JANGAN BAYANGKAN KISAH CINTA SEPERTI DOTS karena kenyataannya tidak akan pernah semanis itu, jika ingin mengguak akan kerasnya kehidupan pernikahan bersama om loreng.
hidup itu keras jika ingin tahu drama didalamnya, silahkan baca!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon andee Rosalia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19
"Terpijak benang arang, hitam telapak. Barang siapa yang berbuat maka berbuat kesalahan, maka dia sendirilah yang menanggung akibatnya" mungkin kalimat itu yang cocok menggambarkan kondisiku saat ini.
ibarat menjatuhkan kertas dikobaran api maka hancur lebur menjadi abu lalu lenyap dibawa hembusan angin, tak menentu namun jelas tak meninggalkan sisah.
Ya, seperti itulah hubunganku dengan bapak Muhammad Hafis SH segalanya semakin rumit apa lagi kini aku telah menyelesaikan seleksi dan berhasil menjadi salah satu mahasiswa di universitas negeri Malang.
Tidak henti-hentinya aku menggucap syukur akan nikmat yang diberikan allah namun kebahagiaan ternyata bersebrangan dengan lelaki yang telah hidup serumah denganku.
Ingatkan ketika kami belanja aku membayar semua yang ku beli dengan uang pribadiku, dan begitu seterusnya hingga hari dimana kemarahan pria itu terjadi. sepeleh sebenarnya tapi disitu masalahnya. seorang lelaki yang berstatus suamiku itu merasa jika aku menghinanya.
dia nerasa sangat bahkan teramat sanggup untuk membiayai hidupku bahkan segala jerih payahnya sedari dulu bertujuan untuk memberi kehidupan yang layak untuk keluarganya, namun aku tidak pernah menyentuh sepeserpun uang yang tersimpan di ATM merah putih dan katanya itu sebuah bentuk penghinaan.
ATM itu diberikan padaku tepat pada pagi pertama kami sebagai sepasang suami istri. menurutku selama aku belum melakukan kewajibanku sebagai istri aku jadi aku merasa tidak layak untuk dinafkahi olehnya dan selama ini, sampai saat ini aku hanya menunggunya memberiku intrupsi darinya.
bunglon menyangka jika segala tagihan atau bukti pembayaran akan didapatkannya namun nyatanya pas mengecek buku tabungan gajinya tak berkurang sepersen pun hingga kini jadi bisa dikatakan apa yang keluar masuk dalam perutnya itu adalah sumbangan dari ATMku dan itu jelas-jelas melukai harga dirinya.
Yang benar saja deh!!. Melukai harga dirinya dari mana? kurasa apa yang kulakukan hanya sebagai hubungan timbal balik, dirinya telah menampungku lalu aku membalasnya dengan membiayai makan minum kami, bukankah itu sangat mengguntungkan baginya tapi dia tetap saja mencak-mencak dan menggomel tiada henti hingga ketika dirinya lelah sendiri, suamiku itu memilih mendiamiku.
Aksi bungkam telah terjadi diantara kami tapi walau begitu sepertinya memang aku yang salah disini, karena walaupun ku tahu dia marah padaku, bunglon tetap pulang kerumah jika waktu makan siang telah tiba tapi bodohnya aku malah berprasangka jika dirinya sudah sangat membenciku hingga tidak ingin melihatku lagi.
Biar kuberi tahu, ketika Bunglon marah ternyata lebih menyeramkan lagi dibanding saat menggomeliku ini dan itu, jadilah ketika dirinya dirumah aku akan menggurung diri didalam kamar, sedangkan jika dirinya pergi barulah aku bergembira ria dirumah sembari menggisi perutku sepuas hati.
