Proses Revisi!
Dia berada di posisi yang rumit, tumbuh dengan kasih sayang berat sebelah dari keluarganya dan kebetulan mencintai laki-laki yang sama membuat Rain menumbuhkan sebuah keraguan di dalam hatinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lili Hernawati, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
CAMS-Ep 19
Karena aku akhirnya memiliki kesempatan untuk sembuh dari penyakit ku. Ya Tuhan, aku sangat senang bila Deon adalah obat yang selama ini ku cari-cari.
Papa tidak mengatakan apa-apa, dia menarik tanganku dan menekan bahuku untuk duduk di atas kursi meja rias.
"Nak, apa kamu mencintai Deon?" Tanya Papa kepadaku.
Ditanya soal perasaan, tubuhku langsung menegang tanpa sadar.
"Jadi kamu masih mencintai dia?" Papa menekan bahuku.
Aku menggigit bibirku merasa sangat bersalah.
"Nak, jangan hanya diam saja? Katakan dengan jelas kepada Papa apa kamu masih mencintainya?" Aku semakin bersalah ketika melihat kedua mata Papa mulai memerah.
Apa Papa sangat marah kepadaku?
Benar, memangnya orang tua mana yang tidak marah saat melihat salah satu putrinya merebut kekasih putri yang lain.
"Maafin Rain, Pa. Aku sudah mencoba untuk melupakannya tapi...tapi aku gak bisa." Mohon ku merasa sangat bersalah.
Papa terlihat sangat terpukul ketika mendengar jawabanku. Dia memijat keningnya dengan ekspresi putus asa di wajahnya. Pasti sangat sulit untuk Papa berdiri diantara aku dan Almira. Akan tetapi aku menyadari dari segi apapun Papa akan selalu memihak Almira karena di sini akulah yang salah, akulah yang merusak hubungan Deon dengan Almira.
"Dia adalah tunangan adikmu sendiri, Rain. Bukankah Papa sudah mengatakan ini sejak 5 tahun yang lalu?"
Ya, Papa sudah mengingatkan aku bahwa Deon dan Almira adalah pasangan kekasih, mereka akan segera menikah setelah usia mereka beranjak dewasa. Aku sudah mengingat kata-kata ini dengan baik, bahkan berusaha menekankan pada diriku sendiri bahwa tidak seharusnya aku menjadi orang ketiga di dalam hubungan adikku.
Aku sudah mengatakannya dan aku pikir sudah cukup tangguh untuk menanggungnya. Tapi ternyata aku sangat lemah, aku tidak bisa mempertahankan janjiku sendiri. Ketika Deon mengatakan akan menikahi ku kemarin, jujur hatiku sangat senang mendengarnya.
"Aku sudah berusaha menjauhi dia dan jika bukan karena kecelakaan ini mungkin aku tidak akan menikah dengan dia-"
"Maka dari itu jangan pernah tunjukkan perasaan mu kepada Deon, Nak! Dia...dia pasti tidak suka dengan pernikahan ini karena dihatinya sudah ada Almira. Papa tidak ingin bersikap tidak adil kepadamu, Nak, tapi ketahuilah kebahagiaan yang kamu rasakan hari ini adalah kebahagiaan semu. Kamu merebut calon suami adikmu sendiri adalah tindakan yang tidak dibenarkan, Nak. Setidaknya, tolong pikirkan adikmu dan berlakulah adil kepada adikmu. Kamu tidak boleh menghalangi hubungan adikmu dengan Deon di masa depan nanti, apa kamu paham?"
"Adil..." Gumam ku tanpa sadar.
"Aku hanya mengingatkan mu, Nak, agar jangan terlalu bertindak jauh dengan Deon nanti. Kamu harus tahu bahwa pernikahan ini tidak akan bertahan lama." Ini adalah fakta yang tidak bisa ku bantah dan cepat atau lambat harus aku hadapi.
"Iya, Pa. Aku tidak akan bertindak jauh." Aku berjanji untuk yang kedua kalinya kepada Papa dalam hidup ini.
Setelah selesai berkemas aku langsung turun ke bawah untuk mengambil beberapa barang ku di ruang perpustakaan. Meskipun tidak lagi kuliah tapi aku masih suka membenamkan diriku ke dalam sebuah buku dan bila memiliki waktu senggang aku juga akan menulis beberapa kata sederhana.
"Rain, kemari lah."
Aku langsung dipanggil oleh Papa begitu keluar dari perpustakaan. Papa terlihat jauh lebih tenang daripada terakhir kali saat berbicara denganku di dalam kamar.
"Iya, Pa?" Aku masuk ke dalam ruang tamu yang masih dipenuhi oleh orang-orang.
"Bawa Deon ke kamarmu."
Tubuhku langsung menegang setelah mendengar perintah Papa. Membawa Deon ke kamar ku?
"Apa yang sedang kamu tunggu? Bawa Deon ke kamar mu!" Suara tidak sabar Bibi Mei segera menarik ku dari pikiran ku sendiri.
"Oh.." Aku sangat malu dengan sikap bodohku sendiri.
"Apa kamu tidak mendengar apa yang Papa dan Bibi mu katakan?" Bibi Lara terlihat agak kesal.
Aku mengalihkan pandanganku malu tidak berani menatap Deon dan memilih mengabaikan tatapan culas dari keluarga ku.
"Aku akan membawamu ke ka-"
"Tidak perlu." Potong Deon membuatku terkejut.
sok polos...
masih penasaran 💪❤️