NovelToon NovelToon
Obsesi Raviel

Obsesi Raviel

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Ibu Mertua Kejam / Pernikahan Kilat / Hamil di luar nikah / Mafia / Iblis
Popularitas:2.5k
Nilai: 5
Nama Author: his wife jay

Sejak kelas satu SMA, Raviel Althaire hanya mengamati satu perempuan dari kejauhan. Tidak mendekat, tidak memiliki, hanya menyimpan rasa yang perlahan berubah menjadi obsesi.
Satu malam yang seharusnya dilupakan justru menghancurkan segalanya. Pagi datang bersama tangis dan kepergian tanpa penjelasan.
Saat identitas gadis itu terungkap, Raviel sadar satu hal—perempuan yang terluka adalah orang yang selama ini menguasai pikirannya.
Sejak saat itu, ia tidak lagi mengagumi.
Ia mengikat.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon his wife jay, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kabur

Dokter itu berdiri di sisi ranjang dengan ekspresi serius. Tangannya masih memegang alat pemeriksaan, matanya meneliti wajah Nara yang pucat dan napasnya yang belum sepenuhnya stabil.

Beberapa detik berlalu dalam keheningan yang menegangkan.

Dokter itu menghela napas pelan, lalu berbalik menatap Raviel yang berdiri tak jauh dari sana dengan wajah dingin yang retak oleh kekhawatiran.

“Kondisi Nona Nara tidak terlalu buruk, tapi juga tidak bisa dianggap sepele,” ujar dokter itu akhirnya.

Raviel menegakkan tubuhnya. “Jelaskan.”

Dokter mengangguk kecil. “Dia kelelahan. Bukan hanya fisik, tapi juga mental. Trauma yang belum sembuh, tekanan emosional yang terus menumpuk, serta kurangnya istirahat membuat daya tahan tubuhnya melemah.”

Raviel mengepalkan tangannya pelan.

“Dia menahan terlalu banyak hal sendirian,” lanjut dokter itu. “Ironisnya, dia terlihat seperti orang yang selalu berusaha tersenyum. Padahal, justru itu yang membuat kondisinya semakin buruk. Dia memaksakan diri untuk terlihat baik-baik saja.”

Pandangan Raviel kembali tertuju pada Nara.

“Jika ini terus berlanjut,” ujar dokter itu hati-hati, “bukan tidak mungkin tubuhnya akan sering drop. Pingsan seperti ini bisa terulang. Dia butuh ketenangan, rasa aman, dan istirahat yang cukup.”

Raviel mengangguk pelan. “Terima kasih.”

Dokter membereskan peralatannya. “Saya pamit. Jika ada keluhan lagi, segera hubungi saya.”

Pintu kamar tertutup.

Keheningan kembali menyelimuti ruangan.

Raviel melangkah mendekat ke ranjang, menatap wajah Nara yang terlelap. Wajah yang selama ini hanya ia lihat dari jauh, kini berada tepat dalam jangkauannya—rapuh, lelah, dan penuh luka.

Ia menunduk, lalu mencium kening Nara dengan lembut.

“Maafin aku,” bisiknya rendah. “Tapi aku mohon… jangan pernah ninggalin aku.”

Ia berdiri tepat saat ponselnya bergetar. Sebuah panggilan masuk.

“Ya,” ucapnya tenang setelah menerima. “saya mengerti. Saya akan segera ke sana.”

Raviel menutup telepon, lalu menoleh ke pelayan yang menunggu di dekat pintu.

“Jaga dia,” perintahnya dingin. “Pastikan dia makan. Potongkan buah, siapkan makanan ringan. Jangan biarkan dia sendirian.”

“Baik, Tuan.”

Raviel melirik Nara sekali lagi sebelum akhirnya melangkah keluar kamar.

Tak lama setelah pintu tertutup, kelopak mata Nara bergerak pelan.

Ia membuka matanya perlahan.

Cahaya lampu terasa menyilaukan. Kepalanya sedikit pening. Saat ia menoleh, ia melihat seorang pelayan perempuan berdiri tak jauh darinya.

“K-kalian siapa…?” tanya Nara lirih, suaranya masih lemah.

Pelayan itu menunduk sopan. “Kami pelayan di sini, Nona. Kami ditugaskan untuk menjaga Nona. Itu perintah Tuan Raviel.”

Nara terdiam.

Raviel.

Jadi… nama pria brengsek itu Raviel.

Dengan tiba-tiba, Nara bangkit dari ranjang. Tubuhnya masih sedikit goyah, tapi kemarahannya jauh lebih besar dari rasa lelahnya. Ia meraih tasnya dengan cepat.

“Aku mau pulang,” ucapnya tegas. “Aku nggak mau ada di rumah si brengsek.”

“Nona, mohon tenang,” ujar pelayan itu panik. “Kami takut Nona pingsan lagi—”

“Aku nggak peduli!” bentak Nara.

Ia membuka pintu dan berlari keluar. Langkahnya cepat, napasnya terengah, namun tekadnya bulat. Ia harus pergi dari tempat ini.

Namun baru saja ia sampai di gerbang mansion, beberapa pengawal menghadangnya.

“Nona tidak boleh pergi sebelum Tuan Raviel mengizinkan,” ucap salah satu pengawal.

“Aku nggak mau!” teriak Nara. “Bilangin ke bos kalian, anggap aja kita nggak pernah ketemu! Lupain kejadian itu!”

