NovelToon NovelToon
Kembali Menemukan Cinta

Kembali Menemukan Cinta

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:319
Nilai: 5
Nama Author: bammoon

**"Bagaimana jika seseorang yang ingin kau sembuhkan justru menjadi alasan hatimu sendiri terluka?"**

Setiap orang memiliki masa lalu yang ingin dilupakan. Namun, tidak semua orang mampu melepaskan kenangan yang pernah membuatnya bahagia.

Begitu pula dengan seorang lelaki yang masih terjebak dalam penyesalan masa lalunya. Di balik sikap dingin dan tatapan kosongnya, tersimpan sebuah kisah cinta yang belum selesai. Ia terus menunggu seseorang yang entah akan kembali atau tidak, seolah waktu berhenti sejak hari ketika ia kehilangan sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya.

Hingga suatu hari, seorang murid baru datang ke sekolahnya.

Gadis pendiam yang awalnya hanya ingin menjalani kehidupan sekolah dengan tenang itu tanpa sengaja menaruh rasa penasaran pada sosok lelaki yang selalu terlihat menyendiri.

"Aku datang karena pena dengan kisahmu. Namun tanpa sadar, aku justru ingin menjadi bagian dari kisah yang baru dalam hidupmu"

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bammoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kesibukan baru

Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi setelah pelajaran terakhir selesai. Suasana kelas yang sebelumnya dipenuhi suara guru kini berubah menjadi ramai. Beberapa siswa segera membereskan buku pelajaran, sementara sebagian lainnya masih sibuk membicarakan tugas yang baru saja diberikan.

Hikari menutup buku catatannya, kemudian memasukkannya ke dalam tas. Hari itu terasa cukup melelahkan, terutama karena sejak pagi dia harus menghadapi berbagai persoalan yang sebenarnya ingin dihindarinya. Namun, setelah menghabiskan waktu istirahat bersama Keiran, suasana hatinya sudah jauh lebih baik.

Di sebelahnya, Neta sedang sibuk mencari sesuatu di dalam laci meja. Gadis itu beberapa kali memindahkan buku sebelum akhirnya menemukan tempat pensil yang sejak tadi dicarinya.

"Hikari, pulang bareng?" tanya Neta sambil memasukkan tempat pensil ke dalam tas.

Hikari menggeleng kecil.

"Maaf, Net. Aku dijemput Pak Damar."

"Oh, iya. Aku lupa kamu biasanya dijemput."

Neta kembali membereskan barang-barangnya. Namun, beberapa saat kemudian, dia menghentikan gerakan tangannya dan menoleh kepada Hikari dengan ekspresi penasaran.

"Eh, Hikari. Aku mau tanya sesuatu."

"Tanya aja."

"Tadi waktu istirahat, kamu sama Keiran, ya?"

Gerakan tangan Hikari yang sedang menutup ritsleting tas seketika terhenti. Dia menatap teman sebangkunya itu dengan wajah sedikit terkejut.

"Kok kamu tahu?"

"Berarti bener?"

Hikari mengangguk tanpa merasa perlu menyembunyikannya. Bagaimanapun, dia memang menghabiskan waktu istirahat bersama Keiran. Tidak ada sesuatu yang menurutnya harus dirahasiakan.

Neta mengembuskan napas panjang.

"Tadi ada anak kelas sebelah yang lihat kalian jalan bareng dari taman. Terus mereka cerita ke beberapa anak."

Hikari terdiam sebentar. Dia sebenarnya sudah menduga bahwa kebersamaannya dengan Keiran mungkin akan menarik perhatian beberapa siswa. Namun, dia tidak menyangka kabar tersebut akan menyebar secepat itu.

"Lagian kenapa, sih, mereka suka banget ngomongin orang?" gumam Neta kesal.

Hikari hanya mengangkat bahu.

"Mungkin mereka penasaran."

"Penasaran juga ada batasnya, Hikari. Kemarin kamu sampai diganggu gara-gara gosip itu, sekarang mereka malah mulai lagi."

