NovelToon NovelToon
Kesempatan Kedua

Kesempatan Kedua

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Penyelamat / Cintamanis / Fantasi / Time Travel / Romansa
Popularitas:3.2k
Nilai: 5
Nama Author: Putryy01

karya Pertama Author 😊

Reynard Aethelred adalah pewaris tunggal Aethelred Group, raksasa bisnis energi. Reynard, yang selalu memberontak, menolak pernikahan perjodohan dengan Annelise Vanya, seorang gadis yatim-piatu yang dibesarkan di panti, pilihan terakhir almarhum ayahnya. Ia justru memilih Seraphina Valerius, tunangannya, yang ia yakini adalah cinta sejatinya. Selama pernikahan yang dingin, Reynard acap kali meremehkan Annelise, memprioritaskan Seraphina yang ambisius dan haus harta.
Pada hari ulang tahun Annelise yang ke-25, di tengah sebuah pesta, Reynard baru menyadari kebenaran pahit. Seraphina adalah mata-mata yang bekerja sama dengan kekasih rahasianya untuk merebut seluruh aset Aethelred Group dan menghabisinya. Annelise, yang diam-diam telah mengandung anak mereka, mengetahui rencana itu dan bergegas menyelamatkan Reynard. Dalam kekacauan, Annelise dan bayi dalam kandungannya tewas setelah melindungi Reynard dari tembakan mematikan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Putryy01, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Perangkap yang Terbuka

__________________________________

Sinar matahari pagi di New York menyelinap melalui celah jendela apartemen mewah tempat Seraphina Valerius tinggal. Cahaya itu jatuh di atas hamparan karpet beludru, namun tak mampu menghangatkan suasana dingin yang terpancar dari ambisi dua orang di dalamnya. Seraphina berdiri tegak di depan cermin besar berbingkai emas, mengenakan gaun merah darah yang memeluk lekuk tubuhnya dengan sempurna. Warna itu bukan sekadar pilihan mode itu adalah simbol dominasi dan keberanian yang selama ini ia tekan di bawah topeng kesetiaan palsu.

Di belakangnya, Victor duduk dengan kaki bersilang, matanya terpaku pada tablet digital yang menampilkan denah arsitektur mansion Aethelred. Ia menyesap kopi hitam tanpa gula, membiarkan rasa pahit itu mempertajam fokusnya.

"Waktunya sudah tiba, Victor," ucap Seraphina. Suaranya rendah, namun bergetar oleh kegembiraan yang tertahan. Ia menyentuh anting berliannya, menatap bayangannya sendiri dengan senyum licik. "Reynard sudah berada di Singapura. Leonard juga akan disibukkan dengan pertemuan proyek. Dan bagian terbaiknya, Annelise, gadis panti asuhan yang malang itu, sepertinya sedang sibuk bermain di toko kuenya. Jalan kita benar-benar bersih."

Victor mendongak, matanya yang dingin berkilat. "Semua sudah siap. Orang-orang kita di mansion juga mengabarkan mereka sudah meretas CCTV di setiap sudut mansion. Brankas pusat itu adalah kunci terakhir. Begitu dokumen asli dialihkan dan aset-aset itu berpindah tangan ke rekening cangkang kita di Kepulauan Cayman, Reynard akan bangun besok pagi sebagai pria yang tidak memiliki apa-apa selain nama besarnya yang sudah kosong."

Namun, Seraphina tahu ada satu kerikil dalam sepatunya. Penghalang terbesar di mansion itu bukanlah sistem keamanan yang serba digital, melainkan Bibi Rose. Kepala pelayan itu telah mengabdi pada keluarga Aethelred sejak Reynard masih kecil. Ia memiliki intuisi seekor serigala tua dan kesetiaan yang tak tergoyahkan.

"Aku akan menangani bibi Rose," desis Seraphina.

Ia mengambil telepon. Dengan menarik napas panjang, ia mengubah ekspresi wajahnya di depan cermin. Dalam sekejap, wajah predator itu hilang, digantikan oleh wajah seorang wanita yang sedang dilanda kecemasan hebat.

Ketika sambungan terhubung dan suara berat Bibi Rose terdengar, Seraphina memulai sandiwaranya.

"Bibi Rose, ini aku, Seraphina," ucapnya dengan nada gemetar yang dibuat-buat,"Aku baru saja bicara dengan Reynard di Singapura. Dia sangat panik, Bibi! Ada dokumen kontrak energi Jerman yang tertinggal di brankas ruang kerjanya. Reynard baru menyadari bahwa investor di sana menuntut dokumen fisik atau pindaian langsung dari brankas pusat sekarang juga. Jika tidak dikirim dalam satu jam, Aethelred Group akan kehilangan investasi jutaan dolar dan reputasi Reynard akan hancur!"

