NovelToon NovelToon
MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

MEKANIK: Yang Diremehkan, Ternyata Mekanik Top 1 Dunia.

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Mengubah Takdir / Action
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Rahmat Agung

Di dunia otomotif, uang bisa membeli mobil mewah, kekuasaan bisa membeli bengkel terbaik, dan nama besar bisa membuat seseorang dihormati. Namun, tidak semua orang memahami bahwa di balik setiap mesin hebat, ada seseorang yang benar-benar mengerti cara kerjanya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rahmat Agung, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 9 — JEJAK ARX-9 DI BABAK FINAL

Arga tidak segera menyentuh kendaraan uji di hadapannya.

Notifikasi yang muncul beberapa detik lalu masih terbayang jelas dalam pikirannya.

SYSTEM ACCESS — ARX LEGACY PROFILE DETECTED.

Hanya satu baris. Muncul sebentar, kemudian menghilang sebelum siapa pun sempat memperhatikannya.

Namun, Arga tahu istilah tersebut bukan bagian dari konfigurasi standar yang biasa digunakan dalam kompetisi otomotif nasional.

ARX Legacy Profile.

Lima tahun lalu, timnya mengembangkan sistem kontrol mesin eksperimental yang diberi nama ARX-9. Proyek itu dirancang untuk meningkatkan efisiensi pembakaran, mengoptimalkan respons tenaga, dan menyelaraskan kerja mesin dengan sistem penggerak elektrik.

Proyek tersebut seharusnya menjadi terobosan besar.

Namun, semuanya berakhir setelah insiden pengujian yang membuat nama Arga tercoreng.

Sekarang, istilah yang sama muncul pada sistem kendaraan kompetisi.

Kebetulan?

Atau seseorang sengaja membawanya kembali ke tempat ini?

"Arga, kita harus mulai sekarang."

Suara Rendy memutus lamunannya.

Arga menoleh. Rendy sudah berdiri di samping kendaraan sambil memegang tablet diagnostik.

"Aku tidak tahu apa yang sedang kamu pikirkan, tetapi kita punya batas waktu," lanjut Rendy.

"Aku tahu."

"Kalau begitu, apa yang kamu tunggu?"

Arga menunjuk layar diagnostik.

"Aku melihat notifikasi yang tidak sesuai dengan deskripsi kendaraan."

Rendy mengerutkan dahi.

"Notifikasi apa?"

"Profil sistem lama. Aku ingin memastikan apakah itu bagian dari konfigurasi pengujian atau kesalahan tampilan."

Rendy mendengus.

"Kamu mulai lagi dengan kecurigaanmu. Ini kompetisi, bukan tempat untuk menyelidiki teori konspirasi."

"Aku tidak sedang menuduh siapa pun. Aku hanya ingin memastikan data yang kita gunakan benar."

Dimas Prakoso mendekat sambil membawa lembar instruksi.

"Aku setuju dengan Arga. Kita bisa mencatat temuan itu, lalu meminta petugas teknis memverifikasi konfigurasi. Sambil menunggu, kita tetap dapat memeriksa data yang memang diizinkan."

Rendy memandang Dimas, lalu Arga.

"Baik. Tetapi kalau kita tertinggal, jangan salahkan aku."

Arga mengangguk.

"Tidak ada yang perlu disalahkan kalau kita bekerja dengan benar."

Fajar menerima permintaan verifikasi dari tim nomor tujuh belas.

Ia membaca catatan Arga dengan saksama, kemudian memanggil dua teknisi penyelenggara untuk memeriksa sistem kendaraan.

"Apakah ada perubahan konfigurasi setelah kendaraan diserahkan kepada panitia?" tanyanya.

Salah seorang teknisi menggeleng.

"Seharusnya tidak ada. Semua kendaraan diperiksa sebelum final."

"Periksa log aksesnya."

Teknisi itu segera membuka konsol pemeriksaan.

Beberapa menit berlalu.

Fajar mengamati layar dengan alis berkerut.

"Ada akses tambahan pada sistem kontrol," kata teknisi tersebut akhirnya. "Namun, catatan pengguna tidak menampilkan nama operator. Hanya ada kode servis."

"Siapa yang memasukkan kode itu?"

