Terlahir dengan nama Ulyana Zahra Fitriangsih, orang tuanya berharap anak mereka tumbuh elok seperti namanya.
Namun, itu semua hanyalah angan semata. Masa lalu mengantarkannya untuk menapaki dunia hitam yang tak seharusnya ia jamah. Bahkan, ia yang memegang kendali atas semuanya.
Satu nama yang tersamarkan di publik, nama yang memuat banyak rahasia. Tidak ada yang tahu apa yang ada di balik punggungnya, tapi ketidaktahuan itu lebih baik dari pada membawa petaka.
Darel Ario Kusuma, seorang kakak yang sangat menyayangi Zahra. Gadis itu segalanya, hidupnya.
Lantas, bagaimana cara Rio menjaga Zahra tanpa kehadiran kedua orangtuanya?
****
Simak terus cerita ini, jangan lupa dukungannya dengan vote, like dan komen.
Terimakasih 🌹
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lily Biru, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
18. Ketua Gretak
Kantin di Merpati Putih selalu ramai pengunjung, tidak akan sepi seperti kantin pada umumnya—yang akan sepi saat konsumennya dalam waktu belajar. Seperti biasa, mereka akan bergerombol saat di kantin, bersama dengan teman sejawat masing-masing. Meskipun begitu, ada pula yang sendirian, tapi itu tidak berlangsung lama karena setiap meja kantin Merpati Putih akan penuh setiap harinya.
Geng paling fenomenal di kampus ialah geng milik Ulyana Zahra dan Putra Rastungo. Geng yang dipimpin oleh sepasang kekasih ini sudah terkenal sejak masa OSPEK. Dimulai dari kebandelan sepasang kekasih, yang selalu melarikan diri saat OSPEK. Hingga kemudian terbentuk pula anggota geng yang kebiasaannya tak jauh berbeda dari mereka.
Senin, hari dimana mereka bisa berkumpul bersama lebih awal. Semua anggota mendapatkan jam kuliah pagi, jam 8. Waktu mereka tersisa satu jam sebelum kelas dimulai.
Zahra memasuki kantin dengan tergesa, ia mendudukkan pant*tnya di sebelah gadis dengan kaus hitam bergambar iblis. Gadis itu menoleh.
"Kenapa tuh muka, kusut banget?"
Yang lain menoleh ke arah gadis dengan kardigan navy tersebut, mereka mengerutkan kening—heran saat melihat gadis yang biasa tersenyum cerah tiba-tiba murung.
Bukan hanya geng Zahra dan Putra saja, ada tiga penambahan kursi baru. Geng Una pun juga di sana, pasti Putra yang mengajak mereka bergabung.
Zahra menanggapi dengan wajah tanpa ekspresi. "Pesenin gue makan, cepetan!" suruhnya entah pada siapa.
"Eh, enak banget lo. Dateng-dateng nyuruh pesenin makan," Ardelia tak terima dengan ucapan Zahra, yang berlagak seperti bos yang ucapannya harus dituruti. Padahal ia tahu, gadis itu biasanya pesan makanan sendiri.
"Siapa aja dah, pesenin gue makan, terserah. Make duit kalian!" Gadis itu memandang satu-persatu orang yang berada di mejanya.
"Yehh, lagak lo kek orang gede aja!" Gadis yang berada di samping Zahra memukul lengannya, Ica.
"Pesenin, Ca!" Zahra balik menyuruhnya, gadis itu memberengut kesal. Tak kehabisan akal, Ica menyodorkan selembar sepuluh ribuan pada pemuda di depannya yang sedang menikmati ramen. "Wil, pesenin Zahra gih. Kayaknya lo doang yang adem ayem di sini," suruh Ica tanpa dosa.
Dengan berat hati, Willy merampas uang yang Ica sodorkan lalu bangkit memesankan makanan untuk Zahra.
Ina berpindah duduk menjadi di samping kanan Zahra, gadis itu menyodorkan minumannya pada gadis yang baru datang tersebut. Zahra dengan senang hati merampas minuman itu kemudian menyeruputnya hingga tandas.
"Tumben lo belum makan, Bang Rio kan selalu mastiin lo sarapan sebelum berangkat?" tanya Ina mewakili yang lain, sedangkan yang ada di meja itu melanjutkan makan sambil menunggu jawaban Zahra.
