Gadis Bar Bar Untuk Dokter Arogan
Reihan Darendra Atmaja, pria berusia 27 tahun yang merupakan seorang Dokter yang terkenal sangat arogan namun ketampanan pria itu sangat menghipnotis siapa saja yang menatapnya. Ia merupakan putra kedua dari Kalendra Atmaja, pemilik rumah sakit tempat Reihan bekerja.
Sudah setahun ini entah sudah berapa perawat yang mengundurkan diri sebagai asistennya. Pria yang merupakan Dokter spesialis penyakit dalam itu selalu bersikap arogan pada asistennya berbeda jika pria itu berhadapan dengan pasien, pria itu akan bersikap ramah.
Dan pagi ini Reihan sudah tampak rapi dengan pakaian kerjanya. Pria itu langsung melangkah menuju meja makan di mana Papi dan Maminya sudah menunggunya.
"Selamat pagi Mami, Papi," sapa Reihan langsung duduk.
"Pagi Rei. Ini sarapanmu!," jawab Dea memberikan sepiring nasi goreng pada putra bungsunya yang sampai hari masih betah melajang diusianya yang menginjak 27 tahun. Entah kapan putra bungsunya ini akan mengenalkan seorang gadis padanya sungguh ia tidak sabar untuk itu.
"Terimakasih Mi. Kak Rania jadi pulang hari ini?," tanya Reihan yang akan menyuap makanannya. Rania, Kakaknya sudah menikah dan memiliki anak dan saat ini tinggal di luar negeri bersama suaminya yang berprofesi sebagai pilot.
"Rencananya begitu. Tapi Kakak kamu itu belum memberikan kabarnya pada Mami," jawab Dea.
"Rei...Mami mau tanya sama kamu dan ini serius. Kamu belum ada niatan untuk menikah?," tanya Dea. Ia cukup kuatir di usia yang sudah memasuki angka dua puluh tujuh anak bungsunya ini masih betah melajang.
"Sayang... biarkan Rei menentukan kapan dia siap untuk menikah. Jangan memaksanya sayang, mungkin dia belum memiliki kekasih yang benar-benar tepat ia jadikan pasangan hidup," bela Kalen. Ia tidak ingin anaknya salah langkah seperti dirinya dulu yang pernah menjalin hubungan dengan seorang wanita yang salah.
"Kamu selalu saja begitu By, kamu terus saja membela Rei," ucap Dea merenggut kesal karena Kalen selalu saja membela Reihan.
Sementara Reihan tidak menanggapi ucapan Mami dan Papinya. Dia malah fokus pada makanannya, hal itu sudah biasa baginya satu tahun ini. Maminya selalu saja bertanya kapan dia akan menikah. Ia bukannya tidak mau menikah tapi ia saat ini ingin fokus pada karirnya terlebih dahulu.
"Mi..Rei berangkat dulu," ucap Reihan berdiri dari duduknya lalu menyalami punggung tangan Dea dan Kalen.
"Iya...," jawab Dea dengan ketus.
"Jangan di ambil hati ucapan Mamimu Rei," ucap Kalen saat Kalen menyalami tangannya.
Reihan tetap dengan wajah datarnya dan tidak menjawab ucapan Papinya. Pria itu melangkah meninggalkan ruang makan karena kurang dari satu jam lagi ia ada jadwal operasi.
Reihan menjalankan mobilnya meninggalkan kediaman orangtuanya. Ia memang sudah memiliki hunian sendiri tapi ia tidak tega meninggalkan kedua orangtuanya berdua di rumah sebesar itu. Apalagi Kakaknya yang juga berprofesi sebagai dokter malah berkarir di rumah sakit yang berada di Singapura dan menetap di sana.
Sesampainya di rumah sakit, Reihan langsung turun dari mobilnya dan berjalan masuk ke dalam rumah sakit. Sudah dua hari ini ia bekerja tanpa asistennya dan itu cukup membuatnya kerepotan. Ia memecat asistennya hanya karena datang terlambat, ia tidak suka dengan orang yang tidak menghargai waktu.
Kedatangannya menjadi pusat perhatian namun tidak ada satu orang pun yang berani berniat untuk mendekatinya karena mereka takut akan kehilangan pekerjaannya. Reihan tidak akan berpikir panjang untuk memecat siapapun yang berusaha untuk menggodanya. Ia memang arogan dan sulit untuk di dekati oleh wanita manapun.
"Rei...baru datang?", tanya Aiden yang juga seorang dokter spesialis anak. Aiden adalah Kakak sepupunya yang lebih dulu bekerja di rumah sakit itu. Aiden juga sama dengan Reihan di usianya yang sudah menginjak tiga puluh tahun belum kunjung menikah tapi bedanya dia sudah bertunangan hanya saja tunangannya masih koas di rumah sakit ini.
Reihan mengangguk pelan."Iya Kak," angguk Reihan.