"Kami belum bisa memastikan. Kode tersebut tercatat sebagai akses pemeliharaan."

Fajar menoleh ke arah kendaraan.

"Apakah akses itu mengubah konfigurasi pengendali mesin?"

"Kami belum tahu. Kami perlu membandingkan konfigurasi saat ini dengan berkas pemeriksaan awal."

Fajar mengangguk tegas.

"Lakukan sesuai prosedur. Jangan mengubah apa pun sebelum salinan data dibuat."

Ia kemudian menghampiri Arga.

"Temuanmu benar. Ada akses pemeliharaan yang tidak tercantum dalam laporan awal."

Arga tidak menunjukkan kepuasan.

"Apakah sistemnya aman digunakan?"

"Kami belum bisa menyimpulkan sebelum pemeriksaan selesai. Untuk sementara, timmu boleh melakukan analisis pada data yang telah disediakan, tetapi pengujian aktif ditunda sampai teknisi memastikan kondisinya aman."

"Baik."

Rendy yang mendengar percakapan itu tampak tidak nyaman.

"Jadi, kita harus menunggu lagi?"

Fajar menatapnya.

"Keselamatan peserta dan integritas kompetisi lebih penting daripada mengejar waktu."

Rendy mengatupkan mulut.

Arga kembali ke meja kerja, membuka catatannya, dan mulai menyusun urutan gejala berdasarkan informasi yang sudah tersedia.

Gangguan terjadi ketika kendaraan berpindah dari mode listrik ke mode pembakaran.

Peringatan muncul sesaat.

Tidak ada kode kerusakan permanen.

Catatan akses pemeliharaan tidak lengkap.

Tiga hal tersebut belum membuktikan adanya hubungan dengan ARX-9. Namun, semuanya cukup untuk membuat Arga berhati-hati.

Ia meminta Dimas menyusun tabel waktu kejadian, sementara Rendy memeriksa data sensor yang telah disetujui panitia.

"Perhatikan hubungan antara permintaan torsi dan respons mesin," kata Arga. "Kita perlu mengetahui apakah keterlambatan terjadi sebelum atau sesudah perpindahan mode."

Rendy memandang data di tabletnya.

"Permintaan torsi meningkat lebih dahulu. Setelah itu, respons mesin terlambat sekitar sepersekian detik."

"Bagaimana dengan sinyal dari pengendali sistem hibrida?"

"Nilainya tampak normal dalam sebagian besar pengujian."

Arga mengangguk.

"Jangan berhenti pada nilai rata-rata. Lihat perubahan tepat sebelum peringatan muncul."

Rendy memeriksa ulang data.

Beberapa detik kemudian, ekspresinya berubah.

"Ada lonjakan kecil pada pembacaan posisi aktuator."

"Berapa lama?"

"Singkat. Setelah itu kembali normal."

"Apakah lonjakan itu muncul setiap kali mode berubah?"

Rendy menggulir data.

"Tidak. Hanya pada beberapa siklus."

Arga mendekat.

"Itu bisa menjadi petunjuk, tetapi kita perlu memeriksa apakah lonjakan tersebut merupakan penyebab atau akibat dari gangguan."

Rendy terdiam.

Untuk pertama kalinya sejak mereka ditetapkan sebagai satu tim, ia tidak langsung membantah pendekatan Arga.

Di ruang pemantau, Adrian Voss mengawasi pemeriksaan kendaraan dari layar utama.

Marcus Hale berdiri di sampingnya.

"Tim nomor tujuh belas meminta verifikasi sistem," kata Marcus.

"Aku tahu."

"Mereka menemukan catatan akses tambahan."

Adrian tetap menatap layar.

"Apakah data itu sudah diperiksa?"

"Sedang diperiksa oleh teknisi penyelenggara."

Adrian mengatupkan rahang.

"Seharusnya tidak ada akses tambahan."

Marcus meliriknya.

"Apakah Anda tahu siapa yang memasukkan kode servis tersebut?"

Adrian tidak menjawab.

Keheningan itu berlangsung cukup lama hingga Marcus menyadari bahwa pertanyaannya mungkin menyentuh sesuatu yang lebih besar.

