Kisah Jerry, Eza dan Nilo seorang wanita 21 tahun yang sangat suka sekali berdiam diri di Rumah dan memiliki ilusi yang sangat kuat.
Bahkan Nilo bisa menceritakan bagaimana rupa suaminya itu, bagaimana mereka menikah, bagaimana mereka melewati malam pertama dengan begitu detail. Namun itu semua hanyalah khayalan Nilo.
Nilo tersesat antara kehidupan nyata dan imajinasinya.
Akankah Nilo tersadar dan bagaimana Nilo menemukan cinta sejatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marimar, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
eps. 19
Satu minggu telah berlalu Nilo masih terus mengelak dari suaminya, beruntunglah suami Nilo tidak memaksakan kehendaknya untuk membuat Nilo melakukan kewajibannya sebagai istri.
Nilo membiasakan dirinya untuk bangun pagi agar ibu mertuanya itu tidak menghina orang tua Nilo menganggap orang tua Nilo tidak membesarkannya dengan baik.
Nilo mulai belajar masak di saat ibu mertuanya itu tidak di rumah, kehidupan Nilo rasanya terbalik 180° setelah menikah sungguhan, walau sebenarnya suami Nilo tidak mengharuskan Nilo bisa memasak karena ia punya koki hebat di rumahnya, namun tetap saja kata-kata dari ibu mertuanya, membuat Nilo tidak bisa diam saja menerima perlakuan itu dan akan membuktikan bahwa ayah dan ibunya sangat baik dalam membesarkannya.
Nilo sangat bekerja keras agar dapat membungkam mulut ibu dari suaminya itu.
Siang hari, sudah waktunya makan siang.
“Ayo kita makan di luar?” ucap suami Nilo saat melihat Nilo sudah meluruskan pinggangnya di tempat tidur sejenak.
Nilo yang tidak pernah keluar dari rumah seperti sedang tertiup angin segar saat mendengar ucapan suaminya itu.
“Benarkah?” tanya Nilo dengan mata berbinar-binar yang sudah berdiri dari tempat tidurnya.
“Ya ayo.” Suami Nilo mendekat dan mengambil tangan Nilo untuk menggandengnya jalan bersama.
Lagi-lagi Nilo mengelak dengan lembut hingga suami Nilo gagal meraih tangan Nilo, bergerak untuk memperlihatkan kondisinya seolah berkata ia berantakan ia harus berganti pakaian terlebih dahulu.
Dengan begitu Nilo tidak terlalu menyakiti hati suaminya itu.
“Mungkin ini karma ku.” dengus suami Nilo di dalam hatinya. Sudah cukup lama untuk mengerti istrinya itu sebagai karma atas dirinya di masa lalu.
Suami Nilo hanya berpikir Nilo tidak siap karena merasa asing dengan dirinya, tapi bukan itulah kenyataannya.
Nilo telah mengganti pakaiannya dan siap pergi bersama dengan suaminya itu.
“Ayo!” ajak Nilo yang sudah siap dan hendak keluar dari pintu kamarnya.
Mereka pun pergi makan siang di luar padahal Nilo sudah membantu koki untuk memasak makan siang.
Nilo yang terbiasa di rumah saja kali ini merasa sangat senang bisa keluar rumah.
Entah sampai kapan aku terus menghindarinya. Batin Nilo seraya berjalan di depan suaminya itu menuju ke dalam mobil.
Di sisi lain, Jerry masih belum berubah, ia benar-benar tidak bisa berpaling dari Nilo, semua kenangannya terus terngiang sudah tertanam dalam pada dirinya.
Namun kini kondisinya sudah sangat jauh dan terasa tidak mungkin untuk di ubah kembali.
Divine pun belum mengetahui permasalahan Jerry, sungguh Jerry merasa sudah terlambat untuk di dibahas kembali, walau ada rasa sangat menyesal pada diri Jerry karena ketertutupan prihal pribadinya saat lalu, tak membuat Jerry kini ingin membeberkan masalahnya itu.
“Hay Jer, ayo turun kita sudah sampai.” Ucap Ben dari luar dengan mengetuk jendela mobil di dekat Jerry yang belum turun juga dari mobil setelah beberapa saat mobil yang mereka kendarai berhenti.
Jerry tersadar dalam lamunannya saat mendengar suara Ben dan keluar dari mobil.
“Kau sungguh tidak baik Jerry, jika kau tak ingin berbagi dengan kami, kau bisa mengunjungi psikiater.” kicau Ben seraya berjalan menyusul Gara dan Divine yang sudah masuk ke dalam resto milik Divine, hari ini mereka ingin makan steak domba muda di restoran yang baru berapa hari di buka di tengah kota ini.