Hikari memahami kekhawatiran Neta. Akan tetapi, dia juga tidak ingin terus-menerus merasa takut hanya karena perkataan orang lain. Apalagi Keiran tidak melakukan sesuatu yang salah dengan datang menemuinya saat istirahat.

"Aku nggak bisa melarang mereka ngomong, Net."

"Iya, tapi kamu juga harus hati-hati."

Hikari mengangguk kecil.

Setelah memastikan tidak ada barang yang tertinggal di meja mereka, keduanya berdiri dan berjalan keluar kelas bersama. Koridor sekolah sudah dipenuhi siswa yang hendak pulang. Beberapa kelompok berjalan sambil bercanda, sementara yang lainnya bergegas menuju tangga.

Ketika mereka hampir sampai di lantai dasar, Neta tiba-tiba memperlambat langkahnya.

"Hikari, itu bukannya Keiran?"

Hikari mengikuti arah pandangan sahabatnya.

Tidak jauh dari tempat mereka berdiri, Keiran terlihat sedang berjalan bersama Fio dan dua siswa laki-laki lainnya. Salah satunya membawa bola basket, sementara Fio tampak sibuk mengatakan sesuatu yang membuat kedua temannya tertawa.

Keiran sendiri berjalan dengan ekspresi datar seperti biasanya.

Hikari sebenarnya tidak berniat menghampiri mereka. Namun, Fio yang lebih dahulu melihat keberadaannya langsung mengangkat tangan.

"Hikari!"

Beberapa siswa di sekitar mereka spontan menoleh.

Hikari sempat terkejut sebelum akhirnya membalas sapaan tersebut. Neta yang berdiri di sampingnya justru terlihat semakin penasaran.

Fio segera menghampiri mereka.

"Mau pulang?"

"Iya."

"Sendirian?"

"Sama Neta. Tapi nanti aku dijemput."

Fio mengangguk, kemudian melirik Neta yang berdiri di samping Hikari. Setelah itu, perhatiannya kembali tertuju kepada gadis tersebut.

"Eh, katanya tadi lo dipanggil ke ruang pertemuan, ya?"

Hikari mengangguk.

"Udah selesai, kok."

"Syukurlah. Gue sempat mau nyari lo tadi, tapi kelas gue ada tugas."

Fio sebenarnya masih ingin menanyakan beberapa hal. Sejak mendengar kabar mengenai kejadian di gudang, dia merasa cukup khawatir. Meskipun belum terlalu lama mengenal Hikari, Fio merasa gadis itu cukup menyenangkan untuk diajak berteman.

Namun, sebelum percakapan mereka berlanjut, salah satu teman Keiran memanggil dari belakang.

"Fio! Jadi ke lapangan nggak?"

"Sebentar!"

Fio menoleh kembali kepada Hikari.

"Ya udah, hati-hati pulangnya."

"Iya, kamu juga."

Ketika Fio berbalik, Hikari tanpa sengaja bertatapan dengan Keiran yang berdiri beberapa langkah di belakangnya.

Laki-laki itu hanya memandangnya sebentar.

Hikari tersenyum kecil dan menganggukkan kepala sebagai sapaan. Keiran membalasnya dengan anggukan singkat sebelum kembali berjalan bersama teman-temannya.

Tidak ada percakapan lain di antara mereka.

Namun, Neta yang sejak tadi memperhatikan interaksi tersebut langsung menyenggol pelan lengan Hikari.

"Kalian sekarang udah akrab banget, ya?"

Hikari mengerutkan kening.

"Nggak juga."

"Tapi dia nyapa kamu."

"Kan aku yang nyapa duluan."

Neta terdiam sebentar, kemudian tertawa kecil.

"Iya juga, sih."

Hikari hanya menggeleng melihat tingkah sahabatnya. Keduanya kemudian melanjutkan perjalanan menuju gerbang sekolah.

Di sisi lain, Fio yang baru saja kembali bergabung dengan teman-temannya langsung menoleh kepada Keiran.

"Kei."

"Apa?"

"Lo tadi sama Hikari waktu istirahat?"