"Adrian, jika konfigurasi kendaraan telah diubah tanpa dokumentasi, panitia harus mengetahui siapa yang bertanggung jawab."

"Jangan terburu-buru mengambil kesimpulan."

"Saya tidak mengambil kesimpulan. Saya meminta penjelasan."

Adrian berbalik.

"Marcus, apakah kau ingin kompetisi ini dihentikan karena satu catatan yang belum diverifikasi?"

"Tidak. Saya ingin memastikan kompetisi berjalan sesuai aturan."

"Kalau begitu, biarkan teknisi bekerja."

Adrian kembali menatap layar.

Pada sudut ruangan, sebuah monitor kecil menampilkan catatan akses yang hanya bisa dibuka oleh petugas berwenang.

Adrian melihat kode yang tercantum di sana.

Wajahnya mengeras.

Kode itu seharusnya sudah tidak digunakan selama lima tahun.

Seseorang telah mengaktifkannya kembali.

Dan orang tersebut bukan bagian dari tim teknis penyelenggara.

Setelah pemeriksaan keselamatan selesai, panitia mengizinkan tim nomor tujuh belas melanjutkan analisis dengan batasan tertentu.

Mereka tidak diperbolehkan mengubah parameter pengendali atau melakukan pengujian yang berisiko. Seluruh pemeriksaan harus mengikuti prosedur yang telah ditetapkan.

Arga tidak keberatan.

Ia justru merasa batasan tersebut membantu timnya tetap fokus pada data yang dapat dipertanggungjawabkan.

Dimas menyodorkan hasil pencatatan.

"Aku menemukan sesuatu pada urutan waktunya."

Arga membaca tabel itu.

"Jelaskan."

"Pada dua siklus pertama, perpindahan mode berlangsung normal. Pada siklus ketiga, terjadi keterlambatan respons. Namun, lonjakan pembacaan aktuator muncul sedikit setelah permintaan torsi berubah."

Arga mengamati angka-angka tersebut.

"Berarti lonjakan itu belum tentu menjadi penyebab utama."

"Benar. Bisa jadi pengendali sedang mencoba mengoreksi respons yang terlambat."

Rendy ikut melihat.

"Kalau begitu, masalahnya mungkin berada pada komunikasi antara dua modul."

Arga mengangguk.

"Itu salah satu kemungkinan. Kita perlu membandingkan waktu pengiriman perintah dengan waktu respons yang tercatat."

Mereka mulai membandingkan data.

Setelah beberapa menit, sebuah pola muncul.

Pada siklus yang bermasalah, perintah perpindahan mode diterima oleh salah satu modul lebih lambat daripada yang diharapkan. Modul lain kemudian melakukan koreksi, sehingga pembacaan aktuator berubah sesaat.

Namun, penyebab keterlambatan komunikasi itu belum dapat dipastikan.

Bisa berupa konfigurasi yang tidak cocok, gangguan pada jalur komunikasi, atau perbedaan versi perangkat lunak antarmodul.

Arga mencatat semua kemungkinan tersebut.

Rendy menunjuk salah satu baris data.

"Versi perangkat lunak pada modul pengendali ini berbeda dari versi yang tercantum pada lembar spesifikasi."

Dimas segera memeriksa dokumen.

"Kamu benar. Spesifikasi menyebut versi 4.2, tetapi data kendaraan menunjukkan versi 4.1."

Arga menatap angka itu.

Perbedaan versi tidak otomatis berarti terjadi pelanggaran. Ada kemungkinan pembaruan dibatalkan atau kendaraan menggunakan konfigurasi yang disetujui secara khusus.

Namun, perubahan tersebut seharusnya tercatat.

"Catat perbedaannya," kata Arga. "Jangan mengubah perangkat lunak. Kita minta panitia memverifikasi versi yang seharusnya digunakan."

Rendy menatapnya dengan ekspresi berbeda dari sebelumnya.

"Kamu selalu seperti ini?"

"Seperti apa?"

"Memastikan setiap hal sebelum membuat keputusan."

Arga tersenyum tipis.

"Kesalahan kecil dalam sistem mesin bisa menghasilkan akibat besar. Kalau kita tidak tahu apa yang berubah, bagaimana kita bisa memastikan perbaikannya benar?"

Rendy tidak menjawab.

