NovelToon NovelToon
Menukar Takdir Untuk Bellona

Menukar Takdir Untuk Bellona

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir
Popularitas:456
Nilai: 5
Nama Author: BUNGA LYONA

Selama bertahun-tahun, Bellona terbiasa menjalani hidup tanpa sosok ayah yang benar-benar hadir. Sampai suatu hari, keadaan memaksanya untuk tinggal bersama lelaki yang selama ini hanya ia kenal dari cerita orang lain.

Pertemuan mereka tidak berjalan seperti yang Bellona bayangkan.

Ada banyak pertengkaran, kecanggungan, dan hal-hal yang terlalu sulit untuk dibicarakan. Mereka bahkan tidak tahu bagaimana caranya menjadi keluarga setelah bertahun-tahun hidup sebagai orang asing.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BUNGA LYONA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

25. Bertengkar, Lagi.

Bellona masih telungkup di atas kasur, menatap langit-langit kamarnya yang remang. Suara isakannya perlahan mereda, menyisakan napas yang sesekali masih tersengal.

Drtt... Drtt...

Ponselnya di atas meja bergetar pelan, menyorotkan cahaya terang di kegelapan kamar. Bellona merangkak mendekat, menyambar ponselnya dengan mata yang masih basah dan sembap. Nama Viola tertera di layar.

Viola: Bellll, udah tidur belum?

Viola: Gue mau nanya catetan Sejarah yang tadi siang dong, tadi gue belum sempet nyatet bab terakhir pas Pak Haris ngejelasin.

Bellona menarik napas panjang, mengusap sisa air mata di pipinya. Ia memposisikan jarinya di atas papan ketik, menetralkan emosinya sejenak agar ketikan pesan itu tidak memancarkan kekacauan yang baru saja terjadi.

Bellona: Belum kok. Bentar ya, gue fotoin dulu.

Bellona beranjak bangun dari kasur, mengambil buku catatan Sejarah di tasnya, lalu memfoto dua halaman bersih buatan tangannya. Ia kembali menghempaskan badan ke kasur dan mengirimkan foto tersebut.

Bellona: [Photo]

Bellona: Tuh Vi, tulisan gue agak cakar ayam tapi masih kebaca kan?

Viola: Waaah makasih banyak Bell! Kebaca banget kok, rapi begini dibilang cakar ayam dasar wkwk.

Viola: Btw thanks ya buat tadi siang di kantin. Seneng banget akhirnya kita bisa ngobrol santai lagi kayak dulu.

Bellona menatap layar ponselnya cukup lama. Senyum tipis yang agak kaku terbit di bibirnya. Di tengah dunia rumah yang hancur berkeping-keping, interaksi sederhana dengan Viola terasa seperti tempat perlindungan kecil di mana ia bisa pura-pura jadi remaja normal.

Bellona: Sama-sama Vi. Santai aja elah.

Bellona: Gue juga seneng kok. Maaf ya belakangan ini gue agak aneh.

Viola: Gapapa Bell, gue ngerti kok. Yang penting sekarang kita udah aman! Besok mau jajan bareng lagi gak pas istirahat? Gue yang traktir es teh manis deh!

Bellona: Boleeeh. Awas ya kalau bohong kagak traktir wkwk.

Viola: Wkwk siap Bos! Yaudah gih tidur, udah malam. See you besok di kelas ya Bell!

Bellona: Sip, see you Vi.

Layar ponsel itu perlahan padam, mengembalikan kamar Bellona ke dalam kegelapan. Bellona memeluk ponselnya di atas dada. Mengobrol dan berpura-pura baik-baik saja dengan Viola setidaknya memberi sedikit udara segar untuk dadanya yang sempat sesak parah.

***

Keesokan paginya, matahari baru saja muncul tipis di balik jendela. Bellona keluar dari kamar dengan seragam sekolah yang sudah rapi.