"Kita semua kesiangan, lo tahu ga? Bibi tadi bangunin gue sama Kak Rio jam setengah tujuh, tadi kita abis subuhan bobok lagi," ucap Zahra dengan muka melasnya.
"Pasti lo yang ngajak tidur lagi tuh, lo kan sesat!" tanggap Ardelia setelah menyimak cerita sahabatnya.
Zahra hanya melirik sinis, gadis itu tengah tidak bersemangat untuk adu bacot dengan Ardelia, perutnya sudah tidak tahan menahan rasa yang merongrong ini lebih lama.
Willy kembali dengan sebuah nampan, di atasnya ada sepiring nasi goreng dan es teh manis. Pemuda itu meletakkan makanan dan minuman di depan Zahra, persis seperti waiters yang melayani pengunjung restoran.
Ica menepuk bahu pemuda itu. "Cocok lo, Wil. Alih profesi, gih!"
Willy mendelik tak suka, pemuda itu langsung kembali ke tempat duduknya. Setelah itu, ia kembali mendongak menatap Ica.
"Apa?"
"Lo utang empat ribu sama gue, masih untung temen lo ga gue kasih air kobokan!"
Ica menatap pemuda di depannya sinis, kakinya bergerak menendang tulang kering Willy yang kebetulan dekat dengannya. Pemuda itu tersentak, kemudian tersenyum miring. Pemuda dengan rambut gondrong tersebut meraih handphone-nya dan mengirimkan pesan pada seseorang.
Ica mensilent HP-nya, sehingga ia tak tahu jika seseorang mengirimkan pesan padanya. "Pelit gitu, pantesan jomblo!" sindirnya pada Willy.
Pemuda itu terkekeh. "Gue jomblo banyak yang ngantri, ketimbang lo ... cowok mau deketin mikir-mikir dulu," balas Willy.
Ica mengumpat pelan, gadis itu dongkol kemudian mengambil HP yang ada di saku celananya.
Zahra mengeluarkan dompetnya, tapi sebelum itu Putra mencegah dengan perkataannya.
"Thanks," ucapnya dengan senyum manis, ia melanjutkan makannya dengan damai.
Putra meletakkan selembar dua puluh ribuan di depan Willy dan Ica, Willy meraihnya duluan.
"Heh, sepuluh ribu gue!" Ica menengadahkan tangan ala ibu kos yang menarik uang bulanan.
"Tenang, ntar malem kita ngopi bareng. Ra, pesan tempat!"
Zahra mengacungkan jari jempolnya, sedangkan Ica tersenyum masam. Ini tidak adil namanya!
"Mana bisa, kita masuk situ kan gratis?"
"Ke pasar malem gimana? Kebetulan baru buka dua hari lalu, lokasinya dekat rumah gue. Nanti lo gue jemput."
"Ya udah deh, terserah." Ica menyerah, akhirnya mengiyakan ajakan Willy. Dari pada ia rugi, mending ikut saja.
Beberapa suap nasi telah masuk ke mulut Zahra, gadis itu menikmati makanannya dengan santai. Baru akan menyuapkan suapan ke tujuh, seseorang menggebrak mejanya dengan kuat.
Zahra yang sedang mengunyah santai menjadi tersedak, Ina langsung mengulurkan teh Zahra. Mereka menatap tajam pada seorang pemuda yang baru datang dengan keringat yang terjatuh dari sisi pelipisnya.
“Bego lo! Cewek gue lagi makan!” hardik Putra pada pemuda dengan kaus abu-abu.
Tanpa memedulikan ucapan Putra yang terdengar marah, pemuda itu malah mengulurkan tangannya. "Air ... huh–huh mana?"
Devan menyodorkan satu botol air mineral. "Buru minum! Terus jelasin kenapa lo gebrak meja kayak tadi!"
Jaka mengangguk dan segera meminum air yang disodorkan Devan tersebut. Setelahnya, ia memamerkan cengiran pada semua temannya dan minta maaf karena membuat semuanya terkejut.
Pemuda itu menatap Zahra, ia bergidik melihat tatapan gadis itu seperti akan memakannya hidup-hidup. Tapi ia masih ingat kenapa berlaku seperti tadi, Jaka berdehem singkat.