Ia kembali memeriksa data, kali ini tanpa keluhan.

Menjelang tengah hari, tim teknis penyelenggara membawa kabar baru.

Perbandingan terhadap berkas pemeriksaan awal menunjukkan bahwa versi perangkat lunak yang digunakan kendaraan memang berbeda dari catatan spesifikasi.

Namun, perubahan tersebut tidak ditemukan pada salinan konfigurasi yang dibuat saat kendaraan pertama kali diperiksa.

Dengan kata lain, perubahan terjadi setelah pemeriksaan awal.

Fajar mengumpulkan para juri dan perwakilan teknis.

"Kami menemukan ketidaksesuaian konfigurasi yang harus diselidiki lebih lanjut. Untuk menjaga integritas kompetisi, hasil final akan dinilai berdasarkan analisis teknis yang telah disetujui, bukan berdasarkan pengujian aktif yang belum dinyatakan aman."

Sejumlah peserta mulai berbisik.

Rendy menatap Arga.

"Ini bukan lagi kompetisi biasa."

"Memang ada masalah yang harus dijelaskan," jawab Arga. "Tapi kita jangan membuat kesimpulan sebelum tahu siapa yang mengubah konfigurasi."

"Kalau ini disengaja?"

"Kita cari buktinya."

Arga kembali memandang layar pemantau.

Ia tidak ingin menghubungkan setiap kejanggalan dengan ARX-9. Namun, ada satu hal yang tidak bisa diabaikan.

Seseorang telah menggunakan akses pemeliharaan yang tidak tercatat.

Seseorang telah mengubah versi perangkat lunak setelah pemeriksaan awal.

Dan perubahan itu menghasilkan gejala yang mirip dengan masalah yang dulu pernah menghancurkan kariernya.

Bagi Arga, kemiripan itu bukan bukti.

Tetapi cukup untuk mendorongnya mencari jawaban.

Ketika timnya kembali ke ruang peserta, seorang staf menyerahkan amplop putih kepada Arga.

"Ini ditinggalkan untuk Anda."

Arga menerima amplop tersebut.

"Siapa yang memberikannya?"

Staf itu menggeleng.

"Saya menemukannya di meja administrasi. Nama Anda tertulis di bagian depan."

Arga mengucapkan terima kasih, lalu membuka amplop setelah staf itu pergi.

Di dalamnya terdapat sebuah foto lama.

Foto itu memperlihatkan empat orang berdiri di depan kendaraan prototipe berwarna perak. Di bagian belakang kendaraan tertulis logo proyek ARX-9.

Arga mengenali dirinya sendiri dalam foto tersebut.

Di sampingnya berdiri Kevin Santoso.

Di sisi lain terdapat Nadia Prameswari yang masih jauh lebih muda.

Orang keempat adalah seorang pria yang tidak pernah ia duga akan muncul dalam foto itu.

Fajar.

Koordinator kompetisi yang sejak awal terlihat berusaha membantunya.

Arga menatap foto tersebut dengan saksama.

Ia mengingat hari pengambilan foto itu. Saat itu, Fajar belum menjadi penyelenggara kompetisi. Ia bekerja sebagai asisten teknis yang membantu tim mengelola dokumentasi pengujian.

Namun, Arga tidak pernah mengetahui bahwa Fajar terlibat langsung dalam proyek ARX-9.

Ia membalik foto itu.

Di bagian belakang terdapat tulisan tangan:

Orang yang mengambil keputusan terakhir bukanlah orang yang namanya tercantum dalam laporan. Tanyakan kepada Fajar tentang ruang kendali malam itu.

Arga membaca kalimat tersebut berulang kali.

Lalu ia memasukkan foto itu kembali ke dalam amplop.

Ia tidak akan langsung menuduh Fajar. Foto itu hanya membuktikan bahwa pria tersebut pernah berada di dekat proyek, bukan bahwa ia terlibat dalam insiden.

Namun, keberadaannya dalam foto membuka pertanyaan baru.

Mengapa Fajar tidak pernah menyebutkan bahwa dirinya pernah bekerja pada proyek ARX-9?

Dan mengapa seseorang memilih mengirimkan foto itu tepat ketika konfigurasi kendaraan kompetisi ditemukan telah berubah?

