Dr. Rania "The Butcher" Wijaya adalah ahli bedah umum (General Surgeon) yang brilian tapi berantakan. Hidupnya adalah tentang UGD, darah, kopi instan, dan sandal Crocs karet. Baginya, estetika itu tidak penting, yang penting pasien selamat.
Dunia Rania jungkir balik ketika manajemen RS merekrut Dr. Adrian "The Prince" Bratadikara, spesialis bedah plastik dan estetika lulusan Korea Selatan, untuk meningkatkan pendapatan RS lewat klinik kecantikan VIP. Adrian adalah kebalikan Rania: obsesif dengan kebersihan, wangi parfum mahal, dan percaya bahwa "jahitan bedah adalah seni, bukan resleting celana."
Masalah utamanya? Mereka adalah musuh bebuyutan (dan mantan gebetan yang gagal jadian) saat kuliah kedokteran dulu. Kini mereka harus berbagi ruang operasi dan menyelamatkan RS dari kebangkrutan, sambil menahan keinginan untuk saling membunuh—atau mencium—satu sama lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon tanty rahayu bahari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 19: Bencana Massal & Pasien Tanpa Nama
Rumah Sakit Citra Harapan malam itu berubah menjadi zona perang.
Hujan deras di luar seolah berlomba dengan sirine ambulans yang datang silih berganti. Lobi rumah sakit yang biasanya sepi kini penuh sesak. Darah berceceran di lantai keramik putih yang belum sempat dipel. Teriakan kesakitan, tangisan keluarga, dan instruksi dokter bersahutan di udara.
"Code Triage! Code Triage!" suara operator menggema.
Rania berdiri di pintu masuk UGD. Dia memakai rompi oranye bertuliskan COMMANDER. Rambutnya diikat kencang, matanya tajam memindai setiap pasien yang diturunkan dari ambulans.
"Patah tulang terbuka femur kanan! Merah! Masuk Resusitasi 1!" teriak Rania.
"Luka lecet kepala, sadar penuh! Hijau! Duduk di ruang tunggu!"
"Tidak ada nadi, pupil midriasis total! Hitam! Bawa ke kamar jenazah sementara!"
Rania adalah dirigen dari orkestra kekacauan ini. Tidak ada keraguan sedikit pun dalam suaranya. Dia harus memutuskan siapa yang ditolong duluan dan siapa yang harus menunggu—atau dibiarkan pergi.
Di sebelahnya, Adrian—yang baru saja sampai dengan motor Rania—langsung menyambar jas putih cadangan. Dia tidak sempat ganti baju, masih pakai kaos oblong dan celana pendek di balik jas dokternya. Tapi tidak ada yang peduli.
"Adrian! Handle area Bedah Minor!" perintah Rania tanpa menoleh. "Jahit semua yang robek. Kalau ada trauma wajah, itu mainan lo!"
"Siap!" Adrian berlari menuju bilik bedah minor.
Malam itu, "Pangeran Glowing" lenyap. Yang ada hanyalah dokter bedah yang bekerja seperti mesin. Adrian menjahit dahi robek, membersihkan luka aspal, membalut luka bakar gesekan. Tangannya berlumuran darah, keringat menetes membasahi matanya, tapi dia tidak berhenti.
"Dokter! Pasien bed 5 syok hipovolemik!" teriak Kevin panik.
Adrian lari ke bed 5. Seorang ibu muda pucat pasi.
"Pasang dua jalur infus jarum besar! Guyur cairan hangat! Siapkan darah O negatif!" perintah Adrian sambil menekan luka di paha pasien. "Kevin, tekan arteri femoralis! Jangan lepas sampai gue bilang lepas!"
Kevin, yang biasanya gemetaran, kali ini menurut dengan sigap. Adrenalin membuat koas itu mendadak jadi kompeten.
Satu jam berlalu.
Dua jam.
Tiga jam.
Pasien terus berdatangan. Korban tabrakan beruntun bus dan beberapa mobil pribadi itu mencapai 40 orang. Kapasitas RS Citra Harapan sudah overload.
"Rania!" Adrian menghampiri Rania di meja komando. Napasnya memburu. "Stok darah menipis. Kita butuh transfer ke RS lain untuk pasien yang butuh operasi besar."
"Gue udah telepon RSUD, mereka juga penuh," jawab Rania sambil mencoret papan tulis status pasien. "Kita harus operasi di sini sebisanya. OK 1, 2, 3 dibuka semua."
Tiba-tiba, sebuah ambulans mewah—milik layanan swasta—menerobos masuk ke pelataran UGD. Sirinenya berbeda, lebih nyaring.
Pintu belakang dibuka. Paramedis swasta turun dengan tergesa.
"Pasien VIP! Trauma tumpul abdomen! Kesadaran menurun! GCS 9!" teriak paramedis itu.
Rania berlari mendekat. "Siapa? Identitas?"
"Laki-laki, sekitar 55 tahun. Terjepit di kursi belakang sedan Rolls-Royce. Evakuasi butuh 30 menit."