Keiran tidak segera menjawab. Dia hanya memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana sambil terus berjalan.

Fio menyipitkan mata.

"Berarti bener, ya?"

"Apaan?"

"Katanya lo berdua duduk di taman."

Keiran menoleh dengan ekspresi tidak tertarik.

"Terus kenapa?"

"Nggak kenapa-kenapa. Gue cuma heran."

Salah satu teman mereka yang mendengar percakapan tersebut langsung ikut menimpali.

"Sejak kapan lo suka nongkrong sama Hikari?"

Keiran menghentikan langkahnya.

"Mulut kalian nggak bisa diem sebentar?"

Fio justru tertawa mendengar jawaban tersebut. Dia sudah cukup mengenal sifat Keiran untuk mengetahui bahwa laki-laki itu tidak suka dijadikan bahan godaan.

Namun, yang membuatnya penasaran bukanlah kebersamaan mereka di taman, melainkan perubahan sikap Keiran terhadap Hikari.

Dulu, ketika Hikari pertama kali mendekatinya, Keiran terlihat begitu terganggu. Bahkan Fio sempat mendengar bagaimana laki-laki itu terang-terangan menolak ketika Hikari mengajaknya berteman.

Sekarang, Keiran justru bersedia menghabiskan waktu bersamanya.

Perubahan itu memang tidak terlalu besar, tetapi cukup membuat Fio merasa heran.

"Eh, Kei. Serius, deh," ucap Fio setelah tawanya mereda. "Lo nggak takut Hikari diganggu lagi gara-gara gosip?"

Langkah Keiran sedikit melambat.

Pertanyaan itu membuat suasana di antara mereka berubah.

Fio tidak sedang bercanda. Dia mengetahui bahwa beberapa siswi yang mengganggu Hikari sebelumnya memang tidak menyukai kabar mengenai kedekatan gadis itu dengan Keiran.

Meskipun pihak sekolah sudah menangani masalah tersebut, bukan berarti semua persoalan akan langsung selesai.

Keiran menatap Fio sebentar.

"Kalau ada yang mau cari masalah, suruh hadapin gue."

Fio terdiam.

Sementara itu, kedua teman laki-laki mereka saling berpandangan.

Keiran tidak menunggu tanggapan siapa pun. Dia kembali berjalan menuju lapangan basket, meninggalkan Fio yang masih memperhatikannya dengan ekspresi sulit diartikan.

\*\*\*

Sore harinya, mobil yang dikendarai Pak Damar berhenti di halaman rumah Hikari.

Setelah mengucapkan terima kasih, Hikari segera turun sambil membawa tas sekolahnya. Dia berjalan melewati halaman yang tertata rapi sebelum memasuki rumah melalui pintu utama.

"Non Hikari sudah pulang?"

Suara Bi Sumi terdengar dari arah ruang makan.

"Iya, Bi."

Wanita paruh baya itu segera menghampiri Hikari. Wajahnya terlihat sedikit lega ketika melihat gadis itu pulang dalam keadaan baik.

"Bagaimana sekolah hari ini, Non?"

"Baik, Bi."

"Masalah kemarin sudah selesai?"

Hikari mengangguk sambil melepaskan sepatu.

"Udah. Tadi juga Mama datang ke sekolah."

Bi Sumi tampak sedikit terkejut.

"Nyonya datang?"

"Iya."

"Syukurlah kalau begitu."

Hikari hanya tersenyum kecil.

Dia tidak menjelaskan bagaimana pertemuan tersebut berlangsung. Bukan karena ingin menyembunyikannya, melainkan karena merasa tidak ada lagi yang perlu diceritakan.

Bi Sumi kemudian memberitahukan bahwa makan siang sudah disiapkan. Namun, Hikari mengatakan bahwa dirinya masih kenyang karena sempat makan saat istirahat.

"Kalau begitu, Non istirahat dulu. Nanti kalau lapar, panggil Bibi, ya."

"Iya, Bi."

Hikari menaiki tangga menuju kamarnya. Setelah meletakkan tas di atas meja belajar, dia mengganti seragam sekolah dengan pakaian rumah yang lebih nyaman.