Di seberang telepon, Bibi Rose terdiam sejenak. Keheningan itu membuat jantung Seraphina berdegup kencang. Bibi Rose adalah wanita yang cerdas. "Tapi Nona Seraphina," suara Rose terdengar ragu, "Tuan Reynard berpesan dengan sangat tegas sebelum berangkat agar tidak ada yang masuk ke ruang kerjanya tanpa izin tertulis atau didampingi Tuan Leonard."

"Itu masalahnya, Bibi! Leonard sedang berada di lapangan yang tidak memiliki sinyal. Dia tidak bisa dihubungi!" Seraphina mempercepat temponya, memberikan tekanan psikologis. "Reynard memintaku untuk membantunya. Tolonglah, Bibi... ini demi masa depan perusahaan. Annelise sedang di toko kuenya, kan? Dia tidak mungkin bisa membantu urusan serumit ini. Cukup buka pintunya saja, Bibi. Aku dan victor Salah satu rekan bisnis kepercayaan Reynard sedang menuju ke sana untuk membantu memindai dokumen itu agar segera terkirim."

Seraphina menutup mata, menunggu penuh harapan.

"Baiklah, Nona, Saya akan membukakan pintu ruang kerja. Tapi saya akan menunggu di depan pintu."

"Terima kasih, Bibi. Kau menyelamatkan Reynard," ucap Seraphina sebelum memutus sambungan. Seketika, wajah cemasnya berganti menjadi tawa sinis. Ia menatap Victor dan memberi isyarat jempol.

.......

Mobil hitam yang membawa Seraphina dan Victor berhenti tepat di depan pilar besar mansion Aethelred. Seraphina turun dengan langkah anggun, kacamata hitam menutupi matanya yang penuh siasat. Di sampingnya, Victor membawa tas jinjing berisi alat peretas brankas dan dokumen palsu. Keduanya tampak seperti rekan bisnis yang sedang menjalankan tugas darurat.

Bibi Rose sudah menunggu di teras. Wajahnya sedatar dinding batu, namun matanya yang tajam menelusuri setiap inci penampilan mereka.

"Nona Seraphina, Tuan Victor," sapa Bibi Rose dengan suara berat yang penuh wibawa.

Seraphina melepaskan kacamatanya, menampilkan raut wajah yang tampak sangat bersemangat. "hallo bibi.... segera antarkan kami ke ruang kerja Reynard."

Bibi Rose tidak menjawab. Ia hanya berbalik dan mengantar mereka menuju lantai dua. Suara langkah kaki mereka bergema di lorong sunyi mansion, melewati deretan lukisan leluhur Aethelred yang seolah-olah sedang mengawasi pengkhianatan yang akan terjadi.

Begitu pintu ruang kerja yang besar dan berat itu terbuka, aroma kayu cendana dan kulit tua langsung menyergap indra penciuman mereka.

Bibi Rose berdiri di ambang pintu, tangannya terlipat di depan dada. Ia tidak bergeming, matanya terpaku pada setiap gerakan tangan Victor. Seraphina menyadari bahwa jika Bibi Rose terus berdiri di sana, Victor tidak akan bisa menukar dokumen asli dengan yang palsu tanpa ketahuan. Ia harus menjauhkan wanita tua itu dari sana.

Seraphina tiba-tiba memegangi perutnya. Wajahnya sedikit pucat sebuah akting yang sudah ia latih berkali-kali di depan cermin.

"Oh, Bibi..." rintih Seraphina pelan sambil menyandarkan tubuhnya ke meja kerja. "Tiba-tiba kepalaku sangat pening. Mungkin karena aku belum sarapan dan terlalu cemas memikirkan telepon dari Reynard tadi."

Bibi Rose menoleh, namun tatapannya tetap waspada. "Saya bisa meminta pelayan lain membawakan air, Nona."

"Tidak, tidak perlu pelayan lain. Aku... aku merasa mual. Bibi, bisakah kau mengantarku ke kamar mandi di ujung lorong? Aku merasa sangat tidak stabil, aku takut akan pingsan jika berjalan sendirian," ucap Seraphina dengan suara yang melemah, matanya menatap Bibi Rose dengan penuh permohonan.

Bibi Rose terdiam sejenak. Ia melirik Victor yang masih sibuk mencari berkas di atas meja, lalu kembali menatap Seraphina.

"Baiklah, Nona. Mari saya bantu," ucap Bibi Rose akhirnya. Ia melangkah mendekati Seraphina dan memapah lengan wanita itu.

Begitu mereka keluar dari ruang kerja dan suara langkah kaki mereka menjauh di lorong, Victor langsung bergerak secepat kilat. Senyum penuh kemenangan terukir di wajahnya.

"Dasar wanita tua bodoh," desis Victor.

