Nadia seorang gadis yang diterima kerja sebagai admin di sebuah pabrik sawit di kabupaten Dharmasraya sumatera Barat terlibat cinta terlarang dengan asisten manager di pabrik sawit tersebut yang bernama Arif, mereka sama-sama tidak bisa memendam perasaan karena sering bertemu di tempat pekerjaan, padahal mereka sama-sama punya tunangan di kampung nya masing-masing siapa kah nanti yang akan di pilih Nadia apakah Arif Assisten Manager atau Tunangannya yang bernama Rizki seorang guru sejarah di kampung halamannya di padang panjang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Siska Delvi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12 Gajian Pertama
Tanggal 28. Hari yang ditunggu semua karyawan PKS Dharmasraya.
Jam sembilan pagi, antrean di depan ruang keuangan sudah panjang. Sopir truk, operator loading ramp, mandor, semua pegang slip gaji. Wajah mereka tegang tapi senang.
Nadia ikut antre di paling belakang, bersama Mbak Sari. Ini gajian pertama Nadia setelah sebulan kerja.
"Bu Nadia, deg-degan ya? Gajian pertama rasanya seperti dapat THR," bisik Mbak Sari sambil pegang slipnya yang sudah diambil duluan. Di slip Mbak Sari tertulis gajinya bulan ini 3,2 juta.
Nadia mengangguk, tangannya berkeringat. Sejak Mama tidak transfer uang bulanan. ia hidup dari sisa tabungan. Uang di dompetnya tinggal 80 ribu.
Giliran Nadia.
Bu Lastri yang jadi admin keuangan itu hari itu, duduk di balik meja dengan kacamata baca di ujung hidung. Ia lihat nama Nadia di daftar.
"Nadia Pramasta?Admin baru?" tanya Bu Lastri.
"Iya, Bu Lastri," jawab Nadia pelan.
Bu Lastri serahkan amplop coklat. Tidak tebal.
"Ini gaji pokok kamu. Potongan mess, potongan BPJS, potongan koperasi. Sisa segitu. Jangan kaget ya, gaji admin baru memang segitu. Bulan depan kalau rajin lembur baru naik," kata Bu Lastri, suaranya tidak judes seperti biasanya, malah agak lembut.
Nadia terima amplop itu dengan dua tangan. Tangannya gemetar.
Ia jalan pelan ke pojok ruang administrasi, buka amplop di belakang lemari biar tidak dilihat orang.
Di dalamnya ada uang 2,8 juta dan slip. Gaji pokok 3,5 juta, potongan ini itu jadi 2,8 juta.
2,8 juta.
Nadia menatap uang itu lama. Air matanya tiba-tiba jatuh tanpa bisa ditahan. Satu tetes jatuh ke uang kertas itu.
Bukan karena kecil. Tapi karena ini pertama kalinya dalam hidupnya ia dapat uang dari kerja kerasnya sendiri. Bukan dari Papa, bukan dari Rizki, bukan dari Mama.
Uang yang bau oli dan debu, tapi halal.
Mbak Sari yang lihat dari jauh langsung samperin.
"Bu Nadia, kenapa nangis? Kurang ya? Ya memang gaji kita segini, Bu. Sabar ya," kata Mbak Sari panik, dikira Nadia kecewa.
Nadia cepat hapus air mata, senyum lebar.
"Bukan, Mbak. Aku senang. Senang banget. Ini gaji pertamaku, Mbak," kata Nadia, suaranya bergetar.
Mbak Sari ikut terharu, rangkul Nadia.
"Ya Allah, Bu Nadia. Saya dulu juga gitu pas gajian pertama. Nangis di toilet. Akhirnya bisa beliin anak saya sepatu baru."
Jam makan siang, kantin pabrik rame. Nadia traktir Mbak Sari dan Bu Lastri bakso.
"Pak yatno..bakso tiga mangkok, yang pedas!" teriak Mbak Sari ke penjual bakso.
Bu Lastri awalnya nolak. "Ndak usah, Nadia. Simpan uang kamu untuk kos."
"Gak apa-apa, Bu Lastri. Ini berkat Bu Lastri juga yang ajari saya bikin laporan bulanan. Anggap saja rasa terima kasih saya sama bu lastri," kata Nadia tulus.
Akhirnya mereka bertiga makan bakso bareng di meja kayu kantin yang panas. Bakso 15 ribu per mangkok, tapi rasanya seperti makan di restoran bintang lima buat Nadia.
