Darrel melepaskan gemerlap kemewahan keluarganya dan memilih hidup sederhana demi wanita yang mencintainya. Namun, pengorbanannya berbuah pahit: sang istri justru meninggalkannya, karena tak tahan dengan kerasnya kehidupan pasca kemewahan.
Terpuruk dan seorang diri, Darrel harus menghadapi kenyataan pahit membesarkan kedua anak kembarnya. Akankah dia menyerah pada keadaan dan kembali pada kehidupan lamanya yang penuh kemudahan? Atau justru bangkit, menemukan kekuatan tersembunyi dalam dirinya, dan membuktikan bahwa dia mampu bangkit dan menemukan cinta sejati?
Kisah perjuangan seorang ayah yang terkhianati, demi masa depan kedua buah hatinya.
Temukan kisah mereka hanya di sini:
"Sang Pewaris Tersembunyi" karya Moms TZ, bukan yang lain.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Moms TZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
4. Mereka akan tahu cepat atau lambat
Mobil yang membawa Nancy melaju membelah jalanan kota, menjauhi gedung pengadilan yang menyimpan kenangan pahit. Nancy bersandar di kursi belakang, memejamkan mata. Senyum tipis yang tadi ia tampilkan di depan wartawan akhirnya luntur, digantikan oleh ekspresi lelah dan tegang.
"Kita mau ke mana ini, Nan?" tanya Lily sang manager, memecah kesunyian.
"Ke apartemen saja," jawab Nancy lirih, tanpa membuka mata.
"Oke," sahut Lily, lalu mengarahkan mobil yang dikendarainya menuju ke sebuah apartemen mewah di kawasan Mega Kuningan.
Setelah keluar dari rumah yang ditempatinya bersama Darrel dan kedua anak mereka, Nancy memang menyewa satu unit apartemen di sana sebagai huniannya untuk sementara sebelum nanti berangkat ke Paris.
Nancy menghela napas panjang. Perceraian ini adalah keputusan yang sulit, dan pastinya akan menghadapi banyak tantangan di depannya nanti. Namun, ia yakin telah membuat pilihan yang tepat, karena merasa sudah tidak bisa lagi hidup dalam kebohongan dan kepura-puraan. Ia ingin bebas, menjadi dirinya sendiri dan mengejar mimpinya yang tertunda.
Nancy membuka mata, menatap keluar jendela. Gedung-gedung tinggi menjulang di atasnya, seolah mengawasinya. Ia merasa seperti berada di atas panggung, di mana semua orang memperhatikan setiap gerak-geriknya.
Lily menoleh, menatap sekilas apa yang dilakukan oleh Nancy. "Apa kamu sudah benar-benar yakin dengan keputusanmu ini?" tanyanya yang tidak ingin disalahkan atas keputusan yang Nancy ambil.
"Jika kamu merasa bimbang masih ada waktu untukmu kembali. Aku yakin, Darrel pasti masih mau menerimamu dengan alasan anak-anak kalian," lanjutnya menambahkan.
"Sudah sejauh ini, apa masih ada jalan untuk kembali?" Nancy tidak yakin. "Cepat atau lambat, semua orang akan tahu. Tidak ada yang bisa disembunyikan dari media."
Nancy merogoh tasnya lalu mengeluarkan ponselnya. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab menumpuk di layarnya. Namun, memilih untuk mengabaikan semuanya, ia tidak ingin berbicara dengan siapapun saat ini. Dirinya hanya ingin sendiri, merenungkan apa yang telah terjadi dan mempersiapkan diri untuk menghadapi badai yang akan datang.
Nancy mematikan ponselnya dan kembali memejamkan mata. Ia membayangkan berada di Paris, berjalan di atas catwalk dengan gaun mewah dengan sorotan lampu yang menyilaukan. Dirinya membayangkan akan meraih kesuksesan dan kebahagiaan, jauh dari masalah dan kesedihan.
Namun, bayangan Darrel bersama Zoey dan Zayn, tiba-tiba muncul di benaknya. Air mata menetes dari sudut matanya. Air mata itu terus mengalir membasahi pipinya meski berusaha menahan agar tak tumpah. Ada rasa bersalah, tetapi buru-buru ditepisnya.
"Aku harus kuat," bisiknya. "Aku harus melakukan ini demi diriku sendiri dan masa depanku."
.
.
.
Tak perlu menunggu satu kali dua puluh empat jam, berita tentang perceraian Nancy dan Darrel langsung menghiasi laman akun gosip. Demikian halnya di televisi, beberapa infotainment membahasnya secara mendalam, mengupas tuntas latar belakang dan penyebab perceraian tersebut. Bahkan foto-foto Nancy bersama pria misterius di bandara menjadi sorotan, memicu spekulasi tentang adanya orang ketiga yang menjadi keretakan rumahtangganya.
"Nancy! Bangun, Nan...!" pekik Lily, seraya mengguncang tubuh Nancy yang sedang tidur.
Nancy menggeliat sambil menguap lalu mengucek matanya menandakan bahwa dirinya masih mengantuk.