Dengan lihai, ia menempelkan alat peretas frekuensi ke panel digital brankas. Dalam hitungan detik, lampu indikator berubah dari merah menjadi hijau. Klik. Pintu brankas terbuka. Victor segera menarik keluar map kulit hitam berisi surat-surat aset utama Aethelred Group dan menggantinya dengan map identik berisi dokumen palsu yang telah mereka siapkan.

Di dalam kamar mandi, Seraphina berpura-pura membasuh wajahnya dengan air. Ia tahu Victor hanya butuh waktu tiga menit.

"Nona, apakah Anda sudah merasa lebih baik?" tanya Bibi Rose dari balik pintu kamar mandi. Suaranya terdengar datar.

"Sedikit, Bibi. Berikan aku satu menit lagi," jawab Seraphina dengan nada lemas.

.......

Sementara itu, di Singapura, Reynard menyaksikan seluruh adegan itu melalui kamera tersembunyi yang tertanam di bingkai foto di atas meja kerjanya. Ia melihat dengan jelas saat Victor memasukkan dokumen palsu itu ke dalam tasnya dan menutup kembali brankas dengan rapi.

Reynard tersenyum tipis, sebuah senyuman yang lebih menakutkan daripada kemarahan mana pun. "Mereka benar-benar berpikir bahwa menjauhkan bibi Rose adalah ide cemerlang," gumam Reynard. "Padahal tanpa mereka sadari , ada kamera yang sedang merekam kegiatan mereka ‘’

.......

Di mansion, Seraphina keluar dari kamar mandi dengan langkah yang tampak lebih segar. "Terima kasih, Bibi. Aku merasa jauh lebih baik sekarang."

Mereka kembali ke ruang kerja, di mana Victor sudah berdiri dengan tenang sambil menutup tas jinjingnya. "Selesai. Dokumen sudah dipindai dan dikirim ke server Reynard di Singapura," lapor Victor dengan wajah tanpa dosa.

"Bagus sekali. Ayo kita pergi Victor tugas kita sudah selesai," ajak Seraphina.

Bibi Rose mengantar mereka sampai ke pintu depan. Saat mobil hitam itu mulai menjauh dari halaman mansion, Bibi Rose menyentuh bros di kerahnya. "Tuan, tikusnya sudah meninggalkan lubang. Umpan sudah dibawa." Ucap bibi rose

"Kerja bagus, Bibi," suara Reynard terdengar dari perangkat tersebut. "Sekarang, pastikan Annelise tetap nyaman di tempat persembunyiannya. siang ini aku pulang dan malam baru sampai."

Di dalam mobil, Seraphina tertawa lepas sambil memeluk map yang dicuri Victor. "Kita berhasil, Victor! Reynard tamat!"

Seraphina tidak menyadari bahwa di balik kemegahan yang ia impikan, ia baru saja menandatangani surat perintah penangkapannya sendiri. Esok hari, saat matahari terbit, ia tidak akan bangun di atas tumpukan harta, melainkan di balik jeruji besi yang telah disiapkan Reynard dengan penuh kesabaran.

1
partini
harus standby dong dulu kamu sangat jahat sekali di kasih kesempatan ke dua harus extra lovely doply ❤️
partini
❤️❤️❤️❤️👍👍👍👍👍
partini
posesifnya,,kalau kembar ok ga Thor anaknya
partini
dih di cintai PD banggt
partini
good job 👍👍👍👍 Ray
orang kaya mereka harus membusuk
aku
definisi anelise tuh gimana ya.... 😖
partini
kalau ga balik ya aneh udah di kasih kesempatan kedua masa methong lagi ya percumah dong
partini
wah tegang ini thor
partini
😭😭😭😭 so sad
love you
semangat update ny thor, cepet sehat thor😍❤
partini
belum juga beraksi udah tepar duluan 🤦🤦🤦
love you
next thor suka sama kebucinan reynard ditunggu update ny thor😍😍
partini
ayo Yo kenapa ga fokus itu bisa bikin bahaya semuanya ,, protektif boleh tapi Jagan over musuh bisa ambil kesempatan untuk menghancurkan
love you
next thor cerita ny bagus suka banget😍😍
love you
next thor, bagus ceritanya😍
partini
so sweet banget,,tapi tetap hati" musuh mu itu loh kamu harus waspada
partini
aihhh ane bikin spot jantung suami mu aja
partini
ikuti saja permainan mereka kamu cukup siapkan boom nuklir untuk mereka berdua,, istri pantau lewat bodyguard bayang biar ada apa" SATSET kamu di kasih kesempatan ke dua use your brain
partini
good story
Putry: trimakasih kak untuk bintang nya 😊🥰
total 1 replies
partini
sudah tau kan nah waktu nya pegang permainan be smart dong
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!