Di meja seberang, Pak Bambang dan beberapa mandor juga makan. Pak Hendra Manager lewat, lihat mereka bertiga.
"Nah, ini baru keluarga PKS! Makan bareng! Nadia, gajian pertama ya? Traktir ya?" goda Pak Hendra dengan suara Bataknya yang keras.
Satu kantin tertawa. Nadia mengangguk malu-malu. "Iya, Pak..cuma bisa Traktir bakso saja, Pak."
"Bagus! Bulan depan traktir rendang ya!" kata Pak Hendra, lalu pergi.
Nadia tertawa. Untuk pertama kalinya ia merasa diterima.
Sore jam lima, setelah semua pulang, Nadia masih di ruang administrasi, hitung uangnya lagi. Ia pisahkan: 1 juta untuk makan 500 ribu untuk kirim ke Mama biar Mama tidak marah lagi, sisanya untuk tabungan.
Ponselnya bergetar. Bukan dari Mama,tapi Dari Rizki.
Rizki: Hallo...Nad, sudah gajian ya? Alhamdulillah kalau gitu,Kapan kamu jadinya pulang? Ibu sudah tidak marah lagi kok. Ibu Kamu kangen.
Nadia baca, tidak langsung balas. Ia foto slip gajinya, kirim ke Mama dengan tulisan: Ma, ini gaji pertama Nadia. Maaf bikin Mama malu kemarin. Nadia kirim 500 ribu ya Ma, untuk bantu di rumah.
Tidak lama, Mama balas: Iya, Nadia. Mama udah terima transferan mu, Jaga kesehatan di sana.
Nadia lega. Sedikit demi sedikit hubungan dengan Mama membaik.
Tapi kelegaan itu tidak lama.
Di ruang Asisten Manager, Arif juga lagi dapat telepon. Telepon yang bikin wajahnya tegang.
Ponsel Arif di loudspeaker, Nadia yang masih di ruang administrasi bisa dengar samar-samar karena dinding tipis.
"Hallo Arif, aku sudah pesan tiket bus ALS. Berangkat besok malam dari Medan, sampai Dharmasraya lusa pagi. Kita harus bicara serius, Arif. Aku tidak mau LDR begini terus. Aku capek dicurigai terus," suara Karin, jelas, dingin, dan marah.
Nadia membeku di kursinya.
"Sayang, jangan datang dulu. Pabrik lagi sibuk. Banyak audit dari pusat. Kamu di Medan saja dulu ya..," jawab Arif pelan, mencoba bujuk.
"Gak..! Aku harus datang! Kalau emang kamu gak ada apa-apa dengan admin barumu itu, kenapa kamu takut aku datang? Arif, aku ini tunangan kamu! Bukan pacar main-main! Tiga tahun lo rif! Tiga tahun aku tunggu kamu lamar resmi!" bentak Karin.
Arif terdiam lama.
"Oke. Terserah kamu. Hati-hati di jalan," kata Arif akhirnya, lelah. Lalu telepon dimatikan.
Nadia duduk kaku. Jantungnya berdegup kencang. Karin akan datang lusa pagi. Dengan bus ALS. Dengan bukti foto teh malam-malam itu. Dengan amarah tiga tahun.
Malam itu, Nadia tidak bisa tidur. Ia hitung gajian pertamanya lagi. 2,8 juta. Di satu sisi ia senang. Di sisi lain ia takut.
Ia buka jendela mess, lihat ke arah mess putra. Lampu kamar Arif masih menyala. Bayangan Arif terlihat duduk di tepi kasur, menatap ponsel.
Nadia tutup jendela pelan.
Lusa, Karin datang. Dan semua yang sudah ia bangun sebulan ini - pertemanan dengan Mbak Sari, Bu Lastri, Pak Bambang, dan rasa nyaman dengan Arif - bisa hancur dalam sehari.
Tapi untuk malam ini, Nadia mau nikmati dulu gajian pertamanya. Ia ambil satu lembar uang 50 ribu, selipkan di bawah bantal.
Sebagai jimat. Sebagai bukti kalau ia bisa hidup tanpa sepatu mengkilap dan tanpa pelaminan Ivory Cream.
Di luar, hujan turun lagi. Suara boiler masih berdengung. Pabrik tidak pernah tidur.
Dan di Medan, seorang dokter cantik sudah naik bus ALS menuju Dharmasraya, dengan koper besar dan hati penuh curiga.
Bersambung
---