Guno adalah seorang pria yang hidupnya berubah drastis dalam semalam. Istri tercintanya meninggal dunia akibat ledakan gas tragis di rumah mereka. Kejadian itu mengubah status Guno dari seorang suami menjadi duda dalam sekejap.
Sebagai seorang guru yang dikenal berdedikasi tinggi, Guno dikelilingi oleh siswa-siswi berprestasi yang baik dan simpatik. Saat kabar duka itu tersebar, seluruh penghuni sekolah memberikan simpati dan empati yang mendalam. Namun, di tengah masa berkabung itulah, muncul sebuah perasaan yang tidak biasa. Rasa peduli Guno yang semula hanya sebatas guru kepada murid, perlahan berubah menjadi obsesi terhadap seorang siswi bernama Tamara.
Awalnya, Tamara menganggap perhatian Guno hanyalah bentuk kasih sayang seorang guru kepada anak didiknya yang ingin menghibur. Namun, lama-kelamaan, sikap Guno mulai membuatnya risih. Teman-teman Tamara pun mulai menyadari gelagat aneh sang guru yang terus berusaha mendekati gadis itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Silviriani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Irfan
Kebersamaan Tama dan Kateha rupanya terlihat jelas oleh Guno yang sedari tadi mengikutinya, bayang dua manusia yang sedang asik dimabuk cinta pun mengundang emosi yang kian detik kian mendidih, tangan mengepal, mata berair, keringat yang perlahan timbul dikeningnya menandakan bahwa dia betul - betul ingin segera mencabik mangsanya.
Namun sayang, Guno bukan marah pada Kateha tapi dia marah besar pada Tama. Deruan nafas yang berhembus dari kedua lubang hidungnya itupun terasa sangat begitu panas.
Mencekam!
Tiga puluh menit berlalu, Tama keluar dari dalam mobil Kateha. Dirinya berjalan mengitari depan mobil Kateha kemudian berdiri di atas trotoar, Tama melambaikan tangannya sebagai tanda perpisahan malam ini dengan pria yang sudah mencumbunya habis - habisan.
Ketika mobil hitam yang berplat B 1234 A itu lenyap dari pandangan Guno, kini saatnya dia yang menemui gadis belia itu. Tanpa membuang waktu banyak, Guno keluar dari mobilnya, dia berjalan sembari berlari kemudian tangannya itu dengan sigap meraih rambut Tama.
Guno menjambaknya!
" A! " Tama berteriak, reflek tangannya menahan jambakan Guno.
Dengan emosi yang meledak - ledak dia menarik rambut Tama hingga Tama sendiri terpaksa mengikuti langkahnya menuju tempat sepi dan gelap.
Dibantingnya Tama ke sisi lain!
Gug!!!!
Dengan sedikit ringkih dia berusaha bangun sembari menyipitkan mata untuk memastikan siapa yang sudah berbuat jahat kepadanya. Namun, belum bayang itu menampakkan wajah asli pemilik tubuh yang berdiri didepannya. Wajah dia sudah lebih dulu ditampar Guno.
Plak!
Plak!
Plak!
Tanpa ampun Guno membuat gadis itu kehilangan keseimbangannya hingga jatuh ke tanah, menahan sakit dipipinya. Guno seperti kesetanan dia tidak mengasihani Tama sedikitpun, dengan sisa nafas yang masih ter engah - engah Guno berkata.
" Malam ini siapkan diri mu sayang... "
Guno merudapaksa Tama.
Malang sekali nasib gadis yang diantar pulang dengan baik oleh Kateha, dia harus mengalami kekerasan seksual! Di saat lelakinya sudah pergi tanpa memastikan kepulangan Tama sampai masuk kerumahnya.
Tama tentu berontak tapi, tenaganya tak mampu melawan besarnya kemarahan seorang Guno. Rasa sakit dari area kewanitaannya menjalar hingga keseluruhan tubuh! Dia merasa lumpuh dan hanya tangis yang dilakukannya, ingin berteriak tapi di ancam oleh Guno.
" Sekali kamu buat ku panik, akan ku habisi dirimu! "
Pasrah dan menyerah.
**************************
Libur!
Grup sekolah membuat pengumuman mendadak untuk pembelajaran hari ini hanya dilakukan dirumah saja via online. Yang wajib datang ke sekolah hanya guru, karena akan ada beberapa point kebijakan sekolah dirubah, kemudian tatanan pembelajaran, juga fasilitas sekolah.
Guno sebagai salah satu guru yang dipercaya pak kepala sekolah hanya bisa manggut, menyetujui semua perkataan beliau. Mungkin untuk guru yang lain hal seperti ini sudah biasa namun tidak untuk Irfan.
Baru kali ini dia merasa benci dengan Guno yang berlagak seperti tidak terjadi apa - apa pada Tama. Beberapa kali Irfan melihat Guno yang nampak serius dalam menanggapi pembicaraan pak kepala sekolah.