Di dapur, Devan sedang menata dua gelas teh hangat di atas meja. Pria itu tampak tidak tidur semalaman; lingkaran hitam menggantung di bawah matanya. Begitu mendengar langkah kaki Bellona, Devan buru-buru memasang raut wajah selembut mungkin, mencoba memperbaiki suasana.

"Pagi, Bell..." panggil Devan pelan, suaranya diusahakan sehalus mungkin. "Tehnya udah gue buatin. Mau gue gorengin telur dulu buat sarapan?"

Bellona melewatinya begitu saja tanpa melirik sedikit pun, menyambar tas sekolahnya di atas sofa.

"Kagak usah," sahut Bellona dingin dan ketus. "Gue kagak butuh apa-apa dari lo."

Devan menghela napas panjang, menahan diri. "Bell, setidaknya minum dulu dikit. Lo dari semalem belum makan..."

Bellona menghentikan langkahnya tepat di depan pintu, memutar tubuhnya lalu melempar tatapan menusuk yang penuh kebencian.

"Gue bilang kagak usah ya kagak usah!" desis Bellona kaku dan tajam. "Lo kagak usah sok perhatian! Perhatian lo tuh menjijikkan, Devan. Mau lo bikin teh seribu cangkir pun, itu kagak bakal ngubah kenyataan kalau lo cuma pria gagal yang bikin hidup gue hancur!"

Kata-kata itu menghantam Devan tepat di dada. Rasa bersalah, lelah karena tak tidur semalaman, serta frustrasi yang menumpuk mendadak membakar pertahanan Devan. Emosinya mendadak lepas kendali.

"BELLONA!" bentak Devan keras, suaranya menggelegar memenuhi rumah tua itu.

Bellona tersentak kaget, tetapi matanya tetap menatap Devan dengan berani.

"Gue udah minta maaf! Gue udah akui semua kesalahan gue!" amuk Devan dengan napas memburu, matanya memerah menahan emosi. "Gue tahu gue salah, tapi bisa kagak lo berhenti ngomong seolah-olah gue ini binatang?! Gue di sini berusaha, Bego! Gue coba tanggung jawab atas hal yang bahkan kagak pernah gue tahu sebelumnya!"

Air mata Bellona langsung merebak keluar, meluncur deras membasahi pipinya. Dada gadis itu kempas-kempis menahan sesak.

"GUE KAGAK PERNAH MINTA LO TANGGUNG JAWAB!" teriak Bellona melengking, suaranya pecah oleh tangisan. "GUE LEBIH SUDI MATI DI JALANAN DARIPADA HARUS TINGGAL SAMA ORANG KAYAK LO!"

BLAM!

Bellona membanting pintu depan keras-keras, berlari keluar meninggalkan teras rumah. Ia berjalan cepat menembus dinginnya udara pagi, menghapus air matanya kasar sambil terisak sendirian menuju jalan raya untuk berangkat sekolah sendiri.

Di dalam rumah, suasana kembali hening.

Devan berdiri mematung di tengah ruang tamu. Tangannya yang terkepal gemetar hebat. Deru dadanya yang memburu perlahan mereda, digantikan oleh gelombang penyesalan yang begitu dingin dan menghancurkan.

"Bangsat..." umpat Devan pada dirinya sendiri.

Ia meremas rambutnya kencang-kencang, memukulkan dahi pelan ke tiang kayu rumah. Kenapa ia harus terpancing emosi? Kenapa ia malah membentak gadis yang sudah hancur itu?

Devan berjalan cepat ke pintu depan, membuka pintu dengan niat mengejar dan memanggil Bellona, berniat meminta maaf sekali lagi. Namun, begitu melihat punggung Bellona yang sudah menjauh di ujung gang, langkah Devan terhenti kaku di atas tanah.

Tenggorokannya terasa tersumbat. Lidahnya kelu.

