**Surat Terakhir Bapak**
*Ada rahasia yang dikubur bersama Bapak. Dan ada yang sudah lama menunggu untuk digali.*
Tiga hari setelah pemakaman Hartono, keluarganya berkumpul untuk mendengar surat wasiat. Harta dibagi rapi, seperti sifat Bapak yang selalu teliti. Tapi di balik segel lilin merah, ada satu pengakuan yang meruntuhkan segalanya: Bapak punya anak lain, seorang pemuda bernama Dimas.
Laras, sulung yang dua belas tahun lari ke Jakarta, harus menghadapi kenyataan bahwa kecurigaannya dulu benar. Bima, yang menjaga toko dan keluarga seorang diri, tak sanggup menerima orang asing berwajah Bapak. Sekar, si bungsu, kehilangan sosok ayah yang ia kira ia kenal. Dan Ibu, yang paling tenang di antara semuanya, ternyata sudah tahu sejak awal.
Ketika satu per satu kebenaran terbuka, mereka sadar luka terbesar bukan pada apa yang Bapak sembunyikan, tapi pada siapa saja yang ikut diam selama dua puluh tiga tahun.
*Surat Terakhir Bapak* adalah kisah tentang pengkhianatan, pengampunan
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rachman Santoso, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Sudah Makan, Bu?
Ibu tidak melangkah masuk ke lift. Ia berdiri di mulut pintu, memandangi Bima dari ujung kepala sampai kaki: kemeja putih yang terlalu rapi, rambut yang disisir basah, mata yang tenang dan terlalu bangun untuk seseorang yang semalam tidak tidur.
"Kemeja itu bukan punyamu," katanya.
"Pemberian Pak Darmawan. Katanya biar pantas." Bima tersenyum miring. "Aku ucapkan terima kasih dengan sopan."
"Bim, kamu bilang jangan ada yang datang."
"Aku bilang itu ke Mbak Laras. Ibu lain." Ia menahan pintu lift dengan satu tangan. "Naik dulu, Bu. Di basement terlalu banyak telinga, dan kamera di pojok itu belum Haryo matikan."
Haryo melirik langit-langit dan mengangguk samar. Mereka bertiga masuk. Pintu menutup, lift berderit naik, dan Ibu baru sadar tangannya sudah menggenggam lengan Bima, seperti dulu ketika anak itu masih sepuluh tahun dan takut naik bianglala.
"Dengar baik-baik, karena waktunya pendek," bisik Bima. "Perekam yang ketahuan itu umpan. Aku memang sengaja membiarkan Haryo menemukannya di depan Darmawan, supaya dia yakin aku sudah menyerah total. Tas olahraga berisi dokumen asli juga sudah kuserahkan ke dia. Semuanya sudah kupindai dan kusalin, jadi dia cuma memegang kertas."
"Lalu rekaman yang sebenarnya?"
Bima menarik lengan kemejanya sedikit. Di pergelangan kirinya melingkar jam tangan kulit tua dengan kaca retak di pinggir. Ibu mengenalinya sebelum otaknya sempat bertanya.
"Itu jam Bapak."
"Dari laci kedua. Bapak yang memasang alat di dalamnya, entah kapan. Aku baru tahu waktu menemukan kertas petunjuknya." Ia tersenyum, matanya sedikit basah. "Sejak masuk kantor ini, setiap kalimat Darmawan sudah terekam."
Lift berhenti di antara lantai tiga dan empat, lalu Haryo menekan tombol berhenti darurat dengan ibu jarinya, yang melengkung ke dalam. Ibu menatap ibu jari itu lagi.
"Kamu bilang kamu baru tahu dua hari lalu," katanya pelan.
"Saya bohong, Bu." Haryo menunduk. "Saya sudah dua tahun bekerja dari dalam. Pak Hartono yang menemui saya, di warung kopi dekat terminal, waktu saya belum tahu siapa Ibu. Dia bilang namanya Hartono dan dia kenal seseorang yang kehilangan anak laki-laki empat puluh tahun lalu. Saya pikir dia gila."
"Dan kamu percaya?"
"Tidak. Sampai dia bertanya satu hal."
Haryo mengangkat wajah. Matanya memerah, tetapi suaranya mantap, dan dengan logat yang tiba-tiba lebih lembut, logat orang yang diajari bicara oleh seseorang yang sangat sabar, ia bertanya:
"Sudah makan, Bu?"
Ibu terhuyung setengah langkah. Punggungnya membentur dinding lift yang dingin.
"Pak Hartono bilang itu kata kunci," lanjut Haryo, nyaris berbisik. "Dia bilang kalau suatu hari saya ragu Ibu orang baik, saya cukup mengucapkan itu, dan Ibu akan mengerti dia yang menyuruh saya. Katanya itu satu-satunya hal yang selalu dia tanyakan pada semua orang yang dia sayangi."
Ibu menutup mulutnya. Bahunya mulai bergetar, tanpa suara.
Bima mengalihkan pandangan ke angka lift, memberi ruang.
---
Di rumah di Jalan Kenanga, Laras berlutut di lantai kamar Bapak dengan lampu senter ponsel di mulutnya.
Dipan kayu itu berat. Ia dan Sekar menariknya bersama-sama, dan Pak Surya, yang kini lebih mirip bayangan daripada manusia, membantu dari ujung, napasnya tersengal. Di bawahnya, di sela lantai tegel, ada papan yang sedikit lebih terang dari yang lain. Laras mencungkilnya dengan sendok teh.
