NovelToon NovelToon
Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Tak Lagi Berharap KESEMPATAN KEDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Time Travel / Fantasi Wanita / Reinkarnasi
Popularitas:6.4k
Nilai: 5
Nama Author: RAYAS

hai semua ini novel pertama Rayas ya🤭
kalau ada saran atau komentar boleh tulis di kolom komentar ya. lopyouuuu 😘😘

Dalam keputusasaan, sebuah kecelakaan tragis merenggut nyawanya di tahun 2025. Namun, maut ternyata bukan akhir. Safira terbangun di tubuhnya yang berusia 17 tahun, kembali ke tahun 2020—tepat di hari di mana ia dikhianati oleh adik tirinya dan diabaikan oleh saudara kandungnya hingga hampir tenggelam.

​Berbekal ingatan masa depan, Safira memutuskan untuk berhenti. Ia berhenti menangis, berhenti memohon, dan yang terpenting—ia tak lagi berharap pada cinta keluarga Maheswara.

kalau penasaran jangan lupa mampir ke novel pertama Rayas 😊

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RAYAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 10: Pertemuan yang Tak Terduga

Akhir pekan di Jakarta selalu identik dengan keramaian pusat perbelanjaan. Bagi Safira, ini adalah waktu untuk benar-benar menjadi remaja biasa bersama Calista dan Ambar. Mengenakan atasan oversize putih yang dimasukkan ke dalam celana jin denim dan sepatu kets, Safira tampak sangat segar. Rambut short bob-nya yang tertiup angin pendingin ruangan mall memberikan kesan imut yang alami, membuat beberapa pasang mata pengunjung pria tak henti melirik ke arahnya.

"Gila, Fir! Gue baru sadar, kalau lo dandan simpel gini malah auranya mahal banget," celetuk Calista sambil merangkul bahu Safira saat mereka berjalan melewati deretan butik ternama.

"Bener," timpal Ambar sambil membetulkan kacamatanya. "Dulu lo kayak maksa banget pengen kelihatan dewasa, padahal muka asli lo itu baby face banget."

Safira hanya terkekeh pelan. "Dulu aku terlalu sibuk memikirkan pendapat orang lain. Sekarang, aku cuma ingin nyaman dengan diriku sendiri."

Namun, suasana santai itu mendadak terusik saat mereka hendak memasuki sebuah toko buku besar. Dari arah berlawanan, serombongan pemuda dengan gaya perlente muncul sambil tertawa keras. Itu adalah Bima, Bagas, Mufti, Valen, dan Nathan.

Langkah kedua rombongan itu terhenti tepat di depan pintu masuk.

"Wah, liat siapa ini? Si jagoan sekolah lagi jalan-jalan," sindir Bagas. Tangannya masih terbebat perban tipis akibat kuncian Safira beberapa hari lalu.

Bima menatap adiknya dengan tatapan tidak suka. "Safira, pulang! Papa cari kamu buat fitting baju pesta Maya, kamu malah keluyuran nggak jelas sama orang-orang ini."

Safira menatap Bima dengan datar. "Aku punya nama, Kak Bima. Dan temanku punya nama. Sebaiknya kau urus saja Maya adik kesayangannya mu itu."

"Lo—!" Bima hendak membalas, namun Nathan tiba-tiba maju selangkah.

Sejak kejadian di lapangan basket, Nathan merasa ada yang mengganjal di hatinya. Setiap kali melihat Safira, dadanya terasa sesak oleh perasaan tidak enak yang tak bisa ia jelaskan. Rasa bersalah? Atau rasa kehilangan sesuatu yang dulu selalu ada untuknya?

"Fira," panggil Nathan lembut, suaranya terdengar berbeda dari biasanya. "Kamu berubah banyak. Apa karena kejadian... itu?"

Safira mengalihkan pandangannya pada Nathan. Tidak ada lagi binar kekaguman. Hanya ada kekosongan yang dingin. "Kejadian yang mana, Kak? Terlalu banyak kejadian pahit yang kalian berikan sampai aku lupa mana yang Kakak maksud."

Nathan tertegun. Kata-kata itu lebih tajam dari pisau. Ia ingin meraih tangan Safira, ingin meminta maaf atas segala pengabaiannya selama tiga tahun terakhir, namun aura Safira sekarang seolah membangun tembok setinggi langit yang tak bisa ia tembus.