Jari jemarinya saling meremas, gemas, dan ingin segera berhadapan dengan lelaki keparat yang menurutnya Guno tak pantas untuk hidup.
Guno sendiri merasa dirinya ada yang memperhatikan, pandangan matanya menyebar keseluruh guru yang duduk, menunduk mendengar suara pak kepala sekolah tapi... Tidak dengan Irfan yang rupanya dia menatap wajah Guno tanpa mengedip sama sekali.
Guno tak tahu kenapa Irfan bisa melihatnya sampai seperti itu, Guno hanya bisa membalas dengan menatapnya kembali sembari menaikan satu alis kanannya. Seperti seseorang yang sedang menantang dan bertanya " Kenapa? ".
Tak terasa waktupun berlalu, dirinya bersiap untuk pulang tapi, sesuai rencana Irfan. Guno berhasil dihadang olehnya disaat semua guru termasuk kepala sekolah sudah bubar. Guno melihat Irfan dari atas sampai bawah lalu dirinya menghembuskan nafas berat.
" Ada apa pak Irfan?! " Tanya Guno sedikit malas namun nada bicaranya naik beberapa oktaf.
" Lu jangan berlagak bego deh! " Kata Irfan sembari menyimpan tas kerjanya ke meja Guno.
" Bego? " Guno kembali bertanya.
Wajah Irfan tengok kanan kiri kemudian dirasa sudah aman tidak ada yang melihat mereka, Irfan langsung meremas kerah baju milik Guno dengan wajah yang sudah merah padam dan berbicara sembari mengigit giginya sendiri.
" Lu apain Tama goblok?! "
Guno merasa tercekik! Pun rahangnya mengeras, dengan air mata yang sedari tadi Irfan tahan kini jatuh juga ke pipinya didepan Guno.
" Tama depresi sekarang! Dia merasa kotor, gak mau makan, gak mau minum karena ulah siapa? Hah! Ulah lu anjing! "
Badan Irfan lebih kecil dari Guno namun mungkin sangking marahnya, tenaga Guno semalam yang bisa mengobrak Abrik Tama kini ciut, tak terpakai untuk melawan Irfan.
" Lu itu guru tai! Lu itu bapak disekolah! Tapi bisa - bisanya lu manfaatkan reputasi elu untuk menghancurkan masa depan anak didik lu! Pikiran lu dimana?!!!! " Suara Irfan ternyata semakin lama semakin menggema dikantor guru dan hal itu mengundang Dika, Fahri datang untuk memisahkan mereka.
Dika dan Fahri berlari, terlebih dulu mereka melepas Guno dari genggaman Irfan yang sedari tadi ternyata cengkraman tangannya sudah ada dititik mencekik leher Guno.
" Nyebut Fan nyebut! " Ucap Fahri pada Irfan yang masih marah besar.
" Kalian berdua ada masalah apa? Jangan tiba - tiba berantem begini dong! Kalau kelepasan setan gimana, emang mau salah satu diantara kalian tanggung jawab atas kelakuan kalian sendiri? kalian guru loh! " Dika menegur Irfan dan Guno.
Pun Guno yang sekarang sudah merasa aman, dia duduk dikursi kerjanya sembari mengatur nafas dengan kepala mendongak ke plafon. Sedangkan Irfan dia ditahan oleh Fahri, nafas Irfan masih menggebu seperti ingin menghajar Guno sampai mati.
" Nyebut Fan, gak biasanya lu begini?! " Fahri masih terus menyadarkan emosi Irfan yang belum mereda.
Dika menunjuk cctv kantor guru,
" Tuh! Disana ada cctv! Untung yang ngatur pak Ilham coba kalau pak kepala lihat langsung, apa gak kena surat peringatan kalian? "
Muak mendengar nasihat Dika yang berulang kali mengingatkan mereka tentang pertengkaran ini akhirnya Irfan angkat bicara.
Tangannya menunjuk gemetar kepada Guno yang masih menenangkan diri.
" Si bangsat itu! Sudah melecehkan anak didiknya sendiri! "
Fahri, Dika dan Guno langsung terkejut mendengar hal tersebut keluar dari mulut seorang Irfan. Guno langsung berdiri, Guno berjalan perlahan ke arah Irfan dengan sedikit gemetar, dia berusaha menatap pria yang tahu kebusukannya.
" Kapan? Siapa yang gue lecehin? " Tanya Guno meskipun sebenarnya Guno sendiri takut kalau Irfan memiliki bukti.
" Malam tadi... Lu perkosa Tama di pekarang rumah orang, ngaku! Gak usah sok bodoh! "
Kening Guno mengerenyit,
" Malam tadi? Malam tadi gue party disini, lu tanya aja Dika sama Fahri "
Irfan menelan ludahnya sendiri kemudian dia mengambil ponsel dari sakunya lalu jari jemarinya menari di atas layar ponsel. Ditemukannya sebuah video kemudian di putar langsung diperlihatkan kepada mereka semua yang ada di kantor guru.