Leah merupakan seorang fresh graduate jurusan kedokteran. Ia pun langsung memutuskan untuk bekerja. Bukannya bekerja di instansi kesehatan seperti teman-temannya, ia memilih untuk bekerja di perusahaan. Ia bekerja sebagai dokter perusahaan.
Ia jatuh hati kepada sang atasan pada pertemuan pertama. Tak peduli jarak umur mereka. Leah menyukai atasannya tersebut tulus dari hati.
Tetapi, takdir tak berjalan sesuai harapan. Sang atasan memiliki garis takdir yang sudah ditentukan semenjak ia lahir. Hingga suatu hari, ada hal yang membuatnya begitu patah hati. Ia memutuskan untuk meninggalkan perusahaan itu dan melupakan sang atasan.
"Aku sakit, Dok."
Hingga pada suatu hari, Leah terkejut melihat sosok laki-laki yang begitu dikenalnya itu kini berdiri di hadapannya. Apalagi sikap seseorang tersebut yang sangat berbeda dari saat dulu mereka bertemu.
Jantungnya semakin berdegup kencang melihat lelaki itu menggenggam tangannya kemudian meletakkan di dadanya.
"Di sini."
"P-pak?"
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Indah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Diam-diam berarti: Diam-diam peduli
Siang itu hujan turun ragu-ragu, tidak benar-benar deras, tapi cukup untuk membuat langit tampak muram. Leah berdiri di depan ruang direktur dengan tubuh yang belum sepenuhnya pulih. Ia akhirnya memutuskan untuk menyelesaikan masalah ini. Beberapa hari lalu ia masih terbaring di ranjang rumah sakit, dengan selang infus dan bau antiseptik yang menusuk hidung. Kini ia sudah kembali bekerja, meski kepalanya masih mudah terasa ringan dan lambungnya belum sepenuhnya tenang.
Ia mengetuk pintu sekali.
Tidak ada jawaban cepat. Di balik pintu itu, Leah tahu, duduk seseorang yang selalu mengukur segala sesuatu dengan jarak dan logika.
Ia akan bertemu lagi dengan laki-laki itu. Laki-laki yang akhir-akhir ini memenuhi seluruh kepalanya. Ia sangat gugup, karena baru kali ini ia mencari direkturnya itu. Meskipun karena ada urusan, tetapi tetap saja terasa begitu gugup.
Leah akhirnya sudah memutuskan. Setelah berpikir panjang, ia memutuskan untuk berbicara kepada direkturnya itu. Dipikir-pikir, ini untuk kesejahteraan karyawan juga kan? Apabila salah satu karyawannya dihantui oleh rasa penasaran, maka dapat menurunkan kinerjanya pada perusahaan ini. Dan itu akan merugikan. Ya, untuk saat ini Leah berpikir seperti. Setidaknya untuk menenangkan dirinya sendiri.
Ia menunggu, membiarkan detik-detik berlalu, sampai akhirnya suara itu terdengar—datar, pendek.
“Masuk.”
Ruangan itu tetap sama seperti yang ia bayangkan: rapi, bersih, dan terlalu tenang. Cahaya redup dari langit mendung menyusup melalui jendela besar, memantul di meja kerja yang nyaris tanpa noda. Direktur berdiri di sisi jendela, membelakanginya, seolah kedatangan Leah bukan hal yang perlu segera dihadapi.
Leah menutup pintu perlahan. Langkahnya lebih pelan dari biasanya. Tubuhnya masih menyimpan sisa lelah yang tidak terlihat, dan ia berusaha menyembunyikannya dengan sikap tegak yang dipaksakan.
Pria itu akhirnya berbalik. Tatapannya singgah pada Leah—tidak sekilas. Pandangan itu berhenti cukup lama untuk menangkap sesuatu yang berbeda: wajah yang lebih tirus, sorot mata yang belum sepenuhnya kembali hidup.
“Kamu sudah bekerja.” katanya akhirnya.
Nada suaranya netral, nyaris seperti pernyataan administratif.
Melihat Alfren secara langsung seperti ini, membuat Leah kembali teringat dengan foto-foto itu. Ia pun segera menundukkan pandangannya.
Leah mengangguk. “Saya sudah diperbolehkan pulang.”
Tidak ada ucapan perhatian seperti “bagus” atau “seharusnya kamu istirahat”. Direktur itu hanya berjalan kembali ke mejanya dan duduk. Namun jemarinya berhenti di atas map yang terbuka, seolah pikirannya tidak sepenuhnya berada di sana.
Leah menyampaikan maksudnya. Tentang sup. Tentang rasa pedas yang tidak seharusnya ada. Tentang keinginannya melihat rekaman CCTV hari itu. Suaranya tenang, tetapi di dalam dadanya, sesuatu bergetar—bukan takut, melainkan lelah karena harus terus menjelaskan bahwa apa yang ia alami bukan sekadar kebetulan.
Direktur itu mendengarkan tanpa interupsi. Ia tidak bersandar, tidak pula menyilangkan tangan. Posturnya lurus, kaku, seperti seseorang yang terbiasa menahan emosi di balik profesionalisme.