Sore itu dia sebenarnya berencana mengerjakan tugas yang diberikan guru. Namun, ketika baru saja membuka buku, suara ketukan terdengar dari pintu kamarnya.

"Non?"

"Masuk aja, Bi."

Bi Sumi membuka pintu perlahan.

"Maaf mengganggu. Tadi Nyonya menelepon."

Hikari mengangkat wajah.

"Mama?"

"Iya. Nyonya bilang malam ini tidak pulang karena ada pekerjaan di luar kota."

Hikari terdiam beberapa saat sebelum akhirnya mengangguk.

"Oh, iya."

"Katanya mungkin baru pulang lusa."

"Nggak apa-apa, Bi."

Bi Sumi memperhatikan Hikari sebentar. Wanita itu sebenarnya ingin mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya memilih diam.

Setelah memastikan tidak ada lagi yang dibutuhkan, dia meninggalkan kamar dan menutup pintu dengan hati-hati.

Hikari kembali menatap buku di hadapannya. Ibunya pergi lagi.

Sebenarnya, hal itu bukan sesuatu yang mengejutkan. Sejak kecil, Hikari sudah terbiasa dengan perjalanan bisnis ibunya yang terkadang berlangsung selama beberapa hari.

Namun, setelah pertemuan di sekolah tadi, dia sempat berharap mereka bisa berbicara sebentar di rumah. Rupanya kesempatan itu belum datang.

Hikari mengambil pensil, kemudian mulai mengerjakan tugasnya. Dia memutuskan tidak ingin menghabiskan sore hanya untuk memikirkan sesuatu yang tidak bisa diubahnya.

Keesokan paginya, suasana sekolah terasa lebih ramai dari biasanya. Beberapa siswa terlihat berkumpul di dekat papan pengumuman yang berada di lantai dasar. Mereka saling berbicara sambil menunjuk beberapa lembar kertas yang baru saja ditempel.

Hikari yang baru tiba bersama Neta sempat memperhatikan kerumunan tersebut.

"Ada apa, ya?" tanyanya.

Neta menggeleng.

"Nggak tahu. Coba lihat, yuk."

Keduanya berjalan mendekati papan pengumuman. Di sana terdapat pemberitahuan mengenai kegiatan festival sekolah yang akan diselenggarakan beberapa minggu lagi.

Setiap kelas diwajibkan menyiapkan satu kegiatan, baik berupa stan makanan, permainan, pameran, maupun pertunjukan. Selain itu, beberapa siswa juga akan dipilih menjadi panitia untuk membantu persiapan acara.

"Wah, festival sekolah!" seru Neta antusias.

Hikari membaca pengumuman tersebut dengan cukup tertarik. Dia memang belum pernah mengikuti festival di sekolah barunya. Karena itu, kegiatan tersebut terdengar menyenangkan baginya.

"Kayaknya seru," ucap Hikari.

"Banget! Tahun lalu kelas aku bikin rumah hantu. Ramai banget sampai antreannya panjang."

"Serius?"

"Iya. Tapi tahun ini aku pengin yang beda."

Neta mulai menceritakan beberapa kegiatan yang pernah diadakan pada festival sebelumnya. Hikari mendengarkannya sambil sesekali mengajukan pertanyaan. Mereka bahkan sempat membicarakan kemungkinan membuat kafe kecil di kelas.

Namun, percakapan itu terhenti ketika seseorang tiba-tiba memanggil nama Hikari dari belakang.

"Hikari."

Keduanya menoleh.

Nadya, salah satu pengurus OSIS, berdiri tidak jauh dari mereka sambil membawa beberapa lembar kertas.

"Hikari, wali kelas kamu kemarin merekomendasikan beberapa siswa buat bantu bagian dekorasi. Nama kamu salah satunya."

Hikari tampak terkejut.

"Aku?"

"Iya. Katanya kamu cukup bagus waktu tugas desain poster bulan lalu."

