Sejak ibunya meninggal, hidup Bima berubah menjadi neraka setelah ayahnya membawa istri baru dan anak tirinya yang egois, membuatnya diperlakukan seperti pesuruh dan orang asing di rumahnya sendiri.
Puncaknya, ia difitnah mencuri barang berharga dan diusir begitu saja tanpa ampun, membawa luka hati yang mendalam serta sebuah kotak peninggalan misterius dari mendiang ibunya.
Tak disangka, kotak rahasia itu menjadi kunci bagi Bima untuk bangkit dari titik terendah, bermetamorfosis menjadi sosok sukses dan berpengaruh besar yang siap membuat keluarga pembuangnya bertekuk lutut memohon pengampunan.
Bantu Cherlly dengan LIKE & SUBSCRIBE /IKUTI ya kak❤️❤️, gratis kok tapi sangat berarti biar bisa update tiap hari.
Satu Like👍 dari kalian = 100 semangat.🥰🥰🥰
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cherlly, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 8
Malam semakin larut, dan udara di luar paviliun kian dingin menusuk tulang.
Bima duduk bersila di atas kasur busanya, tatapannya lurus menatap layar ponsel yang berpendar tenang.
"Mereka pasti tidak akan tinggal diam setelah tahu aku memegang sertifikat itu," gumam Bima lirih di dalam hati.
Sejak awal, ia memang sudah menduga bahwa orang-orang suruhan Hendra atau Edi tidak akan butuh waktu lama untuk melacak tempat persembunyiannya.
Sengaja, ia membiarkan GPS ponselnya tetap aktif agar mereka bisa dengan mudah menemukan jejaknya.
Bima ingin menarik tikus-tikus licik itu keluar dari sarang mewah mereka secara langsung.
Kriet...
Suara decitan pintu pagar luar paviliun memecah keheningan malam karena didorong seseorang.
Langkah kaki asing terdengar mendekat secara diam-diam menyusuri jalan setapak di luar.
Krok, krok, krok.
Sepatu pantofel berhak keras itu berderit menekan kerikil halaman belakang.
Sudut bibir Bima terangkat membentuk senyum tipis menyambut kedatangan para tamu tak diundang tersebut.
"Wah, rupanya mereka datang jauh lebih cepat dari perkiraanku," batin Bima mengejek sinis.
Tanpa terburu-buru, Bima bangkit dari tempat tidur dan melangkah pelan mendekati pintu kamar.
Ia mengintip melalui lubang angin kecil di daun pintu kayu paviliun yang mulai rapuh itu.
Dua pria berpostur kekar terbungkus setelan jas hitam tampak berdiri tegap di depan pintu kamar nomor tiga.
Wajah mereka menyeringai garang, dihiasi potongan rambut cepak khas para penagih utang jalanan.
"Yakin anak bau kencur itu benar-benar ada di dalam kamar ini, Bang?" tanya salah satu preman dengan suara berbisik.
"Bos bilang anak itu sembunyi di sini, dobrak saja langsung kalau dia tidak mau buka," balas rekannya dengan nada mengancam.
Bima mendengarkan setiap patah kata mereka dengan kepala dingin, tanpa secercah rasa takut pun di dadanya.
Jari-jarinya sigap mengaktifkan kamera ponsel, bersiap merekam detik-detik menegangkan di depan pintu.
Brak!
Hantaman keras telapak kaki melayang menendang pintu paviliun Bima dengan brutal.
Suara kayu yang berderit nyaring merobek kesunyian malam yang pekat.
"Keluar kamu, bocah sialan!" bentak preman berbadan besar itu dengan nada menggelegar.
Perlahan, Bima membuka daun pintu kamarnya tanpa menyisakan sedikit pun kepanikan di wajah mudanya.
Ia berdiri tegak, menatap kedua preman bayaran itu dengan sorot mata penuh remeh.
"Ada perlu apa kalian bertamu di jam istirahat selarut ini?" tanya Bima santai.
Sontak, kedua preman itu terperanjat melihat target buronan mereka keluar tanpa menunjukkan rasa gentar sedikit pun.
"Wah, bernyali juga rupanya bocah ingusan ini," cibir preman pertama seraya melangkah maju merangsek mendekat.
"Serahkan tas hitam itu sekarang, atau seluruh tulangmu remuk di tangan kami," ancam preman kedua sambil mengepalkan tinju raksasanya.
Bima melipat tangan di dada, senyum dinginnya tersungging jelas.
"Ah, jadi kalian suruhan Hendra atau Edi yang diutus untuk merampas hak milikku?" pancing Bima tenang.
"Banyak cincong sekali kamu, bocah tengik!" maki preman itu murka, tangannya langsung terulur hendak mencengkeram kerah baju Bima.
Namun, sebelum cengkeraman itu menyentuh kain, Bima sudah melangkah gesit surut ke dalam kamar.
