Wasiat dua kakek yang bersahabat sejak lama menetapkan Adam dan Hawa sebagai pasangan di masa depan. Namun ketika waktu itu tiba, Adam justru menolak perjodohan tersebut. Ia merasa belum siap dan memilih fokus pada hidup serta pekerjaannya di Australia. Demi menghindari perjodohan itu, Adam mendorong adiknya Harun untuk menggantikan posisinya menikahi Hawa. Keputusan itu ternyata menjadi titik awal munculnya berbagai masalah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarah Mai, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Rahasia terungkap
Kondisi Rani yang kacau membuat tubuhnya melemah. Hawa terpaksa menggandeng sang ibu mertuanya agar tetap bisa berjalan.
“Kita cari tempat untuk beristirahat saja, Bunda,” ajak Hawa dengan suara lembut.
Keduanya melangkah perlahan, dengan tatapan lesu dan wajah kelelahan yang tak bisa disembunyikan.
“Bunda Rani!” Sapaan manis itu terdengar begitu jelas di telinga, memantul di lorong rumah sakit yang dingin dan berbau antiseptik.
Dunia seakan menyempit dalam satu detik. Rani dan Hawa yang tengah berjalan perlahan mendadak menghentikan langkahnya.
Waktu seolah sengaja mempermainkan mereka, mempertemukan di tempat dan di saat yang sama dalam kondisi yang sedang kacau.
“Raisa…” ucap Rani lirih, bengong, tak mampu menyembunyikan keterkejutannya.
Raisa berdiri beberapa langkah dari mereka, wajahnya berseri-seri dengan balutan gaun sederhana namun rapi.
Di tangannya, sebuah map hasil pemeriksaan dokter kandungan. Ia baru saja menjalani USG karena keterlambatan haid yang membuatnya gelisah beberapa hari terakhir.
Rani hanya tahu satu hal tentang wanita itu, Raisa memang dekat dengan Harun, tapi ia tidak pernah menyangka kedekatan itu menyimpan sebuah rahasia besar.
Di sisi Rani, tubuh Hawa menegang.
Matanya terpaku, otaknya mendeteksi wajah Raisa, detak jantungnya mendadak berantakan.
"Wanita ini…Dia mirip sekali dengan perempuan di foto itu…"
Hawa memang tidak mengenal Raisa dan keduanya belum pernah bertemu.
Tangan Hawa mengepal kuat, kukunya menekan telapak tangan sendiri, menahan amarah yang mendidih.
"Jadi dia… wanita yang bersama Mas Harun?" gumam Hawa mulai yakin, ia masih mengingat jelas foto-foto kemesraan itu di ponsel Adam.
“Bunda, apa kabar? Bunda sehat?” sapa Raisa ramah sambil melangkah mendekat dan lebih dekat. Sorot matanya tertuju penuh pada Rani, seolah hanya perempuan itu yang ada di hadapannya, sama sekali mengabaikan keberadaan Hawa.
“Tampaknya Bunda cukup lelah, mari Raisa antar pulang,” tambahnya dengan nada prihatin.
“Aku baik-baik saja,” jawab Rani cepat, berusaha terdengar tegar. Ia tak ingin sedikit pun celah terbuka tentang rahasia hidupnya oleh orang lain.
“Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” lanjutnya ringan. “Oh iya, Bunda… Raisa dengar Mas Adam sedang sakit. Bagaimana kondisinya sekarang?”
Kalimat itu membuat wajah Rani mengeras seketika.
Hawa menelan ludah. Dadanya sesak.
"Bersabar, Hawa… tetaplah bersabar," batinnya mencoba menenangkan diri, meski rasanya ingin berteriak dan menghancurkan semuanya.
“Dari mana kamu tahu Adam sedang sakit?” tanya Rani dingin, tanpa senyum sedikit pun.
Raisa tampak ragu sesaat, lalu menjawab santai, “E-emm… dari Mas Harun, Bunda.”
Raisa sama sekali belum tahu bahwa Adam kini terbaring kritis akibat pertikaian berdarah dengan Harun, suaminya sendiri. Ia juga belum menerima kabar apa pun dari Harun sejak pagi.
Hawa tak sanggup lagi menahan dirinya.
“Apakah benar kamu istrinya Harun?” tanya Hawa, suaranya bergetar namun tajam.
“Kalian sudah menikah?”
Raisa menoleh, menatap Hawa dari ujung kepala hingga kaki. Bibirnya melengkung membentuk senyum tipis, sinis, senyum yang disengaja.
“Kamu… Hawa?” tanyanya, berlagak manis.
“Apa maksudnya ini?” tegur Rani tak sabar.
“Hawa, kenapa kamu diam saja?” hentak Rani.
“Sebaiknya Bunda tanyakan langsung kepadanya,” jawab Hawa lirih. Ia hendak melangkah pergi, namun tiba-tiba Raisa menahan pergelangan tangannya.