Hikari baru mengingat tugas kelompok yang pernah dikerjakannya bersama Neta. Saat itu, dia memang bertanggung jawab membuat rancangan poster untuk presentasi kelas. Namun, dia tidak menyangka hasil pekerjaannya akan membuat guru merekomendasikannya sebagai panitia.

"Kalau kamu bersedia, nanti sepulang sekolah ada pertemuan pertama di ruang seni."

Hikari sempat berpikir sebentar. Dia sebenarnya tidak memiliki kegiatan khusus sepulang sekolah. Selain itu, bergabung dalam persiapan festival mungkin bisa menjadi kesempatan baginya untuk mengenal lebih banyak teman.

"Aku boleh ikut."

Nadya tersenyum.

"Oke. Nanti jangan lupa datang, ya."

Setelah mencatat nama Hikari, Nadya kembali menghampiri beberapa siswa lainnya.

Neta langsung menoleh dengan wajah antusias.

"Hikari! Kamu jadi panitia!"

Hikari tertawa kecil.

"Baru bagian dekorasi, Net."

"Tetap aja! Aku juga mau daftar, ah."

Neta segera kembali membaca pengumuman untuk mencari informasi pendaftaran panitia tambahan.

Hikari yang melihat tingkah temannya hanya menggeleng sambil tersenyum. Untuk pertama kalinya sejak pindah ke sekolah tersebut, dia merasa benar-benar tertarik mengikuti sebuah kegiatan.

Sepulang sekolah, Hikari langsung menuju ruang seni sesuai arahan Nadya.

Ruangan itu berada di lantai dua gedung sebelah timur. Ketika Hikari tiba, beberapa siswa sudah berkumpul di dalamnya. Sebagian sedang duduk mengelilingi meja panjang, sementara yang lainnya sibuk memindahkan perlengkapan gambar.

Hikari sempat berhenti di ambang pintu. Dia tidak mengenal sebagian besar siswa yang berada di sana.

Namun, sebelum sempat merasa canggung, Nadya sudah lebih dahulu melihat kedatangannya.

"Hikari! Sini."

Hikari segera menghampirinya.

Pertemuan pertama berlangsung cukup santai. Nadya menjelaskan konsep festival tahun ini, pembagian tugas, serta beberapa rancangan dekorasi yang harus diselesaikan sebelum acara dimulai.

Hikari mendapatkan tugas membantu membuat desain gerbang utama festival bersama dua siswa lainnya, termasuk Arsen.

Laki-laki itu memiliki rambut hitam yang sedikit berantakan dan mengenakan seragam dengan lengan digulung hingga siku. Sejak awal pertemuan, dia terlihat cukup santai, bahkan beberapa kali mendapat teguran karena terus memainkan pensil di tangannya.

"Katanya lo jago gambar?" tanya Arsen ketika mereka mulai berkumpul sesuai kelompok.

Hikari segera menggeleng.

"Nggak juga. Aku cuma suka bikin desain."

"Bagus, berarti kerjaan gue bisa lebih ringan."

Hikari terdiam sesaat.

Melihat ekspresi gadis itu, Arsen justru tertawa.

"Bercanda. Santai aja."

Siswa perempuan yang menjadi anggota kelompok mereka langsung menepuk lengan Arsen menggunakan gulungan kertas.

"Jangan ganggu Hikari, Sen."

"Siapa yang ganggu?"

Hikari akhirnya ikut tersenyum kecil.

Suasana kelompok tersebut ternyata jauh lebih menyenangkan daripada yang dia bayangkan. Mereka mulai mendiskusikan konsep gerbang utama. Hikari mengusulkan penggunaan hiasan berbentuk bintang dan lampu kecil yang dipadukan dengan papan nama festival.

Arsen sempat memberikan beberapa masukan mengenai ukuran dan bahan yang mungkin digunakan. Dia juga membantu Hikari menentukan bagian mana yang harus dibuat terlebih dahulu agar pekerjaan mereka tidak terlalu menumpuk menjelang festival.

Tanpa terasa, waktu berlalu cukup cepat.

Menjelang sore, sebagian besar rancangan awal akhirnya selesai dibuat. Nadya meminta mereka menyerahkan hasil diskusi sebelum mengakhiri pertemuan.

