NovelToon NovelToon
Suami Untuk Shanum

Suami Untuk Shanum

Status: sedang berlangsung
Genre:Romantis / Perjodohan / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Shanum gadis desa yang harus bekerja keras untuk kebutuhan hidupnya dan juga keluarganya. Di tengah kesulitan ekonominya, ia terus menjadi perbincangan orang-orang disekitarnya karena di usianya yang akan menginjak 30 tahun, ia belum saja menikah.

Karena merasa malu, Ibunya meminta tolong salah satu orang yang dikenal sebagai mak comblang di desanya agar mencarikan laki-laki untuk Shanum, hingga akhirnya mak comblang tersebut memperkenalkan Shanum dengan seorang pria yang merupakan cucu dari salah satu warga desa yang terpandang di desa.

Bagaimana kelanjutannya? Apakah Shanum akan menerima pria tersebut? Siapakah pria itu?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kita Sudah Sampai

Shanum masih mematung di tempatnya berdiri, jantungnya berpacu lebih cepat dari biasanya dan ia merasa oksigen tiba-tiba menipis. Tindakan Abi yang meminum air tepat di bekas bibir Shanum terasa jauh lebih intim daripada pelukan di tempat tidur tadi.

​"Sudah malam, ayo kembali ke kamar. Kamu harus istirahat supaya besok pagi nggak pusing lagi," ucap Abi sambil berdiri.

​Shanum mengangguk patuh, ia membereskan piring dan gelas dengan gerakan yang sedikit terburu-buru, berusaha menyembunyikan tangannya yang masih agak gemetar. Mereka berjalan beriringan menaiki tangga, suasana rumah orang tua Abi sangat tenang, hanya suara langkah kaki mereka yang beradu dengan lantai marmer.

​Sesampainya di kamar, Abi tidak langsung berbaring. Ia menuju ke arah meja kerja kecil di sudut ruangan dan mengambil sebuah kunci dengan gantungan kulit berwarna hitam lalu duduk di tepi ranjang, ia menepuk sisi kasur di sebelahnya dan memberi isyarat agar Shanum mendekat.

​"Duduklah, ada yang ingin saya maksudku aku sampaikan," ucap Abi, suaranya kini kembali tenang dan berwibawa, namun tidak sedingin biasanya.

​Shanum duduk dengan memberikan jarak, jemarinya bertaut di atas pangkuan.

"Iya, Mas?" tanya Shanum.

​"Besok pagi, aku ingin membawamu ke apartemen," ucap Abi.

"Loh, Mas Abi nggak tinggal di rumah Ayah?" tanya Shanum.

"Tidak, aku tinggal di apartemen. Aku kurang nyaman tinggal dengan Ayah sama Bunda, aku lebih suka tinggal sendiri dan karena sekarang aku sudah punya Istri, jadi aku akan membawamu tinggal di apartemen," ucap Abi.

"Aku sebagai Istri akan ikut kamu, Mas," ucap Shanum.

"Kalau begitu, sekarang kita istirahat ya. Rencananya, berangkatnya setelah salat subuh. Soalnya siangnya aku harus ke kampus," ucap Abi dan diangguki Shanum.

.

​Fajar menyingsing di ufuk timur Bandung, membawa semburat jingga yang menembus celah gorden kamar Abi. Shanum sudah bangun sejak sebelum azan Subuh berkumandang, bahkan ia sudah mandi, berganti pakaian dengan gamis simpel berwarna cokelat susu dan merapikan kembali tempat tidur.

​Abi pun tak kalah sigap, pria itu sudah rapi dengan kaus lengan pendek, yang memberikan kesan santai namun tetap keren. Aroma kopi yang baru diseduh oleh Bunda Rina di lantai bawah mulai tercium, memicu rasa hangat di tengah dinginnya udara pagi.

​Setelah menunaikan salat Subuh berjemaah di musala rumah, mereka segera bersiap. ​Di depan teras, Bunda Rina, Ayah Aris dan Manda sudah berdiri untuk melepas keberangkatan Abi dan Shanum.