Beberapa detik setelah Leah selesai berbicara, ruangan itu kembali sunyi.
“Bagaimana kondisimu?” tanyanya singkat.
"Apa?" beo Leah secara spontan lantaran mendengar pertanyaan itu dari sang direktur.
"Maksud saya, saya sudah membaik." ujarnya segera. Leah merutuki kebodohannya di hadapan sang direktur. Ia terlalu gugup atau direktur itu yang terlalu tidak bisa ditebak? Mengapa melontarkan pertanyaan itu tiba-tiba dan bukannya langsung membahas izin akses CCTV itu? Ah sudahlah, Leah memang tidak bisa memahami isi pikiran pria bernama Alfren itu.
Alfren mengangguk pelan mendengarkan jawaban dari Leah, “Kamu belum seharusnya berjalan sejauh ini.”
Leah kembali ditimpa kebingungan mendengar kalimat yang keluar dari mulut direkturnya itu. Apa maksudnya ia harusnya lebih lama beristirahat? Atau ia yang tidak boleh melewati batas sejauh ini sehingga berani meminta akses kepada direktur sepertinya? Sungguh, ia membutuhkan penerjemah maksud dari Alfren sekarang.
“Akses CCTV tidak bisa sembarangan,” lanjutnya, seolah kembali ke topik utama. “Ada prosedur.”
Leah sudah sangat menduga jawaban ini. Sudah pasti mekanisme sesuatu di perusahaan sebesar ini tidak sembarangan apalagi hanya demi masalah sup kecil yang menimpanya.
“Saya mengerti.”
Namun, Alfren menatap Leah lagi. Kali ini lebih lama. Seperti sedang memastikan sesuatu yang tidak tertulis di berkas medis mana pun.
“Kamu pingsan di area kerja,” katanya. “itu menjadi tanggung jawab gedung ini.”
Kalimat itu terdengar resmi. Namun Leah tahu, jika itu semata soal tanggung jawab, ia tidak akan berdiri di ruangan ini sekarang.
Alfren berdiri, membuka laci, lalu menutupnya kembali. Hujan di luar mulai terdengar lebih jelas, menepuk kaca jendela dengan ritme pelan. Ia berjalan mendekat, berhenti pada jarak yang masih sopan—namun cukup dekat untuk membuat Leah menyadari perbedaan tinggi mereka, dan keheningan yang tiba-tiba terasa intim.
“Kamu akan mendapatkan akses terbatas,” katanya.
“Dengan pengawasan.”
Tiba-tiba datang perasaan yang lebih asing—hangat, tapi tertahan. Seperti perasaan yang seharusnya jatuh sebagai syukur, namun berubah arah menjadi getaran halus di dada. Ia tahu izin itu terbatas. Ia tahu ada pengawasan. Secara logika, itu bukan bentuk kepercayaan penuh. Bukan pula keberpihakan.
Namun tetap saja, direktur itu memilih memberinya jalan.
Leah berdiri beberapa detik lebih lama dari yang diperlukan, meresapi kenyataan bahwa di balik keputusan yang terdengar kaku itu, ada pertimbangan yang tidak semua orang dapatkan. Ia pernah membayangkan ditolak. Pernah bersiap pulang dengan kepala tertunduk dan pertanyaan yang tetap tak terjawab. Tapi yang ia terima justru ruang sempit—cukup sempit untuk disebut prosedur, namun cukup luas untuk disebut perhatian.
Leah tanpa sadar menampilkan sedikit senyumnya, berbeda dari saat ia datang awal tadi, "Terima kasih, Pak." ujarnya tulus.
Alfren hanya mengangguk tanpa ekspresi seperti biasanya, "Jangan memaksakan diri."
Leah terpaku sejenak.
Kalimat itu bukan perintah. Bukan juga nasihat panjang. Tapi dari pria yang selalu menjaga jarak, kalimat itu terasa seperti pengakuan diam-diam bahwa keberadaan Leah tidak lagi sekadar nama di daftar karyawan. Dan untuk pertama kalinya, ia yakin: sikap dingin itu bukan ketiadaan rasa—melainkan cara paling aman untuk menyimpannya.
Setelah itu, ia memutuskan untuk pergi dari ruangan tersebut. Ia mulai berbalik. Langkah Leah terasa lebih ringan saat meninggalkan ruangan, meski tubuhnya belum sepenuhnya pulih. Ada kekuatan kecil yang menyelinap masuk ke dadanya—bukan karena masalahnya akan segera selesai, melainkan karena untuk pertama kalinya sejak keluar dari rumah sakit, ia merasa tidak sepenuhnya sendirian dalam memperjuangkan kebenaran.
Dan perasaan itu… berbeda.
Bukan bahagia. Bukan jatuh cinta.
Tapi cukup untuk membuatnya menoleh sejenak ke pintu ruang direktur sebelum benar-benar pergi—seolah menyimpan keputusan itu di dalam hatinya, pelan, rapi, dan diam-diam berarti.
Baca dari awal sampe sini yang meledaknya rasanya nyess banget😭😭