Hikari sedang membereskan pensil warna ketika Arsen tiba-tiba meletakkan sebuah buku sketsa di hadapannya.

"Ini punya lo?"

Hikari mengangguk.

"Iya."

"Bagus juga gambarnya."

Hikari sedikit terkejut karena buku tersebut memang terbuka pada salah satu halaman berisi gambar buatannya.

"Makasih."

Arsen kemudian menunjuk salah satu gambar bangunan kecil yang terdapat di halaman tersebut.

"Lo pernah ikut lomba desain?"

"Belum pernah."

"Sayang banget. Padahal lumayan."

Hikari hanya tersenyum. Dia tidak terlalu terbiasa menerima pujian dari orang yang baru dikenalnya.

Setelah berpamitan kepada anggota kelompok lainnya, Hikari akhirnya meninggalkan ruang seni. Namun, baru beberapa langkah berjalan, dia mendengar suara seseorang memanggilnya.

"Hikari!"

Arsen berlari kecil menghampirinya sambil membawa penggaris panjang.

"Ini ketinggalan."

Hikari langsung memeriksa tasnya.

"Ah, iya. Makasih."

Arsen menyerahkan penggaris tersebut, kemudian berjalan bersamanya menuju tangga.

Mereka sempat membicarakan rancangan festival yang harus diselesaikan minggu depan. Arsen juga memberitahukan bahwa beberapa perlengkapan dekorasi kemungkinan akan dibuat di aula sekolah.

Ketika sampai di lantai dasar, keduanya berpisah.

Hikari berjalan menuju gerbang, sementara Arsen kembali ke arah lapangan.

Tanpa mereka sadari, seseorang telah memperhatikan percakapan tersebut dari kejauhan.

Fio yang baru saja keluar dari ruang OSIS menoleh kepada Keiran yang berdiri di sampingnya.

"Eh, itu Hikari, kan?"

Keiran mengikuti arah pandangannya.

Di kejauhan, Hikari terlihat sedang berjalan menuju gerbang sekolah sambil membawa sebuah map besar.

"Iya."

"Tadi sama Arsen?"

Keiran tidak menjawab.

Fio memperhatikan laki-laki itu sebentar sebelum kembali berbicara.

"Kayaknya Hikari ikut panitia festival, deh. Arsen kan koordinator perlengkapan sama dekorasi."

Keiran hanya mengangguk.

Dia sebenarnya tidak terlalu tertarik membicarakan kegiatan festival. Bahkan sejak tadi dirinya sudah ingin pulang, tetapi Fio terus menahannya karena masih harus mengambil beberapa berkas di ruang OSIS.

Namun, sebelum mereka melanjutkan perjalanan, sebuah suara tiba-tiba terdengar dari belakang.

"Keiran."

Keduanya menoleh.

Arsen berdiri beberapa langkah dari mereka sambil membawa tas selempang di bahunya.

"Lo belum pulang?"

"Belum," jawab Keiran singkat.

Arsen mengangguk, kemudian menoleh kepada Fio.

"Fio, nanti bilang Nadya kalau rancangan gerbang udah hampir selesai. Tinggal revisi dikit."

"Oke."

Arsen hendak pergi, tetapi tiba-tiba seperti mengingat sesuatu.

"Oh, iya. Kei."

Keiran menoleh.

"Kenapa?"

"Lo kenal Hikari?"

Pertanyaan itu membuat Fio spontan mengangkat alis.

Keiran memperhatikan Arsen beberapa saat.

"Kenapa?"

"Nggak. Tadi gue satu kelompok sama dia."

"Terus?"

Arsen mengangkat bahu.

"Cuma nanya. Orangnya asyik juga."

Fio yang berdiri di samping Keiran mulai menunjukkan senyuman geli. Dia sepertinya menemukan sesuatu yang menarik dari percakapan tersebut.

Namun, Keiran tidak memberikan reaksi berarti.

"Kalau cuma mau nanya itu, gue pulang."