​"Hati-hati di jalan, Bi. Jaga istrimu baik-baik. Jangan terlalu kaku jadi orang, kasihan Shanum," pesan Ayah Aris sambil menepuk bahu Abi dan Abi hanya mengangguk patuh dengan senyum tipis yang sopan.

​Bunda Rina melangkah mendekati Shanum, ada keraguan sejenak di wajah wanita paruh baya itu. Sejujurnya, masih ada rasa canggung yang tersisa. Namun, melihat bagaimana putra sulungnya memperlakukan gadis ini semalam, hati Bunda Rina mulai melunak.

​Tanpa diduga, Bunda Rina menarik tubuh kecil Shanum ke dalam pelukannya, dekapan itu terasa hangat dan tulus.

​"Shanum... betah-betah ya tinggal sama Abi. Kalau anak ini nakal atau terlalu cuek, langsung telepon Bunda. Jangan sungkan," bisik Bunda Rina lembut di telinga Shanum.

​Shanum tertegun, matanya berkaca-kaca. Ia membalas pelukan mertuanya dengan erat, "Iya, Bun. Terima kasih banyak sudah menerima Shanum di sini," balas Shanum.

​"Sering-sering main ke sini ya, Mbak. Manda bakal kesepian nggak ada teman curhat," timpal Manda sambil melambaikan tangan.

"Iya," jawab Shanum dengan senyum ramah pada Adik iparnya itu.

Mobil mercedes benz Abi mulai bergerak meninggalkan gerbang perumahan tepat saat matahari mulai meninggi, perjalanan menuju apartemen Abi di pusat kota Bandung diperkirakan memakan waktu sekitar satu jam dan untung saja lalu lintas masih sepi sehingga tidak memakan waktu lama.

​Di dalam mobil, Shanum menatap keluar jendela, memerhatikan deretan pohon pinus dan bangunan-bangunan tua khas Bandung yang mulai berganti dengan gedung-gedung tinggi, jemarinya bertautan di atas pangkuan dan mencoba meredam debaran jantung yang tak kunjung tenang. Bagi Shanum, setiap jengkal kota ini terasa seperti dunia baru yang penuh teka-teki.

​Hingga akhirnya, mobil berbelok memasuki area sebuah gedung pencakar langit dengan fasad kaca yang berkilauan terkena cahaya matahari. Penjagaan di gerbang masuk sangat ketat, beberapa petugas keamanan berseragam rapi memberikan hormat saat mengenali mobil Abi.

"Kita sudah sampai," ucap Abi memecah keheningan sembari memutar setir memasuki area parkir khusus penghuni.

​Shanum terpaku, matanya mendongak dan mencoba melihat puncak gedung yang seolah menembus awan.

"Ini... tempat tinggal Mas Abi?" tanya Shanum pelan.

​"Tempat tinggal kita, Shanum," ucap Abi datar, namun sarat penegasan.

​Mereka sampai di area lobi yang sangat luas, lantainya terbuat dari marmer hitam mengkilap yang bisa memantulkan bayangan, sementara lampu gantung kristal di langit-langit yang memberikan kesan megah dan elegan.

Shanum berjalan mengekor di belakang Abi, merasa sangat kecil di tengah kemewahan tersebut, langkah kakinya yang beralaskan sandal flat sederhana seolah tenggelam dalam keheningan lobi yang eksklusif.

​Abi membawa Shanum menuju lift khusus, ia menempelkan kartu akses perak dan dalam hitungan detik, lift meluncur naik dengan kecepatan tinggi namun sangat halus. Saat pintu lift berdenting terbuka di lantai 25, mereka langsung disambut oleh koridor privat yang hanya menuju ke satu pintu besar berbahan kayu jati.

​"Masuklah," ucap Abi setelah menekan sederet kode angka pada kunci digital.

Begitu pintu besar itu terbuka, Shanum terdiam di ambang pintu. Matanya membulat menatap interior apartemen yang jauh lebih mewah daripada yang ia bayangkan.

Ruang tamu itu didominasi warna monokrom, hitam, abu-abu dan putih. Dengan dinding kaca raksasa yang memperlihatkan pemandangan kota Bandung dari ketinggian.