"Rei... apakah kamu akan datang ke ulang tahun perusahaan Papi mu?," tanya Aiden yang diminta Bundanya untuk datang menggantikan mereka karena sedang berada diluar kota mengadakan seminar di sebuah perguruan tinggi. Dan ia malas datang sendirian apalagi Reska tunangannya tidak bisa di ajak karena ada pekerjaan.
"Tidak...aku tidak suka acara seperti itu," jawab Reihan.
"Aku sebenarnya juga malas untuk datang tapi Papa memaksaku untuk datang menggantikannya," ucap Aiden terlihat lesu.
"Kamu bisa datang bersama tunanganmu Kak," jawab Reihan.
"Reska ada shift malam," ucap Aiden.
"Kalau begitu tidak usah datang," jawab Reihan sekenanya.
"Ya... mungkin kamu benar Rei" angguk Aiden membenarkan ucapan sepupunya itu. Ia malas datang jika tidak bersama tunangannya.
"Oh ya aku dengar kamu memecat assisten mu lagi?," tanya Aiden. Mudah baginya mendapat informasi terbaru dari adik sepupunya ini, meski Reihan terkenal kanebo kering tapi banyak para Dokter wanita maupun perawat yang membicarakannya.
"Hmm..."
"Oh ya...teman Reska baru saja lulus dari sekolah perawat dan lagi mencari pekerjaan. Mungkin bisa bekerja sebagai asisten mu?," tanya Aiden.
"Tenang...aku jamin dia tidak akan menggoda mu. Meski sedikit bar bar aku rasa dia bisa mengimbangi mu dalam bekerja," sambung Aiden melihat tatapan tajam dari adik sepupunya itu.
"Minta dia mengirimkan lamarannya," jawab Reihan lalu masuk ke dalam ruangannya.
***
"Jessi...aku ada kabar gembira untuk kamu," ucap Reska pada sahabatnya. Ia sengaja meminta Jessi untuk bertemu dengannya siang ini di restoran yang tidak jauh dari rumah sakit tempat ia koas.
"Ada apa?," tanya Jessi menyeruput es jeruk yang baru saja ia pesan.
"Ada lowongan pekerjaan untuk kamu di rumah sakit tempat aku koas," jawab Reska.
"Benarkah?," tanya Jessi dengan mata berbinar. Ia sudah sebulan ini mengirimkan lamaran pekerjaan ke beberapa rumah sakit tapi tidak kunjung mendapatkan panggilan pekerjaan.
"Iya. Kak Aiden bilang ada lowongan untuk menjadi asisten Dokter spesialis penyakit dalam. Dan kamu tahu gaji sebagai asisten itu tidak kaleng-kaleng. Kamu bisa membawa ibumu berobat dari gaji yang kamu dapatkan nantinya," jawab Reska.
"Tapi apakah aku akan bisa Res, aku belum memiliki pengalaman pekerjaan," tanya Jessi.
"Kamu pasti bisa asalkan mau belajar," jawab Reska.
"Baiklah akan aku coba. Aku harus mendapatkan biaya berobat untuk ibuku, Res," ucap Jessi Dengan penuh semangat.
"Kalau begitu aku pamit dulu, jam istirahatku sudah hampir habis. Ingat jangan lupa kirim lamarannya ke email yang nanti akan aku kirimkan," jawab Reska berdiri dari duduknya.
"Iya... terimakasih ya Res, informasinya," ucapan Jessi melambaikan tangannya pada Reska.
"Sama sama," angguk Reska.
Jessi Avelia gadis cantik yang baru beberapa bulan yang lalu menamatkan pendidikannya di jurusan keperawatan yang harus menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggalkannya dan Ibunya 15 tahun yang lalu dan kini sang ibu tengah berjuang untuk sembuh dari sakit stroke yang dideritanya.
Jessi keluar dari restoran setelah membayar pesanan makanannya. Namun saat akan membuka pintu gadis itu tidak sengaja ditabrak seseorang yang membuatnya tubuhnya terpental ke belakang.
"Aduh...," ringis Jessi merasakan sakit di bokongnya. Beruntung restoran tidak begitu ramai jadi ia tidak begitu malu.
"Kalau jalan itu lihat jalan," ucap orang itu dengan pedasnya.
Jessi mengepalkan kedua tangannya, jelas orang itu yang menabrak tapi malah menyalahkannya. Jessi segara berdiri dan menatap orang itu dengan tajamnya."Bukankah anda yang menabrak saya lalu mengapa anda malah menyalahkan ku," jawab Jessi dengan beraninya, pantang baginya untuk ditindas.
"Dasar gadis bar bar," ejek orang itu lalu berlalu meninggalkan Jessi.
...****************...
Maaf ya jika kelanjutan cerita ini sempat author pending karena author membuatkan lapak sendiri untuk cerita ini. Dan kalian yang bingung dengan alurnya silahkan baca dulu Cinta tuan Dokter yang posesif.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 24 Episodes
Comments