"tolong....."
"tolong kami..."
"lepaskan rantai inii..."
"toloongg!!!!"
Nadira Slavina, merupakan seorang gadis kota yang baru pindah ke kampung halaman sang nenek dengan ditemani sahabatnya Elsa. ia menempati rumah tua yang sudah turun temurun sejak nenek buyutnya dulu.
Nadira sendiri memiliki keistimewaan dapat melihat makhluk tak kasat mata yang ada di sekitarnya. dan bisakah mereka memecahkan misteri yang ada di rumah itu atau malah semakin terjebak dalam labirin misteri?
yuk, kepoin karya pertamaku dan bantu support ya teman-teman!✨
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vhinaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
bab 29. masih bertarung
Kiyai Syafiq dan Ki Satya mulai kewalahan menghadapi kolonyowo yang semakin ganas.
Sedangkan Aksara juga butuh pertolongan agar tidak semakin membabi buta menyerang teman-temannya.
"Satya! aku harus mengeluarkan rantai pengikat Jiwa!" seru kiyai Syafiq
"tapi, kolonyowo tidak semudah itu untuk di kalahkan!" Ucap Ki Satya
"Bebaskan dulu Aksara baru kita urus Kolonyowo!"
"hahahah tidak semudah itu!!! Lihat ini!"
Wuusshh
Wuushhh
Aaaaaggghhhhh
Nadira, Elsa dan Rehan Terlempar jauh akibat serangan mendadak dari kolonyowo.
"ahh dadaku sakit sekali!" Nadira memegangi dadanya yang sakit
"Elsa!!" Nadira menghampiri Elsa yang sudah tak sadarkan diri dengan darah yang mengalir dari mulutnya.
"Elsa bangun Elsa!" Nadira panik karena Elsa sama sekali tidak membuka matanya
"Kakak, kita harus menghadapi kolonyowo dan Aksara sekaligus!" Ucap Rehan yang masih memegangi dadanya.
"Aku akan menghadapi kolonyowo!" tegas Nadira
"Aku akan menangani Aksara. Jika sempat, aku akan membantumu melawan iblis itu" ucap Rehan yang langsung berlari menuju ke arah Aksara
"Maafkan Aku Aksara" lirih Rehan
Aksara sudah berubah sepenuhnya. Ia tak lagi mengenali dirinya dan teman-temannya. Yang ia tahu adalah memusnahkan semuanya dan meminum darah Nadira untuk keabadiannya.
Bughh bugh
Crasshhh Sringg
Rehan tak lagi memandang Aksara sebagai Teman. ia harus mengalahkan Aksara demi menyelamatkan banyak orang terutama Nadira.
"Kau akan menyesal karena berani melawanku!" Geram Aksara yang tidak segan menyerang Rehan dengan Cakar beracunnya
Rehan menghindar dengan gesit agar tak terkena cakar Aksara. Pohon yang terkena cakaran Aksara langsung mati dan gosong seketika
"Cakarnya berbahaya sekali!" gumam Rehan
Sringgg sringgg
Tak
"hahaha aku berhasil mematahkan dua cakarmu!" Sorak Rehan yang berhasil mematahkan cakar Aksara sebelah kanan
"B*adab!!!!" Murka Aksara
"Kalahkan aku kalau kau memang mampu!" Rehan sengaja memancing kemarahan Aksara. Dia ingin melihat seberapa kuat Kekuatan Aksara yang sudah berubah menjadi iblis.
sedangkan di posisi Nadira, ia menghadapi kolonyowo bersama Ki Satya. sedangkan Kiyai Syafiq, tengah mengumpulkan tenaga untuk mengeluarkan teknik pengikat Jiwa agar Aksara bisa di amankan.
"Hahaha Darah pilihan...Sekar Ningrum..." Kolonyowo girang melihat mangsa istimewanya berada dihadapannya sekarang.
"Bersiaplah untuk kemusnahanmu kolonyowo!" teriak Nadira yang langsung menyerang dengan tebasan pedang naganya yang berkilat
Ia bergerak lincah dengan memainkan pedangnya dan terus mengarahkannya pada jantung kolonyowo. karena kelemahannya memang terletak disana dengan sebuah batu merah.
Wusshhh wuusshhh
Hap hap
"hahaha nggak kena!!" ledek Nadira yang berhasil menghindari serangan Api dari kolonyowo
Hiyaaaa
Jleebbb
Aaaggghhhhh
Nadira berhasil menusuk bahu kolonyowo dan memutar pedangnya hingga menekan lebih dalam
"Hem sakit?" ucap Nadira dingin
"kau pikir kau sudah menang? Suraji!!!"