Arga melihat jam tangannya.

Babak final belum selesai.

Ia masih harus menyelesaikan laporan teknis bersama Rendy dan Dimas. Setelah itu, ia akan mencari kesempatan untuk berbicara dengan Fajar.

Bukan untuk menuduh.

Melainkan untuk bertanya.

Sore hari, tim nomor tujuh belas menyelesaikan laporan analisis.

Mereka menyimpulkan bahwa gejala kehilangan tenaga sesaat berkaitan dengan keterlambatan respons selama perpindahan mode. Data menunjukkan adanya ketidaksesuaian versi perangkat lunak dan urutan komunikasi antarmodul, tetapi bukti yang tersedia belum cukup untuk menentukan satu penyebab final tanpa pemeriksaan tambahan.

Mereka merekomendasikan agar kendaraan tidak menjalani pengujian aktif lebih lanjut sampai konfigurasi diverifikasi dan prosedur pemeriksaan lanjutan disetujui.

Laporan itu diterima oleh panel juri.

Marcus Hale membaca hasilnya dengan ekspresi serius.

"Kesimpulan kalian berhati-hati," katanya.

Arga mengangguk.

"Karena datanya belum cukup untuk memastikan penyebab tunggal."

"Sebagian peserta akan berusaha memberikan jawaban yang terdengar meyakinkan."

"Jawaban yang meyakinkan tidak selalu benar."

Marcus memandangnya beberapa detik.

"Kau masih sama seperti dulu."

Arga menatap Marcus.

"Anda mengenal saya sejak proyek ARX-9?"

Pertanyaan itu membuat Marcus terdiam.

Sebelum ia sempat menjawab, Adrian Voss datang menghampiri mereka.

"Pembahasan teknis sudah selesai," kata Adrian. "Sekarang, mari kita fokus pada hasil kompetisi."

Arga tidak mengalihkan pandangan dari Marcus.

"Saya hanya mengajukan pertanyaan."

"Dan saya rasa bukan sekarang waktunya membahas masa lalu," potong Adrian.

Arga akhirnya menoleh kepadanya.

"Menarik. Semua orang yang saya temui selalu mengatakan hal yang sama."

Adrian tersenyum tipis.

"Karena masa lalu tidak selalu memberikan manfaat."

"Kalau masa lalu digunakan untuk menghancurkan seseorang, bukankah mencari kebenarannya merupakan hal yang wajar?"

Senyum Adrian menghilang.

Marcus berdiri kaku di antara mereka.

Untuk beberapa detik, ketiganya saling menatap tanpa berbicara.

Kemudian Adrian merapikan lengan jasnya.

"Berhati-hatilah dengan orang yang memberimu informasi, Arga. Tidak semua orang yang membawa dokumen ingin membantumu."

Arga mengangguk perlahan.

"Saya setuju. Itu sebabnya saya memeriksa setiap informasi sebelum mempercayainya."

Adrian pergi tanpa menambahkan apa pun.

Marcus mengikuti beberapa langkah di belakangnya, tetapi sebelum menghilang di balik pintu, ia sempat menoleh ke arah Arga.

Tatapan mereka bertemu.

Marcus terlihat seperti ingin mengatakan sesuatu.

Namun, ia memilih pergi.

Malam itu, Arga menemukan Fajar sendirian di ruang administrasi.

Pria itu sedang menyusun dokumen kompetisi ketika Arga mengetuk pintu.

"Arga? Ada yang bisa kubantu?"

"Ada sesuatu yang ingin saya tanyakan."

Fajar meletakkan berkasnya.

"Tentu."

Arga mengeluarkan foto lama dari amplop, lalu meletakkannya di atas meja.

Senyum Fajar perlahan menghilang.

Ia menatap foto itu cukup lama sebelum akhirnya mengangkat kepala.

"Dari mana kamu mendapatkan ini?"

"Seseorang meninggalkannya untuk saya."

Fajar mengambil foto tersebut dengan hati-hati.

"Sudah berapa lama kamu menyimpannya?"

"Saya baru menerimanya hari ini."

Fajar membalik foto, membaca tulisan di belakangnya, lalu menutup mata sejenak.

Arga memperhatikan reaksinya.