"Kalian sudah melakukan pelanggaran hukum dengan masuk tanpa izin dan merusak fasilitas," ucap Bima dengan suara tegas.
"Segala ucapan kasar dan tindakan kriminal kalian barusan sudah tersimpan utuh dalam rekaman video ponselku," lanjut Bima sambil mengangkat ponselnya tinggi-tinggi.
Wajah kedua preman itu mendadak pucat pasi saat melihat layar ponsel Bima yang menyala terang dengan lampu indikator rekaman aktif.
"Keparat! Hapus rekaman itu sekarang!" teriak preman pertama kalang kabut, lalu menerobos masuk ke dalam kamar.
Gerakan Bima jauh lebih lincah; ia berkelit mulus menghindari terjangan tubuh raksasa yang hilang keseimbangan itu.
Bugh!
Alih-alih mengenai target, preman tersebut justru menghantam meja kayu kecil di sisi kasur hingga ambruk berkeping-keping.
Kontainer plastik tempat tumpukan pakaian Bima tersenggol keras dan berserakan berantakan di lantai.
"Kalian benar-benar sedang menggali kubur sendiri karena sudah merusak barang-barangku," desis Bima, suaranya berubah dingin membeku.
Preman kedua yang melihat rekannya limbung langsung ikut menghambur menyerang secara membabi buta.
"Tangkap dia, jangan biarkan dia lolos membawa bukti itu!" perintahnya kalut.
Bima sama sekali tidak berniat meladeni adu fisik murahan dengan dua berandal jalanan berotot kaku tersebut.
Dengan gerakan kilat, ia melompat keluar melewati celah pintu paviliun yang terbuka lebar.
"Sial, kejar bocah itu!" teriak mereka histeris dari dalam kamar sempit itu.
Bima berlari kencang menerobos pelataran menuju bagian depan paviliun tempat kediaman Bu Siti.
"Tolong! Ada maling masuk ke paviliun!" teriak Bima sengaja melengking nyaring, memecah kesunyian malam.
Suara jeritan itu seketika merobek malam, membangunkan para tetangga yang lelap di bilik-bilik kamar mereka.
Satu demi satu, lampu teras rumah warga menyala terang, memancarkan bias kuning di sepanjang jalan setapak.
"Ada apa ini, ribut-ribut teriak maling?!" seru seorang bapak paruh baya sambil tergopoh-gopoh keluar menenteng pentungan pos ronda.
Mendengar kerumunan warga berdatangan, kedua preman bayaran itu disergap panik luar biasa.
"Sialan, kita terjebak!" umpat preman pertama dengan napas memburu, lantas berlari pontang-panting menuju gerbang keluar.
Keduanya langsung melompat naik ke atas sepeda motor matic yang terparkir tergesa di ujung gang.
Vroom...
Raungan knalpot brong motor itu memekakkan telinga, melesat kencang meninggalkan kompleks paviliun.
Warga sekitar berhimpun mengerumuni Bima yang berdiri di halaman depan dengan napas sedikit tersengal.
"Kamu tidak apa-apa, Nak Bima?" tanya Bu Siti cemas, wanita paruh baya itu tampak tergesa keluar mengenakan daster tidur.
"Saya baik-baik saja, Bu, hanya saja kamar saya berantakan ulah preman tadi," jawab Bima seraya menangkupkan tangan sopan.
"Ya Allah, lapor polisi saja, Nak! Keterlaluan sekali preman-preman itu!" seru Bu Siti dengan dada naik turun menahan geram.
Bima menggeleng pelan, senyuman menenangkan tersungging di bibirnya untuk meredakan kepanikan warga.
"Tidak perlu repot melapor polisi sekarang, Bu, karena semua bukti kejahatan mereka sudah saya kantongi dengan aman," tutur Bima tenang.
Orang-orang di sekitar tertegun, menatap takjub pada ketenangan luar biasa pemuda yang baru beberapa hari tinggal di sana.
"Mental anak muda ini benar-benar baja, sama sekali tidak ada takutnya," bisik salah seorang tetangga penuh kagum.
Bima menyampaikan terima kasih kepada warga dan Bu Siti sebelum kembali melangkah masuk ke kamarnya yang berantakan.
Dengan kepala dingin, ia mulai memunguti barang-barang pribadinya yang berserakan di lantai.
Di dalam layar ponselnya, video ancaman dan perusakan fasilitas oleh antek-antek Hendra tersimpan sempurna tanpa cacat.
"Kalian pikir teror murahan seperti ini bisa menciutkan nyaliku?" batin Bima menyeringai dingin.
Kartu truf baru di tangannya ini akan membuat posisi Hendra semakin terpojok tanpa celah untuk melarikan diri.
Bima merapikan kembali tempat tidurnya, lalu memejamkan mata sejenak, bersiap menyusun langkah besar berikutnya keesokan hari.