​"Mas... ini rumahnya?" tanya Shanum hampir tak terdengar.

Suara Shanum seolah tenggelam dalam keheningan ruangan yang sangat rapi dan nyaris tanpa debu.

​"Apartemen, Shanum. Mulai hari ini, ini tempatmu juga," jawab Abi datar sembari meletakkan kunci mobil di atas meja konsol kayu yang elegan.

"Lepas sandalmu, pakai slipper di dalam lemari kecil itu," lanjut Abi.

​Shanum mengangguk patuh, ia mengganti alas kakinya dengan sandal rumah yang empuk. Ia berjalan sangat hati-hati, takut langkahnya akan mengotori lantai marmer yang berkilau, Abi berjalan mendahuluinya menuju sebuah pintu di sisi kanan ruang tengah.

​"Ini kamar utama," ucap Abi saat membuka pintu.

​Kamar itu sangat luas, dengan ranjang king size yang tampak sangat empuk dan pemandangan langsung ke arah pegunungan di kejauhan.

"Kopernya masih di mobil? Mau Shanum bantu bawa Mas?" tanya Shanum.

"Nggak usah, nanti ada orang yang bakal bawain," ucap Abi dan diangguki Shanum.

​"Mas Abi... Mas mau ke kampus jam berapa?" tanya Shanum dan mencoba mencairkan kecanggungan.

"Nanti jam 11, sekarang masih jam setengah 7. Aku mau istirahat dulu," ucap Abi.

.

.

.

Bersambung.....

1
Asni Kenedy
d gantung dahh🤭🤭🤭
Eva Tigan
Hukumannya enak kok..Shanum malah jadi pengen lebih itu..dan sebaiknya dilakukan di rumah saja😄
Asni Kenedy
ahhh ikut baperr
mamayasna
shanum ooo shanumm
Eva Tigan
Kasi ponsel baru buat istrinya Mas Abi..😄
Eva Tigan
Pak Dosen dan shanum sama sama baru buka segel.
pasti keduanya akan merasa kecanduan setelah merasakan nikmatnya Sorga Dunia😊
mamayasna
😍
Eva Tigan
mesra nya sepiring berdua..isi energi dulu nanti selesai makan dilanjutkan kegiatan romantis nya tadi 😊
mamayasna
😍😍
gemar baca
luar biasa alur ceritanya bagus, penokohan nya keren gak berlebihan, bahasa yang digunakan juga Bagus,keren pokok'e
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
mamayasna
😍😍😍
Valen Angelina
baper gak tuh🤭🤭😄😄
Valen Angelina
belajar terbuka sama suamimu ....jgn apa2 terpendam sndiri ya....
Eva Tigan
segera kasi makan itu istrinya Abi..kasihan seharian gak makan..padahal udah lebaran ini..istrinya malah puasa😊
diaul_5
love you thorrr😍
diaul_5
suka banget sama cerita author satu ini dan lebih suka lagi ttp up meskipun lebaran jan josss polll, soalnya novel yang lain g up lebaran😭😭😭
elaretaa: Terima kasih Kak🥰 Pas lebaran .asih ada draf buat up, nah habis lebaran ini belum ada draf buat up soalnya sibuk lebaran, jadi belum sempat nulis🙏🙏🙏🙏🤭
total 1 replies
dika edsel
hai assalamualaikum bestieeeee... selamat lebaran .minal'aidzin walfaidzin mohon maaf lahir batin ya...😊
elaretaa: Waalaikumsalam bestieeeee!!! selamat lebaran yaaaaaaaaa. Minal aidin wal faizin, semoga kita dipertemukan dengan Ramadan selanjutnya🥰🥰🥰🥰
total 1 replies
mamayasna
semangat berkarya/Kiss/
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
dika edsel
/Heart/
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Valen Angelina
pasti tidak seindah itu pernikahan shanum kan thor...jgn kejam2 kasian dia...Uda ortua gtu masa dpat suami gtu lagi wkwkkwke🤭
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!