“Gawat, Ra! Anak-anak Ganesha ngajak ribut di jalan belakang kampus."
Ribut dalam artian ini adalah 'tawuran' , jalan belakang kampus memang sepi, di situlah Zahra dan kawan-kawan membogem setiap anak yang menantang mereka.
“Mereka udah nunggu kita, Ra. Katanya kalau kita ga dateng mereka bakal masuk dan buat keributan di lingkungan kampus,” lanjutnya.
Tangan gadis itu terkepal, ia berdiri, mendesis pelan. "Berani banget mereka cari gara-gara sama kita!"
Kenapa Jaka lapornya ke Zahra? Karena Zahra lah ketua mereka, dia yang selalu memimpin setiap terjadi tawuran. Katakanlah mahasiswa Merpati Putih banci, karena mengangkat perempuan sebagai ketua mereka. Tentu tidak, dulu ketua mereka adalah Revan Aditama, salah satu senior mereka, tapi Revan telah lulus. Kekuasaan Revan besar di Merpati Putih, sehingga membuat dia terpilih menjadi ketua. Selama itu pula, Merpati Putih tak pernah kalah tawuran. Revan ialah salah satu anak buah Zahra dan anggota BD sejak gangster itu pertama dibentuk, tepatnya satu tahun lalu.
Revan adalah tangan kanan Zahra di BD dan direktur keuangan di Uly's Group, dia juga sebagai bendahara di BD.
Pada waktu Revan lulus, tidak ada yang berani menggantikan posisinya. Pada waktu itu, ada perempuan yang masuk tiba-tiba ke basecamp dan duduk di sebelah Revan.
...***...
Suasana di ruang Gretak, ruangan khusus anak brandal Merpati Putih sedang tegang-tegangnya. Seluruh mahasiswa brandal dari berbagai fakultas di Merpati Putih sedang berkumpul di sana.
Di ruangan itu duduklah Revan di kursi kebesarannya, ia sudah lelah menunjuk satu persatu mahasiswa untuk menggantikannya, tapi tidak satu pun dari mereka yang menurutinya. Ia lelah memaksa, jika ia tidak menunjuk penggantinya sekarang, jabatan akan kosong. Dan para anak brandal itu pasti akan berbuat ulah tanpa komando.
Tiba-tiba seorang cewek masuk dengan santainya, padahal di situ cowok semua. Ia mengabaikan semua tatapan yang ditujukan ke arahnya. Cewek itu kembali menutup pintu, agar acara sakral yang mereka lakukan tidak terganggu. Cewek itu dengan santai berjalan ke arah Revan, berdiri di sebelah pemuda itu tanpa memedulikan tatapan aneh penghuni ruangan.
“Eh, lo siapa? Lancang banget masuk sini."
“Ga lihat lo, gue anak ospek ni. Junior kalian,” jawab cewek itu, kemudian duduk di sebelah Revan.
“Lo juga ngapain duduk sebelah Revan? Cewek lo, Van?”
Saat ada mahasiswa lain yang juga ikut menimpali, Revan langsung angkat bicara. “Ada yang ngomong lagi gue bom ini tempat," ancamnya sambil menatap seluruh penghuni Gretak.
Semuanya terdiam seketika, kini giliran Revan yang bertanya kepada Zahra, “Kenapa ke sini? Tadi ga ada yang lihat kan pas lo masuk?”
“Lo tenang aja, ga ada yang lihat kok. Soal ketua yang baru, biar gue yang ambil," cewek itu tersenyum sambil menatap Revan yakin.
“Lo yakin?” tanya Revan dan diangguki oleh Zahra. Revan berdehem dan membuat penghuni ruangan itu menoleh padanya. Melihat Revan mengangguk, cewek tadi bersorak dalam hati.
Revan berdiri dengan menggenggam tangan Zahra, ia tersenyum kemudian melepas genggamannya, memilih merangkul cewek di sebelahnya. Mereka tersenyum geli, mereka pikir Revan akan mengenalkan tambatan hatinya.
Pemuda itu berdehem singkat. “Kalau lo semua ga ada yang mau gantiin, maka cewek di sebelah gue yang bakal gantiin. Gimana?”