Kami memang sudah sangat jarang bersitatap wajah apalagi kini aku makin sibuk dengan kuliahku, keluar pagi tapi kembalinya agak sore lalu karena aku sudah makan diluar jadi sesampainya dirumah aku hanya membersihkan tubuh lalu tertidur, begitu seterusnya.
menurutku, teman serumahku adalah pria dewasa yang teramat cerdas mencari dan tahu lokasi warung makan sekitar batalyon hingga aku tak perlu khawatir mengenai urusan makannya, tapi ternyata apa yang kulakukan berefek pada kehidupan dan perut sibunglon.
semakin sibuk aku diluar rumah maka semakin terbengkalailah masalah makanannya. Soal bersih membersihkan rumah sih masih bisa kuatasi tapi tidak untuk soal makanan, salahkan lag dia yang juga bodoh kali kenapa tidak menggunakan pesan antar makanan atau membeli makanan jadi di kopresi batalyon kan cara itu sangat mudah.
dengan bodoh lelaki berstatus suamiku itu lebih memilih makan makanan instan seperti mie dan itu terjadi selama dua minggu lebih, akibatnya bunglon tumbang lalu tak sadarkan diri ketika melaksanakan tugasnya.
Kejadian tempo hari itu, aku sedang dikampus mengikuti proses penerimaan mahasiswa baru tiba-tiba dikejutkan oleh telpon dari nomor ibu Hamdan. Sambutan pertama yamg kuterimah adalah semprotan atas keterlambatanku merima telpon, ucapan kedua dirinya dengan perintah mutlak memintaku kerumah sakit khusus untuk prajurit dan keluarganya.
belum sempat berkata bantahan atau sejenisnya telpon diakhiri secara sepihak untungnya otakku sanggup menerimanya secara instan jadi dengan berat hati ku tinggalkan kampus.
kuketuk pintu lalu mendorongnya sedikit demi sedikit hingga terlihatlah seorang lelaki berpakaian ala milliter berdiri memperhatikan wajah seseorang yang terbaring lemah dan ada beberapa infus dengan tiga warna berbeda, tidak jauh dari posisinya kulihat seorang wanita anggun duduk serta menatapku dengan sinis seakan sangat ingin melenyapkan aku saat ini juga.
Dengan kaku akhirnya kudekati mereka dan mengalirkah cerita mengapa bunglon berada dirumah sakit juga sakit apa yang sedang di derita, tidak berakhir sampai disitu karena ternyata berita tumbangnya bunglon sudah sampai ditelinga kedua orangtua Hafiz alias kedua mertuaku, Menyadari akan bertemu mertua seketika bait lagu dewa 19 terniang dikepalaku.
"Setiap ada kamu mengapa jantungku Berdetak lebih kencang, Seperti genderang mau perang. Setiap ada kamu mengapa darahku ini mengalir lebih cepat dari ujung kaki ke hujung kepala. Setiap ada kamu otakku berfikir bagaimana caranya untuk.."
boleh kabur sekarang ngak sih.? ragaku jiwaku tidak sanggup tuhan, ya allah kenapa cobaan silih berganti memelukku saat ini.?
Tante Mia yang kukenal kalem, lembut, dan berwibawa ternyata bisa melupakan semua ketika mendengar jika anak semata wayangnya jatuh pingsan lalu di masukkan ke rumah sakit, hal itu membuatnya harus pontang-panting berlari menggunakan pakaian PSK lengkap dengan atribut-atributnya begitu pun dengan suaminya yang sudah jelas bernama Bagaskara.
Melihat mereka aku hanya bisa memamerkan deretan gigi lalu menyalami mereka berdua, awal kedatangan tante Mia tatapannya seakan setajam katana, bahkan samurainya siap untuk mencincang-cincang tubuhku saat ini juga namun diurungkannya untuk menanyai keadaan anaknya itu.
akhirnya om Hamdan menjelaskan keadaan suamiku dan penyebab terjadinya anak kesayangan mereka berada di rumah sakit untuk sekali lagi.
Kedua mertuaku mendengar itu hanya bisa mengganguk-nganggukkan kepala. Aku tidak berani bersitatap dengan ke empat mata orang tua Hafiz, kuakui aku merasa bersalah dalam hal ini tapi haruskah hanya aku yang selalu di salahkan?. Waktu sudah menunjukkan pukul 04:30 om Hamdan dan istri sudah berpamitan lalu meninggalkan ruang inap bunglon hingga tinggallah kami berempat.
Aura peperangan masih dipancarkan dari tubuh tante Mia, walau dirinya tidak berucap hatinya pasti sedang meradang melihatku yang baik-baik saja sedangkan anaknya harus terbaring lemah.
udah manja dan keras kepala
saya selalu rindu mungkin karena saya orang Bugis JD apa yang diceritakan di dalamnya terasa nyata karena sering melihat seperti itu