"Ayo pergi," ajak Safira pada Calista dan Ambar tanpa menunggu jawaban dari rombongan Bima.

Saat melewati Nathan, bahu mereka bersenggolan kecil. Nathan merasakan sengatan aneh di hatinya. Ia berbalik, menatap punggung Safira yang menjauh.

"Nath, kenapa lo? Muka lo kayak abis liat hantu," tanya Mufti sambil menepuk bahu Nathan.

"Gue... gue ngerasa nggak enak banget, Muf. Kayaknya kita bener-bener udah keterlaluan sama dia," bisik Nathan pelan, suaranya bergetar.

Valen yang sejak tadi diam hanya memperhatikan dari jauh. "Terlambat, Nath. Lo nggak liat matanya? Dia nggak cuma berubah gaya rambut, dia udah bener-bener matiin perasaan dia buat kita semua."

Setelah puas berkeliling, Safira berpamitan pada kedua sahabatnya di lobi mall. Karena taksi yang ia pesan terjebak macet, Safira memutuskan untuk berjalan menuju area parkir luar yang lebih sepi untuk mencari udara segar.

Hari sudah mulai gelap, dan rintik hujan mulai turun membasahi aspal. Saat Safira hendak melewati sebuah mobil SUV hitam besar yang terparkir di sudut remang-remang, ia melihat sesuatu yang aneh.

Dua orang pria mencurigakan sedang mencoba mengutak-atik pintu sebuah mobil sport mewah yang terparkir di sebelah SUV tersebut. Salah satunya memegang alat pemecah kaca.

"Sedang cari kunci yang hilang?" tanya Safira dengan suara tenang namun mengancam.

Kedua pria itu tersentak. Mereka menoleh dan melihat seorang gadis SMA berdiri dengan payung transparan di tangannya.

"Cih, anak kecil. Jangan ikut campur kalau mau selamat!" salah satu dari mereka mengeluarkan pisau lipat dan maju dengan beringas.

Safira mendesah bosan. "Kenapa hari ini semua orang suka sekali bermain pisau?"

Dengan gerakan yang sangat cepat, Safira menutup payungnya dan menggunakannya sebagai tongkat pemukul. Ia menghantam pergelangan tangan pria itu hingga pisaunya jatuh, lalu menggunakan gagang payung untuk mengait leher lawan dan membantingnya ke aspal.

Pria kedua maju hendak memukul, namun Safira menghindar dengan lincah, lalu melayangkan tendangan samping (side kick) tepat ke ulu hati pria itu.

Tepat saat kedua pria itu tersungkur dan berniat melarikan diri karena melihat keamanan mall mendekat, pintu mobil SUV hitam di samping mereka terbuka.

Seorang pemuda keluar dari sana. Dia mengenakan kemeja hitam dengan lengan yang digulung hingga siku, memperlihatkan jam tangan mewah dan otot lengan yang kokoh. Wajahnya sangat tampan, namun tatapannya lebih dingin dari es kutub.

Itu adalah Abian. Ia baru saja kembali dari pertemuan yang membosankan dan hendak masuk ke mobilnya saat keributan itu terjadi.

Abian terpaku sejenak. Di depannya, seorang gadis mungil dengan rambut pendek sedang merapikan payungnya seolah baru saja melakukan hal sepele seperti memetik bunga.

"Kau..." Abian bersuara, nadanya datar namun penuh selidik.

Safira menoleh. Ia menatap pemuda di depannya. Matanya sempat terpaku pada wajah Arkan yang luar biasa tampan, namun ia segera menguasai diri. Ia tidak tahu siapa pemuda ini, dan ia tidak peduli.

"Mobilmu hampir hilang kalau aku tidak lewat," ucap Safira pendek sambil menunjuk ke arah mobil sport di sebelah Arkan.

Arkan melirik dua pria yang lari terbirit-birit itu, lalu kembali menatap Safira. "Aku tidak meminta bantuanmu."

Safira menaikkan sebelah alisnya. "Aku juga tidak sedang menawarkan jasa bantuan. Aku hanya sedang lewat dan merasa terganggu dengan pemandangan orang bodoh yang mencoba mencuri."

