Di usianya yang masih dua puluh lima tahun, Alice telah menjadi janda. Suaminya meninggal di sebuah kecelakaan dengan wanita lain dan mewariskan banyak hutang gelap yang baru ia ketahui keberadaanya setelah kematian suaminya.
Usahanya terancam bangkrut dan seluruh propertinya terancam hilang sebagai jaminan hutang. Dia tak memiliki apa pun lagi dalam hidupnya.
Dengan penuh tekad, dia memutuskan untuk bertindak gila. Dia akan menawarkan diri menjadi wanita simpanan. Tidak masalah siapa pun yang akan menjadi lelakinya, asalkan ia kaya dan mampu membayarnya dengan mahal.
Jika ini satu-satunya cara untuk menyelamatkan apa yang masih Tuhan sisakan untuknya, ia tak akan mundur meski moralnya terancam akan hancur.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siti Zulfya Fauziyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
SEMBILAN BELAS
Alice berhasil dibawa ke rumah sakit terdekat oleh Rachel. Karena ketubanya telah pecah, dia harus diinduksi terlebih dahulu untuk membuat kontraksinya terjadi. Empat jam berlalu tanpa terjadi apa-apa. Alice mulai khawatir. Sementara Rachel yang berada di sisinya, tampak lebih kacau lagi. Dia telah menghubungi Anson dan William atas permintaan Alice.
"Ah ... " Rachel menjerit pelan, merasakan kontraksinya mulai terjadi.
"Apakah semuanya baik-baik saja?" Rachel menggenggam lengan Alice erat. Dia menatap seorang perawat yang berdiri santai tak jauh dari mereka.
"Bisakah kau melakukan sesuatu padanya?" Rachel merasa kesal dengan perawat yang menyebalkan itu.
"Ms. White baru saja merasakan kontraksi pertamanya. Mungkin baru beberapa jam lagi bayinya berhasil keluar. Aku akan meninggalkan kalian dulu," katanya tanpa rasa bersalah meninggalkan mereka.
"Ya Tuhan, akan ku bunuh perawat itu. Bisa-bisanya dia meninggalkanmu dalam keadaan begini. " Rachel meradang.
"Bagaimana Anson?" tanya Alice ingin tahu.
"Dia sedang terbang ke sini tiga jam lalu. Sebentar lagi pasti tiba. William sudah tiba di sini dari tadi. Lelaki tua itu ikut khawatir setengah mati. Seandainya saja aku tak melihatmu kesakitan, aku pasti akan menikmati wajah keriputnya yang menyedihkan." William memang selalu berekspresi datar. Alice terhibur mendengar lelaki itu mampu merasa khawatir.
Kontraksi Alice berlangsung lebih cepat dari yang diprediksikan. Dia sudah nyaris ditahap akhir saat Anson mendatanginya dengan raut muka yang sangat kacau. Seorang dokter dan dua orang perawat mendampingi Alice.
"Ya Tuhan Alice. Kupikir dia baru akan keluar sebulan lagi." Anson menatap tak percaya. Dia melihat Alice yang mulai mengejan mengikuti instruksi dokter. Rachel yang melihat kedatangan Anson, memilih keluar.
"Anak ini memilih waktu sendiri untuk melihat dunia, Anson," Kata Alice kepayahan. Wajahnya telah bersimbah keringat.
"Bisakah kau mengejan lebih kuat dikontraksi berikutnya? Tarik nafas yang panjang, dan tekan tenagamu lebih kuat. Kepalanya sudah mulai muncul. Kau harus bisa mengeluarkanya. Setelah kepalanya muncul, kami akan menarik tubuhnya!" Perintah sang dokter membenarkan posisi kaki Alice agar lebih kuat mengejan.
"Ayo Alice, kau pasti bisa," pinta Anson menggenggam lengan Alice.
Alice mencengkeram kepala ranjang lebih erat. Dia menarik nafas panjang, menunggu kontraksi berikutnya. Dengan sepenuh tenaga, dia mulai mengejan.
"Aaaaaaaaaaaahhhh"
"Bagus, teruskan ... kepalanya mulai muncul ... ayo sekali lagi."
"Ahhh hah hah aaaaaaahhh." Alice merasakan sensasi panas yang semakin menyengat. Kepala bayinya keluar perlahan. Dengan sigap, sang dokter menarik kepala makhluk mungil itu dan membuat tubuhnya terbebas sepenuhnya.
