Rahasia Sang Wanita Besi
Sebagai sekretaris pribadi, Evelyn dikenal sempurna—tepat waktu, efisien, dan tanpa cela. Ia bekerja tanpa lelah, nyaris seperti robot tanpa emosi. Namun, di balik ketenangannya, bosnya, Adrian Lancaster, mulai menyadari sesuatu yang aneh. Semakin ia mendekat, semakin banyak rahasia yang terungkap.
Siapa sebenarnya Evelyn? Mengapa ia tidak pernah terlihat lelah atau melakukan kesalahan? Saat cinta mulai tumbuh di antara mereka, misteri di balik sosok "Wanita Besi" ini pun perlahan terkuak—dan jawabannya jauh lebih mengejutkan dari yang pernah dibayangkan Adrian.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nuah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19: Jejak yang Terlupakan
Evelyn dan Zayne mengikuti pria itu melalui lorong-lorong gelap yang seakan tak berujung. Setiap langkah mereka terasa semakin berat, seolah dunia di sekitar mereka semakin mengungkung. Tidak ada suara kecuali langkah kaki mereka yang menggema, dan setiap dinding yang mereka lewati seolah memiliki kisah kelam yang tersimpan di dalamnya.
Zayne berjalan di samping Evelyn, matanya waspada, siap untuk menyerang jika terjadi sesuatu yang mencurigakan. Meskipun dia tak sepenuhnya percaya dengan apa yang sedang terjadi, dia tahu satu hal: mereka tidak punya pilihan selain mengikuti pria misterius itu untuk sekarang.
“Apa yang sebenarnya kita cari di sini?” tanya Evelyn, berusaha memecah kesunyian yang mencekam. Suaranya terdengar lebih tenang daripada yang dirasakannya, namun dalam hatinya, gelombang kebingungannya semakin besar.
Pria itu tidak segera menjawab. Dia melangkah dengan percaya diri, seolah ruangan ini adalah rumahnya. Evelyn merasa ada sesuatu yang tidak beres, namun dia juga tidak tahu apakah mereka memiliki cukup kekuatan untuk melawan semua ini. Semua yang mereka ketahui tentang Crimson Order sepertinya hanyalah permukaan dari apa yang sebenarnya ada di bawahnya.
Setelah beberapa saat, mereka tiba di sebuah pintu besar yang terbuat dari baja, terkunci rapat. Pria itu menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah mereka, senyum tipis terlihat di wajahnya.
“Ini adalah tempat yang kita tuju,” katanya. “Di balik pintu ini, kalian akan tahu lebih banyak tentang apa yang terjadi, dan mengapa kalian berdua ada di sini.”
Evelyn merasakan ketegangan yang semakin meningkat. Jantungnya berdetak kencang. Pintu ini tidak hanya terbuat dari baja, tapi juga terasa seperti pintu yang menghalangi akses menuju kebenaran yang seharusnya tidak mereka ketahui. Dia tidak bisa memungkiri rasa takut yang menggerayangi dirinya.
Zayne, yang tetap tenang namun penuh kewaspadaan, mendekati pintu itu. “Apa yang ada di dalam?” tanyanya, suara dinginnya mencerminkan keraguannya.
Pria itu hanya tertawa pelan. “Kalian akan segera tahu. Tetapi sebelum kalian masuk, ada satu hal yang harus kalian mengerti. Kalian tidak akan bisa kembali begitu kalian memasuki ruangan ini. Apa yang kalian pelajari di dalam akan mengubah segalanya.”
Evelyn menatap pria itu dengan tajam. “Apa maksudmu? Mengubah apa?”
Pria itu tidak menjawab, hanya melangkah maju dan mengetuk pintu baja itu dengan kode yang tampaknya sudah dikenal oleh dirinya. Dengan suara berderak yang keras, pintu itu perlahan terbuka. Di baliknya, sebuah ruangan besar yang hampir sepenuhnya gelap, kecuali beberapa lampu yang tampak temaram di sudut-sudutnya.
Evelyn dan Zayne melangkah masuk tanpa ragu, meskipun perasaan mereka campur aduk. Begitu kaki mereka menjejakkan tanah di dalam, pintu itu tertutup dengan sendirinya, membuat mereka terkurung dalam kegelapan yang menakutkan. Hanya suara derap kaki mereka yang bisa terdengar.
Ketika mata mereka mulai terbiasa dengan kegelapan, mereka melihat sejumlah layar besar yang dipasang di sekitar ruangan. Layar-layar itu menampilkan berbagai gambar, informasi, dan bahkan percakapan yang sepertinya sudah diprogram untuk mengalir tanpa henti.