Abian terdiam. Gadis ini unik. Suaranya lembut dan wajahnya terlihat sangat imut, tapi kata-katanya sangat tajam dan tidak menunjukkan rasa takut sedikit pun padanya. Padahal, biasanya orang-orang akan gemetar jika ditatap oleh Abian Alvarazka Byakta.

"Tunggu," panggil Abian saat Safira hendak melangkah pergi. "Kau terluka."

Safira berhenti dan melihat goresan kecil di punggung tangannya, mungkin terkena ujung payung saat bertarung tadi. "Hanya goresan. Tidak akan mati karena ini."

Abian merogoh saku kemejanya dan mengeluarkan sebuah sapu tangan sutra berwarna abu-abu gelap dengan inisial 'A.B' yang disulam rapi di sudutnya. Ia melangkah mendekat, membuat Safira secara naluriah memasang posisi waspada.

"Jangan bergerak," perintah Abian dengan nada otoriter yang tak bisa dibantah.

Abian menarik tangan Safira dengan lembut namun tegas, lalu membebat luka kecil itu dengan sapu tangannya. Safira bisa merasakan aroma parfum sandalwood dan citrus yang maskulin dari tubuh Abian. Untuk sesaat, suasana di parkiran yang dingin itu terasa sedikit lebih hangat.

"Lain kali, jangan sok pahlawan jika tidak ingin terluka," ucap Abian setelah selesai membebat tangan Safira.

Safira menarik tangannya kembali. Ia menatap sapu tangan mewah itu, lalu menatap Abian. "Aku bukan pahlawan. Aku hanya tidak suka berhutang pada keadaan. Terima kasih untuk kainnya, tapi aku tidak punya uang kembalian untuk sapu tangan semahal ini."

Safira berbalik dan berjalan menembus hujan tanpa menoleh lagi.

Abian berdiri di sana, menatap punggung gadis itu hingga menghilang di tikungan area parkir. Ia tidak tahu siapa gadis itu. Ia juga tidak sadar bahwa gadis "imut" yang baru saja ia obati adalah Safira Kirana Maheswara—gadis yang fotonya ditolak mentah-mentah olehnya siang tadi.

"Gadis yang aneh," gumam Abian. Ia menyentuh bekas sentuhan tangan Safira di telapak tangannya. Ada rasa hangat yang tertinggal, sesuatu yang belum pernah ia rasakan sebelumnya.

Abian masuk ke mobilnya, pikirannya masih tertuju pada mata dingin gadis itu. Sementara Safira, di dalam taksi yang membawanya pulang, menatap sapu tangan di tangannya dengan kening berkerut.

"A.B... nama yang singkat," gumam Safira pelan sebelum menyandarkan kepalanya ke jendela mobil.

...****************...

Guyssss jangan lupa like nya ya, kalau ada yang kurang atau typo coment aja nanti, biar jadi pelajaran buat Rayas soal nya ini novel pertama rayas

1
Sribundanya Gifran
lanjut thor
kalea rizuky
keren novelnya
shanairatih
ga sabar nunggu lanjutanny😍
Cty Badria
up y byk Dan panjang ceritany 💪/Rose//Rose//Rose//Rose//Rose//Rose/
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Wahyuningsih
lanjut thor 💪💪💪💪💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
semoga UAS nya lancar dan hasilnya memuaskan ya 🙏🙏🙏
MataPanda?_
semangat trus kak.. 💪
Lala Kusumah
syukurlah Fira akhirnya keluar dari rumah Maheswara 👍👍👍💪💪😍😍😍
Sribundanya Gifran
lanjut
Sribundanya Gifran
lanjut thor
Lala Kusumah
😍😍😍😍😍
Wahyuningsih
penyesalan pasti datng terlambat
Wahyuningsih
gas thor 💪💪💪
Sribundanya Gifran
lanjut
Lala Kusumah
makasih updatenya, kalau bisa double atau crazy up ya 🙏🙏🙏
Yusrina Ina
author up nya tidak cukup ni 🤭🤭🤭 tambah lagi ya 🙏🙏🙏. terima kasih semangat 💪💪💪 lagi up nya.
MataPanda?_
bagus kak MC y gk neko"ceritanya bagus semangat trus kak 😄
Lala Kusumah
Safira emang hebaaaaaatt baik hati dan tidak sombong 👍👍👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!