Ekspresi yang tadinya biasa, menjadi terkejut. Apa Revan baik-baik saja? Semuanya saling pandang satu sama lain, terlarut dalam bingung yang Revan ciptakan.
“Lo boleh ambil siapa pun, tapi jangan cewek,” protes salah satu mahasiswa dan diangguki beberapa mahasiswa lainnya.
“Ga usah khawatir, dia adek gue." Revan mengakui Zahra sebagai adiknya agar mereka tidak ada yang protes lagi. Terbukti, mereka yang ingin melayangkan protes kembali mengatupkan bibir.
Zahra mengerling sambil tersenyum manis. "Terima ga nih, gue jadi ketua kalian? Kalau ga mau juga ga papa, gue cuma membantu.”
"Keputusan gue udah final, mulai saat ini dia yang bakal gantiin gue. Jadi, kalau ada apa-apa bilang sama dia jangan musyawarah sendiri,” ucap Revan saat semua anggotanya tidak ada yang menyahuti pertanyaan Zahra.
“Baik, Bos,” ucap mereka serempak.
“Karena gue resmi jadi ketua kalian, gue pengen adain syukuran. Club Pancawati ntar malem.”
Mereka mengerjab, serius? Revan saja tidak pernah mentraktir mereka ke club, sedangkan mahasiswi ini? Mahasiswi yang masih mengikuti Ospek dan sekarang menjadi ketua baru mereka? Siapa sebenarnya cewek ini?
“Gue kira syukuran beneran.” Revan menatapnya datar, sedangkan Zahra hanya terkekeh pelan.
Zahra menghentikan kekehannya begitu ia teringat sesuatu, bola mata coklat itu menatap mereka. "Sorry, kalian bisa keluar dulu ga? Ada yang mau gue bicarain sama Bang Revan.”
“Baik, Bos,” ujar mereka.
“Tunggu dulu!” perkataan Zahra menghentikan langkah anggotanya yang mau beranjak.
"Sebelumnya perkenalkan gue Zahra, Ulyana Zahra dari fakultas ekonomi. Seperti yang kalian lihat, seragam gue masih hitam putih yang pastinya gue mahasiswa baru. Jadi sebagai junior, gue berhak menghormati kalian para senior. So, panggil gue Zahra, just Zahra."
"Eh, anjir! Lo kan sepupunya Rio yang suka ilang-ilangan itu!" pekik salah satu dari mereka.
"Oh iya, baru inget gue. Troublemaker baru nih," sahut yang lainnya.
Zahra terkekeh. "Jadi kalian udah pada tahu," cewek itu mengangguk-ngangguk, "kalau gitu silahkan keluar, he-he."
Mereka mengangguk dan meninggalkan ruangan Gretak. Zahra mengajak Revan untuk duduk kembali, cewek itu mengembuskan napas.
“Kalau Rio tahu soal ini gimana?” tanya Revan khawatir.
“Ga papa, penting dia ga tau soal kita," jawab Zahra tak acuh, terserah saja jika Rio melarangnya, menurutnya berkelahi dengan orang itu hobi yang harus dikembangkan.
Revan mengangguk. "Kalau boleh tau nih, kenapa sih lo selalu bilang ke orang-orang kalau lo itu sepupu Rio? Padahal kan kalian jelas-jelas saudara kandung, seayah, seibu?
Cewek berambut selengan itu menggeleng. “Gue ga mau bikin dia malu gara-gara punya adik kayak gue. Selain itu, kalau gue ngaku adiknya Rio, keselamatan gue yang terancam. Sejak balik ke keluarga kandung, papi selalu menyembunyikan identitas gue dan itu terjadi sampai sekarang," Zahra tersenyum tipis, "gue juga seneng kayak gini, ngerasa tenang dan damai juga."
Revan mengangguk, sementara Zahra mengambil tangan laki-laki di sebelahnya, memainkan jari-jari milik Revan. “Habis ini abang kerja di tempat gue, ya?”
“Tapi, Ra ... lo udah banyak bantu gue, lo kasih tempat tinggal, tambahan duit buat biaya kuliah, sekarang? Lo kasih gue kerjaan. Gue bisa kok coba cari kerja.”