Sebuah tangisan bayi terdengar menyayat. Suaranya keras dan menulikan telinga. Dengan tersenyum, Alice menatap makhluk kecil yang tengah dibersihkan oleh dokter.
"Bersiaplah untuk mengeluarkan plasentanya," ujar sang dokter menyerahkan bayi tersebut pada Anson dan membimbing Alice kembali.
Alice menatap kebahagiaan yang terpancar jelas dari raut muka Anson. Wajah lelaki itu melembut mengamati keajaiban mungil dalam gendonganya.
"Bagus." Sang dokter berkata puas. Dia mengambil bayi itu dari tangan Anson dan membaringkanya di dada Alice. Katanya untuk melakukan skin to skin contact.
Alice mengamati wajah bayi lelakinya perlahan. Rambutnya hitam lebat dan matanya hitam. Tekstur wajah dan rambutnya ia warisi dari Anson. Kemiripan mereka nyaris sempurna. Mulutnya bergerak-gerak gelisah menciptakan suara cecapan kecil.
"Bayi laki-laki dengan berat tiga koma satu kilogram. Semua kondisi tubuhnya normal dan tak perlu diinkubator karena lahir empat minggu lebih awal. Tak perlu khawatir jika asimu belum keluar. Itu wajar. Dalam satu hingga tiga hari kedapan pasti kelenjar asimu sudah bekerja dengan lancar." Sang dokter berkata menenangkan. Dia mengecek dengan teliti kondisi Alice, memastikan tak terjadi pendarahan susulan. Setelah dua menit menekan perut Alice dan melihat respon rahimnya, dia berujar lega.
"Semuanya normal, Ms. White. Gunakanlah waktumu untuk beristirahat, jika ada keluhan kau bisa memanggil salah satu perawat." Sang Dokter pergi meninggalkan mereka.
"Anson ... Dia benar-benar mirip denganmu," kata Alice bangga menunjukkan putra mereka.
"Ya. Dia luar biasa," katanya takjub. Alice menoleh pada kelaki itu, dan menangkap sekelebat emosi lain yang ganjil. Seperti ada yang tidak beres. Ada apa dengan Anson?
...
Alice telah dirawat selama tiga hari. Keadaanya sudah membaik, namun dokter belum mengijinkanya pulang. Mungkin besok dia bisa membujuk Anson untuk membawanya pulang. Berada di rumah sakit terlalu lama cukup membosankan. Alice takjub bagaimana dulu Anson bisa bertahan di rumah sakit sekian lama setelah kecelakan. Dia saja yang berdiam di sini beberapa hari sudah merasa terpenjara dalam waktu yang cukup lama.
Rachel beberapa kali mengunjunginya. Dia selalu menunggu kesempatan untuk bisa menggendong Axel, bayinya. Makhluk mungil itu benar-benar mampu mengambil perhatian setiap orang. Kimberly pasti tak sabar menunggunya di rumah.
Saat ini Alice tengah sendiri. Anson sedang nembawa pergi Axel untuk berjalan-jalan di taman rumah sakit. Rachel juga tidak mengunjunginya, mungkin dia sibuk dengan pekerjaan yang akhir-akhir ini terbengkalai karena ikut mengurus kelahiran Axel. Managernya pasti sudah menceramahinya dengan seluruh isi wahyu Tuhan. Alice bisa membayangkan bagaimana wajah kesal Rachel menerima semua ocehan atasanya. Menggelikan. Manager Rachel penganut teis sejati, dia selalu membacakan kitab-kitab lama yang terasa asing tentang moral untuk setiap karyawanya yang melanggar peraturan. Rachel menyebutnya sebagai khutbah mingguan.
Pintu terbuka. Anson masuk seorang diri tanpa membawa Axel. Dia melangkah perlahan mendekati Alice.
"Dimana Axel?" tanya Alice.
"Kuletakkan di ruang bayi. Kau butuh istirahat sejenak."
Anson memutari ranjang Alice. Dia berdiri membelakangi Alice menghadap jendela ke arah luar.
"Kau masih tak ingin menikah denganku?" tanya Anson.
"Sudah kukatakan aku tak ingin menikah sebelum ingatanmu kembali." Alice duduk, menghadap punggung Anson.
"Bahkan setelah bayi kita lahir?" Anson bertanya dengan nada yang sedikit menajam. Mungkinkah dia mulai lelah ditolak oleh Alice?
"Jangan membahas hal itu lagi, Anson." Pembicaraan mereka akan semakin memanas jika terus dilanjutkan.
