Aku adalah seorang gadis yang pantang menyerah sebelum berperang. Bahkan, saat berperang sebelum pun aku tidak akan mundur sebelum aku benar-benar kalah.
Ini kisahku, aku berusaha mengejar cinta seorang rektor muda yang sangat pintar. Jalan yang aku tempun untuk mendapatkan hati pak rektor tidak lah mudah. Penuh tantangan dan penuh jurang yang sulit untuk aku lewati.
Bisakah aku mendapatkan hati rektor tampan yang aku kejar. Apakah aku berhasil menjadi kekasih rektor tampan atau aku malah kalah dalam perjuanganku kali ini. Ayo ikuti kisahku, agar kalian tahu bagaimana jalan yang aku tempuh.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Harapan
Hari ini, aku kuliah seperti biasanya. Tapi belum sampai kekampus, mobilku dihadang oleh sebuah mobil yang tiba-tiba saja menyalip laju mobilku dari samping. Aku kaget bukan kepalang, dengan cepat aku injak rem mobil. Untung saja, mobil berhenti tepat waktu dan untung aku bawa mobil tidak laju.
Aku melihat mobil yang ada didepanku dengan mata tak percaya. Mobil itu tak lain adalah milik pak Rama. Pak Rama pun turun dari mobil dengan cepat. Lalu menghampiri mobil aku dan mengetuk kaca mobilku.
Aku yang masih diselimuti rasa kaget ini pun membuka pintu mobil dengan jantung yang masih berdegup kencang. Dan tangan yang gemetaran karna masih kaget.
"Ada apa sih pak, kenapa bapak harus menyalip mobil saya?" kataku dengan hati-hati.
"Aku hanya ingin mengatakan pada mu satu hal. Cari cara untuk membatalkan perjodohan antara kamu dengan aku. Atau kamu ingin hidup tersiksa dengan aku," kata pak Rama.
"Kenapa harus aku yang membatalkan perjodohan ini. Kenapa bukan pak Rama, aku hanya ikut apa yang orang tuaku inginkan saja. Pak Rama yang harus cari cara untuk membatalkannya, itu kalau pak Rama bisa," kataku.
"Jangan hancurkan harapanku Nia, aku akan jadi lelaki lebih nekat lagi dari yang kemarin kalau kamu menghancurkan harapanku."
Aku diam, aku tidak mengerti dengan apa yang pak Rama katakan. Pak Rama bilang, jangan hancurkan harapannya. Apa harapan yang akan aku hancurkan jika aku nikah sama dia. Apa dia punya rasa sama gadis lain, apa pak Rama sudah punya gadis yang ia sukai.
Pak Rama ini meninggalkan aku setelah mengatakan hal itu. Meninggalkan aku tanpa sepatah kata pun. Berlalu begitu saja, masuk kedalam mobilnya dan menghilang dijalan raya yang sibuk.
"Apa yang aku hancurkan sih sebenarnya, apa pak Rama punya pacar sekarang? Kenapa ia tidak bicarakan langsung pada orang tuanya untuk membatalkan perjodohan ini. Kenapa harus minta aku yang batalkan," kata ku pada diriku sendiri.
"Tidak, aku tidak akan membatalkan perjodohan ini. Aku yakin, dengan menikah dengan pak Rama, maka aku punya banyak kesempatan untuk mengejar cinta rektor tampan itu," kataku lagi.
Aku kembali bersemangat, aku tidak akan membatalkan perjodohan antara aku dan pak Rama. Bagaimana pun caranya, aku akan pertahankan kesempatan besar ini.
Aku kembali melanjutkan perjalananku menuju kampus, tanpa pikir apa yang pak Rama katakan. Aku tidak ingin jadi orang yang menyesal dikemudian hari, dengan melepaskan kesempatn besar ini.
Sampai dikampus, seperti biasanya. Aku tidak pernah bertegur sapa lagi dengan pak Rama. Aku akan kejar cinta pak Rama, tapi dengan cara yang berbeda. Bukan cara lebay yang terang-terangan seoerti yang aku lakukan kemaren-kemaren.
"Nia," kata seseorang dari belakangku.
"Iya," kataku sambil menoleh kearah asal suara.
Seperti dugaan ku, pemilik suara yang memanggil aku itu tak lain adalah pak Rico. Orang yang selalu saja ada dimana-mana, dan mencari kesempatan untuk dekat dengan aku. Sayangnya, aku tidak tertarik sama pak Rico.
"Nia, nanti siang makan bersama saya yah."
"Emmm, kayaknya gak bisa deh pak. Nia banyak tugas saat ini, nanti siang akan Nia kerjakan," kataku berusaha menolak secara halus.
"Kebetulan sekali Nia, saya bisa bantu kamu kerjakan tugasmu. Biar tugas mu lebih gampang dikerjakan sama saya."
"Aduh, bukan saya gak mau lho pak. Tapi, nanti yang lain akan iri hati sama saya yang bapak bantu. Sedangkan yang lain tidak bapak bantu," kataku cari alasan lain.
"Iya juga yah, yaudah deh kalo gitu Nia. Lain kali kita makan siang sama-sama ya Nia."
"Iya pak," kataku dengan perasaan lega.
Aku pun pamit secepat mungkin dari hadapan pak Rico. Kadang aku merasa capek juga harus bohong terus menerus dengan pak Rico. Sampai kapan aku harus bilang ada tugas saat pak Rico mengajak aku makan bersama. Tak selamanya aku bisa jadikan tugas sebagai alasan aku tidak bisa bersama pak Rico.
Terbesit di hatiku, andai saja yang bersikap manis itu pak Rama. Alangkah bahagianya aku jadi manusia di muka bumi ini. Tapi kenyataannya malah jauh berbeda dari impianku saat ini. Pak Rama malah sangat tidak suka dengan aku, segitu segala cara aku lakukan. Tetap saja, ia tidak suka sama aku.
coba pameran nya orang blasteran belanda indonesia
jd cewek kalem napa,jngn terlalu agresif