"Anda pernah bekerja dalam proyek ARX-9, bukan?"

Fajar mengangguk perlahan.

"Ya."

"Kenapa Anda tidak pernah mengatakannya?"

"Karena aku bukan bagian inti tim pengembangan. Tugasku hanya membantu dokumentasi teknis dan pencatatan hasil pengujian."

"Apakah Anda berada di ruang kendali pada malam insiden?"

Fajar tidak langsung menjawab.

Ia berdiri, berjalan menuju jendela, lalu kembali menghadap Arga.

"Aku berada di gedung itu malam tersebut."

Arga menahan napas.

"Apakah Anda melihat siapa yang mengubah konfigurasi pengujian?"

Fajar menatap foto di tangannya.

"Aku melihat seseorang masuk ke ruang kendali setelah jadwal pemeriksaan selesai."

"Siapa?"

Fajar menggeleng.

"Aku tidak melihat wajahnya dengan jelas. Ruangan itu redup, dan aku sedang berada di lorong sebelah."

"Apakah Anda melaporkan kejadian itu?"

"Ya. Keesokan paginya, aku menyerahkan catatan kepada atasanku."

"Siapa atasan Anda?"

Fajar menghela napas panjang.

"Marcus Hale."

Arga merasakan semua potongan informasi di kepalanya bergerak mencari tempat.

Marcus pernah menjadi bagian dari tim penilai proyek. Ia mengenal Arga. Ia juga menunjukkan kegelisahan sejak Arga kembali ke kompetisi.

Namun, hubungan itu belum membuktikan keterlibatan dalam pengubahan konfigurasi.

"Apa yang terjadi setelah Anda melapor?" tanya Arga.

Fajar menatapnya dengan wajah muram.

"Catatan itu dinyatakan tidak relevan. Aku diperintahkan untuk tidak membicarakannya lagi. Beberapa minggu kemudian, aku dipindahkan ke divisi lain."

"Apakah Anda masih memiliki salinannya?"

Fajar mengangguk.

"Aku menyimpannya."

"Di mana?"

"Di tempat yang tidak pernah aku buka lagi sejak hari itu."

Arga memandangnya lekat-lekat.

"Kalau catatan itu bisa membantu mengungkap apa yang sebenarnya terjadi, kita harus memeriksanya."

Fajar terdiam cukup lama.

"Ada sesuatu yang belum kamu ketahui," katanya akhirnya.

"Apa?"

Fajar meletakkan foto di atas meja.

"Orang yang masuk ke ruang kendali malam itu bukan satu-satunya orang yang berada di gedung. Beberapa menit sebelum dia masuk, seseorang telah menonaktifkan kamera di lorong menuju ruang kendali."

Arga mengerutkan dahi.

"Apakah Anda tahu siapa yang menonaktifkannya?"

Fajar menggeleng.

"Tidak. Tetapi aku ingat satu hal. Sistem kamera hanya bisa dinonaktifkan melalui terminal keamanan di lantai atas."

"Siapa yang memiliki akses ke terminal itu?"

Fajar menatap Arga dengan serius.

"Hanya tiga orang."

Ia menyebutkan nama pertama.

"Adrian Voss."

Nama kedua.

"Marcus Hale."

Lalu nama ketiga.

Arga merasa seluruh ruangan mendadak sunyi.

"Dan yang terakhir," lanjut Fajar, "adalah orang yang tidak pernah muncul dalam laporan pemeriksaan ARX-9."

Fajar berhenti sejenak, seolah masih mempertimbangkan apakah ia harus mengucapkannya.

Kemudian ia menyebut satu nama.

"Kevin Santoso."

Arga tidak bergerak.

Kevin mengaku pernah menerima instruksi perubahan jadwal. Ia mengakui telah memberikan kesaksian yang merugikan Arga. Kini, namanya juga termasuk dalam daftar orang yang memiliki akses ke terminal keamanan.

Namun, itu belum membuktikan bahwa Kevin menonaktifkan kamera atau mengubah konfigurasi.

Arga memandang foto lama di atas meja.

Lalu ia kembali menatap Fajar.

"Apakah ada bukti yang dapat menghubungkan salah satu dari mereka dengan kejadian itu?"

Fajar mengangguk pelan.