Brukkhh
"Bundaaa ayaahhh!!!" Teriak Nadira langsung menghampiri orang tuanya yang tergeletak tak sadarkan diri dengan rantai yang membelenggu keduanya
"apa yang kalian lakukan pada orang tuaku!!" Nadira Menatap tajam ke arah Saruji dan kolonyowo yang hanya tertawa terbahak
"Hahaha kau pilih saja. menyerah atau orang tuamu ku habisi!" tekan kolonyowo dengan mata menyala
"atau semua penduduk desa sebagai gantinya? Dan kau memanglah malapetaka hahaha" Saruji terbahak bahak melihat derita mereka.
"Berikan darahmu maka akan aku bebaskan mereka semua!" ucap Saruji mendekati Nadira
"Mendekatlah sebelum aku yang mendekatimu!" Ucap Nadira dingin dengan mata biru menyala dan rambut kuning emasnya bersinar.
"hah! ap-apa apaan ini?" gumam Saruji bergetar melihat perusahaan Nadira
"kau menginginkan darahku kan? Ambillah!" Nadira mendekati Saruji dengan menyeret pedangnya
Kolonyowo tersentak melihat keberanian Nadira. Padahal ia sudah yakin jika Nadira akan lemah jika orang tuanya menjadi umpan.
"kau pikir aku bodoh? Manipulasi mu tidak mempan untukku!" Nadira menyeringai ke arah kolonyowo
"Itu bukan orang tuaku!!" tunjuk Nadira ke arah orang tuanya yang di belenggu rantai
"Kau pikir aku akan kalah hanya dengan melihat siluman kadal itu?" ternyata Nadira tahu jika yang di belenggu itu bukanlah orang tuanya. Melainkan anak buah kolonyowo sendiri
"Kau memang benar tapi...tidak akan ku biarkan kau lolos!!"
Wuusshh wuushhh
BRAKK brakkk
Duuarrrr
kolonyowo melepaskan serangan brutal ke arah Nadira. Ki Satya tak tinggal diam. Ia ikut membantu melawan iblis itu karena ia juga memiliki dendam atas meninggalnya sang isteri dulu.
Di sisi Rehan, Pria itu tampak mulai kewalahan menghadapi kekuatan Aksara yang semakin meningkat. Ia butuh tenaga tambahan, jika tidak sudah pasti dia akan kalah.
"yah, gimana ini? Anak kita sudah tidak terkendali" ucap Bu Mutia yang menangis melihat sang putra yang ia sayangi, berubah menjadi sosok yang mengerikan
"semuanya Sudah terlanjur Bu, ini semua memang salahku" ucap pak Rusdi menyesal
"apa tidak ada cara untuk menghentikan Aksara, Rus?" tanya pak Hamdan
"Caranya hanya segel jiwa. Setelah di segel barulah di beri penawar agar Aksara bisa kembali menjadi manusia seutuhnya" jelas Pak Rusdi
"dimana mencari penawarnya?" tanya pak Hamdan
"di tengah laut pantai selatan" lirih pak Rusdi
"ya Allah!" Pak Hamdan merasa iba. Namun, putranya pun juga dalam bahaya
Duaarr duarrrr
Wuusshhhh
dughhh brakk
"uhukk uhukkk". Ki Satya memuntahkan darah segar setelah terkena hantaman dari kolonyowo
"kii! Aki nggak papa?" tanya Nadira yang langsung memberikan tenaga dalam untuk Ki Satya
"Nggak papa nak, ayo kita lawan lagi. Ingat! Incar jantungnya dan langsung pecahkan batu merahnya" ucap Ki Satya
"baik Ki!"
Mereka melesat melawan kolonyowo lagi. Ambisi mereka untuk mengalahkan kolonyowo sangat besar. Apalagi Nadira Masih belum tau keadaan orang tuanya
Saruji yang melihat semuanya sibuk bertarung, memanfaatkan keadaan untuk menyiapkan ritual pembangkitan Maya, putrinya.
"aku hanya butuh setetes darah Nadira. Jika ia terluka nanti, aku akan langsung mengambil tetesan darahnya untuk putriku" gumam Saruji
Ia memilih tempat agak pojok, dimana ia sudah meletakkan mayat maya yang selama ini ia awetkan dengan ramuan khusus.
belum sempat ia menata sesaji, tiba-tiba Angin kencang menerpa tubuh tuanya. Ia terpelanting hingga sulit untuk bangun.
"sudah ku katakan dari dulu jangan melampau kang Saruji!" bentak seseorang yang belum nampak jelas wajahnya
"kau bukannya menyadari kesalahan mu, justru semakin terperosok jauh!"
Saruji terbelalak tak percaya dengan apa yang ia lihat saat ini. Ia mengucek matanya berkali-kali untuk memastikan bahwa yang ia lihat tidak salah
"Mi- Minah!!!"