Ia mendorong mereka dan berlari keluar dari gerbang.

Para pengawal hendak mengejar, namun tiba-tiba mereka berhenti serempak.

Suara Raviel terdengar melalui earphone di telinga mereka.

“Biarkan dia pulang,” ucapnya dingin. “Kawal dari kejauhan. Pastikan dia aman.”

Para pengawal saling pandang, lalu mengangguk.

Sementara itu, Nara terus berlari menjauh dari mansion—tanpa tahu bahwa meski ia pergi, Raviel belum pernah benar-benar melepaskannya.

★★★

Pak Subianto mengebrak meja dengan keras. Suara benturan kayu itu menggema di seluruh ruangan, memecah keheningan yang sejak tadi menekan. Wajah pria paruh baya itu memerah, napasnya memburu, sementara matanya menatap marah ke arah Raviel yang duduk tenang di kursinya.

“Kembalikan anak saya!” bentaknya lantang.

Raviel tidak langsung bereaksi. Ia tetap bersandar dengan posisi santai, tatapannya datar seolah teriakan itu tidak lebih dari suara angin lalu.

“Tenang dulu, Pak,” ujar Ethan yang berdiri di sisi Pak Subianto, mencoba menengahi situasi. “Kita bisa membicarakan ini baik-baik.”

“Saya tidak bisa tenang sebelum bos kamu mengembalikan anak saya!” Pak Subianto kembali berteriak. Tangannya gemetar, antara marah dan takut.

Raviel akhirnya mengangkat kepalanya. Sorot matanya dingin, tajam, dan penuh perhitungan.

“Baiklah,” ucapnya pelan, namun jelas. “Namun Anda juga harus mengembalikan dana yang saya berikan untuk pembangunan hotel di wilayah barat.”

Pak Subianto terdiam sejenak, lalu tertawa kecil dengan nada gugup. “Bukankah kita sudah sepakat bekerja sama? Lagipula, uang itu sudah digunakan untuk membeli bahan bangunan.”

Raviel bangkit dari kursinya dengan gerakan lambat. Setiap langkahnya mendekat membuat udara di ruangan terasa semakin berat.

“Benarkah untuk bahan pembangunan?” tanyanya datar. “Bukan untuk memuaskan para wanita Anda, Pak Subianto?”

Wajah Pak Subianto seketika memucat.

“W-wanita apa?” ucapnya terbata, jelas tidak siap dengan tuduhan itu.

“Jangan berpura-pura bodoh,” lanjut Raviel. “Anda menggunakan dana saya untuk berfoya-foya. Mobil mewah, apartemen, perhiasan, pakaian mahal—semuanya untuk wanita-wanita yang bahkan tidak Anda akui keberadaannya di hadapan keluarga Anda.”

“Itu tidak benar!” sergah Pak Subianto panik. “Informasi itu salah! Saya tidak menggunakan uang itu untuk hal-hal seperti itu.”

Raviel tersenyum tipis, senyum yang sama sekali tidak mengandung kehangatan.

“Ethan,” ucapnya tenang, “bawa dia ke tempat biasa. Bukankah dia sangat ingin bertemu dengan anak tercintanya?”

Mata Pak Subianto membelalak. Keringat dingin mulai mengalir di pelipisnya.

“Saya mohon, Pak Raviel,” katanya lirih, suaranya berubah menjadi permohonan. “Saya minta maaf. Saya akan mengembalikan uang itu. Tolong…”

Raviel menatapnya tanpa belas kasihan.

“Saya sudah memberikan Anda beberapa kesempatan,” ucapnya dingin. “Apakah Anda lupa?”

Tanpa memberi ruang untuk jawaban, Raviel memberi isyarat kecil. Ethan dan beberapa pengawal segera mendekat, lalu menggiring Pak Subianto keluar dari ruangan meski pria itu terus memohon dengan suara bergetar.

Pintu tertutup.

Ruangan kembali sunyi.

Raviel berdiri diam selama beberapa detik sebelum akhirnya kembali ke kursinya. Ia mengeluarkan sebungkus rokok dari saku jasnya, mengambil satu batang, lalu menyalakannya dengan pemantik.

Asap tipis mengepul perlahan, memenuhi udara dengan aroma tajam.

Dalam keheningan itu, pikirannya melayang.

Wajah Nara kembali muncul dalam benaknya. Tatapan penuh kebencian, suaranya yang bergetar saat memintanya melupakan segalanya. Kata-kata yang jelas-jelas ingin menghapus keberadaannya dari hidup gadis itu.

“Anggap saja kita tidak pernah bertemu.”

Raviel mengembuskan asap rokok perlahan.

“Gadis nakal,” batinnya, bibirnya melengkung membentuk senyum miring.

Ia tidak marah. Tidak juga terluka.

Sebaliknya, ada sesuatu yang bergejolak di dadanya—dorongan untuk memiliki, untuk memastikan gadis itu tidak benar-benar pergi dari hidupnya.

“Melupakan?” gumamnya pelan. “Itu tidak akan pernah terjadi.”

Raviel menatap lurus ke depan, sorot matanya kembali dingin dan berbahaya.

Apa pun yang Nara inginkan, satu hal pasti—ia tidak akan pernah benar-benar bebas darinya.

1
Nurmalia Lia
ditunggu up ny Thor semangat 💪 suka dgn karya mu😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!