Mendengar kata "Rolls-Royce", Rania membeku sejenak. Firasat buruk menghantam dadanya.
Brankar diturunkan. Pasien itu mengenakan setelan jas mahal yang kini robek-robek dan penuh noda oli. Wajahnya tertutup darah dari luka robek besar di pelipis yang memanjang sampai ke pipi, membuat wajahnya nyaris tidak dikenali.
Tapi Rania mengenali jam tangan emas di pergelangan tangan kiri pasien itu. Dan cincin bermata rubi di jarinya.
"Ya Tuhan," bisik Rania.
Adrian, yang penasaran karena Rania tiba-tiba diam, ikut mendekat.
"Siapa, Ran? Masuk Merah atau Kuning?" tanya Adrian sambil menyeka keringat.
Rania menoleh ke Adrian dengan wajah pucat pasi. Dia memegang lengan Adrian erat-erat, seolah menahannya agar tidak jatuh.
"Ad... lo harus kuat," kata Rania.
Adrian mengerutkan kening. Dia menatap pasien di brankar. Dia melihat jas yang familiar itu. Dia melihat rambut yang mulai memutih itu. Dan dia melihat wajah yang hancur sebagian itu.
Dunia Adrian runtuh. Suara bising UGD mendadak senyap, digantikan denging panjang di telinganya.
Itu Ayahnya.
Pak Wijaya.
Pria yang mengusirnya beberapa hari lalu. Pria yang menjadi sumber ketakutannya seumur hidup. Pria yang... sekarat di depannya.
"Papa?" suara Adrian tercekat, nyaris tak terdengar.
"Tensi 70/40! Nadi 130 lemah! Perut distensi (kembung keras)!" lapor perawat yang memeriksa. "Dokter! Dia perdarahan dalam! Limpa atau hepar pecah!"
Adrian mematung. Kakinya seperti dipaku ke lantai. Dia melihat ayahnya terengah-engah, darah berbuih keluar dari mulutnya.
"Adrian! Sadar!" Rania mengguncang bahu Adrian keras. "Dia butuh dokter bedah sekarang! Dan cuma lo dan gue dokter bedah yang tersisa! Dokter lain lagi operasi di OK 2 dan 3!"
Mata Adrian kosong. "Gue... gue nggak bisa. Itu Papa... kalau gue salah... kalau gue gagal..."
Bayangan ibunya yang meninggal di ICU 20 tahun lalu berputar di kepala Adrian seperti film horor. Bunyi monitor EKG yang datar. Kain kafan putih.
"Gue nggak bisa, Rania! Tangan gue..." Adrian mengangkat tangannya. Gemetar hebat. Tremor yang tidak terkendali. "Gue nggak bisa pegang pisau."
Pasien di brankar mengerang. "Ad...ri...an..."
Suara parau ayahnya menyentak Adrian, tapi ketakutan melumpuhkannya.
Rania tahu dia tidak punya waktu untuk terapi psikologi. Dia harus mengambil alih.
"Kevin! Yanti! Dorong pasien ke OK 1! Sekarang!" teriak Rania. "Siapkan set laparotomi (bedah perut) dan set rekonstruksi wajah!"
"Siapa operatornya, Dok?" tanya Yanti cemas melihat kondisi Adrian.
Rania menatap Adrian tajam, lalu beralih ke Yanti.
"SAYA operator utamanya," putus Rania tegas. "Dan Dokter Adrian akan jadi asisten saya. Seret dia ke ruang scrub kalau perlu."
Rania mencengkeram kerah jas Adrian, menarik wajah pria itu mendekat ke wajahnya.
"Dengerin gue, Adrian Bratadikara," desis Rania. "Bokap lo mungkin bajingan sombong. Tapi dia tetep bokap lo. Dan gue nggak akan biarin lo jadi anak yatim piatu malam ini cuma karena lo takut."
"Tapi tangan gue tremor..."
"Bodo amat! Kalau tangan lo getar, gue yang pegangin! Lo punya otak, gue punya nyali. Kita kerjain bareng. Sekarang cuci tangan lo dan masuk ke ruang operasi, atau gue sendiri yang bakal amputasi rasa takut lo itu!"
Rania melepaskan cengkeramannya dan berlari mendorong brankar.
Adrian berdiri sendirian di tengah koridor UGD yang kacau. Dia menatap tangannya yang gemetar. Dia menatap pintu OK 1 yang tertutup.
Dia punya dua pilihan: Lari dan membiarkan Rania berjuang sendirian menyelamatkan ayahnya dengan resiko gagal tinggi, atau masuk ke sana dan menghadapi monster terbesarnya.
Adrian memejamkan mata. Dia menarik napas dalam-dalam.
Dia ingat bubur ayam di kosan. Dia ingat ciuman di tangga darurat. Dia ingat bahwa dia bukan lagi anak kecil yang tidak berdaya.
Adrian membuka matanya. Ada kilatan tekad di sana.
Dia melangkah menuju ruang operasi.
...****************...
Bersambung....
Terima kasih telah membaca💞
Jangan lupa bantu like komen dan share❣️
ceritanya bagus banget