Zahra menggeleng tegas. "Ga, lo harus kerja sama gue. Abang harus bantuin gue buat mendirikan kantor pusat perusahaan, Rani dan Defi mungkin belum cukup. Gue mau lo urus segala izin dan kebutuhan lainnya, abang mau kan bantuin pendirian kantor itu?"
Revan memejamkan mata, sepertinya ia akan setuju dengan usul ini. Terlebih Zahra sudah ia anggap adiknya sendiri dan banyak membantu semenjak ibunya meninggal. Revan menghadapkan Zahra ke arahnya, kedua tangannya bertengger di bahu cewek itu.
"Mungkin itu yang bisa gue lakuin buat ngebales perbuatan lo selama ini, tapi gue rasa itu semua belum cukup. Kasih tahu, gue harus apa buat balas kebaikan lo, Ra?"
“Jangan kecewain gue, Bang. Gue cuma minta satu itu.”
“Gue bakal berusaha."
Zahra tersenyum, "Thank you, Bang."
Revan menggeleng, "Ga, harusnya gue yang makasih."
Zahra menurunkan tangan Revan, kembali menggenggam tangan itu, menggenggamnya dengan kedua tangan mungilnya. "Kita sama-sama makasih, makasih buat diri kita yang udah sama-sama berjuang."
"Lo bener," keduanya terkekeh. Mungkin ini yang Revan dapat setelah perjuangannya, bertemu dengan cewek semanis Zahra. Adik dari Rio ini yang mengeluarkannya dari lubang kegelapan.
Zahra berdiri, melepaskan tangan Revan. "Kalau gitu gue keluar dulu, sekalian mau manggil yang lain masuk."
Revan mengangkat sebelah alisnya. "Loh, ga di sini aja, lumayan rame lho."
Zahra menggeleng dan tersenyum. "Gue mau di luar aja, signal-nya lebih lancar di luar."
Revan mengizinkan Zahra pergi, sementara ia kembali bersantai. Merebahkan diri di atas kasur yang tersedia di ruang itu.
Sesampainya di luar, Zahra bertemu dengan anggotanya, ia menyuruh mereka masuk.
"Eh, Bang ...." Zahra menahan lengan salah satu seniornya, cewek itu tersenyum canggung.
Menyadari gelagat Zahra yang ingin menyampaikan sesuatu, ia memilih mengakhiri kecanggungan itu. Laki-laki itu menggaruk belakang kepala. "Kenapa?"
"Ehm, sorry. Nama abang siapa?"
Laki-laki itu mengerutkan dahi mendengar pertanyaan random Zahra, tapi tak urung ia menjawab, "Nama gue Reno."
Zahra mengangguk. "Jadi gini Bang Reno, gue mau minta tolong buat ngasih tahu ke yang lain, tadi mau ngasih tahu ke Bang Revan kelupaan."
Reno mengangguk. "Mau minta tolong apa?"
"Dua hari lagi gue mau ngadain pertemuan, jadi gue harap anak-anak bisa kumpul lengkap. Buat waktunya kalian rundingin aja, nanti kalau fiks bisa DM ke Instagram gue. Gue mau say hai, terus membentuk kepengurusan Gretak yang baru."
"Oke, habis ini gue sampein ke yang lain. Btw, nanti malam lo ikut ke club?"
Zahra menggeleng. "Gue ada jadwal balap, mungkin lain kali. Tenang aja, udah gue booking kok itu tempat."
"Ya udah, kalau gitu gue masuk dulu, ya?"
"Oke."
Zahra duduk di salah satu kursi yang tak jauh dari ruang Gretak. Ia duduk dengan kaki bersimpuh di atas kursi, sedangkan satu kakinya terlipat ke atas membentuk sudut lancip. Cewek itu menyandarkan diri di tiang penyangga.
Mengeluarkan smartphone yang berada di saku roknya, membuka looksreen lalu menggeser menu. Menyentuh ikon aplikasi yang akan dia buka, lalu memiringkan HP-nya. Iya, tak salah lagi, Zahra akan memainkan game online. Salah satu tujuannya keluar dari Gretak ialah, Wi-Fi di luar lebih lancar dari pada di dalam.
****
TBC!!!
JANGAN PELIT2 LIKE SAMA KOMEN GAESS
AKU SAYANG KALIAN ❤️
SEE YOU ❤️