalir deras.

"Tapi kalau ternyata jalan ku tetep di Kau... aku janji... aku janji bakal balik. Bakal... bakal lebih taat. Lebih... lebih setia."

Dia nyalain mesin. Keluar dari parkiran gereja.

Dan dalam perjalanan pulang... pertanyaan itu terus bergema di kepala.

"Apa ini jalan yang Tuhan tunjukkan? Apa... apa ini petunjuk Nya? Atau... atau ini cuma kebingungan ku aja?"

Tapi satu hal yang Arkan mulai sadari...

Dia... dia nggak bisa terus-terusan bingung.

Suatu hari... suatu hari dia harus pilih.

Pilih antara Yesus atau Allah.

Pilih antara Kristen atau Islam.

Dan pilihan itu... pilihan itu bakal nentuin segalanya.

Termasuk... termasuk apakah dia bakal ketemu Zahra lagi atau nggak.

"Ya Tuhan... siapa pun Kau... tolong... tolong tunjukin aku jalan yang bener. Jangan... jangan biarkan aku tersesat. Please..."

---

**BERSAMBUNG KE BAB 36...**

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!