"Ada satu catatan yang belum pernah diserahkan kepada siapa pun."

"Catatan apa?"

Fajar membuka laci meja, mengeluarkan sebuah amplop hitam, dan meletakkannya di hadapan Arga.

Di bagian depan tertulis tanggal lima tahun lalu.

Di bawahnya terdapat sebuah kalimat pendek.

LOG AKSES RUANG KENDALI — SALINAN PRIBADI.

Arga menatap amplop itu.

Ia tahu bahwa isi di dalamnya mungkin tidak akan langsung memberikan seluruh jawaban. Bisa jadi catatan tersebut hanya akan membuka pertanyaan baru.

Namun, untuk pertama kalinya, seseorang yang terlibat dalam proyek lama bersedia menyerahkan bukti yang selama ini disembunyikan.

Arga mengulurkan tangan.

Sebelum ia sempat menyentuh amplop, ponsel Fajar berdering.

Sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal.

Fajar membaca isinya, lalu wajahnya berubah pucat.

"Ada apa?" tanya Arga.

Fajar perlahan memutar layar ponselnya agar Arga bisa membaca pesan tersebut.

Kami tahu kamu menyimpan salinan log akses. Jangan serahkan kepada Arga jika kamu masih ingin mempertahankan pekerjaanmu.

Arga menatap pesan itu, lalu amplop hitam di atas meja.

Seseorang telah mengetahui bahwa Fajar menyimpan catatan tersebut.

Seseorang juga mengetahui bahwa Arga sedang mencarinya.

Dan orang itu tampaknya bersedia melakukan apa pun untuk mencegah log akses tersebut diperiksa.

Arga mengangkat pandangan kepada Fajar.

"Apakah Anda masih ingin mengungkap kebenarannya?"

Fajar memandang amplop hitam, kemudian mengangguk.

"Ya. Aku sudah terlalu lama diam."

Arga mengambil napas perlahan.

"Kalau begitu, kita akan melakukannya dengan benar. Kita buat salinan, mencatat asal-usulnya, dan memastikan tidak ada bagian yang diubah. Setelah itu, kita cari cara menyerahkannya kepada pihak yang berwenang."

Fajar menyerahkan amplop itu kepadanya.

Arga belum tahu apakah log akses tersebut akan membebaskannya dari tuduhan atau justru mengungkap keterlibatan seseorang yang selama ini ia anggap tidak bersalah.

Tetapi satu hal kini semakin jelas.

Insiden ARX-9 bukan hanya tentang sebuah mesin yang gagal bekerja.

Itu adalah rangkaian keputusan manusia, dokumen yang diubah, kesaksian yang keliru, dan rahasia yang dipertahankan selama lima tahun.

Dan di tengah semua itu, seseorang masih berusaha mengendalikan cerita.

Arga memasukkan amplop hitam ke dalam tasnya dengan hati-hati.

Besok, ia akan memeriksa log tersebut.

Besok, ia mungkin akan mengetahui siapa yang mengakses ruang kendali malam itu.

Namun, ketika ia melangkah keluar dari ruang administrasi, ponselnya kembali bergetar.

Sebuah pesan baru muncul.

Kali ini, pengirimnya tidak menggunakan nomor tak dikenal.

Nama yang tertera di layar membuat langkah Arga terhenti.

Kevin Santoso.

Pesannya hanya satu kalimat.

Arga, jangan buka log akses itu sebelum kamu mengetahui siapa yang menyuruhku memberikan kesaksian lima tahun lalu. Orang itu bukan Adrian, bukan Marcus, dan bukan aku.

Arga membaca pesan tersebut sekali lagi.

Lalu ia menatap pintu ruang administrasi yang perlahan tertutup di belakangnya.

Jika Kevin mengatakan yang sebenarnya, berarti selama ini mereka semua mungkin hanya melihat sebagian kecil dari sebuah rencana yang jauh lebih besar.

Dan orang yang berada di baliknya masih belum diketahui.

Bersambung.

1
Rahmat Agung
🙏
Supendi Supendi
lanjut dan semangat terus thor💪
Supendi Supendi
semoga jalan ceritanya semakin menarik dan tidak membosankan🤣
Supendi Supendi
menarik thor
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!