Anson berbalik dengan cepat. Tatapan matanya mengunci Alice dengan cara yang menakutkan.
"Sudah kuduga kau akan mengatakan itu, Alice. Kau pemain sandiwara yang hebat," katanya tersenyum sinis.
Alice menatap Anson tak percaya. Bibirnya gemetar hebat.
"Kau masuk ke dalam kehidupanku, datang saat kondisiku sedang rentan untuk kau manfaatkan dan mengaku sebagai calon tunanganku. Kau hamil anakku bahkan bersedia melahirkanya."
Ya Tuhan. Anson telah mendapatkan ingatanya. Sejak kapan dia mengetahui semua ini?
Alice berdiri meraih Anson dengan lemah, namun segera ditepis olehnya. Tampak kebencian mulai membara melalui sebelah matanya yang tak tertutup.
"Kau telah mengingat semuanya? Sejak kapan Anson?"
"Empat bulan yang lalu, Kenapa? Kau tak membayangkan sandiwaramu hancur secepat ini? Kau wanita rendah yang menawarkan diri demi segepok uang. Aku heran kenapa kau bersikeras mempertahankan janinmu dan tidak menggugurkanya. Bukankah itu lebih mudah bagimu? Oh aku tahu. Karena janin itu bisa menjadi alat tukar uang. Selama janin itu berada dalam perutmu, kau memiliki kesempatan untuk mengambil semua keuntungan material dariku,benar bukan?"
Alice tak pernah menyangka kata-kata memiliki kekuatan untuk menggores hati seseorang dengan sangat tajam. Jika saja kata-kata Anson bisa ditampilkan secara visual, pasti ribuan belati telah berhasil ia torehkan untuk Alice.
Anson telah mendapatkan ingatanya empat bulan yang lalu. Itu artinya, semua yang ia lakukan pada Alice selama ini hanya sandiwara? Makan malam romantis mereka, kegiatan percintaan mereka, perhatianya, semuanya tak memiliki arti?
"Aku menunggumu selama empat bulan. Aku penasaran sejauh mana sandiwaramu berlangsung. Kuputuskan untuk ikut bermain peran dengamu. Jika kau bisa berpura-pura, kenapa aku tidak?"
"Aku mengaku sebagai calon tunanganmu karena aku tahu itulah satu-satunya cara agar kau mengijinkanku untuk mendekatimu. Aku memang membohongimu, tapi bisakah kau melihat ketulusanku, Anson?"
Anson berjalan memutari ranjang, menatap Alice dan tertawa getir mendengar penjelasanya.
"Kalau begitu kenapa kau tidak menerima lamaranku? Bukankah menikah denganku akan lebih menjamin finansialmu, Alice? Tujuanmu bisa tercapai dengan mudah. Tapi aku tahu bagaimana otak licikmu itu bekerja. Kau menolak menikahiku, semata-mata karena tak ingin terikat dengan lelaki cacat sepertiku. Karena jika kau menikahiku, kau tak bisa bermain-main denganku lagi dan harus terjebak padaku selamanya."
Alice menggeleng lemah. Bukan seperti itu yang Alice harapkan.
"Aku tak ingin menikah karena aku tak ingin dinilai menjebakmu, Anson. Jika aku menikahimu, saat ingatanmu kembali kau pasti akan mengira aku berniat menguasai hartamu dengan cara mengikat diriku melalui perkawinan." Alice mencoba membujuk Anson. Dia dengan sabar mendekati lelaki yang terlanjur dicintainya itu.
"Kau wanita hebat yang pintar berkata-kata Alice, kau bahkan sudah menyiapkan alasan hebat dalam situasi yang seperti ini. Aku tahu kau bertahan disisiku, tanpa ikatan, hanya untuk mengambil semua keuntungan dari perhatianku. Saat kelicikanmu terbongkar, kau bisa melarikan diri dariku tanpa harus terjebak denganku."
"Kau berhasil dengan gemilang. Tapi tak apa. Semua perhiasan dan danaku yang terlanjur kuberikan pada perusahaanmu adalah hal yang setimpal untuk membayar kebodohanku sendiri."
Bukankah semua itu Anson yang memberikanya secara suka rela? Kenapa sekarang ia yang dituduh memanipulasi atas tindakan Anson?
"Aku akan mengembalikanya jika itu bisa membuat hubungan kita bertahan, Anson." Alice menyerah kalah.
