Kelanjutan dari Gadis Mungil (I Love You)
Beralih dari kerumitan di masa lalu, setelah terpuruknya keluarga Agus, kini Mona harus menghadapi kehidupan baru. kehidupan setelah lulus SMA, bersiap untuk menikah dan apa yang akan di lakukan setelah menikah.
Mona dan Arga, masih saling mencintai dengan cara mereka masing-masing. pertengkaran, kenyolan seperti biasanya.
jika ada kesalahan nama tokoh maupun tempat, mohon di mengerti.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Motifasi_senja, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Butuh sebuah Solusi
Arga belum ingin pulang. Pikirannya memang masih berfokus pada satu gadis, yaitu Mona. Setiap hari yang ada di dalam pikiran Arga hanyalah Mona, Mona dan Mona. Tak ada hal lain yang rasanya lebih penting untuk dipikirkan selain gadis itu.
Namun, jika harus pulang dan bertemu lagi dengan gadis itu, sepertinya Arga belum siap. Belum siap untuk menghadapi cara bicaranya yang sungguh seringkali membuat hati jengkel.
Masih di dalam mobil yang melaju, Arga terus mencoba berpikir, kemana arah mobil ini sebaiknya melaju. Dan mobil Arga, pada akhirnya berbelok masuk ke sebuah perumahan elit.
Mungkin dengan datang ke rumah mereka, Arga akan mendapatkan sebuah solusi. Mereka siapa? Tentu saja Dika dan Tiara.
Tepat pukul sembilan malam, mobil Arga pun sudah berada di depan pintu gerbang. Arga menekan tombol klakson yang terletak di bundaran setir dengan keras. Dua kali menekan tombol itu, dan seseorang terlihat mendorong gerbang itu hingga terbuka lebar.
Mobil Arga sudah masuk. Arga turun dan langsung mendekati pelayan pria yang bertugas khusus menjaga di rumah mewah ini. “Apa Dika dan Tiara ada?” tanya Arga.
“Ada, Tuan. Mereka ada di dalam. Silahkan masuk, Tuan.” pelayan itu mempersilahkan Arga untuk masuk ke dalam rumah.
“Silahkan duduk,” ucap pelayan itu. “Saya panggilkan Tuan Dika dan Nona Tiara,” imbuhnya lagi. Arga mengangguk dan langsung duduk.
Sekitar menunggu dua menit saja, Dika dan Tiara keluar menemui Arga.
“Arga?” ucap Tiara yang merasa heran dengan kedatangan Arga. Arga hanya tersenyum. Dika dan Tiara ikut duduk.
“Tumben, ada apa kemari?” tanya Tiara lagi.
“Iya... tumben sekali,” imbuh Dika.
Tidak langsung menjawab, Arga memilih menghela napas dulu, barulah mulai menggerakkan dua bibirnya. “Aku sedang bosan di rumah.”
Sontak Dika dan Tiara saling pandang dengan dahi berkerut. Selanjutnya Tiara berdehem dan berbalik menatap Arga. “Bosan? Bosan kenapa? Apa ada masalah?”
Arga membuang napas lagi, mengerjapkan mata sebentar lalu kembali berbicara. “Bukan masalah sebenarnya, Aku hanya sedang merasa bingung.”
“Bingung kenapa?” tanya Dika.
“Entahlah... aku sungguh pusing.” Arga meraup wajahnya sendiri. “Aku butuh solusi,” imbuhnya lagi.
Tiara melirik ke arah suaminya lalu berbalik ke arah Arga. “Katakan, kau kenapa? Apa yang perlu kita bantu?” Tiara bertanya.
Arga kembali mendesah, membuang napas seolah menghilangkan penat yang sedang di rasa. “Aku bingung... aku sudah melamar Mona—.”
“E—, ha?!” kedua orang itu ternganga dengan mata membelalak. Kemudian keduanya terlihat menahan tawa.
Arga yang menyadari hal itu, langsung melengos, mengalihkan pandangan ke arah lain. “Silahkan saja kalau mau tertawa. Tak perlu di tahan begitu!” dengus Arga.
Tiara dan Dika nyengir. “Maaf... kami hanya terkejut,” ucap Tiara. “Bukankah itu berita bagus, kapan kalian akan menikah?”
Pertanyaan Tiara justru membuat Arga membuang napas lagi. “Itu masalahnya!” dengus Arga sambil menepuk tepian sofa.
“Ada apa?” tanya Dika. “Ceritakan pada kami, barang kali kami bisa membantu.” Tiara mengangguk setuju.
“Aku berencana menikahi Mona minggu depan.”
“Minggu depan?” ucap Dika dan Tiara bersamaan.
“Iya.”
“Oke, oke.” Tuara berucap sambil menekan kedua telapak tangan di udara. “Lalu masalahnya apa?”
“Aku pikir, Mona belum siap. Dia memang menerimaku, tapi dia masih terlihat bingung dengan arti pernikahan,” ungkap Arga. Dan kali ini Tiaralah yang membuang napas.
“Biar aku yang bicara dengannya besok. Kita sesama wanita, mungkin Mona akan paham jika aku yang bicara,” ujar Tiara. Nampaknya itu menjadi sebuah solusi yang membuat Arga merasa lebih lega.
“Terimakasih. Aku benar-benar sudah kebingungan.” Arga mengacak rambunya frustrasi.