“Tetap di sini,” ucap Raisa dengan tatapan tajam. “Kamu harus tahu semuanya.”
"Deg!!"
Rani memandang mereka bergantian. “Ada apa ini sebenarnya?” tanyanya gusar.
Raisa menarik napas, lalu berkata dengan nada seolah ia sedang membuka kebenaran besar.
“Bunda harus tahu… Mas Adam tidak pernah menginginkan perjodohan dengan perempuan ini. Karena itu, ia mendorong Mas Harun untuk menikahi Hawa,” ucap Raisa perlahan namun menusuk. “Dengan iming-iming… perusahaan di Sumatera jadi miliknya!"
“Deng…!”
Kepala Rani serasa dihantam balok besar. Dadanya sesak. Kecurigaannya selama ini… ternyata benar.
“Dan aku,” lanjut Raisa tanpa rasa bersalah, “sebagai kekasih Mas Harun, tentu saja tidak pernah menerima semua ini. Setelah pernikahan Mas Harun dan Hawa terjadi… kami langsung menikah siri.”
Hawa mematung.
Setiap kata Raisa seperti pisau yang menorehkan luka baru. Ia baru sadar, mengapa Harun selalu sibuk di malam-malam pengantin mereka.
“Dunia memang sempit,” Raisa tersenyum sinis. “Sampai akhirnya kita bertiga bertemu di sini.”
Nada suaranya berubah bangga. “Dan sekarang… aku akan menuntut Mas Harun untuk menikahiku secara resmi.”
Ia membuka map di tangannya, lalu mengangkat hasil USG.
“Karena aku sudah terlanjur hamil.”
“Prak!!!” Sontak tamparan keras mendarat di pipi Raisa secara mengejutkan.
“Argh!” Raisa menjerit kaget, wajahnya terhuyung ke samping. Selama ini ia keliru, Raisa mengira Rani akan menyambut bahagia kehadiran cucu dari Harun.
“Perempuan macam apa kau!” bentak Rani dengan mata melotot penuh amarah.
“Aku tidak menginginkan menantu seperti kamu! Wanita rendah, tidak punya hati sedikit pun!”
Raisa memegang pipinya, wajahnya memerah menahan amarah. Ingin rasanya ia membalas, namun Rani kembali bersuara dengan getir yang lebih dalam.
“Dengarkan aku baik-baik,” ucap Rani tegas.
“Anakku Adam sekarang sedang kritis! Ia ditusuk oleh Harun, adik kandungnya sendiri demi meminta perusahaan di Sumatera!”
Raisa terperanjat. “A-apa…?”
“Apa semua ini karena kau?” lanjut Rani. “Kau mencuci otak Harun sampai dia begitu bodoh melakukan perbuatan sekeji itu terhadap kakaknya sendiri?”
Raisa terdiam. Jelas ia benar-benar tidak tahu.
“Aku tegaskan,” Rani menatapnya tajam. “Aku, ibunda Harun, tidak memiliki menantu selain Hawa. Paham kau?”
Rani meraih tangan Hawa dengan cepat.
“Ayo kita pergi.”
Raisa mengepal tangannya, dadanya naik turun menahan emosi. “Aku akan buktikan,” ucapnya penuh dendam. “Siapa yang lebih pantas menjadi penerus perusahaan itu!”
“Aaaaarggh!” jeritnya frustasi Raisa saat mereka menjauh.
“Awas kamu, Hawa,” gumam Raisa penuh kebencian. “Aku tidak akan kalah darimu.”
Bersama supir akhirnya Rani membawa Hawa pulang untuk beristirahat sejenak.
Di dalam mobil, suasana sunyi mencekam. Hawa menatap keluar jendela, air mata mengalir tanpa suara. Luka di dadanya terlalu dalam untuk diucapkan dengan kata-kata.
“Masih ada waktu… masih ada waktu untuk menyelamatkan Adam,” gumam Rani, lebih kepada dirinya sendiri.
Ia menoleh pada Hawa, suaranya melembut.
“Hawa… kamu mau, kan, bercerai dengan Harun dan menikah dengan Adam?”
Hawa terdiam lama.
“Lupakan perempuan iblis itu,” lanjut Rani lirih. “Bunda akan menyelesaikan semuanya.”
Hawa menggeleng pelan. Air matanya jatuh.
“Aku mau pulang, Bunda…” suaranya nyaris tak terdengar.
“Antarkan aku pulang. Lupakan saja perjodohan ini. Batalkan wasiat itu… semua ini sudah tidak penting lagi," kata Hawa.
“Tapi”
Hawa memejamkan mata, menutup rapat pembicaraan.
Rani tak mampu berkata apa-apa lagi.
Hanya kesedihan yang tersisa dan rasa bersalah yang menyesakkan, karena amanah yang seharusnya membahagiakan Hawa justru menghancurkan hidupnya.