“Apa ini?” tanya Zayne, suaranya terkejut saat melihat gambar-gambar yang terputar di layar. “Kenapa ini semua ada di sini?”
Pria itu bergerak lebih dekat ke salah satu layar dan menatap Evelyn dan Zayne. “Ini adalah apa yang disebut ‘The Archive’. Tempat di mana semua informasi tentang Crimson Order dan segala sesuatu yang mereka lakukan disimpan. Ini bukan hanya tentang organisasi kami—ini tentang sejarah yang lebih besar. Sejarah yang kalian tidak tahu.”
Evelyn merasa gelisah, namun matanya tak bisa lepas dari layar. Gambar-gambar yang berputar di depan mereka seakan menunjukkan potongan-potongan informasi yang begitu besar dan rumit. Di salah satu layar, ada gambar sosok yang familiar, namun tidak jelas siapa dia. Dia melihat seseorang mengenakan pelindung tubuh yang mirip dengan yang digunakan oleh prajurit Crimson Order.
“Apa itu?” tanya Evelyn, menunjuk ke layar dengan tangan gemetar.
Pria itu melirik sekilas sebelum menjawab, “Itu adalah rekaman dari kejadian yang lebih dari sepuluh tahun lalu. Ketika organisasi ini pertama kali dibentuk. Anggota yang kalian lihat di sana bukanlah manusia biasa. Mereka adalah hasil dari eksperimen yang lebih besar. Dan kalian berdua terhubung dengan eksperimen ini, meskipun kalian tidak tahu.”
Zayne mencengkeram tangan Evelyn dengan erat, perasaan cemasnya semakin tumbuh. “Apa yang kamu katakan? Kami tidak terlibat dalam eksperimen apapun.”
Pria itu menghela napas pelan, seolah mengetahui apa yang akan mereka katakan. “Kalian berdua—Evelyn, Zayne—adalah bagian dari sebuah rencana yang jauh lebih besar dari yang kalian bayangkan. Kalian dipilih untuk menjadi penghubung, dan meskipun kalian tidak tahu, kalian adalah bagian dari DNA yang sudah lama ditanamkan di dalam tubuh kalian sejak lahir.”
Evelyn merasa seperti dunia di sekitarnya runtuh. Apa yang dia dengar sangat sulit untuk diterima. Dia merasa seperti telah hidup dalam kebohongan selama ini, dan sekarang segalanya terbuka di depannya dengan cara yang begitu mengejutkan.
“Tidak... itu tidak mungkin,” kata Evelyn, berusaha menepis kenyataan yang baru saja diungkapkan. “Kami bukan bagian dari eksperimen apapun.”
Pria itu menatapnya dengan penuh keyakinan. “Kalian tidak hanya bagian dari eksperimen, Evelyn. Kalian adalah hasil dari itu. Kalian berdua adalah kekuatan yang lebih besar daripada yang kalian bayangkan. Dan kini, kalian akan belajar untuk mengendalikan kekuatan itu.”
Evelyn mundur beberapa langkah, cemas. “Apa yang kalian inginkan dariku?”
Pria itu tersenyum dengan tipis, senyuman yang penuh rahasia. “Aku ingin kalian bergabung dengan kami. Aku ingin kalian membantu kami menyelesaikan rencana besar yang sudah dimulai bertahun-tahun yang lalu.”
Zayne menatap pria itu dengan tajam. “Kami tidak akan bekerja sama denganmu. Kami akan berhenti di sini.”
Namun, sebelum dia bisa berkata lebih lanjut, sebuah suara keras menggema di seluruh ruangan. Tiba-tiba, dinding-dinding ruangan mulai berguncang, dan layar-layar di sekitar mereka menunjukkan gambar-gambar yang semakin cepat dan semakin kacau.
Pria itu melirik Evelyn dan Zayne dengan tajam, matanya penuh peringatan. “Kalian telah membuat pilihan yang salah.”
Kedua layar besar itu tiba-tiba menyala, memperlihatkan sebuah gambar yang lebih besar, lebih mengerikan. Seperti potongan-potongan puzzle yang sedang disatukan.
“Tidak ada jalan kembali,” pria itu berkata pelan. “Kalian akan segera tahu kebenaran yang lebih besar dari yang kalian pikirkan.”
.
.
.
Lelah dengan kisah yang penuh dengan teka teki, aku punya rekomen kisah imut cute dan bucin gak ngotak kawan.
Ini kisahnya rada bucin manis manis manjaah, buat kiw kiw ah gitumah cucok tapi masih dalam zona aman.
Klik link di bawah ini
Kalo berkenan boleh singgah ke "Pesan Masa Lalu" dan berikan ulasan di sana🤩
Mari saling mendukung🤗