“Jangan begitu, ini kan sudah pilihanmu, kau harus coba menjalaninya dengan baik. Toh selama ini kau sudah bertahan dengan Mona, tentunya kau sudah paham betul dengan sifat baik maupun buruknya dia.” Tiara mencoba menasehati.
“Benar. Perjalanan hidup yang menyangkut hati itu tidaklah mudah. Aku dan Tiara sudah mengalaminya,” imbuh Dika, lalu melirik ke arah istrinya sambil menggenggam tangannya.
“Semoga saja semuanya berjalan dengan lancar.” Arga menangkup kedua pipinya, menepuk-nepuk beberapa kali lalu tiba-tiba menggeram. “Apa kalian tahu, aku sudah pusing menghadapi gejolak dadaku sendiri. Rasanya seperti mau meledak!!”
Dika langsung tertawa, sementara Tiara hanya terbengong karena tak mengerti. “Jangan khawatir, kau bukan satu-satunya orang yang mengalami hal seperti itu. Aku sudah lebih dulu merasa gila karena cinta.” Dika tertawa lagi.
“Ya sudah, aku balik. Ini sudah sangat larut,” pamit Arga sambil melirik jam yang melingkar di pergelangan tangan. Sudah pukul setengah dua belas malam.
“Baiklah... hati-hati. Semoga sukses.” Dika menyemangati.
Sementara saat Arga masih di rumah Dika, di rumahnya, Mona dan Santi masih terlihat mengobrol. Ini karena Mona tidur terlalu awal, jadi sekitar jam sepuluh Mona terbangun dan susah tidur kembali. Dan Santi yang kala itu merasa haus dan sedang ke dapur untuk mengambil minuman, tak langsung balik ke kamar dan memilih ngobrol dengan Mona.
“Ini sudah malam, kenapa kau malah menonton TV?” tanya Santi saat menghampiri Mona.
“Hmm, iya Bu.” Mona menjawab tanpa mengalihkan pandangan dari layar TV.
Santi tersenyum, dan ikut duduk. “Kenapa belum tidur?”
“Aku belum ngantuk. Tadi aku tidur terlalu awal, jadi terbangun.” Mona menoleh sekilas lalu fokus lagi pada layar TV yang sedang menampilkan acara drama malam hari.
“Minggu depan, kau akan menikah.”
“Hm, apa, Bu?” Mona kurang memperhatikan. Nampaknya volume TV lebih keras dari pada suara Santi.
Santi maju. Masih dengan posisi duduk, Santi mencondong meraih remot TV yang tergeletak di atas meja. Setelah berada di genggaman, Santi langsung mengecilkan volume TV.
“Ibuuu, kenapa suaranya diperkecil?” sewot Mona dan mencoba merebut remot tersebut.
Santi menangkis dan memindah remot itu di belakang tempatnya duduk. “Dengarkan, ibu ingin bicara denganmu.” Wajah Santi berubah serius.
Mona yang sudah merasa sedikit jengkel karena acara menonton TV nya terganggu, tetap mencoba diam. Ia juga tak mau jika tak memperhatikan ibunya. Sepertinya ibu juga ingin bicara hal serius. Begitu pikir Mona.
Memang benar, Mona sungguh tak mendengar perkataan Santi awal tadi.
“Kemarilah....” Santi meminta Mona untuk duduk bersila menghadap ke arahnya. Mona menurut.
“Ada apa, Bu? Jangan membuatku penasaran,” pinta Mona.
Sebelum bicara, Santi menata napas terlebih dahulu supaya saat berbicara tidak tersendat-sendat. Lawan bicaranya adalah Mona, seorang gadis yang terkadang harus di jelaskan beberapa kali supaya bisa paham dengan apa yang di maksud. Sekali lagi, dan itulah Mona.
“Minggu depan, kau dan Arga akan menikah.” Dengan gugup akhirnya Santi mengulang kembali kalimat yang tadi sempat di ucapkan.
“Aku? Menikah?” Mona membelalak sambil menunjuk dadanya.
Santi mengangguk. “Apa kau siap?” tanya Santi.
“Aku—.” Mona menunduk, kesepuluh jemarinya saling memilin. “Aku tidak tahu, Bu,” sambung Mona.
“Kenapa? Apa kau tak mencintai Arga?” Santi menatap sendu wajah Allea sambil menaikkan dagu gadis yang nampak bingung itu.
“Tentu saja aku mencintai kak Arga. Aku hanya bingung, aku bingung apa yang harus aku lakukan setelah menikah,” ujar Mona.
Santi paham betul, Mona memang masih terlalu polos untuk hal sensitif seperti pernikahan. Apalagi selama ini Mona sama sekali tidak pernah berdekatan dengan lelaki manapun. Dan hanya Arga lah yang selalu berada di samping Mona.
“Ibu akan membantumu menjalani hari-hari setelah menikah nanti. Ibu juga dulu ragu dan bingung, tapi setelah dijalani dengan yakin, semua pasti berjalan dengan semestinya. Kau lihat kan? Ibu dan ayah hidup bahagia sampai saat ini?” Santi mencoba meyakinkan hati Mona.
“Bagaimana, apa kau mau?”
Sesaat Mona hanya diam. Ia terlihat menggigit bibir bawahnya.
***
egk thu sapa yg kirim fito mona ama varel ke hp arga.
Mestinya ya paling engga dia bisalah menelaah situasi, mengerti masalah dalam keluarga... Duh author... please deh...