"Ada apa sih, Ly? Ngagetin aja, aku masih ngantuk, tahu!" ucapnya masih dengan mata terpejam meskipun telah bangun dari posisi berbaringnya.
"Ayo keluar dan lihat berita di infotainment. Mereka menayangkan berita tentang perceraian kalian," cerocos Lily.
"Dan yang lebih mengejutkan lagi, mereka memajang foto-foto kamu bersama Thomas waktu itu di bandara. Darimana mereka mendapatkannya, coba!" lanjut Lily, suaranya merepet persis kereta api.
Nancy membuka mata lalu melompat turun dari tempat tidurnya dan keluar dari kamar. Ia berdiri membeku dengan mata terbuka lebar menatap layar televisi di hadapannya yang tengah menayangkan berita tentang dirinya. Yang bisa dilakukannya hanyalah menghela napas pasrah karena sudah menduga hal ini akan terjadi. Hanya satu harapannya anak-anaknya tidak terkena dampak dari semua ini.
.
.
.
Darrel baru saja selesai menyiapkan makan siang sederhana untuk Zayn dan Zoey. Nasi campur mentega dan ayam goreng adalah menu favorit mereka. Dia tersenyum bahagia melihat mereka makan dengan lahap. Darrel berusaha menciptakan suasana senormal mungkin, seolah tidak ada yang berubah dalam hidup mereka.
Setelah makan siang, Zoey dan Zayn asyik bermain dengan permainan mereka di ruang tamu. Sementara televisi menyala menayangkan acara kartun dua bocah kepala botak. Darrel sendiri segera membereskan meja makan dan mencuci piring. Namun, kemudian perhatiannya tertuju pada acara televisi yang tiba-tiba berubah menjadi tayangan breaking news.
Wajah Nancy muncul menghiasi layar televisi, dan presenter berita sedang membahas perceraian mereka. Tidak ingin anak-anaknya melihat tayangan tersebut, Darrel bergegas keluar dari dapur, lalu mengambil remote dan mematikan televisi. Dia tidak ingin Zoey dan Zayn mendengar komentar-komentar negatif tentang ibu mereka.
"Papa, ada apa? Kok, tivinya dimatiin?" tanya Zoey dengan wajah bingung karena sang ayah tiba-tiba mematikan televisi.
"Tidak ada apa-apa, Sayang," jawab Darrel cepat sambil mencabut colokan kabel yang menancap di saklar. "Televisinya panas, lagipula tidak ditonton jadi papa matikan saja."
Darrel berusaha mengalihkan perhatian anak-anaknya, tetapi dia menyadari bahwa tidak akan bisa selamanya menyembunyikan kebenaran. Mereka akan tahu, cepat atau lambat.
"Ayo, sekarang waktunya tidur siang! Cuci kaki dan tangan kalian. Siapa cepat dapat hadiah dari papa," perintahnya pada sang anak.
Mendengar kata hadiah Zayn langsung berdiri dan meninggalkan mainannya. "Zayn duluan!" serunya seraya mengacungkan tangannya ke atas.
Zoey tak mau kalah dari abangnya, gadis kecil itu tanpa berkata langsung berlari ke kamar mandi. Setelah selesai mencuci kaki dan tangan, Darrel mengajak Zoey dan Zayn ke kamar mereka. Kemudian mencium kening dan kedua pipi anak-anaknya satu persatu. "Itu hadiah dari papa karena kalian telah menjadi anak yang baik. Papa sayang kalian banyak-banyak."
"Zoey juga sayang Papa," kata Zoey dengan polos
"Sayang Mama juga," timpal Zayn.
Lalu keduanya memberikan ciuman balasan di pipi kiri dan kanan Darrel yang membuat mata pria itu berembun. Namun, dia berusaha menahannya agar airmatanya tidak tumpah.
Selanjutnya Darrel membacakan cerita sebelum mereka tidur. Dia memilih cerita yang ringan dan menghibur, supaya tercipta suasana yang menyenangkan sekaligus menenangkan.
Setelah memastikan anak-anaknya tertidur, Darrel keluar kamar. Dia menyalakan laptopnya dan mencari berita tentang perceraiannya dengan Nancy. Dia ingin tahu apa yang sedang dibicarakan orang-orang di luar sana.
Darrel menemukan banyak sekali artikel dan komentar negatif tentang Nancy. Beberapa orang mencelanya karena meninggalkan keluarganya demi pria lain. Ada juga yang mengkritiknya karena terlalu fokus pada karier dan melupakan anak-anaknya.
Darrel merasa marah dan kecewa. Apalagi setelah melihat foto-foto Nancy bersama seorang pria beredar luas. Dia merasa dicurangi dan ditipu mentah-mentah oleh Nancy.
"Kenapa kamu melakukan ini, Nancy? Apa selama ini cintamu padaku, palsu?" bisiknya lirih, hampir tak terdengar. Namun, tangannya terkepal erat-erat dengan rahang mengeras. Ekspresi wajahnya seketika berubah datar dan tatapan matanya begitu dingin menusuk, seolah sedang menahan gelombang amarah yang membara di dalam dadanya.