Kotak kayu kecil. Sebesar kotak sepatu anak-anak, dengan engsel kuningan yang sudah gelap. Di tutupnya terukir dua huruf kecil, tulisan tangan Bapak: *H.W.*
Isinya hanya dua benda. Sebuah foto, dan sepucuk surat berlipat.
Fotonya sudah memudar: seorang bocah laki-laki sekitar dua belas tahun berdiri di depan panti asuhan, berseragam putih-biru terlalu besar, memandang kamera dengan wajah yang tidak percaya siapa pun. Alis tebal. Kepala sedikit miring ketika ragu.
Laras mengenalnya. Ia sudah melihat gerakan miring itu kemarin siang di bawah tenda biru.
Dengan tangan bergetar ia membuka surat itu.
*Laras. Kalau kamu membaca ini, berarti Bima sudah mulai bermain dan Bapak sudah tidak bisa menghentikannya. Jangan marah padanya.*
*Orang yang paling Bapak percaya di dunia ini namanya Haryo. Dia bekerja untuk Darmawan, tetapi dia dua tahun ini bekerja untuk kita. Dia anak ibumu, anak yang diambil darinya empat puluh satu tahun lalu. Bapak menemukannya sebelum Darmawan sempat memakainya sepenuhnya, dan Bapak memintanya tetap berada di sana, sebagai mata kita.*
*Bapak tahu itu kejam. Meminta seorang anak tinggal di rumah musuh ibunya. Tapi dia setuju, tanpa Bapak harus membujuk, hanya karena Bapak bilang ini demi Wulan. Hanya itu. Dia belum pernah bertemu ibunya, dan dia sudah rela.*
*Kalau Wulan sudah bertemu dengannya, jangan biarkan dia merasa sendirian lagi.*
Laras menurunkan surat itu pelan. Di belakangnya, Sekar sudah menangis lagi.
"Jadi ..." Sekar menelan ludah. "Orang jaket hitam itu ... Kak Haryo ... dia kakakku?"
"Kakak kita," ralat Laras, dan baru sadar kata itu keluar dengan lancar. Ia menoleh pada Pak Surya yang sedang duduk di tepi dipan sambil memegangi dadanya. "Pak, kamu tahu soal ini?"
Pak Surya menggeleng. "Tidak. Tapi saya bisa lihat kenapa beliau tidak memilih saya."
Kalimat itu tak punya nada mengasihani diri. Hanya kejujuran yang sudah terlalu lama ditahan.
Ponsel Laras bergetar. Nomor Dimas.
"Mbak," suaranya tegang. "Aku masih di mobil di depan gedung. Ada orang berseragam keluar dari lobi, jalan cepat ke arah sini. Bukan satpam. Dua orang, bawa tongkat."
"Pergi dari situ, Dim."
"Mereka nyamperin mobilku." Terdengar bunyi pintu yang diketuk keras. "Mbak, aku harus ..."
Sambungan terputus.
---
Pintu lift terbuka di lantai empat.
Ruang itu jauh dari yang Ibu bayangkan. Tidak ada ruang direksi, tidak ada meja panjang. Hanya satu ruangan luas berlantai kayu dengan jendela setinggi dinding yang menghadap kota yang masih berkabut. Di tengahnya, dua kursi berhadapan dan sebuah meja kecil, dengan satu teko dan dua cangkir.
Di salah satu kursi duduk seorang lelaki enam puluhan, rambut putih disisir rapi, jas abu-abu, wajahnya setenang air danau yang tak pernah beriak.
Darmawan Sentosa mengangkat tatapan dan tersenyum.
"Wulan," katanya hangat. "Atau Rukmini? Saya selalu bingung sampai Hartono mengajari saya memilih."
Ibu melangkah keluar lift. Tumit sandalnya berbunyi di lantai kayu. Bima dan Haryo tinggal di belakang, seperti yang sudah diatur.
"Saya datang untuk anak saya," katanya.
"Anak yang mana?" Darmawan menuang teh ke dua cangkir. "Bima, Laras, Sekar, Dimas, atau yang itu?" Ia mengangguk ke arah Haryo tanpa melihat. "Kamu punya banyak sekali, Wulan. Lebih banyak dari yang berhak kamu punya."
"Cukup."
"Duduklah. Saya tidak menggigit." Ia mendorong cangkir ke seberang meja. "Dan Hartono memintaku menyampaikan sesuatu kalau kamu datang lebih awal dari jam sepuluh. Dia bilang kamu pasti begitu. Katanya, 'Wulan tidak pernah sanggup menunggu, kalau yang dipertaruhkan anak-anaknya.'"
Ibu membeku. "Bapakmu ... maksudmu suamiku bicara padamu?"
"Delapan bulan lalu. Di ruangan ini." Darmawan membuka laci di bawah meja kecil itu dan mengeluarkan sebuah amplop putih berlak merah yang sudah mengeras. Di depannya, tulisan tangan tegak dan miring ke kanan, yang Ibu kenali lebih baik daripada wajahnya sendiri:
*Untuk Wulan. Hanya setelah dia duduk di hadapan Darmawan.*
Ia meletakkan amplop itu di atas meja, di antara dua cangkir yang masih mengepul.
"Silakan, Wulan," katanya lembut. "Duduk dan baca. Saya sendiri belum pernah membukanya, tapi saya punya firasat, isinya lebih menyakitkan bagi saya daripada bagimu."