Tanpa menunggu jawaban, Keiran langsung berjalan meninggalkan mereka.

Arsen menatap punggung laki-laki itu dengan wajah bingung.

"Kenapa tuh anak?"

Fio tertawa kecil.

"Udah biasa."

Arsen hanya menggeleng sebelum akhirnya berjalan ke arah parkiran.

Sementara itu, Fio segera menyusul Keiran yang sudah berjalan cukup jauh.

"Kei, tunggu!"

Keiran tidak memperlambat langkah.

"Apaan lagi?"

Fio berjalan di sampingnya dengan senyuman yang belum juga hilang.

"Arsen kayaknya tertarik sama Hikari."

Keiran tetap menatap lurus ke depan.

"Bukan urusan gue."

"Iya, sih."

Fio sengaja diam beberapa saat.

Namun, ketika mereka hampir sampai di parkiran, dia kembali membuka mulut.

"Tapi Arsen emang gampang akrab sama cewek. Apalagi kalau orangnya cantik."

Keiran tiba-tiba berhenti.

Fio ikut menghentikan langkah.

"Kenapa?"

Keiran menatapnya datar.

"Lo dari tadi nggak capek ngomong?"

Fio langsung tertawa.

"Ya ampun, gue cuma cerita!"

Keiran menggeleng, kemudian kembali berjalan menuju motornya.

Fio tidak lagi menggodanya. Dia hanya memperhatikan Keiran yang mulai mengenakan helm sambil memikirkan sesuatu.

Sebenarnya, Fio tidak tahu apakah Keiran benar-benar merasa terganggu dengan pembicaraan tadi atau hanya kesal karena terus digoda.

Namun, dia cukup mengenal Arsen.

Laki-laki itu memang mudah bergaul dan cukup populer di sekolah. Selain aktif dalam berbagai kegiatan, Arsen juga dikenal memiliki banyak teman perempuan.

Dan sekarang, Arsen berada dalam satu kelompok dengan Hikari.

Fio merasa festival sekolah kali ini mungkin akan menjadi jauh lebih ramai daripada tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, Hikari baru saja sampai di rumah ketika ponselnya menerima sebuah pesan dari nomor yang belum dikenalnya.

Dia sedang duduk di ruang keluarga sambil menikmati segelas jus yang disiapkan Bi Sumi.

Awalnya, Hikari mengira pesan tersebut berasal dari salah satu anggota panitia festival.

Namun, ketika membuka layar ponselnya, dia justru menemukan pesan singkat yang membuat keningnya sedikit berkerut.

Halo, Hikari. Ini Arsen. Nomer lo gue dapet dari grup panitia.

Hikari membaca pesan itu sebentar sebelum membalas.

oh, iya ada apa?

Balasan datang tidak lama kemudian.

Gue mau kirim beberapa referensi buat desain gerbang. Biar besok kita nggak mulai dari nol lagi.

Hikari segera membalas.

Boleh. Makasih, ya

Beberapa gambar kemudian masuk ke ruang percakapan mereka. Hikari membukanya satu per satu, lalu menyimpannya untuk digunakan sebagai bahan referensi.

Dia bahkan sempat mengambil buku sketsanya dan mulai membuat beberapa perubahan pada rancangan awal.

Bagi Hikari, percakapan tersebut hanyalah bagian dari pekerjaan kelompok yang baru saja dimulainya.

Dia tidak mengetahui bahwa kehadiran Arsen dalam kesehariannya perlahan akan membawa persoalan baru.

Terlebih ketika beberapa siswa mulai memperhatikan bahwa Hikari, gadis yang sebelumnya ramai dibicarakan karena Keiran, kini juga terlihat cukup dekat dengan Arsen yang populer.

Dan kali ini, masalah yang muncul bukan berasal dari ketiga siswi yang pernah mengganggunya, melainkan dari seseorang yang sama sekali belum pernah berurusan dengannya.

Seseorang yang selama ini memiliki alasan tersendiri untuk tidak menyukai Arsen.

1
Paw_chan🐾
wah
Im Human
lanjut penasaran banget
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!