"Tentu saja kau akan mengatakan apapun untuk mempertahankanku. Mengembalikan semua itu setimpal untuk mendapatkan semua kekayaanku yang sebenarnya."
Ya Tuhan. Dia selalu dinilai salah. Terbuat dari apa otak lelaki itu?
"Apa yang harus kulakukan agar kau percaya padaku, Anson?" Alice menggenggam kaki ranjang dengan lemah. Dia tak tahu lagi harus menjelaskan dengan cara yang bagaimana agar Anson percaya.
"Kau bisa mengambil semua uang dan perhiasan itu. Tetapi kau harus pergi dari hidupku, jangan bersinggungan lagi denganku. Biarkan aku hidup dengan tenang bersama putraku. Aku telah melakukan tes DNA. Aku tak menyangka wanita serendah dirimu bisa mengandung darah dagingku."
Alice terbelalak. Dia berniat mengambil Axel? Darinya? Tidak mungkin.
"Kau tak mungkin bisa mengambilnya. Dia milikku. Aku tak akan menyerahkanya." Alice berteriak marah.
"Kau ingin tetap mempertahankanya? Agar aku bisa selalu mendonorkan uangku padamu sepanjang hidupmu?" Anson bertanya sinis. Memandang rendah Alice.
"******** kau Anson. Kau tak bisa mengancamnku. Secara hukum akulah ibu kandungnya."
"Secara hukum aku juga ayah biologisnya. Aku akan tetap mendapatkan Axel meskipun harus melewati pengadilan. Kau fikir setelah aku membeberkan moralmu yang rendah, apakah hakim akan memberikan hak asuhnya padamu? Aku memiliki kekuatan untuk menggerakkan hukum agar berpihak padaku, Alice."
Anson berjalan dengan langkah yang terkendali meninggalkan Alice.
"Ingat. Jangan sentuh hidupku lagi. Aku bisa memanjakanmu selama ini. Namun aku juga bisa menghancurkan apapun yang kau miliki. Percayalah Alice, aku bisa membuatmu sangat menderita jika berani melawanku."
Anson menghilang ke balik pintu, meninggalkan banyak duka yang tak terucap.
Alice terduduk tak berdaya. Kekuatanya seperti hilang ditelan bumi. Seluruh tulang-tulangnya kehilangan fungsi. Airmatanya tak lagi mampu ia bendung. Dadanya terasa sesak mencari penyaluran.
Akhirnya ... semua ini berakhir juga. Setelah hari-hari yang ia lalui dengan ketakutan. Setelah detik yang ia jalani dengan antisipasi, tragedi itu tetap saja menyapanya.
Alice bergerak gelisah. Axel. Dia harus melihatnya sekarang. Dengan tenaga yang tersisa, ia berlari kesetanan ke ruang bayi. Alice seperti orang gila yang mencari anaknya. Dia berteriak memanggil setiap perawat.
"Dimana bayiku? Bukankah disini? Kenapa aku tak melihatnya?" tanya alice mencengkeram kerah salah satu perawat.
"Ms. White, putra anda telah dibawa pulang oleh Mr. Mallory dua jam yang lalu. Dia telah menyelesaikan seluruh administrasinya," kata seorang perawat mencoba menenangkan.
"Apa? Bagaimana kalian bisa menyerahkanya pada dia? dia putraku ... bagaimana kalian bisa melakukan hal itu. Kembalikan putraku sekarang." Alice semakin kesetanan. Dia mendorong siapapun yang mencoba menenangkan dirinya.
"Kemana putraku? Dimana kalian sembunyikan?"
"Ms. White, Tuan adalah ayah biologis putra anda. Dia telah mengurus semuanya dengan kuasa hukumnya hari ini," jelas William tiba-tiba. Kepala pelayan itu berdiri dengan kepala sedikit tertunduk.
"Oh tidak. Putraku ... Ya tuhan ... Jangan putraku ...."
"Ms. White. Saya kesini untuk mengurus kepulangan anda dan membawakan barang-barang juga perhiasan yang anda miliki dari rumah Tuan. Mulai hari ini anda akan kembali ke rumah lama anda."
Alice sudah tak bisa mendengar apapun lagi dari William. Kesadaranya telah hilang. Dia terbaring tak berdaya di lantai rumah sakit yang dingin.
Dengan sikap kebapakan, William menggendong Alice hati-hati.
...
Sekalian rekomen buat yang kesusahan nyari novel yang seru dan bagus, mending coba baca yang judulnya Caraku Menemukanmu
Kok ga pernah up cerita lagi di NT??