“Apa kau pikir aku Gila?” decak Jerry berjalan dengan cepat menyusul Ben.
“Apa kau berpikir orang Gila akan pergi ke psikiater?” timpal Ben lalu duduk di antara teman-temannya di meja besar.
“Kau sudah disini Za?” ucap Ben saat baru saja mendaratkan bokongnya di kursi.
“Eh kau disini juga?” ucap Jerry dengan wajah datar. Jerry yang kesal dengan Ben terus saja melihat ke arah Ben dan tidak melihat keberadaan Eza disini.
“Ya, Eza yang mengajak kita makan bersama hari ini.” timpal Divine yang kepalanya di sandarkan di pundak Gara, tentunya itu adalah perintah Gara.
Mungkin pikir Gara, Divine juga akan lelah jika harus menopang kepalanya sendiri karena itu meminta Divine bersandar padanya.
“Oh ya ini Nilo, istriku, hari itu kalian tidak sempat berkenalan dengannya, dan Jerry juga tidak datang kan.” ucap Eza saat Nilo baru saja kembali dari menerima telpon.
Sudah sedari tadi Jerry melihat sekeliling mencari keberadaan Nilo di sana.
“Ternyata rasanya sesakit ini.” batin Jerry dengan menggigit bibir bawahnya untuk menahan air mata yang rasanya sudah ingin keluar.
“Sebentar-sebentar.” Ben berbicara sambil mengingat-ingat sesuatu, menginterupsi saat Divine ingin bersalaman dengan Nilo.
“Ada apa Ben?” tanya Divine menarik kembali tangan yang sudah ia julurkan ke arah Nilo.
Semua mata tertuju pada Ben, dengan tatapan bingung.
“Nilo, itu nama wanita yang tidak kau ijinkan masuk ke dalam pikiran mu kan Jerry!” ceplos Ben mengingat sesuatu yang banyak ia baca saat berkunjung ke rumah Jerry.
Dan semua orang terkejut, tidak terkecuali Jerry dan Nilo.
Nilo merasa sangat sedih karena berpikir Jerry telah melupakannya dan tidak ingin dirinya kembali lagi ke dalam kehidupan Jerry.
Divine, Gara dan Eza tercengang tak seucap kata pun keluar dari mulut mereka, mereka sungguh terkejut dengan ucapan Ben.
Rantai kejadian pun mulai Eza hubungkan satu sama lain di dalam kepalanya.
“Tidak itu orang yang berbeda.” ucap Jery sebelum pamit untuk ke toilet. Hanya itu yang terlintas di kepala Jerry, ia tidak tau harus berkata apa lagi.
Di depan toilet Jerry bertemu dengan Nilo yang sejak tadi meninggalkan meja makan ketika air matanya sudah hendak jatuh ke pipinya dan tak seorang pun menyadarinya.
Jerry melihat Nilo yang sedang mengusap air matanya.
“Kenapa melihat ku, bukan kah kau tidak ingin aku masuk ke dalam pikiran mu?” tanya Nilo keras dengan air mata kembali mengalir di pipinya.
“Tidak seperti itu,” Jerry memeluk Nilo ke dalam dekapannya, ia tidak tega melihat Nilo menangis seperti ini.
“Apa kau ingin melupakan ku?” tanya Nilo terbata-bata dengan suara menangis.
“Aku sudah mencobanya, dan aku tidak bisa!” ucap Jerry membelai lembut rambut Nilo yang masih dalam dekapannya.
Sementara Eza, Gara, Divine dan Ben melihat mereka yang berpelukan di depan toilet, saat menyadari Nilo tidak ada di meja makan, seketika Eza mencari istrinya itu, Divine, Ben dan Gara pun ikut mencari, yang membuat mereka melihat adegan Jerry bersama Nilo.
Saat mendengar ucapan Jerry, seketika Eza pergi dan meninggalkan semua teman-temannya yang berada di sana termasuk istrinya yang sedang bersama Jerry.
“Tapi sekarang aku bisa apa?” tanya Jerry dengan menahan air matanya.
Tangis Nilo semakin menjadi mendengar ucapan Jerry, terngiang semua kenangan saat mereka bersama.
kangen banget aku Ama Nilo
penasaran aku gak ilang² lho Thor Ama novelmu ini
setiap up adaaaa aja misterinya😁
Jan lama² ya Thor up nya aku setia nunggu lho😚
kelakuan Evan... jadi suka akunya sama doi🤭
Jerry kemana Thor? kangen juga ama cerita si Deddy satu ini😁