Devan menyadari satu hal yang amat pahit: meminta maaf beribu kali pun tidak akan ada gunanya. Luka yang ia beri—baik secara sengaja maupun tidak—sudah terlalu dalam. Mau sekeras apa pun ia berusaha, hubungan mereka tidak akan pernah bisa baik-baik saja.

Devan menyandarkan badannya di kosen pintu berkarat, menatap jalanan kosong dengan mata yang meredup habis, ditinggalkan oleh rasa penyesalan yang menggerogoti dadanya.

***

Di dalam kelas, suara guru Sejarah yang sedang menjelaskan materi di depan papan tulis hanya terdengar seperti dengungan samar bagi Bellona. Gadis itu duduk menopang dagunya di dekat jendela, menatap kosong ke arah lapangan sekolah yang sepi.

Pikirannya melayang jauh. Bentakan Devan tadi pagi, deru napas pria itu yang memburu, dan tatapan penuh amarah yang bercampur penyesalan itu terus berputar-putar di kepalanya. Rasa sesak di dadanya tak kunjung surut, justru makin menumpuk setiap kali ia mengingat bagaimana ia membentak Devan balik dan berlari keluar rumah.

"Bell... Bellona?"

Suara bisikan pelan Viola di sampingnya membuat Bellona tersentak pelan. Gadis itu menoleh kaku, mengedipkan matanya beberapa kali.

"Kenapa, Vi?" tanya Bellona kaku, suaranya agak serak.

Viola menatapnya dengan raut khawatir. "Kamu dari tadi melamun terus. Buku Sejarah kamu bahkan belum dibuka dari tadi. Kamu beneran gak apa-apa? Wajah kamu agak pucat, Bell."

Bellona merapatkan jarinya di bawah meja, menyembunyikan tangannya yang gemetar. Ia menyunggingkan senyum tipis yang amat dipaksakan. "Gak apa-apa kok. Cuma agak ngantuk aja, semalem belajar sampai larut."

"Ooh... kirain kenapa," bisik Viola ragu, walau matanya jelas memancarkan rasa tidak percaya. "Kalau sakit bilang ya, ntar aku anterin ke UKS."

"Iya, makasih Vi."

Bellona kembali berpaling ke arah jendela. Ia memegang dadanya yang terasa hampa dan sakit secara bersamaan. Biasanya, jika ia marah dan meluapkan emosinya, ada rasa puas atau lega yang tersisa. Tapi kali ini, melihat Devan yang berdiri mematung penuh penyesalan di pintu tadi pagi justru meninggalkan luka baru yang terasa menganga di dalam hatinya.

1
falea sezi
buat ini anak agak punya adab donk😒 sebel liat anak g tau aturan banyak kok anak broken home yg tau adab g kayak beloman ini sombong
falea sezi
buat belunasadar donk anak haram kok ngelunjak 😒
falea sezi
anak haram gk tau diri🤣🤣 mending usir aja emak loe aja gk mau lu ikut dia masih ada yg mau nampung loe aja alhamdulillah😒 sebel liat anak g tau Adab
falea sezi
q dpet anak g sopan uda guaa usir🤣
falea sezi
q kirim hadiah 🤭 up banyak ya moga makin bagus buat bocah nya jelas stts nya anak devan apa bukan
BUNGA LYONA: siap kak, makasih udah baca😇🌸
total 1 replies
falea sezi
moga ajaa bneran anak devan ya😓 kasian uda di buang emak nya tp lona jangan sok ya
falea sezi
ini numpang 😒 gk ada baik baiknya kayaknya belom. tentu lo anak devan🤣🤣 bisa aja emak lo🤣jalang gk tau anak siapa😒
falea sezi
ini bapak bneran kan🤣
Lisa Kusmiran07
semangat kak
BUNGA LYONA: makasihh😍
total 1 replies
Lisa Kusmiran07
semangat thorr,ceritanya seru lain dari yg lain
Lisa Kusmiran07
menunggu lanjutannya,
BUNGA LYONA: siapp🤗
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!